Archive for September, 2011

Berita Tentang Neraka Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Manusia

Bismillah

Berita Tentang Neraka Bentuk Kasih Sayang Allah kepada Manusia

Oleh : Abu Salma Ibnu Rosyid

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin washshalatu wassalamu ‘ala Nabiyina Muhammad wa Ahlihi Wa Ashhabihi Waman tabi’ahum bil hudahu, amma ba’du

Kaum muslimin semoga Allah merahmati kita semua, diantara bentuk kasih sayang Allah kepada kita dan kepada semua manusia Allah ta’ala memberitakan bahwa setelah kehidupan di dunia ini kita akan melanjutkan kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akherat. Alhamdulillah sebagai orang yang beriman kita meyakini itu semua.

Begitulah tanda orang yang beriman dan orang yang mendapat petunjuk.

Allah ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya :

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqoroh : 3-5)

Allah menjelaskan bahwa orang yang mendapat petunjuk dan orang yang beruntung adalah orang-orang yang beriman dengan yang ghoib mendirikan sholat, berinfaq, beriman dengan Al-qur’an dan kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelum nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta meyakini terhadap kehidupan akherat.

Dengan itu semua Allah membimbing kepada kita agar kita termasuk orang-orang yang beriman.

Demikian pula Allah melalui lisan RasulNya mengabarkan kepada kita tentang sifat-sifat neraka yang sangat mengerikan agar kita dapat dengan sungguh-sungguh berupaya terhindar darinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Dari ‘adi ibni hatim semoga Allah meridhoinya beliau berka :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

من استطاع منكم ان يستتر من النار ولو بشق تمرة فليفعل

Siapa saja diantara kalian yang mampu untuk menghiindar dari neraka walau hanya bershodaqoh dengan separoh biji kurma maka kerjakanlah.

Hadis ini merupakan petunjuk dari Nabi kita agar kita semua berupaya dengan sungguh-sungguh menghindar dari neraka karena buruknya kehidupan di neraka tersebut. Walaupun dengan separoh biji kurma. Ini menunjukkan besungguhsungguhlah menghindari neraka, dan sekaligus peringatan untuk kita agar tidak meremehkan amal sholeh walaupun dianggap remeh.

(lagi…)

September 27, 2011 at 9:56 am Tinggalkan Komentar

JIL (Jaringan Islam Liberal) Tolak Syari’at Islam)

JIL (Jaringan Islam Liberal) Tolak Syari’at Islam)
http://www.buletin-alilmu.com/2-jil-tolak-syariat-islam

Sekali lagi tentang JIL. Nama sebuah jaringan ini kian tenar, meskipun banyak pihak yang mengecamnya.
Sebenarnya kampanye penyatuan agama, “semua agama itu sama”, “sama-sama menyembah Tuhan”, “Islam bukan agama yang paling benar”, yang lebih populer disebut teologi pluralis, sudah cukup sebagai bukti bahwa mereka adalah para pengusung panji-panji kekufuran, yang pelakunya bisa jadi kafir alias murtad.

Kalau kita telusuri lebih dalam lagi tentang gaya pikir JIL, akan terlihat secara jelas tentang program JIL dan siapa JIL sebenarnya dalam situs resmi milik mereka. Secara terbuka mereka gambarkan prinsip JIL yaitu menekankan “kebebasan dan “pembebasan”, karena (kata mereka) Islam disifati dengan 2 sifat tersebut. JIL membangun beberapa landasan tentang penafsiran tertentu atas Islam, diantaranya; membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, mempercayai kebenaran itu relatif, memihak pada yang minoritas dan selainnya. JIL pun percaya diri bahwa misinya akan berhasil yaitu menciptakan struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi, katanya. (http://www.islamlib.com) (lagi…)

September 19, 2011 at 11:36 am Tinggalkan Komentar

Kenapa Mekah Lebih Dulu Lebaran ?

