Mebiasakan Kejujuran dan Meninggalkan Dusta
Mei 23, 2008 at 7:35 pm 6 komentar
Mebiasakan Kejujuran dan Meninggalkan Dusta
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Kita semua harus mengakui bahwa keadaan kaum muslimin terkhusus di Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika kita membaca dan mencermati berita ditemukan di sana ada orang berzina, mencuri, korupsi, menyuap dan berbagai kejelekan-kejelekan lainnya dan ternyata pelaku-pelakunya adalah kaum muslimin saudara kita sendiri.
Sungguh ini memprihatinkan. Sebagai bagian dari kaum muslimin tentu kita semuanya harus berupaya dan bertekad untuk berubah menuju kepada yang lebih baik. Tentunya perbaikan yang sesuai dengan syariat agama kita dalam segala sisi kehidupan. Yang kalau itu dibuat dengan kalimat yang ringkas yaitu : Keharusan kaum muslimin di Indonesia ini kembali kepada agamanya dalam semua sisi kehidupannya. Hal ini sebagaimana ucapan imam kaum muslimin imam Malik رحمه الله beliau berkata :
لن يصلح اخر هذه الامة الا بما صلح به اولها
Tidak akan menjadi baik umat yang akhir ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat yang pertama umat ini.(dinukil dari Atsarul Ibadah fil hayatil Muslim karya Syaikh Muhsin Al ‘Abad Al Badri)
Apa yang telah membuat baik umat Islam yang pertama dulu, tentunya Islam secara keseluruhan sebelum terkontaminasi dengan kesyirikan dan kebid’ahan. Untuk mencapai itu semua tentunya tidak gampang perlu upaya yang serius dan kefahaman yang menyeluruh dari segala pihak terhadap agama yang murni yaitu agama yang telah diamalkan oleh tiga generasi Islam yang pertama yang mereka telah di rekomendasi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam sabdanya :
اصكم باصحا بى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
Aku wasiatkan kalian (untuk mengikuti jalan) para sahabatku kemudian orang-orang sesudah mereka kemudian orang sesudah mereka (HR. Ahmad) .
Diantara nilai-nilai Islam yang mulia adalah kejujuran, maka apabila bangsa indonesia yang notabene mayoritas kaum muslimin harus berupaya menggalakkan kejujuran dalam segala hal, siapapun dan apapun kedudukannya harus berupaya untuk komitmen membangun kejujuran dalam segala sisinya.
Termasuk dalam hal ini ketika bangsa ini menginginkan kebaikan dalam pendidikan yang kata banyak pihak merupakan sektor yang sangat menentukan pembangunan bangsa perlu mencanangkan pendidikan yang di sana ditanamkan nilai-nilai kejujuran dalam segala permasalahannya.
Semuanya harus berani menilai, sudahkah kejujuran itu sebagai nafas dunia pendidikan kita ?
Maka untuk menumbuhkan kecintaan dan komitmen yang kuat terhadap kejujuran berikut ini saya paparkan sebuah tulisan ‘ulama kita, ‘ulama kaum muslimin Asy-Syaikh Robi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali semoga Allah ta’ala menjaganya. Saya berharap tulisan beliau bermanfaat bagi saya juga kaum muslimin di Indonesia ini terutama dalam dunia pendidikan, digunakan sebagai pijakan oleh siapa saja yang ingin memperbaiki manusia dan pendidikannya. Dan menjadi kemestian bagi setiap Muslim untuk berupaya mengamalkannya.
KEJUJURAN DAN DUSTA SERTA BUAHNYA
Oleh : Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali
Dari Abdullah bin Mas’ud رضىالله عنه berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda
عليكم بالصدق فان الصدق يهدي الى البر وان البر يهدي الى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا
واياكم والكذب فان الكذب يهدي الى الفجور وان الفجور يهدي الى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحر الكذب حتى يكتب عند الله كذابا
“Berpeganglah kalian kepada kejujuran, karena itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Senantiasa seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang yang shiddiq (jujur). Berhati-hatilah kalian dari dusta,karena dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing ke neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya hingga dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang pendusta”. (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi, sedangkan lafadznya dari Muslim)
Rawi Hadits : Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hubaib Al-Hudzali رضىالله عنه, Abu Abdirrahman. Beliau termasuk As-Sabiqunal Awwalun dan termasuk ulama senior dari kalangan sahabat. Keutamaan beliau banyak ‘Umar رضىالله عنه mengangkat beliau sebagai amir di Kufah. Beliau wafat tahun 32 H di Madinah.
Mufrodat :
عليكم : isim fiil amr (kata benda yang menunjukkan perintah) yang artinya berpeganglah kepada kejujuran.
