Sadarlah Pengikut Qiyadah…!

Sadarlah Pengikut Qiyadah…!

Oleh : Abu Salma bin Rosyid

 

Segala pujian milik Allah Rabbul ‘alamin yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki dan menyesatkan kepada siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang diberi petunjuk tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya dan barang siapa disesatkan maka tidak ada satupun yang mampu memberi petunjuk kepadanya.

Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Muhammad Rasulullah penghujung para nabi, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang komitmen dengan ajarannya sampai yaumul qiyamah. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah,

Pembaca yang budiman, semoga Allah ta’ala mengokohkan hati kita dalam Iman dan Islam. Atas takdir Allah, saya mendapatkan buku pegangan qiyadah Islamiyah. Buku yang diklaim sebagai wahyu yang turun kepada Ahmad Mushadiq itu saya dapatkan dari saudaraku (berinisial AM) Hamba Allah yang telah menyadari kekeliruannya selama ini. Alhamdulillah dia sekarang telah bertaubat dan kembali mengucapkan dua kalimat syahadat, syahadatnya orang Islam dan meninggalkan syahadatnya orang qiyadah. Dia juga sudah kembali makan sembelihannya kaum muslimin. Segala puji bagi Allah yang memberi hidayah kepadanya. Melalui tulisan ini saya mengajak kepada pembaca sekalian untuk mendoakan kepadanya agar Allah memberi hidayah taufik berupa pemahaman Islam yang benar yaitu pemahaman Islam yang berdasarkan al-quran dan sunnah menurut pemahaman salafushsholih. Amin

Buku yang bersampul dengan gambar / foto Ahmad Mushadiq bersayap dan disaksikan oleh sahabat-sahabatnya itu diklaim oleh orang qiyadah sebagaai wahyu Allah (ruhul qudus = istilah qiyadah) yang turun kepada Ahmad Mushadiq. Benarkah demikian ?

Melalui tulisan ini, dengan memohon pertolongan kepada Allah ta’ala saya bemaksud menolong kepada pemuda-pemuda muslim, anak-anaknya kaum muslimin yang selama ini telah meyakini bahwa Ahmad Mushadiq adalah Nabi dan Rasul Allah yang akan menyelamatkan bangsa Indonesia khususnya dan berrjanji kepada kalian semua mengangkat izzul Islam wal muslimin.

Dengan tulisan yang sederhana ini saya berharap kalian dapat sadar bahwa Ahmad Mushadiq yang bergelar Al Masih Al maw’ud adalah Al kadzab = pendusta, semoga Allah memberikan petunjuk kepadanya kepada jalan yang benar.

Dengan tulisan yang sangat sederhana ini saya berharap Allah memberi petunjuk kepada kalian untuk mau kembali kepada Islam yang benar, karena sesungguhnya dengan cara yang sangar sederhana sekalipun, sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa Mushadiq adalah penipu, pendusta al kadzab !. Apalagi saat ini pendusta itu telah meringkuk di dalam tahanan.

Namun yang namanya kesesatan tetaplah kesesatan, syubhat tetaplah syubhat sangat sulit untuk ditinggalkan, keragu-raguan itu tetap muncul menghalangi kalian untuk kembali kepada Islam yang benar. Apalagi jika di hati kalian masih ada sifat gengsi, mau menang sendiri dan sifat-sifat buruk lainnya. Oleh karena itu sebelum melanjutkan menbaca saya berpesan kosongkan hati dan pikiran kalian, memohonlah hidayah taufik kepada yang memilikinya yaitu Allah subhanahu wata’ala. Dengan cara seperti itu saya berharap Allah memberi petunjuk kepada kalian berupa hidayatu taufik sehingga kalian merasa nyaman, dapat kembali berkumpul dengan Bapak Ibu kalian, kakak adik kalian, dan seluruh kaum muslimin yang selama ini telah kalian anggap musyrik dan haram sembelihannya.

Satu Bukti telah cukup …!

Pengikut qiyadah semoga Allah memberi petunjuk kita semua. Membaca buku pedoman kalian yang dianggaap sebagai wahyu yang turun di gunung bunder, berkali-kali saya geleng-geleng kepala. Mengapa ? Ya…bisa-bisanya buku semacam ini dapat menyesatkan kalian.? ini mengherankan. Sungguh jika kita meluangkan untuk membantahnya saya yakin akan menghabiskan waktu dan tenaga yang sangat banyak mengingat di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan yang sangat banyak. Namun dalam kesempatan ini saya hanya akan menunjukkan satu bukti saja, dengan satu bukti ini semestimnya sudah cukup bagi kalian untuk beramai-ramai meninggalkan Ahmad Mushadiq.