Kenapa Mekah Lebih Dahulu Lebaran ?
Dipindah dari : http://wiseislam.blogspot.com

Saya ikut lebaran hari ini saja ah soalnya Mekah juga lebaran hari ini!” demikian beberapa orang memberikan alasan “syar’i” mengenai keputusan berhari raya (penentuan tanggal 1 Syawal). Tak kurang seorang Master jebolan IAIN ada juga yang mengatakan demikian.  Tetapi sangat mengejutkan ketika seorang anak SD nyeletuk,”Emangnya kita ini hidup di Mekah atau di Indonesia?,…..Kan antara kota Jakarta dan Riyadh itu beda 4 jam?…. bukankah dalam waktu 4 jam itu bulan sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat?  Mungkin di Jakarta bulan tidak terlihat, tapi 4 jam kemudian di Riyadh sudah bisa terlihat,”  Wah, wah,….diajarin anak SD pula kita nih? Jadi Kenapa Mekah Lebih Duluan Hari Raya Idul Fitri? Berikut ini penjelasannya :

Misalkan waktu diamati di Jakarta posisi bulan tepat di cakrawala atau nol derajat, maka 4 jam kemudian ketika diamati dari Riyadh, bulan tersebut sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat.

Gambar pertama:
Asumsikan pengamatan bulan di Jakarta (J) pada tanggal 29 (hari Senin sore)

Posisi bulan segaris dengan posisi matahari tenggelam (sudut 0 derajat), maka pada hari berikutnya (Selasa sore) tanggal 30, bulan terlambat 50 menit dibanding matahari. Artinya matahari sudah tenggelam di garis horison, sedangkan bulan masih di atas horison dengan ketinggian 50 menit.
Kalau dihitung derajat sama dengan  50/60 X 15 = 12,5 derajat

Hari berikutnya bertambah 12,5 lagi menjadi 25 derajat, kemudian 37,5 derajat dan seterusnya sampai kembali lagi segaris dengan posisi matahari
(jika dalam sehari 24 jam, bulan tertinggal dari matahari sejauh 12,5 derajat maka dalam 4 jam (selisih waktu jakarta riyadh) bulan tertinggal sejauh (12,5 X  4/24) atau sama dengan (12,5 dibagi 6) hasilnya adalah 2,0833.

Jadi dalam 4 jam bulan tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana terlihat dalam gambar kedua berikut ini:

Gambar kedua

adalah pengamatan di Jakarta pada tanggal 29 Senin sore jam 18.00 WIB.

Posisi bulan segaris dengan posisi matahari (Riyadh masih siang jam 14.00 waktu Riyadh)

Empat Jam Kemudian Riyadh baru dapat melakukan Rukyat. Dalam selang waktu 4 jam tersebut bulan sudah tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana gambar berikut:

 
Gambar ketiga

adalah pengamatan di Riyadh 4 jam kemudian setelah pengamatan di Jakarta (Riyadh jam 18.00 dan Jakarta sudah malam jam 22.00) pada saat pengamatan di Riyadh ini posisi bulan tidak lagi segaris dengan matahari tetapi tertinggal (di sebelah atas) dari matahari yang sedang terbenam di garis horison. Ketinggian bulan dari horison adalah sebesar 2,0833 derajat.

Dalam Ilustrasi diatas, Ahli Rukyat di Jakarta tidak melihat hilal sedangkan ahli rukyat di Riyadh sudah bisa melihat karena tinggi bulan dari horison sudah lebih dari 2 derajat. Dengan demikian umat di Arab Saudi Selasa sudah Hari Raya, sedangkan Muslim di Jakarta berhari raya pada hari Rabu
Biasanya ada usul ”cerdas”  bagaimana kalau batasan tinggi bulan dari horisonnya diperbesar misalnya sampai 5 atau 6 derajat? Dengan begitu selisih 2 derajat tidak membuat Riyadh jadi berbeda dari Jakarta.

Benarkah?

Tidak demikian. Berapapun angka derajat yang disepakati hasilnya akan begitu juga. Misalnya disepakati 5 derajat.  (artinya kalau tinggi bulan belum 5 derajat maka esok masih bulan lama). Jika kasus yang terjadi dilapangan persis seperti asumsi dalam ketiga gambar di atas memang Riyadh dan Jakarta jadi sama karena  tinggi bulan pada pengamatan di Riyadh hanya 2 derajat (tidak sampai lima).

 Persoalan jadi beda kalau pada pengamatan di Jakarta tinggi bulan mencapai 4 derajat maka ketika diamati di Riyadh bulan sudah naik lagi menjadi 4+2 = 6 derajat. Artinya Jakarta masih bulan lama, Riyadh sudah bulan baru.

Abu Salma berkata : Gampangnya bulan sabit atau hilal itu munculnya di barat kalau dari indonesia belum kelihatan sangat mungkin di arab (yang lebih barat dari indonesia) kelihatan.

