Fitnah-fitnah Dakwah Salafy yah (dua)
Alhamdulillah telah selesai pembahasan dalam fitnah-fitnah dakwah salafy yah (1), di sana kita mengenal orang-orang bodoh terhadap manhaj salaf berusaha berkontribusi terhadaap dakwah salafy yah (semisal Ath tholibi) sehingga terimaje bahwa salafy berpecah belah.
Tahukah anda fitnah yang lebih besar dari yang pertama tadi ? Tentunya adalah orang-orang yang dinilai oleh ath tholibi senagai salafy sehingga seorang seperti Ath tholibi yang kelihatannya intelek sekalipun mampu terkelabuhi. Ya…Ath tholibi tidak dapat membedakan siapa yang salafy dan siapa yang bukan salafy.
Inilah ujian yang sangat berat bagi duat salafy, orang-orang yang menisbatkan terhadap manhaj salaf lebih-lebih kaum muslimin yang tidak pernah belajar tentang hakikat salaf dan salay yah.
Ujian ini, benar-benar menjadikan duatnya, penitinya dan kaum muslimin terpelanting dari jalan salaf dari shirothol mustaqim.
Oleh karena bahanya marilah kita sedikit mengurai permasalahan ini semoga kita semua mampu selamat dan terhindar dari fitnah yang satu ini.
Duat-duat organisasi yang berpenampilan salafy
Tidak sedikit orang-orang organisasi yang telah menerima manhaj salaf, karena memang manhaj salaf tidak memiliki kesalahan. Namun sayang di antara mereka tidak mampu keluar dari organisasinya, yang di organisasi tersebut terkadang seseorang mendapat kedudukan, pekerjaan, persaudaraan bahkan kehormatan.
Dakwah salafy yah, dakwah persatuan dakwah penuh rahmat, pasti menolak ikatan-ikatan hizbiyyah yang hanya membatasi loyalitas dan persaudaraan sebatas organisasi hizbiyyah.
Tentu saja namanya organisasi adalah bikinan manusia di sana ada aturan-aturan tertentu, ikataan-ikatan tertentu demi untuk kesuksesan organisasinya. Bisa jadi aturan-aturan tersebut keluar dan melanggar syariat Islam yang mulia.
Dai yang sedang kita bicarakan ini insya Allah mengetahui kesalahan-kesalahan organisasinya, namun karena itu tadi, mungkin kedudukan, pekerjaan, kemuliaan, persaudaraan dan semisalnya menghalangi sang dai yang sejatinya telah menerima hakikat kebenaran manhaj salaf.
Bisa jadi sang dai yang telah menerima hakikat salaf tadi tidak mau meninggalkan organisasinya bukan disebabkan permasalahan dunia yang telah disebutkan, namun bertujuan mengishlah, mengajak saudara-saudaranya dalam organisasinya untuk kembali kembali kepada jalan yang benar yaitu manhaj salafy yah.
Namun kenyataannya, mereka tetap tidak mampu merombak, merubah dan mengishlah. Organisasinya tetap sebagai organisasi hizby walaupun di belakangnya barang kali telah tertempel tulisan salafy yah, Ahlussunnah dan semisalnya namun toh hakikatnya organisasi mereka adalah organisasi hizbyyah. Kesetiaan, persaudaraan tetap diutamakan untuk organisasi dan orang-orang yang bergabung dalam organisasi.
Orang-orang seperti inilah yang dapat mengelabuhi Ath-tholibi, yang dianggap dia adalah salafy haroki. Sebenarnya mereka tidak pantas menyandang nisbah salafy yang tepat adalah hizby, mereka belum mampu sepenuhnya keluar dari pola pikir Hizbyyah, entah itu disebabkan dunianya atau syubhat syetan yang terkutuk.
Maka orang-orang seperti ini sangat fasih menukil firman Allah, sabda Rasulullah juga ucapan-ucapan salafush sholih. Namun sangat disayangkan mereka menukil perkataan para ulama dimaksudkan untuk membela jati dirinya, tidak jarang digunakan untuk menyerang salafyyin.
