Mengapa Kita Terpuruk ?
Untuk Pengikut Isa Bugis dan Hizbiyyun !
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi
Saya tidak meragukan semangat kalian menegakkan dienullah di muka bumi ini. Saya tahu bahwa kalian menginginkan Al-qur’an dan sunnah sebagai dustur di muka bumi, Islam sebagai pedoman hidup manusia, sebagai hukum tertinggi. Itulah cita-cita kalian, saya sangat mengerti itu. Oleh karena itu saya berharap kepada kalian begitu juga mengakui bahwa saya dan orang-orang yang seperti saya semuanya juga seperti kalian menginginkan tegaknya agama Allah di muka bumi
Namun saya dan yang semisal saya menginginkan memperjuangkan islam itu tidak boleh lepas dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dimana Beliau bersabda :
Dari Ummu Salamah berkata, Rasulallah bersabda: Nanti akan muncul sepeninggalku para penguasa, kalian mengetahuinya lalu kalian mengingkarinya. Barangsiapa mengingkarinya maka dia telah berlepas diri dan barang siapa yang membencinya, maka sungguh ia telah selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya. Mereka bertanya: Apakah kita akan melawannya dengan pedang? Beliau bersabda: ]angan, selama mereka masih mendirikan shalat.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)
Rasulullah membai’at para sahabat untuk : mendengar dan taat pada penguasa dalam keadaan senang maupun benci kepadanya dan dalam keadaan kesulitan maupun dalam keadaan aman. Bahkan dalam keadaan dirugikan oleh penguasa muslim. Juga beliau mengambil bai’at para sahabatnya agar jangan memberontak penguasanya, kemudian beliau mengatakan: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian punya hujjah dari Allah pada perkara itu (HR. Muslim)
Berikut pengalamanku :
Waktu itu di awal m-awal unculnya Qiyadah Islamiyah dipermukaan, dimana saya meyakini bahwa Mushadieq adalah lanjutannya Isa Bugis atau paling tidak dia pernah belajar tentang faham Isa Bugis. Saya perlu membicarakan tentang qiyadah itu dengan Bpk. Masykur.(salah satu guru ngaji saya tentang faham isa bugis, guru ngaji faham isa bugis saya yang satu adalah Abu Mashruh رحمه الله kakak ipar saya)
Setelah menanyakan kabar, kangen-kangenan kitapun membicarakan tentang Qiyadah, ternyata beliau belum tahu tentang gerakan ini. Saya bercerita dan kesimpulannya menurut Bpk. Masykur Qiyadah bukan Isa Bugis walaupun sama-sama tidak sholat, mewajibkan sholat nanti jika sudah fathul mekah (tegaknya dinullah). Baca :pemberontakannya berhasil.
Terus kita bercerita, berbicara masalah agama apa yang saya fahami sekarang dan apa yang Bpk. Masykur yakini.
Masih saja seperti dulu, bersemangat sangat bersemangat.
Karena memang sudah berbeda faham tukar argumentasipun tidak dapat dielakkan. Saya melihat beliau sangat kaget, fachrur yang dulu yang sangat disayangi sekarang sudah berani membantah, tidak lagi seperti dahulu.
Sayapun tak kalah kagetnya, pak Masykur yang dulu tidak mau berdzikir baca tahlil, tahmid dan tasbih ketika kita habis sholat Ashar dia lakukan, berdzikir (masya Allah berubah fahamnya) sekarang lebih khusuk, tunduk dan khidmat beribadah kepada Allah.
Padahal dulu, dia sampaikan tahlil itu bukan begitu, tahmid bukan begitu dan seterusnya yang intinya mengingkari apa yang diamalkan oleh kaum muslimin tentang berdzikir. Saya kaget sekaligus bersyukur beliau telah berubah. Semoga Allah merahmati menerima amalnya dan mengampuni dosa-dosanya.
Begitulah perdebatan tak dapat dihindari lagi.