الصدق : kesesuaian berita dengan fakta
يهدي : menunjukkan dan membimbing
البر : berlapang-lapang dalam mengerjakan kebaikan. Al-bir merupakan suatu isim (kata benda) yang mencakup seluruh kebaikan, dan digunakan untuk amalan yang baik dan terus menerus.
يتحرى : bersandar dan bermaksud
الفجور : bersegera dalam hal kemaksiatan. Al-fujur merupakan isim yang mencakup seluruh kejelekan. Asal katanya adalah robekan yang luas.
اياكم : bentuk peringatan dari kejelekan atau dari hal yang berbahaya
الكذب : berbeda berita dengan fakta
Makna Hadits secara Umum :
ujur adalah suatu akhlak yang mulia dan termasuk pokok keutamaan. Dengan jujur ini kehidupan akan menjadi lurus dan berjalan secara terpuji. Kejujuran akan meninggikan pemiliknya dan akan mengangkat derajarnya di sisi Allah ta’ala maupun manusia. Pemilik sifat jujur ini ucapannya akan dihormati. Dia akan dicintai oleh manusia, sedangkan persaksian dan perkataannya diterima di sisi mereka. Maka hendaknya engkau membiasakan jujur dalam ucapan, aqidah dan perbuatan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang mulia telah membimbing kita kepada suatu masalah yang mendidik lagi agung, yaitu metode pendidikan akhlak, menumbuhkan akhlak dan menguatkannya di dalam jiwa. Metode tersebut yaitu membiasakan diri dengan perkataan yang baik dan perbuatan yang mulia, serta mengerjakan amalan berikutnya setelah amalan yang pertama, amalan ke empat menyusul amalan yang ke tiga, dan amalan ke enam menyusul amalan ke lima, sehingga pengulangan ini akan berpengaruh di dalam dirinya. Setiap kali ia terus menerus mengulang amalan tersebut, maka amalan tersebut makin lekat dan kokoh dalam jiwanya.
Barang siapa yang berusaha mengangkat dirinya kepada kedudukan shiddiqin (orang-orang yang jujur) dan berusaha agar kejujuran itu menjadi akhlaknya, kebiasaan dan tabiatnya, maka hendaklah ia membiasakan untuk jujur dalam ucapan dan perbuatan, dan hendaklah ia mengulang-ulang. Dengan demikian ia akan berakhlak dengan kejujuran dan akan menempati kedudukan shiddiqin dengan pertolongan Allah ta’ala.
Sebagaimana jujur termasuk pokok keutamaan, maka dusta merupakan pokok kehinaan. Dengan dusta bangunan masyarakat akan bercerai-berai dan urusan menjadi tidak teratur. Dusta menjatuhkan pemiliknya di mata manusia. Mereka tidak akan membenarkan ucapannya, tidak mempercayai perbuatannya, dan ucapannya batil. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memperingatkan dari perbuatan dusta.
Di dalam Al-Qur’anul Karim terdapat banyak ayat yang mencela dusta, menjauhkan manusia darinya dan mengancam dengan siksa yang keras.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung.
(Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka adzab yang pedih.”.(An-Nahl:116-117)
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta. .(An-Nahl:105)
Bukankah syirik dan menjadikan tandingan bagi Allah ta’ala yang merupakan sebesar-besar kejahatan dan dosa merupakan kedustaan ? Dan bukankah kemunafikan yang lebih jelek dari kekafiran yang terang-terangan itu adalah suatu kedustaan ?
Demikian pula berbuat curang dalam bermuamalah, berniat menyelisihi janji, dan riya’ di dalam beramal. Semuanya merupakan bentuk-bentuk kedustaan.
Wahai muslim, jauhilah dusta. Jagalah dirimu agar tidak membiasakan diri berdusta. Karena dusta dan membiasakan diri dengannya serta mengulang-ulangnya, mengandung kebinasaan dan keterjerumusan ke dalam kejelekan yang tidak terkira dalamnya. Karena dusta akan menyeret pemiliknya dan menarik kepada kedudukan orang-orang yang durhaka. Dan sesungguhnya orng-orang yang durhaka itu tempatnya di dalam neraka.
Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. (Al-Infithar : 14-15)
Faedah yang Bisa diambil dari Hadits :
1. Kewajiban berpegang kepada kejujuran. Allah ta’ala berfirman :
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.(At-Taubah :119)
2. Di dalam hadits ini terdapat kaidah yang mendidik, yaitu bahwa barangsiapa ingin berakhlak dengan akhlak yang tinggi seperti jujur, sabar dan berani, maka hendaklah ia membiasakannya, mengulang-ulangnya dan menekuninya. Dengan membiasakan jujur dan berpegang kepadanya, dia akan menjadi seorang yang jujur. Dengan melatih kesabaran dan menanggung kesulitan-kesulitan, kesabaran akan menjadi akhlaknya. Dan dengan terus-menerus berbuat hina dan membiasakannya, seorang akan menjadi pendusta dan orang yang hina.
