Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah (Bagian II)

Apa Yang Dimaksud Dengan Bai’at Dan Kapan

Oleh : Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiry   حفظه الله

 

Bai’at secara istilah adalah berjanji untuk taat, seakan-akan orang yang berba’at berjanji kepada amirnya untuk menyerahkan urusan dirinya dan kaum muslimin, serta tidak mengganggunya sedikitpun. Dia mentaatinya pada apa yang diperintahkan amir dan menjadi tanggungjawabnya dalam keadaan suka atau tidak suka. Dahulu ketika mereka membai’at amir dan mengingatkan janjinya, mereka menjadikan tangan mereka di atas tangannya (amir) untuk menguatkan janjinya, sehingga hampir menyerupai perbuatan antara penjual dan pembeli, kemudian dikatakalah bai’at, dari kata dasar با ع Yang akhirnya bai’at berarti bersalaman tangan, inilah yang ditunjukkan dalam pengertian bahasa dan syari’at. [1]

Hal itu tidak terjadi secara syar’i dan dapat kecuali bagi seorang penguasa muslim yang mungkin memiliki dedikasi dan tanggungjawab, yang menjadikan dia mampu untuk menegakkan agama, merealisasikan hukum Islam, menegakkan undang-undang syar’i, mengumumkan perang dan mengadakan perdamaian serta yang lainnya dari hal-hal yang merupakan kekhususan bagi penguasa muslim di suatu negeri-negeri Islam.

Maka bai’at berarti : memberikan sumpah setia untuk mendengar dan taat kepada amir dalam suka dan duka, dalam kesulitan dan kemudahan, tidak mencampuri urusannya dan menyerahkan segala urusan kepadanya.[2]

Berkata Imam Syaukani dalam kitab Sailul Jirar (4/480-481) : Caranya (yakni bai’at) agar berkumpul sekelompok dari ahli hil wal ‘aqdi dan mengukuhkan bai’at baginya….dan yang syah adalah terjadinya bai’at untuknya (imam) dari hil wal aqdi, maka inilah perintah selanjutnya harus ditaati, ditetapkan kekuasaan baginya dan diharamkan untuk menyelisihinya. Hal ini telah ditegakkan padanya  dalil dan hujahnya telah kokoh, dan Allah ta’ala telah mencukupkan dari bangkit dan bepergian serta menempuh perjalanan yang jauh dengan dibai’atnya  orang-orang yang membai’at imam dan ahli hil wal aqdi, maka cukup keimamahannya ditetapkan dengannya, dan wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mentaatinya. Dan bukan merupakan syarat ketetapan imam untuk diba’iat oleh semua orang yang bisa membaiatnya juga bukan merupakan syarat untuk taat agar seorang itu termasuk dari orang yang ikut berbai’at. Maka sesungguhnya persyaratan dalam dua hal itu adalah tertolak dengan ijma’ kaum muslimin yang dahulu dari mereka yang datang kemudian, yang pertama dan terakhir.

Saya katakan : Disebutkan dari hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma marfu’ : Barang siapa yang melepaskan ketaatan, maka dia akan bertemu dengan Allah ta’ala pada hari kiamat dengan tidak memiliki alasan, dan barang siapa yang mati dan di lehernya tidak ada bai’at, maka matinya mati jahiliyah. (shahih Muslim).

Syaikh shalih Fauzan hafidhahullah ditanya : Apakah bai’at itu wajib, atau sunnah atau mubah ? Dan apa kedudukan bai’at dalam jama’ah, mendengar dan taat ?

Maka beliau menjawab : “Wajib bai’at kepada waliyul amri untuk mendengar dan taat ketika dia dijadikan imam bagi kaum musulimin dengan dalil Al-qur’an dan ASunnah. Dan yang membai’atnya adalah para ahli hil wal aqdi serta para tokoh, dan selain mereka dari rakyat maka mengikutinya. Yang wajib bagi mereka adalah taat dengan bai’at mereka dan bai’at ini tidak dituntut dari setiap individu rakyat dari kaum muslimin karena umat islam adalah satu jama’ah, yang tokoh serta ulama mereka telah mewakilinya.

Inilah yang pernah ada di kalangan salafushsholih dari umat ini, sebagaimana baiatnya kepada Abu Bakar dan yang lainnya dari penguasa  kaum muslimin.

Bukanlah yang namanya bai’at dalam islam dengan cara-cara yang kacau yang dinamakan dengan pemungutan suara (voting) yang dipakai di negeri-negeri kafir serta diikuti oleh sebagian negeri-negeri Arab, yang dibangun di atasnya tawar menawar dan propaganda serta kampanye yang dusta dan sering memakan korban dari orang-orang yang tidak berdusta.

Adapun bai’at dengan cara-cara Islam akan menghasilkan persatuan dan ikatan yang akan merealisasikan ketentraman dan keamanan tanpa embel-embel atau persaingan yang sengit yang memberikan beban kepada umat berupa rasa berat dan penat juga pertumpahan darah dan  sebagainya.[3]

Saya katakan : Diantara masalah imamah dan bai’at yang mencuat di jaman kita ini, yang dengannya juga akan tersingkap bagimu kedok dakwahnya pada hizbiyin adalah masalah berbilangnya pemimpin dan penguasa, dimana setiap negeri atau daerah memiliki penguasa, maka apakah syah keimamahannya dan wajib bai’at kepadanya ?

Telah berkata amir Ash Shan’ani dalam kitab Subulus Salaam (2/374) ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu : “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jama’ah”

Perkataannya dari ketaatan yaitu taat kepada khalifah yang terjadi persatuan padanya dan yang dimaksud khalifah adalah khalifah suatu daerah, dimana manusia belum dapat dikumpulkan dalam satu khalifah dari semua negeri Islam, sejak pertengahan Daulah Bani Abasiyah, bahkan setiap penduduk suatu daerah berdiri sendiri dengan pemimpin yang mengurusi urusan mereka, karena kalau seandainya hadits ini dibawa kepada makna khalifah yang berkumpul padanya semua umat Islam maka hadits ini sedikit faedahnya.

Saya katakana : Adapun ijma’ yang dinukil tentang tidak bolehnya menetapkan dua imam atau lebih bagi kaum muslimin dalam satu waktu, maka hal ini jika disertai pilihan. Telah disebutkan dalam kitab Asybah wan Nadza’ir (527): Tidak boleh berbilangnya imam / pemimpin dalam satu waktu.