Apa kira-kira yang diperdebatkan para pembaca ?
Tentu saja masalah pemerintahan Indonesia ini, mereka ulil amri apa bukan ?
Tentu saja Bpk. Masykur dengan tegas mengatakan sama sekali bukan bahkan mereka penguasa negeri ini adalah thoghut musuh islam harus dijmajhulkan perang melawan mereka adalah jihad fi salbilillah yang paling agung.
Masih seperti dulu belum selesai saya baca hadits, Beliau lanjutkan sendiri haditsnya belum saya baca ayatnya sudah dia baca ayat yang saya maukan. Memang Dia sangat faham lafadz-lafadz alqur’an beserta tempat (halaman dan nama suratnya di dalam al-qur’an). Mengapa karena tiap tiga hari sekali Dia menyelesaiakan tadarus Alqur’an. Bulughul Maram dan kitab-kitab hadits tak luput dari kegiatan sehari-hari beliau.
Saya pun tidak malu dengan kebodohan yang ada pada saya, memang seperti itu keadaannya beda dengan beliau yang sangat fasih dan mumpuni dalam tahfidhul qur’an.
Dalam keadaan seperti itupun saya tidak mundur terus kita berbicara sampai menjelang maghrib tanpa lelah bersemangat berdua, seakan-akan tidak berdebat kesannya belajar bersama, dia ngajari saya.
Kejadian yang sangat mengherankan saya, ketika saya bacakan hadits
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ )رواه مسلم(
“Bakal ada sesudahku pemimpin-pemimpin yang tidak berpetunjuk dengan petunjukku dan tidak berjalan dengan sunnahku. Dan di tengah mereka akan bangkit orang-orang yang hati mereka seperti hati syaitan-syaitan dalam bentuk manusia.” Aku (Hudzaifah) bertanya, apa yang harus saya lakukan ya Rasulullah, kalau saya menjumpai hal itu? Beliau bersabda: “Engkau harus mendengar dan mentaati pemimpin dan jikapun dipukul punggungmu dan diambil hartamu maka dengarlah dan taatlah.” (HR. Muslim)
Walaupun bacaan saya amburadul ternyata tanpa saya menterjemahkan beliau telah mengerti isi hadits, dan yang mengagetkan saya adalah ucapan Beliau : Tidak mungkin Rasulullah bersabda seperti itu, tidak mungkin. tidak mungkin. Begitu lah dia berkata.
Sayapun berusaha tenang dan mengucapkan : Hadits itu diriwayatkan oleh Bukhori Muslim lho Pak !, walaupun diriwayatkan oleh mereka tidak mungkin Rasulullah bersabda seperti itu, tidak mungkin Rasulullah merelakan kaum muslimin berhukum dengan hukum selain ilmu Allah yaitu alqur’an, tidak mungkin.
Jadi Bapak meragukan kevalidan hadits tersebut ? meragukan ilmu haditsnya dua syaikh tersebut ? Anda menolak kaidah-kaidah ilmu hadits yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin ?
Dia bimbang dan ragu, dan tampak dia tidak suka dengan keberadaan saya, tidak lagi betah duduk menemui saya. Namun waktu menjelang maghrib, saya cuek saya bertekad pulang setelah sholat maghrib.
Dalam suasana seperti itu dia terucap, beginilah salafy akhirnya pasti seperti kamu fachrur menyuruh manusia taat pada pemerintah yang tidak berhukum dengan hukum Allah.
Sayapun malas menanggapi lagi. Saya hanya bilang, gimana kalau pak Masykur saya pinjami kitab-kitab ahlussunnah. Ya gapapa saya tetap akan terus belajar dan belajar. Demikianlah kesimpulannya. Pertemuan terakhir saya dengan guru saya.
Saya minta ampun kepada Allah karena sampai saat meninggalnya beliau saya belum meminjamkan kitab kepadanya. Walaupun itu bukan janji dari saya hanya sebuah penawaran saya tetap merasa berdosa.