Misal : Ketika dai salafy menghidupkan kaidah jarh wat ta’dil, mereka membantah dengan ucapan-ucapan para ulama berikut :
Syaik Nashir dalam mukaddimah shifat sholat nabi :
“Setiap manusia dapat diambil dan ditinggalkan pendapatnya kecuali Nabi”.Dan mutiara petuah dari Ulama generasi awal dalam Al Ajwibah Mufidah oleh Syaikh Fauzan: belajarlah pada banyak guru , niscaya akan mendapati kelemahan guru-gurumu ,
Syaikh Nashir :
“Ada banyak perkataan salaf yang perlu hati-hati didalam pengejawantahannya.”
dan juga ucapan Syaikhul Islam :
“Keliru dalam “tidak menvonis” lebih baik daripada Salah dalam menvonis”.“Yang mengetahui menjadi hujjah bagi yang tidak mengetahui”
Salafyyin mana yang berani membantah nukilan di atas, tentu tidak ada. Akan tetapi yang menjadi permasalahan di sini akankah kita menghilangkan jarh wat ta’dil. Tentu tidak.
Secara bodoh, kita dapat mengambil faedah dari nukilan di atas diantaranya :
1. wajibnya seorang yang hendak menjarh saudaranya malakukan dengan hati-hati, mengumpulkan data, meluruskan niat dan jangan sampai mendholimi saudaranya.
2. Belajarlah kepada siapa saja dari da’ ahlussunnah jangan taklid dan ikuti kebenaran.
Namun, entah apa yang dimaksudkan mereka, mungkin mereka menghendaki hilangnya jarh watta’dil atau mungkin menganjurjkan seluruh kaum muslimin untuk mengambil ilmu dari siapa saja tak perduli dia dai hizby, thurotsi atau semisalnya. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.
Kemudian syubhat lain yang tidak kalah suksesnya adalah kewajiban berdakwah, mereka tidak meu meninggalkan hizbiyyah berasalan dengan berdakwah, ya berdakwah dari dalam katanya.
Seakan-akan mereka mengatakan bahwa salafy apriori membiarkan kaum muslimin (baca organisasi-organisasi) terjerumus dalam kesalahannya, menjauhinya, memboikotnya yang menjadikan organisasi-organisasi tambah marah dan menjelek-jelakkan dakwah salafy yah.
Sekali lagi mereka beralasan ingin berdakwah dan menuduh salafy tidak mau mendakwahi organisasi.
Ya…Klise, tujuan mulia namun sayang mereka tidak dapat membedakan berdakwah dan berwala. Tujuan mereka mungkin berdakwah namun hasilnya mereka berwala dengan organisasinya dan tidak jarang mereka menjadi penghalang dakwah salafy yah itu sendiri.
Berhasilkah dakwah mereka ? mampukan mereka merombak organisasi yang ditumpangi kembali kepada manhaj salaf ?
Barang kali mereka tidak mengetahui bahwa salafy yang hakiki telah melakukan dakwah ke oerganisasi-organisasi (baca orang-orangnya) tanpa masuk bergabung dan berwala dengan organisasi-organisasi hizby.
Itulah sekelumit tentang dai salafyah yang belum mampu meninggalkan hizbiyyahnya, sehingga tampak persis salafy walaupun hakikatnya hizby.
Oleh karena itu melalui tulisan ini saya berpesan :
1. Saudaraku, terimalah manhaj salaf ini sepenuhnya, tinggalkan hizbiyyah walaupun di sana ada harta, persaudaraan yang kuat, kemuliaan atau semisalnya. Namun ketahuilah Hizbiyyah yang kalian sekarang ada padanya pada hakikatnya sedang memusuhi ahlussunnah, memecah belah ahlussunnah. Lihatlah Ath tholibi dan semisalnya menyerang kita. Menyerang salafy, mereka mengatakan salafy suka berpecah belah ? Siapa yang berpecah belah saudaraku ? Siapa ?