Berkata Musthafa bin Sa’ad bin Abdah Ar Rahibani dalam kitab Mathalib Ulin Nuha fi Syarh Ghayatil Muntaha (6/263) : “Tidak dibolehkan berbilangnya imam karena akan berakibat adanya saling memboikot  yang mengarah kepada adanya pertengkaran, perpecahan dan terjadinya perselisihan pada beberapa sisi yang hal ini akan menafikan stabilitas kondisi / keadaan.

Dan dalam Mausu’ah Fiqhiyah (21/43) :Kebanyakan para fuqaha berpendapat tentang tidak bolehnya dua imam di dunia dalam satu waktu yang bersamaan, dalilnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika di bai’at dua khalifah maka bunuhlah khalifah yang terakhir dari keduanya. Dan juga karena berbilangnya negeri Islam merupakan sumber perpecahan dan perselisihan, dan Allah ta’ala telah melarang dengan itu dengan firman-Nya :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al-Anfaal : 46)

Dan dalam salah satu penafsiran bahwa yang dimaksud dengan “Riih” dalam ayat yang mulia itu adalah daulah (Negara), sebagaimana dikatakan oleh Abu Ubaid.

Dan dalam Hasyiyah Dasuki atas kitab Syarhul Kabir (4/134-135) : Apa yang disebutkan penulis tentang bolehnya berbilangnya qadhi melekatkan larangan berbilangnya imam a’dzam. Dan memang demikian sekalipun daerahnya saling berjauhan  karena memungkinkan adanya yang mewakili. Dan ada yang mengatakan bolehnya jika tidak memungkinkan ada perwakilan karena daerahnya yang sangat berjauhan.

Saya katakan : Perkataan para Ulama ini dimaksudkan pada sempurnyanya bai’at atas dua orang khalifah atau dua orang imam dalam satu waktu dengan pilihan ahli hil wal aqdi atau adanya seorang khalifah yang memiliki kedudukan dan kekuasaan pada setiap negeri kaum muslimin, kemudian datang seseorang yang merampas satu daerah negeri itu dan kemudian sempurna bai’at kepadanya, maka inilah yang dimaksud oleh hadits “Bunuhlah yang terakhir dari keduanya”. Adapun keadaan yang oleh negeri-negeri berupa bersendirinya seorang penguasa pada wilayah tertentu yang ia tidak punya kekuasan pada wilayah sekitarnya, maka hal ini bukan yang dimaksud oleh hadits, dan tidak juga oleh perkataan para ulama tentang tidak syar’inya keberadaan dua imam. Hal ini bukan berarti rela dengan keadaan yang ada berupa perpecahan dan pemilahan-pemilahan negeri Islam menjadi negeri-negeri kecil, namun pembicaraannya adalah tentang keabsahan imamah setiap negeri kecil ini dan sahnya perjanjian bai’at terhadapnya serta tidak bolehnya membangkang darinya sampai akhir hukum yang telah kami paparkan dalam pasal ini.

Berkata Mawardi dalam kitab Adab Dunya Wad Din (136) : Adapun tegaknya dua Imam atau tiga dalam satu masa dalam satu negeri maka tidak boleh secara Ijma’. Adapun jika dalam negeri yang berbeda-beda dan daerah yang bejauhan maka sekelompok oang yang syadz telah berpendapat akan bolehnya. Hal ini karena imam itu merupakan wakil yang memberi maslahat, dia jika dua orang penguasa pada dua negeri atau dua daerah masing-masing berkompeten terhadap daerah kekuasaannya. Dan juga karena ketika bolehnya diutusnya dua orang Nabi dalam satu masa, yang hal tersebut tidak menghantarkan kepada pembatalan kenabian dan tentunya imamah lebih utama (untuk dibolehkan, pent) dan hal itupun tidak membatalkan keimamahannya.

Berkata Imam Syaukani dalam Sailul Jirar (4/481-482) : Jika kepemimpinan Islam Khusus milik satu orang dan segala urusan kembali dan terkait dengannya, sebagaimana pada masa  sahabat dan tabi’in dan tabi’in tabi’in, maka hukum syari’at pada orang yang kedua yang datang setelahnya syahnya pemerintah orang yang pertama, dia harus dibunuh jika tidak bertaubat dari penentangannya. Adapun jika masing-masing di bai’at oleh sekelompok orang pada satu waktu, maka tidaklah salah satu lebih berhak dari yang lainnya, bahkan wajib bagi ahli hil wal aqdi untuk memegang keduanya sehingga kekuasaan diberikan kepada salah seorang dari keduanya. Jika tetap terjadi perselisihan antara keduanya maka bagi ahli hil wal aqdi supaya memilih salah satu dari keduanya yang lebih baik bagi kaum muslimin.

Adapun setelah menyebarnya kaum Islam dan meluasnya daerah serta semakin berjauhannya sisi-sisinya, maka masing-masing daerah dipimpin oleh seorang penguasa dan di tempat yang lain juga demikian, maka perintah maupun larangn yang berlaku pada suatu daerah tidaklah dilaksanakan / diberlakukan pada daerah-daerah lainnya, yang masing-masing kembali kepada penguasanya. Maka tidaklah mengapa berbilangnya Imam dan penguasa. Wajib untuk taat kepada masing-masing setelah diba’iat oleh penduduk daerah yang padanya direalisasikan perintah dan larangannya. Demikian pula halnya dengan penduduk daerah yang lain. Maka jika ada orang yang menentang pemguasa suatu daerah yang sudah sah / diakui pemerintahnnya dan sudah di bai’at, maka hukumnya ia harus dibunuh jika tidak bertaubat, dan tidak wajib bagi penduduk daerah lain untuk mentaatinya juga tidak wajib untuk masuk dalam pemerintahannya karena daerahnya yang berjauhan, karena terkadang khabar dari dan tentang Imam atau Penguasanya tidak sampai pada daerah yang jauh, dan juga tidak diketahui siapa yang masih hidup dan siapa yang sudah mati dari mereka, sehingga memberi beban untuk taat sedangkan keadaannnya seperti ini adalah membebani dengan sesuatu yang tidak disanggupi.