Dan saya berharap, niat baik belaiau yang terus mau belajar itu, Engkau ya Allah mau mengampuni atas segala kesalahannya, rahmatilah dia ya Allah, ampuni dosa dan salahnya, terimalah semua amal baiknya berilah pahala dan rahmatmu kepada guru kesayangan saya.
Ya Allah saya ingat betul ketika awal saya menikah dengan ummu salma, waktu itu saya datang kerumahnya mengenalkan istri dengan dia, dia menasehati dengan nasehat yang sangat berharga hingga mata ini menangis haru bercucuran airmata saya dan istri. Ya Allah Engkau yang tidak pernah lupa sedangkan hamba-Mu lupa dengan nasehat itu. Hamba-Mu hanya ingat betapa ustadz saya itu mendorong agar kami berdua taat pada-Mu, taat pada orang tua kami mendidik anak kami dengan Islam. Sungguh kami berdua dulu menangis haru bahagia, Engkau saksikan itu ya Allah, emgkau yang tidak pernah lupa, Engkau yang maha Adil dan Maha Pengampun Ampunilah Dosa dia orang yang begitu aku harapkan mengikuti manhaj salaf. Ya Allah ampunilah kita semua. Amin.
Begitulah, saya sangat mengerti betapa kalian sangat menginginkan Tegaknya dienullah di muka bumi.
Namun seperti itulah kalian ketika dibacakan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan entengnya kalian menolaknya.
Itulah bedanya kalian dengan saya dan orang-orang yang saya ambil ilmunya saat ini. Itulah bedanya.
Kalian ingin Islam jaya dengan metode akal kalian dan saya berusaha sekuat semampunya untuk mengikuti hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Itulah perbedaan kita.
Biar kita dapat sefaham bacalah yang berikut :
Mengapa Ummat Islam Selalu Ditindas?
Oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani
Segala puji hanyalah milik Allah, kami memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan dari kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan tidak ada yang bisa menunjukinya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. 3:102)
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. 4:1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS. 33:70) niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS. 33:71)
Amma ba’du; Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Al Imam Abu Daud telah meriwayatkan di dalam kitabnya As-sunan dan juga Al Imam Ahmad di dalam musnadnya dan begitu pula para ulama selain mereka, dengan dua sanad yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwasanya beliau bersabda. “Apabila kalian telah berjual-beli dengan ‘inah dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau dan kalian telah mencintai pertanian dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian”.
Di dalam hadits shahih ini terdapat keterangan akan solusi dan obat akan kondisi yang sedang meliputi ummat Islam (sekarang ini), berupa kehinaan yang menguasai mereka seluruhnya, kecuali sejumlah kecil dari ummat ini yang senantiasa berpegang teguh dengan urwatul wutsqa (tali yang kuat) yang tidak akan putus. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan di dalam hadits ini penyakit yang apabila menjangkiti ummat Islam, maka Allah akan hinakan mereka. Kemudian beliau menjelaskan kepada mereka obatnya dan jalan untuk selamat dari penyakit ini.
Beliau berkata di awal haditsnya; “Apabila kalian telah berjual-beli dengan cara ‘inah”. Jual-beli dengan cara ‘inah, kami tidak akan berbicara tentangnya di sini melainkan singkat saja, yaitu: salah satu bentuk transaksi ribawi yang kebanyakan manusia di zaman sekarang terfitnah dengannya. Sistem jual-beli ini disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sekedar sebagai contoh -dan bukan membatasi- dari banyak hal yang apabila ummat ini terjatuh ke dalamnya mereka berhak mendapatkan kehinaan dari Allah atau oleh karenanya Allah hinakan mereka.