September 7, 2011 at 9:46 am Tinggalkan Komentar

Mengkritisi Wujudul Hilal ‘Ala Muhammadiyah

Mengkritisi Wujudul Hilal ‘Ala Muhammadiyah
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Penulis meyakini dalam hal penentuan Bulan Romadhon, Idul Fitri dan Idul Adha adalah hak penguasa secara mutlak, adapun cara penentuannya adalah dengan rukyatul hilal berdasarkan dua orang saksi yang adil. Namun toh penulis tidak menafikkan fungsi hisab dan perlunya hisab. Hisab diperlukan untuk pendoman dalam merukyah dan rukyah adalah pembuktian.

Namun dalam kancah ilmu hisab sendiri ada perselisihan,  dari hal ini saja jelas bahwa hisab murni adalah kesalahan karena ahli hisab sendiri telah khilaf. Hisab yang lebih parah  kesalahannya adalah hisab wujudul hilal ‘ala Muhammadiyah. Tatkala hilal sudah diperkirakan wujud maka di tetapkan selesai Romadhon.

Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita membahas hadits yang membantah wujudul hilal.

PERHATIKAN HADITS RASULULLAH SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.

Shaumlah karena melihat bulan dan berbukalah karena melihat bulan dan beribadahlah sebab terlihatnya bulan,jika mendung meliputi kamu, maka sempurnakanlah dengan 30 hari, kecuali ada dua saksi adil yang menyeksikannya maka shumlah dan berbukalah.

hadits yang lain :

Bulan itu 29 hari hari maka jangan shaum sehingga kamu melihat bulan jika mendung meliputi kamu maka sempurnakanlah hitungan bulan itu menjadi 30 hari.

Itu dua hadits yang akan saya bahas.

Yang menjadi syahid terkait dengan wujudul hilal adalah sebagai berikut :

JIKA MENDUNG MELIPUTI KAMU.

pENJELASANNYA BEGINI :

DI SYAREATKAN RUKYATUL HILAL PADA TANGAL 29. jIKA HILAL KELIHATAN MAKA SELESAILAH ROMADHON.

JIKA MENDUNG MAKA GENAPKAN M ENJADI 30.  ini adalah kalimat yang sudah jelas sebenarnya dari Nabi Muhammada Shallallahu ‘alaihi wasallam

Perlu difahami berikut ini dengan seksama :

KETIKA MENDUNG ADA DUA KEMUNGKINAN :

1. HILAL MEMANG TIDAK MUNCUL / tidak wujud ( DI BAWAH UFUK KETIKA MATAHARI TENGGELAM) ADA MENDUNG ATAU TIDAK ADA MENDUNG HILAL TIDAK KELIHATAN ARTINYA M EMANG BULAN ROMADHON DALAM KEADAAN SEPERTI INI ALLAH TAKDIRKAN 30 HARI.

2 YANG KEDUA HILAL SUDAH DI ATAS UFUK TATKALA MATAHARI TENGGELAM / hilal telah wujud  ( iMKANUR RUKYAH / MUNGKIN AKAN TERRUKYAH JIKA TIDAK MENDUNG)

SEHINGGA SECARA HAKIKAT BULAN SUDAH TANGGAL 1 / di atas ufuk / wujudul hilal ARTINYA MASUK SYAWWAL AKAN TETAPI KARENA TIDAK TERRUKYAH MAKA ROMADHON DIGENAPKAN MENJADI 30 sekali lagi SECARA HAKIKAT BULAN SUDAH DI ATAS UFUK SEHINGGAA PADA TANGGAL 30 ROMADHONA ATAU MALAM IED BULAN SUDAH BESAR karena memang telah wujud pada malam tiga puluh romadhon hanya saja tidak terrukyah dalam keadaan seperti ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk menggenapkan menjadi 30 hari.

kENAPA PADA MALAM IED SUDAH BESAR KARENA BULAN SEBENARNYA SUDAH MUNCUL PADA MALAM 30 ROMADHON AKAN TETAPI TERHALANG MENDUNG.

sEMOGA DI FAHAMI.

jADI ANDA JANGAN KAGET KALAU TERNYATA SETELAH LEBARAN KOK BULAN SUDAH TAMPAK BESAR.
kARENA SECARA HAKIKAT BULAN SUDAH WUJUD PADA TANGGAL 29 AKAN TETAPI KARENA MENDUNG DISEMPURNAKAN MENJADI 30 H ARI.

pENJELASAN INI SEKALIGUS SEBAGAI BANTAHAN YANG SANGAT telaK AKAN HISAB WUJUDUL HILAL.

