Diskusi dengan Pengikut Isa Bugis (lanjutan)
Oleh : Abu Salma Ibnu Rosyid
Tafsir Bismillah (tasmiyah)
Adapun makna bismillah di artikan oleh Isa Bugis Mudah-mudahan aku hidup dengan ilmu Allah (Al-Qur’an menurut sunnah Rasul).
Kita menyaksikan dalam penerjemahan kalimat Bismillah, Isa Bugis menafikkan keberadaan Allah ta’ala sebagai fail yang maha mampu berbuat apa saja dan maha menguasai segala sesuatu sehingga kita sebagai hamba-Nya senantiasa bergantung dan meminta pertolongan dalam setiap pekerjaan dan amalan yang akan kita lakukan / kerjakan. Akan tetapi Isa Bugis ketika melakukan sesuatu hanya bergantung pada dirinya sendiri, Ismullah dihilangkan. Dia menyandarkan pada dirinya sendiri mudah-mudahan aku hidup dengan ilmu Allah. Sungguh sangat jauh dengan penafsiran Ahlut Tauhid, Ahlus Sunnah.
Sekarang marilah kita simak penjelasan Syaikh Utsaimin tentang makna bismillah.
Kalimat bismillah yaitu Al-jar wal Ma-jrur itu berkaitan dengan suatu kata kerja yang yang mana kata kerja dalam kalimat bismillah itu dalam tiga keadaan berikut :
1. Dihilangkan
2. Diakhirkan dan
3. Disesuaikan dengan bentuk amalan (yang dimulai dengan ucapan basmallah)
Sehingga kata bismillah takdirnya adalah :
بسم الله اكتب jika mengucapkannya ketika kita akan menulis yang artinya “Dengan nama Allah ta’ala aku menulis”, atau
بسم الله اصنف = jika mengucapkannya ketika kita akan mengarang tulisan, yang artinya “Dengan nama Allah ta’ala aku menyusun tulisan ini”, atau
بسم الله اقرأ = jika kita mengucapkan ketika akan membaca yang artinya “Dengan menyebut nama Allah ta’ala aku membaca”, demikian setiap kita akan melakukan sesuatu di awali dengan mengucap bismillah.
Dengan demikian kata bismillah (Al-Jar wal Majrur) selalu dikaitkan dengan suatu kata kerja yang dihilangkan, diakhirkan dan disesuaikan dengan pekerjaan yang hendak / akan dilakukan.
Sekali lagi kata kerjanya itu dihilangkan (mahdzuf), tidak ada akan tetapi (muqodaroh) ditetapkan, diakhirkan dan disesuaikan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.
Sedangkan kata yang dihilangkan itu berupa kata kerja (fi’il) karena pada asalnya yang dapat bertindak sebagai ‘amil (dalam ilmu nahwu) adalah fi’il (kata kerja).
Dan kata kerja yang dihilangkan itu berkedudukan di akhir kalimat disebabkan dua fungsi :
1. Mencari berkah dengan nama Allah ta’ala
2. Berfungsi sebagai pembatas (ifadatul hashri) karena mendahulukan Al-Jar wal Majrur yang muta’aliq berfungsi membatasi. (yang maknanya : Hanya dengan nama Allah ta’ala saja dan tidak dengan selainnya, aku melakukan …..(pekerjaan)
Sedangkan kata kerja yang dihilangkan itu memiliki makna yang sesuai dengan bentuk amalan / pekerjaan (yang dimulai dengan basmallah) karena lebih menunjukkan kepada maksud.
Sebagai conotoh, ketika hendak membaca sebuah kitab kita ucapkan :
بسم الله أبتدأ = Dengan nama Allah ta’ala aku memulai, maka ucapan tersebut tidak dapat difahami pekerjaan / perbuatan apa yang akan kita mulai. Akan tetapi dengan mengucapkan بسم الله اقرأ “Dengan nama Allah ta’ala aku akan membaca” tentu lebih mengena kepada (pekerjaan) yang dimaksud dan yang akan dilakukan.