Beliau menyebutkan beberapa contoh pada nas hadits di atas:
Yang pertama: Jual-beli dengan cara ‘inah, kemudian beliau menyebutkan yang berikutnya, beliau berkata; “Dan kalian mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah cinta kepada pertanian”. Dan ini adalah ungkapan akan rakusnya ummat Islam dalam mengumpulkan dunia dan akan perhatian mereka yang besar terhadap kemewahan-kemewahannya. Itulah yang memalingkan mereka dari menegakkan kewajiban-kewajiban syariat yang banyak, dan dalam hal ini beliau menyebutkan sebuah contoh, kata beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada kelanjutan hadits; “Dan kalian telah meninggalkan jihad di jalan Allah”.
“Apabila kalian telah jual-beli dengan cara ‘inah” maksudnya; kalian telah jatuh ke dalam sistem-sistem transaksi yang haram, diantaranya ‘inah. “Dan kalian telah mengambil ekor-ekor kerbau, dan kalian telah mencintai pertanian” maksudnya; kalian telah berpaling dari menunaikan kewajiban-kewajiban agama kalian kepada memperhatikan urusan-urusan duniawi, dan mencari harta dengan cara apa pun dan yang demikian ini telah menjadikan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah. Apa kiranya hukuman terhadap ummat ini ketika mereka terjatuh ke dalam perkara-perkara yang tidak satu pun darinya disyariatkan Rabb kita Azza wa Jalla!? Berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak Dia angkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian”.
Dan kehinaan yang menyelimuti ummat Islam sekarang ini adalah perkara yang telah dimaklumi oleh setiap orang yang berakal. Dan dari sini perkara ini membutuhkan penjelasan yang banyak. Dan cukup bagi kita sekedar mengingatkan apa yang telah menimpa ummat Islam berupa penjajahan Yahudi terhadap negeri Palestina, belum ditambah dengan negeri-negeri di Syam selain Palestina. Yang mana hal ini menyebabkan tiada henti-hentinya fitnah demi fitnah datang silih berganti. Dan tiada henti-hentinya pemerintah non muslim atau pemerintah muslim secara geografi berbuat kerusakan di sana. Semua itu merupakan kehinaan yang Allah Tabaaraka wa Ta’aala timpakan kepada ummat Islam, dan yang demikian ini bukan merupakan tindak kedzaliman dari Allah, sekali-kali bukan! Karena sesungguhnya Rabb kita Jalla wa ‘Ala tidak mendzalimi seorang pun dari manusia, akan tetapi mereka sendiri lah yang berbuat dzalim. Rabb kita –Azza wa Jalla- berfirman; “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka”. (QS. 4:160). Maka tatkala Dia menimpakan kehinaan kepada kita adalah dikarenakan kedzaliman kita.
Kedzaliman itu adalah kedzaliman yang jelas yang terdapat pada banyak aspek kehidupan. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan untuk kita dalam hal ini tiga contoh: jual beli dengan cara-cara yang diharamkan Allah, berlomba-lomba di dalam kemewahan dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah. Maka akibat dari ini semua Allah timpakan kepada kita kehinaan yang menyelimuti ini dalam gambaran seolah-olah dia adalah sebuah jasad dan jasmani di negeri kita yang tercinta Palestina. Apabila hal ini adalah kehinaan, maka apa jalan keluar darinya? dan bagaimana cara menyelamatkan diri darinya?
Obat mujarab untuk keluar dari kehinaan dan kerendahan: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, nabi yang sifatnya diterangkan oleh Rabb kita di dalam Al Qur’an di dalam firman-Nya: “amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (QS. 9:128). Beliau bersabda pada kelanjutan hadits di atas: “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan diangkat dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Inilah obatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menerangkan sifat obat ini dengan demikan gamblangnya di penutup hadits di atas, kata beliau: “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”.