3.Dan di dalam hadits ini juga terdapat peringatan dari dusta dan dari membiasakannya.
4.Kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, sedangkan kejahatan membimbing ke neraka. Semoga Allah ta’ala melindungi kita dari dusta, kejahatan dan neraka.
Sekian Nasehat ‘ulama kita. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua dapat mengamalkannya. Amin.
Perlu kita renungkan bersama bahwa :
Membangun kejujuran itu tidak perlu biaya hanya membutuhkan komitmen, sudahkan kaum muslimin di negeri ini membiasakan kejujuran dalam dunia pendidikannya ???
Diambil dari buku : 21 Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah aqidah dan ittiba hadits ke 17’
Penulis Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umar al-Madkhali hafidhahullah
Judul asli Mudzakkiratul Haditsiin Nabawi fil Aqidati wal Ittiba’
Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Ummu Faruq
Muroja’ah Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar Al Bantuli
Diterbitkan oleh Al-Haura’
Takhrij hadits silahkan merujuk kepada buku aslinya !!!
Entry filed under: Akhlaq. Tags: .
6 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. Ran | Juni 28, 2008 pada 12:03 pm
assalamu’alaykum
btw ttg dusta, kalo boleh ju2r, saya ini termasuk di dlmnya.
bgini, di kampus sy dibebankan target mbuat +/- 450 laporan asuhan kebidanan dari kegiatan praktik klinik selama 6 semester, tiap semester sekitar 1 sampai 6 minggu yang semua data yang dilaporkan harus data yang benar-benar digali dari pasien dan asuhan yang diberikan benar benar dilakukan. semua mahasisiwa sebenarnya merasa keberatan dengan hal tersebut karena tidak semua lahan praktik itu basah (baca:banyak pasien)
beberapa dari kami sering share tentang masalah ini bahwa kami takut kepada Allah jika harus mengikut jejak kakak2 tingkat yang memanipulasi data,bahkan ada yang sampai malsuin ttd dosen/ pbimbing lahan praktiknya..kami tahu itu dusta, dan sampai saat ini kami pun_akhirnya terpaksa_melakukannya… ada solusi???
maaf saya masih kurang sekali ilmu agamanya. jazakumullah khairan
2. admin forum | Juli 10, 2008 pada 10:04 pm
Sibukkan diri anda dengan ilmu!
Ikutilah forum diskusi thullabul ilm Indonesia di http://ilmu.sitebooth.com/forum
3. l5155st | Juli 16, 2008 pada 10:09 pm
Barakallahu fiik…
antum telah membantu menyambung lidah ulama, saudaraku…
teruskan perjuangan antum, semoga bermanfaat dan kita menjadi ikhwan yang senantiasa berakhlak yang baik…Dan ini yang saya dambakan dari ikhwan salafiyyun…
Salam kenal wahai ayah-nya Salma…
Abu ‘Abdirrazzaq al Fitrah
4. El-Qolam | Mei 6, 2010 pada 12:10 am
Terima kasih atas tausiahnya, semoga Allah membalas kebaikan anda. Ikut melengkapi tulisan. Ini adalah kisah tentang akibat berbuat dusta:
Dikisahkan pada jaman dulu terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Rakyatnya hidup dengan penuh kedamaian dan kesejehteraan. Tetapi sayang, sang raja tidak mempunyai Putra Mahkota sebagai penggantinya nanti. Karena itu sang raja beranggapan perlu mencari calaon penggantinya. Untuk itu, maka dibuatlah suatu sayembara pemilihan Putra Mahkota, dan sayembarta itu diumumkan keseluruh peloksok negeri, agar dicari dan diseleksi dari setiap daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri.
Pada babak akhir maka tersisalah 8 orang pemuda yang memiliki kepandaian dan lulus seleksi awal. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja sendiri. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, “Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini.”
Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, “Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda.”
Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. “Hahaha…!” Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu. Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, “Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!”
Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan,” Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai…kalian 7 pemuda. Kalian tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipuku kata baginda raja.
Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan pengawal kerajaan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Maka ketujuh pemuda tersebut dijebloskan kedalam penjara.
5. dodie | Mei 19, 2010 pada 3:38 pm
mohon ijin ngopi…..mudh2an bsa brmanfaat utk smua
6. Kejujuran Dan Dusta Serta Buahnya « catatanmms | Oktober 11, 2011 pada 6:21 am
[...] sumber: http://abasalma.wordpress.com/2008/05/23/mebiasakan-kejujuran-dan-meninggalkan-dusta/ [...]