Ini adalah hal yang jelas bagi orang yang mengamati keadaan negeri dan masyarakatnya. Penduduk Cina dan India tidak tahu siapa yang memiliki kekuasaan di bumi Maghrib apalagi untuk mentaatinya, demikian pula sebaliknya. Demikian pula penduduk negeri-negeri bekas sofiet tidak tau siapa yang berkuasa di daerah  Yaman, demikian sebaliknya. Ketahuilah inilah yang sesuai dengan qawaid ayar’iyah dan sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil. Maka jauhilah pendapat yang menyelisihinya. Sungguh perbedaan antara pemerintah Islam di awal silam dengan kondisi sekarang ini lebih terang dari sinar matahari di siang bolong. Barang siapa yang mengingkarinya maka dia adalah tipe orang yang datang kepada kebohongan tidak pantas untuk diajak bicara dengan hujjah/ dalil sebab dia tiada berakal.

Kemudian beliau berkata (383) Akan ttapi wajib bagi setiap Muslim di daerah itu untuk menerima kepemimpinannya setelah terjadi bai’at baginya, mentaatinya dalam ketaatan, mendurhakainya dalam kemaksiatan, tidak menentangnya dan tidak membantu kepada orang yang mau menentangnya. Jika tidak demikian maka dia telah menyelisihi dalil-dalil yang mutawatir, dan dia telah menjadi seorang pembangkan, hilang (nilai/sifat) keadilannya dan telah menyelisihi apa yang disyari’atkan Allah ta’ala serta apa yang diwasiatkan dalam kitab-Nya untuk mentaati penguasa dan juga menyelisihi apa yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berupa kewajiban untuk taat dan harmnya penyelisihan.

Saya katakan : Ini adalah perkataan yang ditimbang dengan timbangan salaf yang keluar dari intisari kenabian, demikianlah Imam Syaukani dalam menghukumi orang yang membangkan kepada penguasanya atau membantu orang yang mau membangkang bahwasannya dia itu adalah pembangkang dan hilang keadilannya.

Saya katakana : Dengan pemaparan yang cukup ini, maka bisa diketahui sesatnya ungkapan ini yang diucapkan oleh seorang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits pada tahun-tahun terakhir ini (dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada Al-Bani) yaitu perkataannya : “Tidak ada seorang penguasa yang syar’i dimuka bumi ini pada masa sekarang ini” (Dan sebelumnya telah dikatakan oleh Sayid Qutub, pent)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ (8/12) : Imam adalah penguasa tertinggi dalam Negara, tidak disyaratkan ia harus seorang imam bagi seluruh Kaum Muslimin, karena Imam yang umum telah hilang semenjak lama, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dengar dan taatlah ! sekalipun kamu diperintah oleh seorang budak Habsyi”. Jika seseorang telah menjadi penguasa melalui suatu sisi/cara tertentu maka dia telah menempati kedudukan Imam Umum, yang mana ucapannya harus dituruti dan perintahnya harus ditaati. Semenjak amirul Mu’minin Utsman bin Affan umat Islam mulai berpecah-pecah. Ibnu Zubair di Hijaz, Ibnu Marwam di Syam Mukhtar bin Ubaid dan yang lainnya di Iraq, umat terpecah, akan tetapi para imam (agama) Islam meyakini akan loyalitas dan ketaatan kepada siapapun yang memerintah di tempat mereka sekalipun bukan khalifah secara umum. Dengan ini kita mengerti akan kesesatan perkataan : “Sesungguhnya tidak ada Imam bagi kaum Muslimin saat ini dan tidak ada bai’at bagi siapapun”. Kita mengharap ampunan kepada Allah ta’ala, saya tidak tahu apakah mereka itu menghendaki urusan (manusia) kaucau, tidak ada pemimpin yang mengendalikan manusia ? Atau mereka ingin mengatakan bahwa masing-masing orang menjadi amir untuk dirinya ? Mereka jika mati tanpa bai’at maka matinya jahiliyah, karena yang dikerjakan oleh kaum muslimin semenjak masa  yang silam, bahwa barang siapa yang menguasai suatu daerah maka ucapannyalah yang tertinggi ! (diutamakan untuk didengar) dan ia menjadi imam di daerah tersebut.

Hal ini disebutkan oleh Imam Shan’ani yang punya kitab subulus Salaam, beliau mengatakan : Sesungguhnya hal ini tidak mungkin untuk diterapkan sekarang ini, dan itulah kenyataan sekarang. Negeri-negeri di suatu daerah kamu dapati mereka mengadakan pemungutan suara dan terjadilah perebutan kekuasaan, terjadi suap menyuap dan menjual suara dan seterusnuya. Maka jika suatu negeri tidak mampu untuk memilih satu orang pemimpin kecuali dengan pemungutan suara (voting) seperti ini, maka bagaimana dengan kaum muslimin secara umum. Ini suatu yang tidak mungkin !

Saya katakana : Termasuk diantara permasalahan yang tidak nampak dalam bab ini adalah pentingnya perhatian mendidik generasi muda muslin di atas aqidah salafiyah dalam Imamah ini. Sebagaimana seorang bapak yang telah memiliki perhatian terhadap sunnah dalam mendidik anak-anaknya dengan aqidah salaf  dalam tauhid ibadah dan tauhid Asma’ wa Sifat. Demikian pula hendaknya  memiliki perhatian untuk mendidik anak-anaknya dengan aqidah salafiyah dalam masalah Imamah yang terangkum dalam wajibnya menegakkan bai’at kepada penguasa kaum muslimin yang dia hidup di bawah pemerintahnya. Dan wajib bagi bapak ini untuk memberi targhib (rasa takut) kepada anaknya akan bahaya membangkang dari penguasa, dan nampak baginya pengingkaran apa yang dilakukan oleh orang-orang khawarij dan para da’I qutbiyin sehingga tumbuhlah anak di atas kecintaan kepada manhaj salaf dalam masalah imamah dan membenci manhaj khawarij. Maka sesungguhnya anda akan merasa heran bahwa menyebarnya penyakit khawarij dan pembangkangannya kepada para penguasa negeri Islam, telah melanda sebagian besar dari kebanyakan orang. Dan lebih mengherankan lagi, bahwa anda adalah salah satu dari orang tua itu  yang melarang anaknya dari komitmen yang dhohir untuk memanjangkan jenggotnya dan memendekkan kainnya serta hadir di majlis-majlis ilmu yang bermanfaat bagi pelajar salafiyin. Pada gilirannya tanpa terasa telah mendidik anaknya di atas pemberontakan yang mengacaukan, mencela penguasa, terus-terusan mengeluhkan akan keburukan mereka, tidak ada tanah yang tumbuh subur juga tidak ada tanaman yang tersisa, la haula wala quwata illa billah.

Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhum membai’at Abdul Malik bin Marwan dan membawa anak-anaknya untuk menetapkan baiatnya karena beliau mendidik anak-anaknya sesuai apa yang dipelajari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan wajibnya bai’at kepada penguasa muslim sekalipun kekuasannya didapat dengan memenangkan perang (kudeta militer), dimana Abdul Malik mendapatkanya dengan pedang. Dari Abdullah bin Dinar berkata Aku menyaksikan Ibnu Umar bersama orang-orang yang membai’at Abdul Malik. Beliau berkata : Ia (Ibnu Umar) menulis : Sesungguhhnya aku mengikrarkan untuk mendengar dan taat kepada hamba Allah ta’ala Abdul Malik Amirul Mukminin di atas Sunnah Rasululah sesuai kemampuanku, dan sesungguhnya anak-anakku juga telah mengikrarkannya. (HR. Bukhari7203).

Abdul Walid Al Baaji mewasiatkan kepada dua anaknya dengan mengatakan : “Taatlah kepada penguasamu selagi tidak mengajak kepada kepada maksiat, maka wajib bagimu untuk menahannya dari maksiat dan curahkanlah ketaatan selain dalam maksiat. (Wasiat Abdul Walid Al Baaji kepada kedua anaknya, Cetakan Mua’sasah Rayyan (40).

Saya katakana : Sangat jauh perbedaannya antara seorang ayah salafi dan seorang ayah Khariji yang merasa bangga ketika telah mengajari anaknya untuk menjawab ketika ditanya tentang penguasa “Kafir”. Dia merasa bangga dan merasa anaknya memiliki keistimewaan apalagi anak-anaknya hafal al-qur’an di bawah bimbingan seorang Khawarij penyulut (kebencian dan pemberontakan kepada penguasa) di lembaga-lembaga penghafal Al-Qur’an dan yang semisalnya. Ternyata dia rela mentalqin anak-anaknya itu dengan keyakinan Quthbi Sururi, maka tumbuhlah suatu genarasi dari anak-anak muda yang yang menyimpan kedengkian yang terpendam dan prinsip Khawarij yang tertutup rapat yang tidak membuahkan kecuali berbagai fitnah dan carut marut, akhirnya dia menjadi korban dari kelalaian orang dan hawa nafsu mereka.

Telah kita sebutkan di awal pasal ini tentang wajibnya menegakkan pemimpin seorang muslim yang mengendalikan urusan kaum muslimin.

Berkata imam Syaukani dalam Nailul Authar (6/62) : Telah berkata Imam Nawawi dan yang lainnya ….Mereka Ijma’ tentang wajibnya menegakkan seorang khalifah dan kewajibannya adalah berdasarkan syari’at bukan akal. Dan telah menyelisihi mereka Al Asham dan sebagian orang-orang Khawarij, mereka mengatakan : Tidak wajib menegakkan khalifah.  yang diselisihi  oleh orang-orang Mu’tazilah yang mereka mengatakan : Wajib menegakkan khalifah dengan akal dan tidak dengan syari’at, kedua-duanya adalah batil.

Demikian telah kami jelaskan akan wajibnya bai’at dan ancaman dari meninggalkannya.

Salah seorang pentolan hizbiyin  pada masa sekarang ini (ya’ni Maududi) telah melampau batas dimana dia tidak mencukupkan dengan pendapat Ahli Sunnah tentang wajibnya menegakkan Imam, bahkan dia mengatakan : Sesungguhnya masalah kepemnimpinan dan kekuasaan tidak lain adalah satu di antara masalah kehidupan manusia dan salah satu dasarnya. Kemudian dia berkata : Tujuan agama yang hakiki adalah menegakkan undang-undang imamah shalihah dan rasyidah.

Hal ini telah dibantah oleh Sayikh Rabi’ Hafidhahullah dalam kitabnya Manhajul Ambiya Fi Da’watil Hikam Wal Aql, beliau mengatakan seperti dalam halaman 150 : Sesungguhnya masalah itu adalah apa yang datang  dibawa oleh semua Nabi yaitu masalah tauhid dan iman yang Allah ta’ala telah merangkum dalam firman-Nya ;

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.(Al Anbiya:25)

Kemudian beliau berkata : Sesungguhnya tujuan agama yang hakiki dan maksud dari penciptaan jin dan manusia serta tujuan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah agar beribadah kepada Allah ta’ala dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya.

Kemudian beliau membawakan bantahan Syaikhul Islam kepada Ibnul Muthahir salah seorang Rafidhah Imamiyah yang telah berlebihan  dan ghuluw dalam masalah imamah.

Dan seorang da’i (yang bernama Muhammad Hasan Semoga Allah ta’ala mengembalikan kepoada Al Haq) terpengaruh dengan manhaj Maududi dan banyak mengambil dalil dengan ketetapan-ketetapannya ketika memaparkan manhaj dakwah yang wajib bagi para pemuda berjalan di atas jalan ini.

Dia berkata dalam buku bahaya di Jalan dakwah (58) : Berkata Syaikh Abbul ‘ala Maududi dalam kitabnya Manhajul Inqilab Al islami : Negara itu tidak akan tertata kecuali tersedia padanya unsur-unsur  pemikiran, akhlak dan materi dalam masyarakat seperi apa yang saya katakan, sebagaimana tidak mungkin sebuah pohon dari semenjak tumbuhnya sampai sempurna menjadi sebuah pohon seperti buah atau limun melainkan kemudian jika tiba waktunya buahnya maka akan berubah menjadi pohon apel atau delima! Demikian pula daulah islamiyah maka tidak akan mungkin menjadi daulah islamiyah dengan cara-cara yang keluar dari kebiasaan, namun harus diadakan dan di wujudkan dengan menampakkan yang pertama gerakan yang menyeluruh yang dibangun di atas wawasan Islam dan pemikirannya dan di atas pilar-pilar akhlak dan amaliyah yang sesuai dengan ruh Islam serta yang dihasung oleh orang-orang yang menampakkan kesiapan mereka yang sempurna untuk masuk dalam celupan kemanusiaan yang khusus ini dan berusaha untuk menebarkan akal islamnya, untuk mencurahkan upayanya untuk menghembuskan ruh Islam dalam masyarakat….Inilah cara inqilab (revolusi) Islam dan jalan yang fitrah untuk merealisasikan pemikiran akan adanya sebuah Negara Islam.