Dalam buku tersebut ada satu buah alenia (maaf saat ini buku itu tidak ada pada kami jadi saya tidak dapat menukilnya) yang membahas tentang pengertian sunnah. Diawali dengan menghujat para ulama dengan menggelari ulama keledai dia melecehkan definisi sunnah yang dipakai oleh ahli fikih.

Mushadiq berkata kurang lebih demikian :…akibat pengertian sunnah yang bermakna jika diamalkan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa ….

Yang saya soroti dalam alenia ini adalah sebagai berrikut :

1. Dia Mushodiq mengklaim sebagai nabi, sudah semestinya ucapannya adalah berupa wahyu dari Allah ta’ala. Apalagi sudah berupa tulisan yang disebarkan kepada pengikutnya, yang dia sendiri dan juga sang penulis (Michael Muhdats) dalam pengantarnya telah mengklaim bahwa isi buku itu adalah ruhul quddus (wahyu) yang turun pada Ahmad Mushadiq. Sehingga alenia yang memuat potongan kalimat yang saya tulis di atas juga termasuk wahyu yang berasal dari Allah ta’ala.

2. Dari tulisan / wahyu Mushadiq tersebut tergambar bahwa menurut Mushadiq berdasarkan wahyu yang turun kepadanya para ulama islam mendefinisikan makna sunnah adalah perkara yang jika diamalkan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.

3. Apabila terbukti bahwa para ulama islam ternyata tidak mendefinisikan seperti yang tercantum dalam wahyu yang turun kepada Mushadiq, dapat disimpulkan bahwa wahyu Mushadiq adalah bohong / dusta tidak berasal dari Allah melainkan dari Iblis / Demit / Jin / Lamunan Mushadiq / Kebodohan Mushadiq. Yang berarti Mushadiq bukan Nabi tetapi pendusta al Kadzab.

Pengikut Mushodiq semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.

Baiklah, sekarang kita akan membaca keterangan para ulama tentang makna sunnah. Dengan keterangan ini Insya Allah kita akan mengetahui bahwa Mushadiq itu bodoh dan ilmunya bukan wahyu yang berasal dari Allah. Mengapa ? karena ilmunya salah tidak sama dengan pengertian sunnah dari para ulama.

Sunnah menurut para Ulama Islam (Ulama keledai menurut Mushadiq) diambil dari tulisan : Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqornain

Sunnah secara lughoh (bahasa) : berarti jalan, baik maupun jelek, lurus maupun sesat, demikianlah dijelaskan oleh Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab 17/89 dan Ibnu An-Nahhas.

Makna secara lughoh itu terlihat dalam hadits Jarir bin ‘Abdullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سْنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ وَمَنْ سَنَّ فِي الإِْ سْلاَمِ سُنُّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مَنْ بَعْدَهُ

“Siapa yang membuat sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelahnya dan siapa yang membuat sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya”. Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shohihnya no.1017.
Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Min Ahlil Bid’ah Wal Ahwa`i 1/29-33 dan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Wa Manhajul Asya’irah Fi Tauhidillah I/19.

Adapun secara istilah : Sunnah mempunyai makna khusus dan makna umum. Dan yang diinginkan di sini tentunya adalah makna umum.

Adapun makna sunnah secara khusus yaitu makna menurut istilah para ulama dalam suatu bidang ilmu yang mereka tekuni:

1. Para ulama ahli hadits mendefinisikan sunnah sebagai apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik itu perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan-pen.) maupun sifat lahir dan akhlak.

2. Para ulama ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai apa-apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain dari Al-Qur’an, sehingga meliputi perkataan beliau, pekerjaan, taqrir, surat, isyarat, kehendak beliau melakukan sesuatu atau apa-apa yang beliau tinggalkan.

3. Para ulama fiqh memberikan definisi sunnah sebagai hukum yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di bawah hukum wajib.

Adapun makna umum sunnah adalah Islam itu sendiri secara sempurna yang meliputi aqidah, hukum, ibadah dan seluruh bagian syariat.

Berkata Imam Al-Barbahary : “Ketahuilah sesungguhnya Islam itu adalah sunnah dan sunnah adalah Islam dan tidaklah tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya” (lihat : Syarh As-Sunnah hal.65 point 1).

Berkata Imam Asy-Syathiby dalam Al-Muwafaqot 4/4 : “(Kata sunnah) digunakan sebagai kebalikan/lawan dari bid’ah maka dikatakan : “Si fulan di atas sunnah” apabila ia beramal sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sebelumnya hal tersebut mempunyai nash dari Al-Qur’an, dan dikatakan “Si Fulan di atas bid’ah” apabila ia beramal menyelisihi hal tersebut (sunnah)”.
Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 4/180 menukil dari Imam Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Karkhy beliau berkata : “Ketahuilah… bahwa sunnah adalah jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengupayakan untuk menempuh jalannya dan ia (sunnah) ada 3 bagian : perkataan, perbuatan dan aqidah”.