2. Salafyyun hati-hatilah dengan dai-dai hizby, jangan sampai mereka memecah belah kita salafyyun. Hati-hatilah jangan sampai ucapan-ucapan mereka menjadikan kita membenci dai salafy yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam. Semoga Allah memberi hidayah kita semua.

assalamualaikum wr wb
akhi, bukankah islam adalah agama yang syamil? menyeluruh? meliputi segala aspek kehidupan? mengatur segala sisi hidup?
bukankah politik merupakan salah satu segi kehidupan yang perlu juga mendapatkan sentuhan sentuhan islam.
apakah antum akan membiarkan orang orang yang tidak mau memihak islam terus menerus menguasai dunia ini?
saya yakin antum tidak akan berbuat demikian.
saya yakin antum akan terus menerus mengingatkan mereka untuk kembali kepada islam.
demikian juga kami saudaraku. kami tidak hendak menguasai negara ini untuk kepentingan kami. kami berpolitik untuk kemaslahatan umat.
ketika antum tidak percaya dengan perjuangan kami, tolong jangan bersuudzon kepada kami.
tapi doakan kami agar kami tetap istiqomah dengan kata kata kami.
kami yakin antum bukanlah orang yang senang berprasangka buruk terhadap sesama muslim, betapapun buruknya kami dimata antum.
doakan kami agar tetap diberi keistiqomahan.
Alhamdulillah, ba’da tahmid wa sholawat…
Sungguh artikel yang berfaidah dan bermanfaat. Namun ana ada sedikit mulahadhot buat tulisan antum di atas :
1. Judul. Penggunaan judul di atas sangat ambigu, karena kata fitnah-fitnah diidhafahkan kepada dakwah salafiyah, seakan-akan dakwah salafiyah itu menyebarkan fitnah. Alangkah lebih baik menggunakan bahasa “Fitnah-Fitnah terhadap dakwah salafiyah”. Yang demikian adalah lebih selamat.
2. Masalah organisasi, tanzhim atau semisalnya. Dakwah salafiyyah tdklah menolak tanzhim atau organisasi atau yayasan atau jum’iyah atau perhimpunan atau apapun namanya. Yang ditolak oleh manhaj salaf adalah apabila tanzhim tsb memiliki indikasi atau karakteristik hizbiyah, yg mana wala baro diterapkan darinya, baiat ditegakkan di dalamnya, adanya ashobiyah dan tahazzub, dan lainnya.
Adapun tanzhim dalam rangka utk mempermudah dakwah, maka ini tmsk bagian dari “Ta’awun ‘alal birri wat taqwa”. Maka, masalah ini perlu difahami dengan baik…
3. Tidak setiap orang yang mengklaim sbg salafiyah maka ia bebas dari belenggu hizbiyah. Tidak sedikit org-2 yang mengklaim sbg salafiyah namun mereka jatuh kepada hizbiyah, ashobiyah, taqlid dan semisalnya. Diantara bentuk hizbiyah tsb adl menerapkan ilzam-2 seperti : kalo antum tdk ngaji ke ustadz fulan dan fulan maka antum hizbi, jika antum tdk mentahdzir fulan maka antum hizbi, jika antum masih bermajlis dg mereka maka antum hizbi… padahal blmlah diskusi dan dialog berlangsung, ilzam seperti ini telah dilaksanakan.
4. Jarh wa Ta’dil itu adalah hak para ulama dan mereka yang mumpuni.
Bukan hak setiap orang. Tidak boleh seorang mengkambinghitamkan ilmu yang mulia ini hanya utk melepaskan ambisi pribadinya di dalam bermusuhan, mendengki, memebenci, hasad, dengki dan semisalnya. Betapa banyak orang melakukan ini namun mengkambinghitamkan ilmu Jarh wa Ta’dil.
5. Fahamilah masalah ta’sil terlebih dahulu. Belajarlah kitab-2 para ulama dan ikhtilafat yg terjadi di dlmnya agar antum dan kitia semua dapat membedakan mana masalah ijtihadiyah dan mana yg bukan.