Saya katakan : berdirinya Negara Islam merupakan tujuan dakwah  mereka; bukanlah tauhid sebagai tujuannya. Bahkan mereka telah memutar balikkan kenyataan dengan menjadikan tujuan yang dengannya diutusnya para Nabi dan Rasul (yaitu Tauhid) dijadikan sebuah wasilah untuk  tegaknya daulah. Bukan daulah itu sebagai wasilah untuk tegaknya tauhidullah di muka bumi ini. Nampaknya telah terjadi kerancuan padanya dengan sebab sumber rujukannya yang berseberangan, dimana dia menukil dari kitab-kitab salaf, namun dalam  waktu yang sama dia menukil dari buku-buku harakiyin yang dianggapnya sebagai perintis dalam shahwah Islamiyah, itulah sebabbya dia mengambil ketetapan-ketetapan pemikitan mereka sebagai manhaj untuk orang berjalan di atasnya, sementara dia di awal pemikirannya membatasi ciri-ciri manhaj para nabi dalam dakwah dan bahkan dijadikan sebagai tanda yang paling banyak, sebagaimana dikatakan pada halaman : 38. Berawal dengan mengajak manusia kepada tauhid yang murni dan beribadah hanya kepada Allah ta’ala saja….

Kemudian tiba-tiba dia sudah berada di tengah-tengah hizbiyin harakiyin, hilang sudah ciri-ciri yang nampak dari manhaj dakwah para Nabi, bahkan pemikiran untuk menegakkan daulah Islamiyah telah berhasil mengunggulinya (manhaj da’wah para Nabi tadi). Dan dia tidak merasa berat untuk menukil ungkapan mereka (yang terambil dari manhaj Khawarij) sebagai bentuk pengakuan terhadapnya, seperti ucapan Al Maududi tadi : Ini adalah perubahan cara Islami, dan di sepanjang kitabnya ini, dia perbanyak istilah-istilah hizbiyin : Harakah Islamiyah, Shahwah, Thawaghit (kelompok yang sempit), Takwid Fardi (pembentukan Individu), Tandzim Jama’ah (Penyatuan Jama’ah), Nidzam Islami…dst.

Dia mengatakan dalam halaman tujuh : Diantara bahaya yang paling besar yang mengancam gerakan Islam masa kini adalah penyikapan  yang salah pada sebagian individu terhadap nash yang umum atau khusus hal itu karena kesalahan pemahamannya apalagi menjadikannya sebagai dalil pada yang bukan tempatnya atau meletakkan tidak pada tempatnya atau tanpa memahami yang berkaitan itu umum atau khusus yang menjadi keharusan adanya sinkronisasi yang benar diantara pendalilan nash dan gerakan yang nyata. Maka untuk keluar dari bahaya yang membingungkan ini kita harus kembali kepada salaful ummah dan kepada ulamanya yang terpercya dalam memahamiAl Kitab danAs Sunnah. Inilah manhaj yang kokoh untuk  suatu pemahaman yang benar.

Saya katakan : ini contoh yang lain dari kekacuan manhanya, dia telah mengganti dalam tempat ini (dan bagian yang lain) istilah harokah Islamiyah diganti dengan Istilah Dakwah Salafiyah karena kesengajaan dari dia sebagaimana hal itu merupakan sunnahnya orang-orang hizbiyin, karena gerakan Islam menurut mereka mencakup semua kelompok dan jama’ah tanpa memandang akan hakikat kerusakan manhaj yang bid’ah dan kesesatan yang mengeluarkan kelompok-kelompok ini dari Dakwah Salafiyah, maka kemudian dipakai Harakah Islamiyah karena istilah ini seperti karet, dimana para pengekor gerakan ini mengajak kembali kepada salaful ummah dan ulamanya yang terpercaya. Namun ternyata yang didahulukan adalah Al Maududi, Sayid Qutub, Abdul Hasan An Nadawi, Yusuf Qardawi, Muhammad Al Ghazali, dan Shalih Shawi, bahwa mereka termasuk ulama yang terpercaya khususnya dalam masalah prinsip manhajiyah yang mereka sebutkan sebagai Manhaj Haraki. Kemana perginya Al-Bani, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Abdur Razzaq Afifi dan yang lainnya (Semoga Allah ta’ala merahmati mereka dan memberkahi yang masih hidup). Mereka tidak didahulukan dalam manhaj haraki, namun mereka diagungkan (menurut mereka) dalam masalah-masalah fiqih, tashih hadits dan dalam penetapan Asma’ Wasifat saja. Adapun manhaj haraki dalam dakwah, maka sumbernya adalah orang-orang yang telah kami sebutkan tadi.  Oleh karena itu sumber rujukan pokok mereka dalam menetapkan makna tauhid dan  manhaj adalah tulisannya Sayid Qutub dan Maududi.

Dia berkata pada halaman 50 : Yaitu (kalimat tauhid) menetapkan sifat hakimiyah bagi Allah ta’ala saja[4]. Maka dengan hilangnya pemahaman yang benar dan universal akan makna tauhid ini, hilang pula dasar yang besar yang merupakan yang paling khusus dari sifat uluhiyah, maka menyimpanglah kaum muslimin (kecuali yang dirahmati Allah ta’ala) dari syariat Allah ta’ala dan ditempatkan hukum positif yang jahat sebagai penggantinya.

Kemudian disambungnya dengan menukil dari Fi Dzilalil qur’an karya Sayid Qutub dalam menetapkannya, kemudian ia berkata dalam hal 57 : Bertolak dari ini saja, kita tahu bahwa termasuk kesalahan yang jelas untuk mengawali jalan dakwah kita yang panjang……Dan tonggak dasar pertama pada bangunan yang kuat dan besar ini adalah harus berseberangan dengan penguasa[5].