Berkata Imam Ibnu Rajab -rahimahullahu ta’ala- dalam Jami’ Al-‘Ulum Wal Hikam hal. 249 : “Sunnah adalah jalan yang ditempuh, maka hal itu akan meliputi berpegang teguh terhadap apa-apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atasnya dan para khalifahnya yang mendapat petunjuk berupa keyakinan, amalan dan perkataan. Dan inilah sunnah yang sempurna, karena itulah para ulama salaf dahulu tidak menggunakan kalimat sunnah kecuali apa-apa yang meliputi seluruh hal yang tersebut di atas”. Hal ini diriwayatkan dari Hasan, Al-Auza’iy dan Fudhail bin ‘Iyadh”.

Demikianlah makna sunnah secara umum dalam istilah para ‘ulama -rahimahumullah- dan hal itu adalah jelas bagi siapa yang melihat karya-karya para ulama yang menamakan kitab mereka dengan nama As-Sunnah dimana akan terlihat bahwa mereka menginginkan makna sunnah secara umum seperti :

1. Kitab As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim.

2. Kitab As-Sunnah karya Imam Ahmad.

3. Kitab As-Sunnah karya Ibnu Nashr Al-Marwazy.

4. Kitab As-Sunnah karya Al-Khallal.

5. Kitab As-Sunnah karya Abu Ja’far At-Thobary.

6. Kitab Syarh As-Sunnah karya Imam Al-Barbahary.

7. Kitab Syarh As-Sunnah karya Al-Baghawy.

8. dan lain-lainnya.

Lihat : Mauqif Ahlis Sunnah 1/29-35, Haqiqatul Bid’ah 1/63-66 dan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Wa Manhajul Asya’irah 1/19-23

Sumber : http://darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=438

Demikianlah pengertian sunnah menurut para ulama Islam.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pengertian sunnah menurut ulama islam yang ditulis oleh michael Muhdats dalam wahyunya Ahmad Mushadiq berbeda dengan pengertian sunnah yang dijelaskan oleh para ulama Islam yang sesungguhnya. Hal ini membuktikan bahwa tulisaan / buku pedoman qiyadah / ucapan Mushadiq bukanlah wahyu karena sesuatu yang berasal dari Allah tidak akan bertentangan dengan kenyataan. Dus diketahui bahwa Mushadiq adalah bodoh tidak mengerti tentang ilmu-ilmu Islam sekaligus diketahui bahwa dia adalah pendusta al kadzab.

Oleh kerena itu segeralah kalian meninggalkan dia bertaubatlah dan kembalilah kepada islam yang benar yaitu islam yang berdasarkan Al-qur’an dan sunnah yang difahami dengan pemahaman salafush sholih yaitu para sahabat Nabi Muhmmad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikianlah semoga menjadi pelajaran kita semua. Shallawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan segala puji hanyalah milik Allah Rab semesta alam.

 

2 Tanggapan

  1. mungkin maksudnya menurut si ahmad itu sunah, yang terkait sama

    hukum foqih yaitu :
    1. Wajib
    2. Sunnah
    3. mubah
    4. dll

    mungkin ini kali maksudnya yach..?

    Memang ya…justru ini menunjukkan bahwa dia bukan nabi, karena wahyunya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Kalau itu wahyu pastilah benar.

  2. Salam Akhi fiiLlah

    Saya tertarik atas upaya “jadilHum billati hiya Ahsan” yang telah Anda lakukan dalam mengingatkan saudara yang “salah” memilih jalan dalam mengkespresikan pengalaman keagamaannya.
    Menurut al-Haqir, ekspresi Ahmad Mushaddiq merupakan sebuah ekspresi pengalaman batin yang ia alami namun salah kaprah ia pahami sebagai sebuah wahyu.
    Di belahan dunia Barat, religius experience ini lagi marak-maraknya yang “celaka” atau “untung” nya banyak digemari oleh kaum Muslimin sebagai mubarrir untuk mengklaim diri sebagai nabi.
    Argumen yang seharus dan sebaiknya dibangun dalam menghadapi orang-orang adalah argumen filosofis yang tak terbantahkan, karena boleh jadi yang bersangkutan menolak hadis yang Anda nukil di atas untuk menghukumi dia dan kelompoknya.

    Sekian….

    Bloger Sunni

Tinggalkan Balasan