kARENA KATA NABI MENGANDUNG MAKNA WALAUPUN HILAL ITU SUDAH WUJUD AKAN TETAPI TIDAK TERRUKYAH KARENA TERHALANG MENDUNG bulan  DI GENAPKAN 30 HARI.

sEHINGGA PEDOMAN MASUK SATU SYAWWAL ITU BUKAN WUJUDUL HILAL = HILAL TELAH WUJUD ( DI ATAS UFUK TATKALA MATAHARI TERBENAM)

aKAN TETAPI JIKA BULAN ITU TERRUKYAH (KELIHATAN)

sEKALI LAGI PATOKANNYA ADALAH HILAL TERRUKYAH.

bukan hilal wujud,  sekalipun wujud akan tetapi terhalang mendung bulan romadhon di genapkan menjadi 30, semoga faham.

tERbantahlah Wujudul Hilal Muhamamdiyah, semoga menjadi petunjuk buat kita semua.
KALIMAT SAYA ULANG-ULANG SUPAYA TERFAHAMI

mUNCUL PERTANYAAN BAGAIMANA JIKA PADA HARI KE 30NYA BULAN SABIT TAMPAK OLEH MANUSIA.

dALAM KEADAAN INI.

jIKA KELIHATANNYA PADA PAGI HARI LANGSUNG BISA DI U MUMKAN SHOLAT ID

JIKA SORE DIUMUMKAN UNTUK BERBUKA DAN SHOLAT ID ESOK HARINYA.

(DALAM HAL INI MASUK PEMBAHASAN FIKIH)

tENTU SAJA YANG MENGUMUMKAN ADALAH PEMERINTAH SELAKU PENGUASA.

MUDAH-MUDAHAN DI FAHAMI.

uNTUK LEBIH JELASNYA SILAHKAN BUKA KITAB-KITAB TENTANG FIKIH ROMADHON.

wALLAHU TA’ALA A’LAM

bAROKALLAHU FIKUM JAMI’AN

September 6, 2011 at 5:04 pm 6 komentar

Tanggapan Polemik Muhammadiyah Pemerintah Lebaran Dua Hari

Tanggapan Polemik Muhammadiyah Pemerintah Lebaran Dua Hari
Oleh : Abu Salma Ibnu Rosyid

Muhammadiyah lebaran tahun ini kebetulan bersama dengan Saudi dan kebanyakan negara-negara Islam di dunia. Hal ini dijadikan senjata untuk menyerang Pak Jamaludin (LAPAN) dan Pemerintah yang menetapkan tgl 31 Agustus 2011 sebagai 1 syawwal. Senjata seperti ini sangat memalukan karena Muhammadiyah sendiri sering berbeda dengan Saudi Arabiya.

Lihat saja pada tahun-tahun yang telah lewat. Bukti menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak konsisten.

Menjadikan Saudi sebagai pembenaran ketika kebetulan sama, pada saat asama sekali ketika ketetapan Muhammadiyah berbeda dengan keputusan Saudi.

Itu satu sisi, Pada satu sisi yang lain

kenapa Muhammadiyah harus bangga dikarenakan secara kebetulan bersamaan dengan Saudi ? Dan mengapa pula itu semua digunakan sebagai pembenaran keputusannya ?

Padahal jelas metode penetapannya berbeda.

Saudi menggunakan ru’yatul hilal untuk menetapkan masuknya awal-awal bulan, adapun Muhammadiyah menggunakan hisab murni yaitu hisab wujudul hilal.

Adapun yang ketiga yang perlu diketahui juga bahwasannya Suudi memang memiliki otoritas menentukan masuknya awal bulan karena mereka adalah penguasa / ulil amr, kalau muhammadiyah apakah dasarnya sehingga mereka berani meutuskan masuk keluarnya bulan-bulan Islam ?

Bukankah Muhammdiyah semata-semata organisasi ?

Sehingga dari hal ini kita simpulkan ada tiga hal yang sangat berbeda antara Saudi dan Muhammadiyah yang ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan pembenaran keputusan 1 syawal Muhammadiyah 1432 H kali ini, kita ulangi :

1. Muhammdiyah tidak selamanya bersama dengan Saudi

2. kalau kebetulan sama akan tetapi hakikatnya berbeda karena Saudi ditetapkan dengan ru’yatul hilal dan Muhammadiyah dengan hisab murni

3. Saudi memang punya otoritas sebagai pemerintah / ulil amri adapun Muhammadiyah seandainya memiliki jiwa yang besar dan menghargai kebersamaan tidak selayaknya mengambil keputusan sendiri menyelisi penguasanya yang telah disepakati oleh kaum muslimin Indonesia bahwa mereka adalah pemimpin bagi kaum muslimin.