Kemudian dia menguatkan omongannya ini dengan menukil dari Maududi dan Sayid Qutub di antaranya nukilan yang sudah tersebut tadi dari Maududi dalam kitab Manhaj Inqilab Al Islami yang dikatakan sebagai kitab yang sangat bernilai.




[1] Muqadimah Ibnu Khaldun (1/220) Al Manhajut Taam fi Wujubi Ba’atil Hukam (12)

[2] Bai’at antara Sunnah dan Bid’ah (23) Al Manhajut Taam fi Wujubi Ba’atil Hukam (12)

[3] Al Ajwibatil Mufidah min As’ilatil Manahijil Jadidah (204) Darul Manhaj

[4] Ini adalah yel-yel Sayid Qutub dan pengekornya

[5] Harapan kami agar da’i ini mengoreksi kembali manhaj Sayid Qutub dari byuku-bukunya supaya tahu kalau dakwahnya berdiri di atas profokasi anak-anak muda dan memancing mereka untuk melawan kepada penguasa, meskipun dikatakan : itu kan dahulu, Sayid telah rujuk sebelum matinya. Maka kita jawab : Mengapa tidak anda jelaskan kepada anak-anak muda bahwa ini adalah manhaj khawarij yang ada pada tulisan-tuisan Sayid yang katanya telah rujuk kemudian anda ikutan dengan mentahdziir mereka dari buku-buku ini. Padahal anda tahu sampai sekarangpun terus menerus dicetak dan anak-anak muda banyak terpengaruh dengannya. Hal dengan tidak bisa menerimanya kita dengan kebenaran rujuknya ini. Kemudian terasa dari perkataannya bahwa berseberangan dengan penguasa adalah perkara yang mesti terjadi bukan suatu yang terlarang, hanya saja jangan mengawali dakwah dengannya, namun ditunda sampai pada marhalah yang terakhir. Berseberangan dengan penguasa artinya adalah menentang kepada mereka dengan kekuatan, yang hal ini adalah haram baik di awal maupun di akhir.

About these ads

7 thoughts on “Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah (Bagian II)

  1. edi Februari 18, 2008 pukul 9:11 pm Reply

    Assalamu ‘alaikum wr.wb.

    Kenapa komentar dari saya menghilang ?
    Saya bertanya tentang siapa yang berhak menjadi ahli hil wal aqdi di negara kita ini ?

    Apakah ahli hil wal aqdi diambil dari setiap pemuka kabilah Sunda, Jawa, Batak, Minang, Dayak atau lainnya ?
    Apakah ahli hil wal aqdi dipilih berdasarkan kriteria masing-masing kabilah ? Apakah kriteria itu tidak harus sama ?
    Apakah seorang laki-laki adalah seorang pemuka kabilah Sunda (misalnya), maka anaknya otomatis juga menjadi ahli hil wal aqdi untuk kabilah Sunda saat ini ?

    Atau, kalau ahli hil wal aqdi ternyata dipilih oleh para ulama,
    lantas ulama yang manakah itu ?
    Ulama Salafy ?
    Ulama non-Salafy ?
    Ulama MUI ?

    Mohon pencerahannya.
    Karena saya yakin, meskipun mas Aba Salma mengajukan satu nama yang dirasa pantas menjadi ahli hil wal aqdi, maka saya bisa menemukan lebih dari seribu orang yang akan menolak orang tersebut.
    Teori itu penting, tapi realita tidak seindah impian.

    wassalam

    Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuhu.
    Jawaban atas pertanyaan antum itu panjang sekali tidak mungkin dapat dijawab dengan mudah perlu perhatian yang serius.
    Yang sekarang perlu kita perhatikan bersama, Salafy itu tidak berpisah dari kaum muslimin, siapapun yang telah di akui oleh kaum muslimin sebagai wakil yang pantas dan menghasilkan dengan menyepakati seorang pemimipin dari perwakilan itu maka kepemimpinnya di akui dan di taati oleh Salafyun ahlussunnah.
    Sehubungan dengan pilihan saya yang akan di ingkari oleh ribuan kaum muslimin di Indonesia misalnya, itu dapat saja terjadi. Dan saya sangat tidak pantas untuk memilih siapa orang yang pantas untuk menjadi ahli hal wal aqd.
    Yang perlu di tegaskan di sini sehubungan dengan akidah ahlussunnah wal jamaah, siapapun yang telah menjadi pemimipin dan di sepakati oleh ahli wal aqdi (yang benar sesuai sunnah atau tidak) kaum muslimin wajib taat dalam perkara yang ma’ruf dan mengakui kepemimpinannya. Kalau kaum muslimin memiliki sikap seperti ini Insya Allah persatuan itu semakin dekat.
    Sebaliknya jika kaum muslimin senantiasa menolak terhadap kepemimpinan kaum muslimin yang telah syah, kehancuran dan perpecahan senantiasa ada di tubuh kaum muslimin.
    Barokallahufikum semoga antum mendapat hidayah dari Allah ta’ala.
    Wassalam

  2. Edi Februari 19, 2008 pukul 8:43 pm Reply

    quote:
    Yang perlu di tegaskan di sini sehubungan dengan akidah ahlussunnah wal jamaah, siapapun yang telah menjadi pemimipin dan di sepakati oleh ahli wal aqdi (yang benar sesuai sunnah atau tidak) kaum muslimin wajib taat dalam perkara yang ma’ruf dan mengakui kepemimpinannya.

    tanya lagi;
    apakah termasuk di dalamnya orang-orang yang terpilih dari sistem pemilu dan demokrasi ?

    Naam, pertanyaan anda ini mestinya tak akan terlontar jika anda mau membaca artikel-arteikel ana yang telah lama. Barokallahufikum.
    Semoga kita mau banyak belajar.
    Assalamu ‘alaikum

  3. Abu Syamil - Bekasi Februari 20, 2008 pukul 12:55 pm Reply

    Wahai Ikhwah, Manakah yg lebih mulia kalian yg selalu menghujat atau sayid qutb yg telah gugur di Tiang gantungan karena mempertahankah Al Haq……….