Demikian penjelasan Syaikh Utsaimin perihal makna bismillah, saya nukilkan dari terjemahan Syarah Ustuluts Tsalatsah, terbitan Ash-Shaf media dengan sedikit tambahan dari saya.
Begitulah penjelasan Ahlut tauhid, merupakan penafsiran orang yang mentauhidkan Allah ta’ala dalam kehidupannya, menggambarkan orang-orang yang sangat membutuhkan kepada Allah ta’ala yang maha mampu melakukan sesuatu.
Sangat beda dengan terjemahan dan tafsiran Isa Bugis yang senantiasa menafikkan sifat-sifat Allah ta’ala yang maha Mulia. Menunjukkan bahwa Isa Bugis rusak tauhidnya, demikian pula orang-orang yang mengikutinya. Semoga Allah ta’ala memberi hidayah bagi mereka yang masih mau berfikir dan yang terjebak terhadap pemikirannya.
Selubung di Balik Ucapan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul
Bagi sebagian orang yang tampaknya menginginkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya tegak dimuka bumi, akan tertipu dengan ucapan Isa Bugis berkaitan dengan definisi Iman. Yaitu Isa Bugis mengatakan :
Definisi Iman secara umum adalah pandangan dan sikap hidup dengan ajaran Allah (Al-Qur’an) menurut Sunnah Rasul dan atau dengan ajaran-ajaran selain Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul yaikni menurut sunnah syayathin. (Pengantar Iman hal : 18)
Dengan demikian menurut Isa Bugis Ada dua Iman :
1. Iman Haq yaitu beriman (berpandangan dan bersikap hidup) dengan Ilmu Allah (Al-Qur’an) menurut Sunnah Rasul dan
2. Iman Bathil yaitu beriman kepada selain Ilmu Allah (Al-Qur’an) menurut Sunnah Rasul yaitu beriman kepada Al-Qur’an menurut Sunnah Syayathin atau Ilmu-ilmu lain selain Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul seperti idiologi barat atau idiologi timur (komunis)
Itu definisi iman secara umum yaitu Iman Haq dan Iman Bathil.
Secara Khusus ketika disebut Iman maka itu adalah Iman Haq berpandangan dan bersikap hidup dengan ajaran Allah (Al-Qur’an) menurut Sunnah Rasul dan pelakunya / orangnya disebut mukmin. Sedangkan orang kafir adalah orang-orang yang berpandangan dan bersikap hidup kepada selain ajaran Allah ta’ala yaitu (Al-Qur’an) menurut sunnah syayathin atau ajaran selainnya.
Demikian kokoh dan mantap Isa Bugis mendefinisikan kata Iman sehingga membuat pengikutnya yang sebenarnya menginginkan perubahan di negeri ini sangat antusias mendukung. Betapa tidak, mereka sedang memperjuangkan Dienul Islam, mengharapkan Islam sebagai aturan hidup berbangsa dan bernegara tentunya akan sangat setuju. Dengan definisi seperti itu maka konsekwensinya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai tatanan kehidupan.
Namun bagaimana kenyataannya ? benarkan seperti itu ?
Apa yang dimaksud Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul ?.
Barangkali sebagian kaum muslimin yang belum mengetahui faham Isa Bugis akan mengatakan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul itu adalah Al-Qur’an yang terdiri dari 30 jus 114 surat dan 6666 ayat yaitu alqur’annya kaum muslimin dengan terjemahan DEPAG yang telah diakui oleh kaum muslimin se Indonesia dan juga kaum muslimin di luar negeri dan Sunnah Rasul itu adalah Sunnah atau hadits-hadits shahih yang terdapat di dua kitab Bukhari Muslim dan hadits-hadits shahih yang terdapat dalam kitab hadits lainnya. Bagaimana kenyataannya, apakah seperti itu ?