Sungguh lucu apabila kita mengatakan bahwa masalah pensikapan thd Ihyaut Turots adalah masalah yg dapat mengeluarkan salah satu fihak dari lingkaran ahlus sunnah. Padahal, betapa banyak syubhat di dalamnya.
Dan sungguh lucu, jika ada orang yang tidak berta’awun dg IT namun dia tidak mentahdzir dan mentabdi’ saudaranya yang bekerjasama dg IT sebagai hizbi turotsi… jika demikian keadaannya mengapa mereka tdk mentabdi’ syaikh M. Khalifah at-Tamimi, Syaikh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin, Syaikh M. Musa Nashr, dls…
Sbg contoh : Syaikh M. Maghrawi ditabdi’ oleh Syaikh Rabi’ dan beberapa masyaikh Madinah. Namun masyaikh Syam dan Kibarul Ulama masih menganggap beliau sbg salafi. Mereka beralasan : Jarh Mufassar muqoddam min ta’dil mujmal atau mubham.
Padahal, ketika para ulama itu menta’dil, tdklah mereka menta’dilnya melainkan dengan ilmu dan pengetahuan, sebagaimana diutarakan oleh Syaikh Salim al-HIlali.
Kami menghormati ulama yang berbeda pendapat seperti syaikh Rabi’, namun tabdi’ beliau tidaklah mengharuskan kami mengikutinya. Demikianlah kata Syaikh Salim.
Inilah sikap yg hilang di tengah-2 saudara kita salafiyyin. Tidak faham dengan masalah-2 seperti ini.
Apabila masalah menilai seseorang ini bukan masalah ijtihadiyah lantas masalah apakah gerangan? Allohumma…
Ala kulli haal, kita semua haruslah bermuhasabah. Jangan sampai kita terbelenggu dg hizbiyah dimanapun kita berada dan kapanpun. Allhumma sallimna…
Wal hasil, tulisan antum banyak faidah dan manfaat yang bisa diambil, sekiranya antum memperkaya dengan hujjah dan ucapan para ulama, maka hal ini insya Allaah akanlah lebih baik lagi.
Dari saudaramu yang mencintaimu.
Abu Salma.
Ya. Jawaban antum bagus dan gamblang. Barakallahu fiikum. Tapi, ana agak kagum dengan point keempat pada komentar di atas.
Lantas, dikatakan apa ucapan seperti ini: “Adapun ustadz fulan tidak samar atas kita akan sikap syadidnya kpd saudara-2nya sesama du’at ahlis sunnah.”
Katanya jarh itu hak ulama yang mumpuni, lalu ini masuk kategori celaan atau pujian atau promosi atau apa itu…? Atau mungkin waktu itu beliau sedang berperan sebagai ulama? Ajaib dan luar biasa, keluar dari mulut orang yg “mengajarkan” soal jarh wa ta’dil. Belum lagi “pujian” terhadap ustadz salafy lainnya dengan sebutan: pengangguran, mutasyadid, atau mantan preman (Alhamdulillah, bukan mantan salafy) sehingga yang mencocokinya adalah preman-preman juga.
Semoga saja dia paham akan ucapannya sendiri:
Ana tambahi, sikap fanatik buta terhadap guru dan organisasinya, dan yang semisalnya.
[...] (more…) [...]
benar2 jika perpecanhan telah nampak memang sulit disatukan
ass..
itu sudah pasti akan terjadi setelah rasulullah saw wafat,
karna rasulullah saw pernah bersabda,”sesungguhnya umat ku akan berpecah menjadi 73 golongan, 72 berada di neraka dan hanya 1 di surga. para shahabat bertanya wahai rasulullah siapa golongan yang satu itu?beliau menjawab dia adalah yang mengikuti jejak ku , jejak para shabat. dia adalah ahlussunah wal jamaah”.
sekarang lebih baik kita introveksi diri,apa kita sudah memiliki kriteri ahlusassunah wal jamamaah????????
atau sudah mengikuti petunjuk rasulullah saw dan para shahabat……………