Ketika saya bawakan kepada kalian hadits ini dan mengomentarinya dengan komentar-komentar dari saya, sesungguhnya dalam hal ini saya tidak menyampaikan kepada kalian suatu yang baru. Karena ummat Islam seluruhnya meskipun ada perbedaan di antara mereka dalam urusan keyakinan-keyakinan dan dalam urusan furu’ –menurut istilah mereka-, semua mereka sepakat bahwa sebab kehinaan yang menimpa ummat Islam adalah karena mereka telah meninggalkan agama mereka. Dan setiap mereka mengatakan: sesungguhnya obatnya adalah kembali kepada ajaran agama. Ini semua adalah perkara yang biasa dikenal oleh mereka semua. Akan tetapi satu hal yang ingin saya ingatkan, dan hal ini bisa jadi baru bagi sebagian orang, tapi ini merupakan kebenaran seperti yang kalian ucapkan. Perkara ini adalah: kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan sifat obat bagi ummat Islam yang terhinakan disebabkan perbuatan mereka melanggar aturan-aturan agama mereka, bahwa obat itu adalah dengan kembali kepada ajaran agama mereka!?
Ajaran agama apa yang dimaksud di sini –inilah inti dari ceramahku di sini-, ajaran agama seperti apa yang dimaksud sebagai obat bagi ummat Islam di dalam nas hadits di atas. Dan ummat Islam seperti yang telah saya jelaskan setiap mereka mengatakan: wajib bagi ummat Islam beramal dengan ajaran agama mereka. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan ajaran agama di sini!?
Sesungguhnya sangat disayangkan bahwa ajaran agama Islam telah mengalami banyak tafsiran pada masa yang panjang semenjak zaman salafusshalih Rhadiyallahu ‘Anhum, bukan hanya dalam perkara fikih yang mereka katakan sebagai perkara furu’ saja melainkan hal ini juga merambah sampai perkara-perkara akidah. Dan setiap kita mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengabarkan akan perpecahan ummat menjadi tujuh puluh tiga golongan, beliau bersabda: “Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan dan Nashara terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua mereka di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya: siapa mereka wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam!? Beliau menjawab: mereka adalah jama’ah”. Inilah riwayat yang benar dan di sana ada riwayat lain di dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi ada yang menguatkan, yaitu sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Mereka adalah orang-orang yang mengikutiku dan para shahabatku”.
Pada dasarnya riwayat (yang terakhir) ini tidak ada padanya suatu yang baru apabila ditinjau dari riwayat yang pertama selain menambah kejelasan dan kerapian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika menerangkan sifat golongan yang selamat berkata: “mereka adalah jama’ah”. Riwayat ini beliau tafsirkan pada riwayat yang ke dua bahwa jama’ah ini adalah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya.
Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita bahwa kaum muslimin akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Dan kelompok-kelompok ini semuanya tersesat kecuali satu dan sifat mereka adalah yang mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya. Dan kita sekarang ini hidup di tengah-tengah perpecahan yang sangat banyak sekali yang telah kita warisi sepanjang tahun-tahun yang tidak sebentar. Dan setiap dari kelompok-kelompok ini tidak satu pun dari mereka yang menyatakan berlepas dari Islam, tidak satu pun dari mereka mengatakan: agama kami bukan Islam. Bahkan setiap mereka mengatakan: agama kami Islam. Bersamaan dengan itu setiap mereka mengatakan: obat bagi ummat ini adalah dengan berpegang kepada ajaran agama.
Kalau begitu: ajaran ini yang ummat Islam terpecah belah tentangnya hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, atau mereka terpecah belah dalam memahaminya dengan perpecahan yang demikian sengitnya, apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjadikan obatnya adalah kembali kepada ajaran agama, (pertanyaannya) pemahaman siapa yang kita pakai untuk memahami agama ini sehingga ia menjadi obat seperti yang disabdakan Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “Allah akan timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan Dia angkat sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian”.