    Pantaskah kalian memberikan komentar atau kritik yng berlebihan sedangkan kalian belum banyak berbuat untuk Ummat Ini

  4. zahra jamilah Maret 14, 2008 pukul 8:45 am Reply

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
    Kaifa khaluk ya akhi fid diin?? Afwan idza uwaswisuka syughlaka ya akhi. Akhi Mudah-mudahan antum sekeluarga senantiasa dalam lindungan Nya…Amiin.
    Subhanallah…mudah-mudahan blog ini memberikan banyak manfaat untuk kita semua…tapi jangan dijadikan sebagai ajang debat kusir yang tiada berujung, masing-masing mempertahankan pendapatnya sendiri demi membela kelompoknya, tapi marilah kita sama-sama mencari Al Haq yang sebenarnya. Insya Allah, Allah akan memberikan hidayah kepada kita semua jika kita benar-benar mengharapkan hidayah dari Nya…..
    Akhi aba salma ana cukup tertarik dengan artikel-artikel antum….Tapi afwan ya kok kebanyakan mengkritisi/mengorek2 kejelekan2 JMH dan Jamaah yang lain aja yah???Sementara tentang SALAFY sendiri tidak di korek-korek kelemahanya…hem….(maklum udah merasa paling benar sendiri ya, jadi ga perlu dikoreksi), ada apa dengan JMH???Oh ternyata antum mantan jamaah JMH ya??Sekarang antum telah menemukan Jamaah yang paling benar yah menurut antum???tapi jangan sampai antum malah menjadi perusak, penebar fitnah diSalafy ini!!!Jangan antum kotori dakwah salafy yang lurus ini dengan akhlak buruk antum!!
    Akhi sebagai mantan JMH tidak seharusnya antum berbuat demikian, kesannya setelah antum keluar dari JMH dan masuk ke Salafy…..kok jadi benci kepada orang JMH, antipati terhadap JMH, dendam, habis manis sepah di buang…..hem…… Ana sih khusnudzan aja bahwa antum berniat baik menasihati jamaah JMH…tapi bukan berarti menjelek-jelekan di Room seperti ini??Alangkah baiknya antum datang aja ke Imam nya ( yang antum anggap sebagai imam palsu itu) nasihati secara baik-baik jangan hanya berani bicara di blog seperti ini, berkoar-koar bahwa JMH itu sesat, batil, bid`ah, khawarij, teroris dll…..Katanya Ahlussunnah….apakah akhlaknya demikian ketika menasihati jamaah lain??? Hati ana sangat miris sekali ketika melihat dan menyaksikan ummat islam saling berdebat tapi tidak pernah menemukan suatu titik temu. Apalagi pada tahun-tahun terakhir ini setelah dakwah salafy muncul di Indonesia, semua jamaah diluar salafy mereka anggap sesat, batil, khawarij, bid`ah, teroris….MasyaAllah…rasanya ana ingin menangis melihat kenyataan seperti ini.inikah sikap salafy kepada sesama muslim???Tunjukkan mana ukhuwwahnya ikhwani fiiddiin???sesama muslim tidak seharusnya demikian.Ingat hadist Rasulullah: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” Kapan ummat muslim mau bersatu???Ummat muslim saat ini seperti Buih di Lautan, jumlahnya mayoritas tapi tidak punya kekuatan sedikitpun…Naudzubillah min ndzalik.Marilah ikhwani wa akhwati fiddin, bukalah hati kita untuk menerima nasihat dan ilmu dari ikhwan lain sekalipun bukan dari jamaah/kelompok kita toh kita sesama muslim.Jangan bersikap fanatik yang berlebihan….Fahimtum????bersikap fanatik berarti termasuk dalam salah satu sifat sombong. Padahal sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain (al hadist).
    Akhi, Ana memandang sangat rancu sekali ketika salafy menganggap Imam/ulil amri/amiirul mukminin/khalifah itu adalah Penguasa yang syah di suatu negeri…. Padahal telah nyata oleh kita semua bahwa Pemerintah/penguasa kita (di Indonesia) dipilih dg cara2 di luar islam yaitu dengan Demokrasi yang merupakan sistem dari barat. Akhi, Allah tidak akan pernah Ridlo jika ummat islam menegakkan Syariat dengan cara2 diluar Islam, CAMKAN ITU!!! Justeru sistem Demokrasilah yang membuat Ummat islam menjadi terpecah belah, berpartai-partai, mudah di adudomba, dll. Makanya menurut ana betul apa yang telah difahami oleh Wali Alfatah sebagaimana tercantum di artikel antum…..Bahwa ummat islam sudah saatnya bersatu dalam satu Kekhilafahan yaitu dalam Jamaah Muslimin berdasarkan dalil hadist Khudaefah ibnul Yaman….supaya tidak mudah diadudomba oleh musuh-musuh Allah (Yahudi&Nasrani beserta antek-anteknya).Bagaimana kita bisa membantu saudara kita di palestina, bagaimana kita bisa merebut kembali Al Aqsa dari tangan yahudi, klo ummat islam masih kacau balau tanpa pemimpin???Apakah salafy tidak menghendaki persatuan ummat islam dalam satu kekhilafahan???ADA APA DENGAN SALAFY???ada siapa di belakang Salafy???
    Menurut ana sih tinggal melaksanakan apa yang Allah dan Rasul perintahkan kepada kita…… Gitu aja kok repooot (Klo pengikut hawa nafsu memang berat untuk melaksanakan perintah Allah & Rasulnya, bisanya mengorek-ngorek kesalahan kelompok lain, padahal di kelompoknya sendiri belum melaksanakan perintah Allah secara total, tapi malah sibuk mencari-cari kesalahan kelompok lain dianggap bid`ahlah, sesatlah, batillah..dan perkataan-perkataan lain yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang yang katanya mengaku sebagai Ahlussunnah/Salafy)!!!!Sungguh aneh…ketika mengatakan dirinya sebagai Ahlussunnah…namun tidak mengamlkan apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan. Masalah kepemimpinan ummat islam adalah masalah yang sangat Fundamental akhi….bahkan ketika Rasulullah wafatpun….pemakamannya ditunda…karena blom adanya seorang khalifah pengganti Rasulullah…akhirnya para sahabatpun sepakat membaiat Abu bakar sebagai seorang Khalifah.
    Kalo misalkan SBY antum anggap sebagai khalifah….artinya antum loyal terhadap sistem barat (Demokrasi), ini artinya antum dkk berkiblat ke barat. ini sangat bertentangan sekali dengan prinsip Ahlussunnah yang katanya mengingkari DEmokrasi, tapi kok menikmati hasilnya dan wajib ditaati lagi, walaupun penguasa itu merebut kekuasaanya dengan cara bid`ah sekalipun….lucu gak sih??Katanya memberantas bid`ah, ini mah yang jelas2 bid`ah malah diikuti…MasyaAllah (aneh bin ajaib). Misalnya seperti kemarin Penentuan hari Iedul Adha….Padahal udah jelas Wukuf di Arafah..tgl 18 Desember 2007, seharusnya SUNNAH-nya itu solat Iednya tgl 19 Des 2007, tapi ketika Ied mereka tgl 20 Des 2007…apakah SUNNAH nya seperti itu????…Saum arafahnya ikut Makkah Almukarromah…..sementara Solat iednya ikut Penguasa setempat. Mana dalil dari Al Quran dan Hadistnya yang menyuruh kita untuk menunda solat ied demi mengikuti penguasa???INGAT MAKKAH AL MUKARROMAH ADALAH UMMUL QURO BAGI UMMAT MUSLIM SEDUNIA. Atau mungkin para Syeikh antum yang berfatwa seperti itu???Fatwa ulama boleh kita jadikan sebagai Rujukan, asalkan sesuai Quran & Sunnah. Ketika suatu hal sudah terkandung jelas baik dalam Quran maupun Sunnah, yah sudah kita tidak perlu lagi merujuk kepada fatwa ulama, kecuali klo memang blom jelas. Menurut antum Lebih baik melaksanakan perintah Allah dan Rasulnya dulu? atau perintah Manusia (Ulama)?? Saudaraku, Kebenaran hanya datang dari Allah, melalui Quran dan Sunnahnya. Terbukalah wahai Saudaraku,
    Para ulama selalu bersikap jujur dan rendah hati terhadap kebenaran yang mereka terima. Mereka tidak menyuruh orang lain untuk mengikuti pendapatnya dengan taklid buta, tapi mereka menghendaki orang lain untuk tidak mengikuti pendapatnya jika itu memang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah.
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
    Akhi, Jangan setengah-setengah ketika kita mengamalkan Sunnah!!!! Islam itu mudah akhi….jangan dipersulit…tapi jangan juga dipermudah…Antum ini mempersulit diri sih….Jadi yah tersesat nantinya…Naudzubillah mindzalik.
    Akhi begitu Bangganya antum dan kelompoknya memiliki khalifah yang dipilih dengan cara Demokrasi….Ini kah Ahlussunnah/Firqotun Najiyah/Toifah Al Mansyurah/Jamaah Muslimin yang Rasulullah Janjikan di akhir zaman ini????Ana berdoa Mudah-mudahan bukan….Akhi seorang Khalifah itu diangkat dengan cara Islam yaitu dengan cara Baiat imarah, bukan dg PESTA DEMOKRASI YANG MENGHABISKAN UANG RAKYAT HINGGA BERTRILIUN-TRILIUN, Bukankah ini suatu Kemubadziran yang sangat Allah Benci? dan belom tentu Pemimpin yang terpilih itu ISLAM…..Naudzubillah tsumma Naudzubillah…INI SUNGGUH SESAT DAN MENYESATKAN!!!!
    Mohon Penjelasannya, karena ana masih sangat Fakir terhadap ilmu……Jazakallahu Khairan Katsira….
    Afwan Minkum….Moga Hidayah senantiasa Allah limpahkan kepada kita semua. Amiin. Wallahu a`lam Bishshowab…..Barokallohu Fiikum.
    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Akhwatuka Fiddiin
    Zahra Jamilah