Ini semua menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak ada itikad baik untuk bersama, padahal Puasa Romadhon, Idul Fitri dan Idul Adha adalah amalan jamaah yang semestinya kaum muslimin untuk bersama-sama mengamalkannya.

Tidak lain karena Muhammadiyah sangat fanatik dan menganggap hisabnya terbaik di dunia. Padalah dalam satu sisi Allah menentapkan dan memerintah kepada kita untuk melihat bulan dalam mengawali awal-awal bulan.

Sebagian ada yang mengatakan bukankah indonesia bukan negara Islam ? Sehingga kita bebas menentukan lebaran masing-masing ?

Siapa bilang negara kita bukan negara Islam ?
Tanyakan ke OKI atau komunitas kaum muslimin dunia Apakah negara Indonesia ini negara Islam apa bukan ?

Presiden kita Islam, Wakilnya dan mentri-mentrinya mayoritas islam, demikian juga anggota DPR dan instansi-instansi yang lainnya adalah mereka kaum muslimn, mereka melakukan sholat idul fitri dan ini kontek yang sedang kita bahas.

Bahkan dalam hal ini (‘Idul Fitri) mereka (Pemerintah dan lembaga yang ditunjuk) menggunakan kaidah-kaidah syar’i dalam menentukannya, alhamdulillah dengan hisab untuk perkiraannya dan dengan ru’yatul hilal sebagai pembuktiannya.

Demikian juga negara kita alhamdulillah mengurusi haji kaum muslimn, mensyaratkan kepentingan-kepentingan kaum muslimn seperti POM bensi harus ada Mushollanya demikian juga kepentingan umum lainnya di sana diberi fasilitas-fasilitas MAsjid dan mUsholla bukankah ini menunjukkan pemerintah kita pemerintah muslim ?

Coba sekali-kali anda berkunjung ke Australi, china atau negeri-negeri kafir dapatkan anda menemukan fasilitas-fasilitas publik seperti di INdonesia ?

Kemudian terkait dengan Hak beragama tiap individu, semestinya difahami seperti berkut :
Pemerintah / Negara Indonesia menjamin penduduknya beragama dengan agamanya masing-masing. Ini harus difahami bahwa :

a. setiap individu boleh beragama sesuai dengan yang diyakininya entah itu Islam, Kristen dll. (Sebagai kaum muslimin yang berakidah hendaknya mengatakan bahwa Agama selain Islam adalah salah dan pemeluknya akan dimasukkan ke neraka)

b. Setiap individu boleh melakukan keyakinan agamnya selagi tidak menganggu / merusak hak agama individu orang lain.

c. Setiap individu bebas melakukan agamanya selama tidak merusak tatanan agama tertentu yang dibangun diatas prinsip-prinsip agama tersebut.

(Tiga kontek di atas adalah sebagai orang muslim semestinya melakukan amar makruf nahi mungkar menjelaskan amalan-amalan yang merebak di masyarakat namun salah dari tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam)

Dalam point c inilah yang hendak saya bahas.

Sebagai contoh : Islam adalah agama yang mengakui Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi terakhir, maka pemerintah berrkewajiban melindungi keyakinan dan agama rakyatnya, pemerintah tidak boleh diam tatkala ada manusia atau komunita s yang mengaku beragama Islam akan tetapi mengatakan pemiminnya adalah Nabi setelah Nabi Muhammada shallallahu ‘alaihi wasalalm. Maka sudah selayaknya pemerintah turut campur dalam urusan hal semacam ini, harus bertindak dan meluruskan faham-faham yang sesat dari islam yang sebenarnya.

Demikian juga untuk urusan amalan jamaah (amalan bersama-sama) seperti idul fitri dan idul adha, haji, sudah benar jika pemerintah mengajak komuntas kaum muslimin dan lembaga-lembaga kaum mulsimin yang ada seperti MUI, DEPAG yang memang kaum muslimin sebenarnya sudah tersirat sepakat untuk menyerahkan urusan kaum muslimin yang menyangkut urusan orang banyak kepada mereka.

Contoh :

Pernikahan —-> menyerahkan urusannya kepada KUA
Halal haramnya suatu produk —> MUI
Surat-surat dan jadwal penerbangan haji —> depag dan yang terkait.