Saya tidak akan membawa kalian jauh-jauh dalam memberikan contoh, sementara dihadapan kita ada contoh pertama yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada awal hadits, ketika beliau bersabda: “Apabila kalian telah jual beli dengan cara ‘inah”. Jual beli ‘inah, madzhab-madzhab yang ada berbeda pendapat tentangnya, di antara mereka ada yang membolehkannya dan di antara mereka ada yang mengharamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hadits ini menjadikannya di antara sebab ummat Islam jatuh sakit dan sebab yang menjadikan mereka berhak mendapat kehinaan, yaitu mereka melaksanakan praktek jual beli dengan cara ‘inah. Jadi, dengan manhaj apa dan dengan pemahaman agama apa, kita wajib memahami agama ini sehingga ia menjadi sebuah agama dan menjadi sebab keluarnya kita dari kehinaan yang menyelimuti kita!?
Sesungguhnya jual beli ‘inah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada penjabaran hadits ini telah dianggap boleh oleh sebagian muslimin. Saya tidak mengatakan orang-orang jahil atau awamnya, melainkan yang saya maksud adalah orang-orang khusus dan sebagian penulis pada masa yang lampau dan ahli hadits. Mereka menyebutkan bahwa jual beli ‘inah adalah jual beli yang halal dan termasuk ke dalam keumuman firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Qs. 2: 275) akan tetapi hadist ini menerangkan kepada kita bahwa jual beli dengan cara ‘inah tidak disyariatkan bahkan diharamkan oleh karena itu ia dijadikan sebab dari sebab-sebab berhaknya ummat Islam mendapatkan kehinaan.
Kalau begitu makna hadits ini adalah tidak boleh jual beli dengan cara ‘inah. Maka apabila kita ingin kembali kepada agama kita agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala muliakan kita dan Dia mengangkat kehinaan yang menyelimuti kita, kita menganggap jual beli dengan cara ‘inah boleh atau haram!? Mesti kita mengharamkannya. Dan pengharaman ini terdapat di dalam hadits. Akan tetapi penghalalannya datang pada sebagian riwayat dan sebagian pendapat ulama.
Kalau begitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata di akhir hadits: “Sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Yang dimaksud adalah agama yang terdapat di dalam Al Qur’an dan rinciannya diterangkan di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Agama yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan; “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (Qs. 3: 19) dan dalam firman-Nya: “Pada hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”. (QS. 5: 3) dan di dalam firman-Nya: “Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya”. (Qs. 3: 85) sampai pada akhir ayat.
Kalau begitu agama yang akan menjadi obat adalah Islam (berserah diri), akan tetapi Islam sendiri telah mengalami banyak penafsiran dalam perkara akidah (pokok) terlebih lagi dalam hal furu’ (cabang).
http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=154
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=286
http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=287
Penulis : Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf () adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).
Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita:
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)
Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:
1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)
Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.
Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.
Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.
Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).
Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).
Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.
Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar atau mengikuti apa yang mereka pahamiumengikuti sunnah nabi mereka dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).
2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).
Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).
Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).
Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) bagi apa yang diperselisihkan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:
- Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.
- Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.
- Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79).
Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.
Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:
1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.
3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.
4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:
1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).
2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).
3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).
4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)
5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).
6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).
Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

bismillah,
setelah baca kisah antum ana kok jadi ingat kontak pertama lewat blog kita dulu ya akh, sampai sekarangpun apa yang antum tuliskan untuk ana dulu ana print dan masih tersimpan sampai saat ini…biarpun blognya udah gak ada.
jazakallahu khairan
Ass. Wr. Wb..
Akhirnya nemu juga last blog ttg isa bugis dari bp. Abu Salma..
Pertama2x saya memohon maaf bila ada kata2x saya yang kurang berkenan (belepotan pak..)
Pak Abu Salma saya ingin bertanya dan akan amat berterimakasih jika bpk bisa menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini..
1. kira2x sekarang ini ada berapa ya pecahan/sempalan dari aliran isa bugis ini?