  5. zahra jamilah Maret 14, 2008 pukul 8:53 am Reply

    Assalamualaikum
    akhi kenapa komentar yang dulu ga antum komentari?kok malah dihapus tidak ditampilkan???
    akhi ana mohon komentar ana yang ini jangan di hapus yah???tolong dikomentari karena ana masih sangat faqir…..mohon penjelasannya.
    jazakallah atas perhatiannya. Barakallahu Fikum…

    wassalam.

  6. sony Mei 4, 2008 pukul 11:34 am Reply

    Assalamu`alaikum…
    alhamdulillah… saya dengan secara tidak sengaja menemukan blog ini. dan sayabenar-benar sungguh sangat membutuhkan sebuah pertolongan. saya minta dikirim ke alamat imel saya tetang pemikiran Mas…. mengenai KHILAFAHNYA WALI AL FATAH……… terimakasih haturnuhun……….
    imel saya generasi_ihsan@yahoo.co.id

  7. abu 'abdirrahman semary alsundawy Mei 12, 2008 pukul 9:45 am Reply

    Kepada saudara kami abu syamil dan yg lainnya rahimakumullah..
    Bukanlah karena kita merasa lebih mulia dr siapapun jika kita menjelaskan penyimpangan seseorang/tokoh yg terlanjur menjadi anutan banyak orang. Tp semata-mata karena itu adalah kewajiban kita untuk menjelaskan kpd umat agar mrk tdk terjerumus dlm penyimpangan. Jgn anggap itu sbg hujatan tp cobalah anggap sbg suatu koreksi yg membangun.
    Ingat lho, jika ada orang lain yg mengikuti kesalahan seseorang maka seseorang itu akan memperoleh dosa yg sama dg orang lain yg mengikutinya tsb. Maka anggaplah koreksi ini sebagai upaya menolong mereka yg telah menyebarkan kesalahan2 kpd umat agar tdk semakin banyak umat yg mengikuti kesalahan2 mereka. Memang mgkn saja tokoh tsb sudah taubat dr kesalahannya, tp pemikirannya sblum rujuk sudah terlanjur menyebar kpd umat ini maka umat perlu terus diingatkan.
    Trus ingat jg bhw kita hanyalah menyampaikan apa yg telah diucapkan oleh orang-orang yg lebih mulia dan utama yaitu para ulama yg berkompeten. Jd bukan semata-mata ucapan kita yg tentu saja banyak kelemahan dan kekurangan dan jauh dr kemuliaan.
    Syukran, mudah2an bermanfaat.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: