Desa Yang Musnah di Daerah Dieng

Desember 1, 2007 at 8:48 pm 24 komentar

Desa Yang Musnah di Daerah Dieng

Oleh : Abu Tilmidz

 

Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَتَمُورُ

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).

Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.

Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

Allah Maha Besar.

Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.

Wallahu a’lam bish shawab.

Entry filed under: Serba-serbi. Tags: .

Mengenal Al-Imam Al-Mahdi (satu) Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah

24 Komentar Add your own

  • 1. fateh  |  Desember 3, 2007 pada 8:39 am

    Subhanallah,
    Semoga Ini menambah keimanan bagi kita semua

    Balas
  • 2. Abu Aqil As-Salafy  |  Desember 10, 2007 pada 7:47 pm

    Subhanalloh akhy,
    Barakallohu fiik. ana baru mengetahuinya sekarang.
    Semoga ini menjadi peringatan kepada kaum muslimin agar kembali kepada Jalan yang benar.

    Balas
  • 3. Prasetyo  |  Desember 11, 2007 pada 11:26 pm

    Smoga kita selalu dalam lindungan Allah swt. Amin.

    Balas
  • 4. agus arif w  |  Desember 16, 2007 pada 9:18 pm

    aslmualaikum

    Balas
  • 5. Subhan. Pemalang  |  Desember 18, 2007 pada 12:53 am

    Assalammu alaikum wr wb
    al-hamdulillah…
    Allah memberikan pelajaran bagi orang yg musryik terhadap agama_ dan pemilik alam ini.
    Smega kejadian hilangnya ds tsb menyadarkan kita akan azab allah.

    Balas
  • 6. Ridwan  |  Desember 28, 2007 pada 1:38 pm

    Tsunami aceh juga pelajaran buat orang aceh yang katanya “serambi Mekah”

    Balas
  • 7. Abu Iqbal Abdul Azis  |  Januari 13, 2008 pada 7:16 pm

    Assalaamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    Lokasinya mungkin sangat dekat dengan kampung ana, bila memang masih di kabupaten Banjarnegara. tetapi ana malah tahu tentang cerita ini dari antum. sukron
    Dan mendengar tentang aktifitas salafy di desa Pakisan, jadi ingin ke sana.
    Wassalaamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

    Balas
  • 8. masbadar  |  Januari 18, 2008 pada 4:28 pm

    bismillah..aslmkm….
    jika kisah ini benar, merinding ana membacanya…
    na’udzubillah…semoga kita terhindar dari azab yang sedemikian..
    salam kenal..

    Balas
  • 9. moslem  |  Februari 6, 2008 pada 10:10 am

    alangkah masya_Allahnya,..

    Balas
  • 10. fury_sibebek_batur_banjarnegara  |  Februari 10, 2008 pada 10:29 pm

    ya benar sekali,karena saya adalah salah seorang yang tinggal di daerah pegunungan dieng,maka saya paham betul akan daerah itu dan saya juga mengetahui cerita itu turun temurun dari orang tua dan teman-teman saya,tapi menurut cerita yang saya dengar,nama desa itu bukanlah lagetang,melainkan desa pucuk..
    waLLahu a’lam bisshawaab.

    Balas
  • 11. abu rieza radhiyalah bin taufik  |  Maret 18, 2008 pada 9:00 pm

    AllahumaAllah aku berlindung kepadaMu dari azabMu

    Balas
  • 12. Dony  |  April 9, 2008 pada 6:03 pm

    Bismillah , ana baru tau cerita ini dan syukron telah menambah keimanan ana . assalamu,alaikum

    Balas
  • 14. Fadlan19  |  Mei 5, 2008 pada 6:04 am

    SUBHANALLAH!ana jd ingat hadist:”Bnar2 akan ada sklmpok dr umatku yg menghalalkn zina,sutra,khamr,dan musik.Mrk tnggl d pnck gnung,tiap sore seorg penggmbala membwa hwn trnk mrk ke kndngnya.Ktika dtg kpd mrk seorg fakir utk suatu kbuthnnya,brktlah mrk pd si fakir:’Bsok sajalah kamu kmari!’Mk d mlm harinya ALLAH adzab mrk dg d tumpahknnya gnung tsb kpd mrk,smentara yg slamat dr mreka ALLAH ubah jd monyet dan babi hingga hari kiamat.”(HR Bukhari)

    Balas
  • 15. haulasyiah  |  Mei 21, 2008 pada 11:14 am

    masya Allah. ana juga pernah dengar langsung dari ikhwah Pakisan. barakallahu li walakum

    Balas
  • [...] a’lam bish shawab. http://abasalma.wordpress.com/2007/12/01/desa-yang-musnah-di-daerah-dieng/ Jika suka silakan tandai [...]

    Balas
  • [...] Desa Yang Musnah di Daerah Dieng [...]

    Balas
  • 18. Abu Fadhlan  |  Juni 6, 2008 pada 10:27 pm

    Masya Allah, Mungkin daerah lain masih banyak kemaksiatan yang semakin meraja lela. Maka sangat perlu para Asatidz dan Tholabul Ilmi untuk turun ke masyarakat berkorban harta dan diri untuk mengingatkan ummat. Jangan kalah dengan orang Da’wah dan Tabligh (yang bodoh2 dan hanya bermodal semangat dan keyakinan) mereka sudah berkorban kesegala penjuru, sehingga orang2 awwam mulai semangat beragama, orang2 yang berilmu tinggal mengarahkan dan membetulkan cara2 beribadah dan keimanan mereka.

    Balas
  • 19. nikmat  |  Juli 9, 2008 pada 10:57 am

    saya adalah anak keturunan dari penduduk asali desa batur,memang benar apa yang di tulis penulis karena saya diceritakan oleh ibu saya tentang kejadian didaerah legetang.saya berharap dengan adnya kejadian itu kita umat manusia harus selalu bersyukur kepada tuhan yang maha esa,dan juga jangan bermaksiat walaupun harta kita melimpah.

    Balas
  • 20. shidiq /cbbx/jtl/wanayasa/bara  |  September 7, 2008 pada 8:16 pm

    Allahu akbar…begitulah azab bagi manusia manusia yang zolim dan ingkar dan tak mau bersyukur

    Balas
  • 21. Desa yg hilang di dieng | wong patrol  |  Oktober 4, 2009 pada 10:23 pm

    [...] Wallahu a’lam bish shawab. http://abasalma.wordpress.com/2007/12/01/desa-yang-musnah-di-daerah-dieng/ [...]

    Balas
  • 22. asrori  |  November 6, 2009 pada 5:22 pm

    Assalamu’alaikum Wallahu a’lam bish shawab

    Balas
  • 23. captain jack  |  Desember 29, 2009 pada 5:52 am

    asalamu’alaikum

    ‘alaikum salam warahmatullahi

    Balas
  • 24. Abu isa Abdurrohman  |  Februari 4, 2010 pada 11:34 pm

    jazakallohukhoiron, ini adalah ibroh akan AGUNGNYA ALLOH Subhanhu wa ta’ala. dan kita ini butuh dengan ALLOH. butuh AmpunanNya. butuh semuanya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.