2. Bagaimana mematahkan pendapat mereka pak Abu?
Mereka terlalu rasional.. Apakah dengan menunjukan suatu bukti dari ilmu kebatinan (contohnya) akan mematahkan pendapat mereka ttg hal2x gaib? (Orang biasa aja bisa melakukan hal2x yang aneh, apalagi Nabi yang hanya membelah laut merah dll jika Allah SWT menghendakinya..)
3. Base nya di mana aja sih pak? Kalo mereka benar2x sesat dan dilarang oleh MUI, apakah harus dilaporkan bila saya menemukan pengajian seperti itu dan bila dilaporkan kemana?
sekian dulu pertanyaan dari saya pak..
Ass, Wr. wb
Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu
Sebelumnya saya memohon maaf karena kesibukan menjadikan terlambat membaca dan menjawab komentar anda.
Ya..terpenting kita telah mengetahui kesesatan Isa Bugis sehingga kita dapat menghindari ajarannya. Mudah-mudahan pemerintah kita mendapat taufiq dari Allah subhanahu wata’ala memberantas berbagai aliran sesat yang ada.
Semoga Allah membimbing kaum muslimin kepada ajaran Islam yang murni, menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Karena diantara penyebab bermunculannya kelompok sesat adalah dikarenakan hukum Islam tidak lagi difungsikan oleh kaum muslimin. Hanya saja mereka kelompok sesat itu ketika memperjuangkan tidak lagi menempuh jalurnya para salafushsholih yang terbimbing dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga akhirnya tersesat. Semakin lama mereka berjuang semakin jauh mereka menyimpang.
Hanya kepada Allah lah kita mengadu dan meminta pertolongan dari semuanya ini.
wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu
hati2 dalam mengucapkan sesuatu yg belum tentu benar. karena bisa saja anda salah, dan anda yang menanggung akibatnya. (hannya mngingatkan)
sdr abu, anda belajar pahamnya pak isa ampe mana si? ko mla ngatain beliau sesat, koreksi dulu ! jangan terlalu bersikap apriori, anda ini kayak orang jahiliyah saja ya,hasbuna maa wajadna alaihi aba ana,,,,,demikianlah paham yang anda ikuti sekarang, semoga anda sadar,, fa innallaha adawwun lil kaa firin, mohon maaf jika ada kata yg tak berkenan di hati anda.
sdr abu yth, isa bugis juga punya guru tapi yang menjadi masalah sekarang, apakah beliau harus mengikuti gurunya walaupun diajak masuk ke lubang biawak !
kalau beliau sesat, tunggu saja saatnya apa yang beliau katakan pasti terwujud ! yakni terwujudnya qurun ke-2 di indonesia, satu sistem kehidupan berdasarkan ajaran allah menurut sunnah rasul-Nya kehidupan yang baldatun taybatun warabbul gafur, .,….inna ma akum minal mungtajirin!
Dengan ajaran Isa Bugis yang sesat …? mimpi kali ye …
sdr. abu yth emangnya islam di zaman sekarang sama dengan islam dizaman rasulullah apa? ingat sdr abu, islam yang ada sekarang ini berdasarkan pandangan mazhab, yang kesemuanya berbeda-beda bahkan diantara mazhab2 itu saling menyalahkan dan mengkafirkan,..akan datang suatu zaman dimana islam akan terpecah kedalam 73 golongan, apakah yg nabi maksudkan itu salafi apa….?
Belajar dulu ……baca dengan serius ….!
Waduh2 jd pengen ktawa sy liat koment2nya para pengikut isa bugis,bnar2 kliatan kebodohan mereka,emg sih ad dalilnya dikit tp tafsirnya bner2 ngaco….Apalagi komentnya ’sabun pikiran’ walah2 bnar2 ngaco ga ad sm skali ilmu yg bnar dan bnar2 tdk mnganggap sm skali buku2 atwpn pndpt2 ulama2 ahlussunnah yg sdh diakui kaum muslimin dr jaman dulu smpe skrg,sungguh2 mengherankan…!