Bukan, tidak seperti itu kaum muslimin, bukan itu, akan tetapi Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul adalah Al-qur’an yang diajarkan dan difahami oleh Isa Bugis yang sebagian tafsirnya telah disebutkan dalam tulisan di atas.
Maka siapapun yang tidak beriman (berpandangan dan bersikap hidup) dengan ajaran Isa Bugis kafir, dan yang mengikuti ajarannya, mempelajari dan mengamalkannya adalah mukmin.
Sehingga kita menyaksikan orang-orang yang mengikuti ajaran Isa Bugis ini, karena mereka tidak mampu mempelajari, melaksanakan konsekwensi-konsekwensinya, kebanyakan mereka menjadi orang yang berputus asa dan akhirnya tidak melakukan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah ta’ala.
Bagaimana tidak putus asa : Secara kenyataan ajaran Isa Bugis tidak dapat dijadikan sebagai pandangan dan sikap hidup. Dari dulu tahun 1980 ajaran itu telah muncul dan sampai sekarang AL-hamdulillah masih begitu-begitu saja. Para pengikutnya secara umum belum mampu menafsirkan dan menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana Isa Bugis yang membuat tafsir seperti itu hanya gurunya saja yaitu Isa Bugis. Sedangkan pengikutnya adalah muqalid-muqalid, orang-orang yang tidak berani membantah sedikitpun terhadap ajaran gurunya.
Para pengikutnya belum mampu menjadikan ajaran Isa Bugis sebagai pandangan dan sikap hidup yang sebenarnya. Sehingga mereka sangat mungkin meragukan atas keimanannya sendiri. Karena ragu akan keimanannya tersebutlah diantara mereka tidak beribadah. Mereka putus asa dari rahmat Allah ta’ala. Akhirnya mereka tidak shalat, tidak puasa dan yang lainnya. Karena mereka belum beriman / atau meragukan atas keimanan dirinya terhadap Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul. Kenapa ?, karena mereka tidak mampu berpandangan dan bersikap hidup. Bagaimana mereka akan mampu berpandangan dan bersikap hidup sedangkan mereka tidak tahu bahkan tidak faham apa yang dimaksud pandangan dan sikap hidup, seperti apa bentuknya mereka tidak mengerti.
Menurut mereka, mereka belum beriman mereka sedang melakukan persiapan iman yaitu ratilil qur’an (mempelajari Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul (ajaran Isa Bugis) di sepertiga malam). Sehingga mereka dari dulu sedang perisapan iman (melakukan amalan-amalan yang dapat mengantarkan kepada keimanan) yaitu dengan cara mempelajari Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul pada pertiga malam.
Bagaimana mereka dapat beriman sedangkan di antara mereka mayoritas tidak akan bakal mampu melakukan ratilil qur’an diperti gamalam.
Bagaimana mereka akan memperlajari Al-Qur’an secara tartil sedangkan mereka tidak dapat membaca Al-Qur’an dengan baik, tidak menguasai bahasa Al-Qur’an yang diajarkan Isa Bugis.
Bagaimana mereka akan menguasai Bahasa Al-Qur’an yang dijarkan Isa Bugis, sedangkan tasrifh Ishthilahi fi’il tsulatsi mujarrot (pemecahan kata kerja tiga huruf) juga belum hafal.
Bagaimana mereka akan menguasai tashrif tsulatsi mazid sedangkan mujarratnya juga belum dihafal.
Dus ajaran Isa Bugis tidak mampu dijadikan pandangan dan sikap hidup bagi pengikutnya sendiri, sehingga para pengikutnya mereka semua belum beriman akan tetapi baru melakukan persiapan iman, dan persiapannya itupun amburadul, masing-masing mereka putus asa tidak dapat melaksanakan ajaran gurunya. Kecuali sebagian kecil yang mereka pernah menempuh ilmu nahwu sharaf dari kaum muslimin yang lain.
Kemudian bagaimana mereka mengatakan kepada orang lain yang tidak mengikutinya ajaran Isa Bugis. Tentu saja mereka dengan mudah mengatakan kaum muslimin yang lain itu imannya iman bathil berpandangan dan bersikap hidup terhadap ilmu dzulumat menurut sunnah syayathin, alias kafir.
Sehingga sekali lagi pengikut-pengikutnyapun sebenarnya bukan orang-orang yang beriman (berpandangan dan bersikap hidup) dengan Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul ajaran Isa Bugis. Para pengikutnya juga bukan orang-orang yang beriman (berpandangan dan bersikap hidup) dengan selain ajaran Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul. Pengikutnya adalah orang-orang yang tidak masuk dalam dua kelompok yang disebutkan oleh Isa Bugis. Simpulan seperti ini, tentunya jika kita dan mereka benar-benar konsekwen dengan definisi Iman yang dibuat oleh Isa Bugis.
Mereka membagi manusia menjadi dua kelompok Mukmin Haq dan Mukmin Bathil. Mereka tidak mengenal bahwa Iman itu bertambah dan iman itu berkurang, mereka tidak mengakui bahwa orang beriman itu bertingkat-tingkat keimanannya. Iman ya iman Kafir ya Kafir. Sungguh bagi yang telah mempelajari akidah ahlussunnah akan mengetahui betapa jauhnya faham Isa Bugis ini telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Kalaupun ajaran yang dimaukan itu adalah Islam yang benar, Iman adalah pandangan dan sikap hidup dengan Islam yang benar itupun tetap salah. Kesalahannya dapat dilihat dari beberapa sisi diantaranya :
1. Tidak ada satupun pendahulu Salafush Shalih yang mendefinisikan seperti itu. Definisi deperti itu akan membagi manusia menjadi dua kelompok saja, tidak ada tingkatan-tingkatan iman, mengakibatkan semua orang yang beriman itu tingkatannya sama. Keimanan orang biasa sama dengan keimanan para sahabat, sama pula dengan imannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Membatasi objek iman, Isa Bugis membatasi yang perlu diimani oleh kaum muslimin adalah Alqur’an, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas dalam hadits Jibril : beriman kepada Allah ta’ala, Malaikat, kitab-kitabnya (yang diturunkan kepada Nabi-nabi sebelum Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) , Rasul-rasulnya, hari akhir dan beriman kepada takdir-takdirnya baik yang takdir yang baik dan takdir yang buruk.
Beriman kepada Allah ta’ala yaitu beriman dengan wujud Allah ta’ala dan beriman pula nama-nama sifat-sifat Allah ta’ala yang maha mulia. Beriman bahwa Allah ta’ala yang menciptakan kita, member rizki kepada kita. Beriman Allah ta’ala sebagai Rab,sebagai satu-satunya sesembahan dan beiman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala yang maha mulia.
Adapun Isa Bugis justru memalingkan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala sebagai mana yang sedikit di singgung pada tulisan yang pertama.
Tentu saja masalah iman ini tidak sesederhana yang dibahas oleh Isa Bugis, kita semua perlu belajar kembali tentang iman kepada para Ulama Ahlussunnah.
Namun jika ternyata kita belum sempat menamatkan kajian tentang iman dengan segala konsekwensinya, kita semua belum beriman ? kita baru sedang melakukan persiapan iman. Disinilah kesalahan yang sangat tampak dengan ajaran Isa Bugis.
Demikianlah sangat jelas kesalahan Isa Bugis, yang hanya membedakan manusia menjadi dua kelompok Iman (iman Haq) dan Kafir (Iman Bathil). Tidak ada tingkatan-tingkatan iman, Keimanan manusia biasa sama dengan keimanan Sahabat bahkan keimanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sehingga kita menyaksikan diantara mereka adalah-orang-orang yang tidak meyakini dirinya sendiri sebagai orang yang beriman, akibat dari itu mereka tidak beribadah, putus asa dari rahmat Allah ta’ala. Tidak tampak dari mereka identitas sorang muslim yang komit, sperti bergamis, berjanggut, ,bercelana cingkrang dan identitas-identitas islam lainnya.
Namun anehnya para pengikutnya mengatakan bahwa Isa Bugis mengajarkan hadits / sunnah-sunnah Rasul. Hadits yang mana, sunnah Rasul yang mana ?
Apakah Isa Bugis pernah mengajarkan cara Wudhu Rasul yang sesuai dengan dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ?
Atau mengajarkan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin sehari-hari yang lain ? jawabnya pasti tidak !,
Murid-muridnya hanya disibukkan dengan Bahasa Al-Qur’an bukan bahasa arab, Idul Fitri kembali kepada sistem zakat dll yang mereka sendiri tidak mampu mengamalkannya. Itulah kenyataan yang tidak dapat mereka pungkiri, ternyata ajaran Isa Bugis tidak mampu membuat pengikutnya mengamalkan dan mencintai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ajaran Isa Bugis disadari atau tidak, tidak mampu menjadikan pengikutnya meyakini dengan sebenar-benarnya akan keagungan Allah dengan nama-nama dan sifat-Nya yang mulia, tidak mampu menjadikan pengikutnya mencitai, meyakini dengan kehidupan akherat, sehingga dengan keyakinan itu lisan dan amalannya membuktikan dengan sikap-sikap taat dengan syareat Islam yang mulia, melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Semoga tulisan dari orang yang bodoh ini bermanfaat bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran. Tentunya banyak sekali kekurangan dari tulisan ini, saya berharap orang-orang yang lebih berilmu dari saya diberi waktu dan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk membongkar kesesatan-kesesatan ajaran Isa Bugis.
Dalam kesempatan ini pula kami mendoakan kepada penguasa negeri ini, Semoaga Allah ta’ala memberi taufiq kepada mereka sehingga mereka dapat menumpas aliran-aliran yang nyata-nyata menyimpang dari manhaj Islam telah gamblang dan jelas.
Sebelum saya mengakhiri pmbicaraan ini, saya nukilkan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut :
لا تزال طائفة من أمتي قائمة بامر الله لايضرهم من خذلهم أوخلفهم حتى يأتي أمرالله وهم ظاهرون على الناس
Akan senentiasa ada sekelompok dari ummatku yang tetap menjalankan perintah Allah, tidak merugikan mereka orang-orang yang melecehkan mereka ataupun menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah,sedangkan mereka tetap unggul di atas manusia (Hadits Muslim Kitabul Imarah 13/99. Dinulkil dari Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al-Haura)
Begitulah, Hadits membuktikan bahwasannya pembawa kebenaran semenjak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dulu sampai saat ini senantiasa ada, yang maknanya kebenaran itu tidak pernah lenyap. Ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu terus (senantiasa) ada yang mengajarkan dan mengamalkannya. Sehingga tidak perlu ada ajaran baru, ajaran yang tiba-tiba muncul tanpa guru, tanpa rujukan dari pembawa risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu para ulama.
Maka jelas dan gamblang, jika pengikut Isa Bugis masih meyakini dengan Hadits-hadits yang diyakini pula oleh kaum muslimin, mestinya semenjak membaca hadits yang penulis sebutkan tadi berusaha dengan sungguh-sungguh meninggalkan ajaran Isa Bugis, kenapa ?
Karena ajaran Isa Bugis adalah ajaran baru, tidak ada pendahulunya sama sekali, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat : Hati-hatilah kalian dengan perkara baru, karena setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan di neraka.
Wallahu a’lam, semoga bermanfaat.
Akhirnya semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan segala puji hanya bagi Allah ta’ala Rab sekalian alam.
DIarsipkan di bawah: Manhaj

wkwkkwkw
kenapa postingan saya di hapus Abu Salma Ibnu Rosyid
ketauan anda ya… sekedar mau cari uang di blog ini, mencantuk kan Isa bugis disini..
seluruh dunia sudah tau pak… alesan bapak mencantumkan topik Isa bugis disini…
inget pak pada saatnya ketahuan apa tujuan anda bikin blog ini…
hehehehehe
kirain postingan Spider361 saja yang dihapus…..eh ada juga toh yang di hapus.
mudah2an niat ANDA (Abu Salma Ibnu Rosyid) tidak sejahat YAHUDI yang ingin memutar balik dan menyembunyikan yang BENAR.
pada akhirnya nanti semua akan kelihatan. mana ajaran yang sebenarnya al Quran MSR (Menurut Sunnah RASUL) dan al Quran Menurut Sunnah YAHUDI.
biarlah para pembaca postingan itu menilai sendiri mana yang HAQ dan mana BATIL.
Aslm wrwb.
Mohon di Klarifikasi dan di cermati dengan objective.
Setahu saya Bapak ISA BUGIS tidak mengajarkan alirannya sendiri. Beliau tidak membuat ALIRAN BARU.
Yang di ajarkan beliau adalah ALQUR’AN bukan aliran atau ajaran ISA BUGIS.
Bila salah mencermati PERMAINAN BAHASA ,ini akan menjadikan FITNAH.
Wslm.
Sensei
Pernah suatu waktu alm.Buya Hamka berdebat langsung dg Isa Bugis di masjid Agung Al-Azhar , yang pada akhirnya Buya berkesimpulan dan berkata kpd Isa Bugis, “Anda itu kalau diibaratkan seperti kaleng rombeng yang dibungkus kado yang indah” dan Isa Bugis pun terdiam seribu bahasa.
Abu salmah yth,
mengikuti diskusi abu lumayan sedep juga ye yah saya sih ga bisa koment apa2 wong katanya umat bakal terpecah menjadi 73 golongan kalo diperhatiin uda lebih kali ye dari sekian banyak cuma satu yang di akui, mencermati hal yang demikian saya cuma sediakan saringan aja mudah mudahan kena yang benar benar diakui dan mudah mudahan saya menjadi yang pertama yang benar2 beriman.
Amin
kaya luh yang paling benar aja, lu juga kan mengenal islam dari orang lain bukan lu langsung dari nabi ya kan?
masing2 sajalah meyakini gak usah macam2
semua belum tentu benar sebenar benarnya
stop gak usah dikomenrai tulisan ini direnungi saja
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Mengikuti diskusi ini, saya sangat prihatin, betapa tidak, karena diskusi ini telah berubah menjadi arena pendiskriditan terhadap orang lain, atau memang itulah tujuannya..? semoga tidak..!
Pak Abu yth, banyak orang yang belum tahu tentang ajaran Pak Isa (istilah anda) atau Al-Qur’an menurut Sunnah Rasul (sebutan menurut kelompok Pak Isa) .Agar persoalan menjadi jelas, barang kali akan lebih bijak jika ditampilkan alasan-alasan, mengapa Pak Isa dkk mengartikan iman dengan PANDANGAN DAN SIKAP HIDUP,mengapa pula mereka beranggapan Qur’an bukan Bahasa Arab dan lain-lain. hal itu sangat perlu, agar diskusi ini menjadi Allatiy Hia Ahsan (baik) dan bisa dipertanggungjawabkan. kalau ternyata hanya berisi vonis-vonis sesat tanpa kelengkapan informasi, jangan-jangan kita dituduh memfitnah.
Kepada teman-teman peserta diskusi ini, gunakanlah bahasa yang baik dan berargumenlah dengan ilmu bukan dengan kebencian.
atau barang kali lebih bijak jika kita menghayati firman Allah berikut ini:” Walaa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun”
Maafkan saya, semua ini tak lebih dari tawaasha bilhaq wataasha bisshabri. terimakasih. Semoga kita mampu bersikap jujur dalam kehidupan ini, Amin.
Ihdinaash shiratahal mustqiym.
wassalamualaikum wr wb
Abi Dimas HQ