Saya kira sebagai bangsa yang beradab dan cerdas kita sepakat bahwa itu semua adalah urusan jamaah kaum muslimin dan kita serahkan perkara tersebut kepada pemerintah yang mengatur urusan orang banyak.
Adapun hak-hak individu yang tidak ada kaitannya dengan kaum muslimn kita sepakat dikembalikan kepada keyakinan kita masing-masing.

Contoh anda dalam keadaan safar misalnya mau sholat dua rakaat atau empat rakaat pada saat dzuhur, ini urusan anda sendiri murni tidak ada kaitannya dengan orang lain silahkan amalkan keyakinan anda.

Jadi mohon ini di bedakan jika memang kita ingin menjadi manusia yang bermartabat.

Betapa rusaknya agama ini jika semuanya diserahkan kepada Individu.

Kemudian kembali kepada Idul Fitri dan idul Adha,

Hak siapakah keputusan masalah ni ?

Sebelum kita bersepakat kita menjawab pertanyaan yang berikut ini ?

Kepentingan siapakah ini ? Individu muslim apa jamaah kaum muslimn ?

Tentunya jwabnya adalah kepentingan jamaah kaum muslimin di Indonesia ini, dan sebagai bangsa yang bermartabat hendaknya kita mengembalikan kepada urusan ini kepada pemimpin yang telah diserahi oleh kaum muslimin untuk mengatur urusan-urusan kaum muslimin dalam hal ini adalah pemerintah.

Dan seperti itulah yang diamalkan oleh negara-negara yang lainnya.

Kita tidak menyebut Saudi saja, lihatlah Brune dan Malaysia misalnya, apakah keputusan Idul Fitri dan Idul Adha ditentukan oleh pribadi-pribadi dan kelompok ?

Silahkan ditanyakan sendiri.

Kemudian, semua itu tidak menutup kemungkinan diberikan kebebasan individu untuk melakukan amalan pribadinya.

Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

Misalnya ada individu yang telah melihat hilal namun pemerintah menolah kesaksiannya.

Maka individu tersebut diberi kebebasan tidak berpuasa pada 30 Romadhon akan tetapi tetap beridul ber idul fitri bersama jamaah kaum muslimin, karena yang memutuskan idul fitri hanya satu yaitu pemerintah.
Yang seperti inilah yang diajarkan dan sebagai perbincangan kalangan ulama terdahulu.
Walaupun yang paling baik (menurut penulis) adalah berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah dan seluruh kaum muslimin.

Dengan hati yang jernih dan pikiran yang cerdas mestinya kita mementingkan kepentingan umum.

Perlu saya gambarkan keadaan berikut :

Kita sepakat warga Muhammadiyah adalah banyak, mereka telah tersebar di lingkungan masyarakat, mereka sudah berbaur dengan dengan seluruh kaum muslimn di Indonesia ini.

Keputusan Idul fitri Muhammadiyah yang berbeda dengan pemerintah senantiasa menjadikan sebagian warga dan simpatisan Muhammadiyah beramal dengan keraguan.

Contohnya sebagi berikut :

Seorang Perempuan Muhammday menikah dengan Laki-laki Non Muhammadiyah, yang mana keluarga tersebut berada di lingkungan NOn MUhammadiyah yang berhari raya bersama pemerintah maka, Ibu Perempuan Muhammadiyah tersebut tidak bisa berhari raya dengan nyaman karena disatu sisi Muhammadiyah sudah berhari raya (termasuk dia sebagai simpatisan) akan tetapi Suami dan lingkungan masih berpuasa. Maka mau sholat id sama siapa dia sedangkan lingkungan tidak ada yang berhari raya ?

Jangan anda hanya membayangkan diri anda yang hidup di lingkungan Muhammadiyah yang bisa berhari raya selalu mengikuti keputusan Muhammadiyah ?
Dan yang seprti ini nyata.

Maka keberanian Muhammdiyah menentang keputusan idul Fitri Pemerintah yang telah nyata didukung oleh semua ormas islam yang ada pada hakikatnya bukan tindakan hikmah dan sayang terhadap pengikutnya yang mereka sangat mungkin ada bahkan banyak yang tinggal di komuntas-komuntas non Muhammadiyah yang berlebaran bersama pemerintah.

Mudah-mudahan bermanfaat.
Saudara kalian yang lahir dari lingkungan Muhammadiyah : Abu Salma Muhammad Fachrurozi

Bukti Muhammadiyah sering beda dengan Saudi
http://rukyatulhilal.org/artikel/23-tahun-isbat-indonesia.html

September 5, 2011 at 3:41 pm 13 komentar


s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.