ATH-THUROTS ADALAH UJIAN BAGI SALAFYUN ……..? (Bagian Satu)

ATH-THUROTS ADALAH UJIAN BAGI SALAFYUN ……..? SIAPA YANG LEBIH NYALAF ?
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Persoalan ini adalah persoalan bahaya, besar dan rumit, semua ‘ulama ahlussunnah menasehatkan agar salafyun bersikap dengan benar agar fitnah ini tidak memecah barisan salafyun. Di antara mereka yang menasehatkan salafyun untuk tidak menyibukkan diri pada masalah ini akan tetapi menganjurkan kepada tholabul ilmi untuk menyibukkan diri pada ilmu-ilmu yang bermanfaat.Ulama yang lain menganjurkan salafyun menjauhi persoalan ini yaitu jangan berhubungan dengan organisasi ini, sibukkan diri untuk belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Dua kutub ini kelihatannya berseberangan, akan tetapi apabila kita cermati dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang bersih tanpa ada nafsu yang berpengaruh di dalamnya, akan ditemukan fatwa yang sama yaitu mereka semua para ulama melarang salafyun menyibukkan diri membahas At-Thurots terlalu jauh apalagi sampai meninggalkan kewajiban menuntut ilmu yang bermanfaat karena persoalan ini yaitu menuntut ilmu yang bermanfaat adalah perkara yang harus terus digeluti oleh salafyun yang komit dengan manhaj ini.

Akan tetapi bukan maksud para ulama ini menutup rapat-rapat membicarakan persoalan ini, tentu saja apabila kita dapat dan mampu untuk tidak larut terlalu jauh membicarakan persoalan ini sehingga tidak mengganggu aktifitas belajar juga tidak merusak persaudaraan dan tidak merusak dakwah, salafyun dibolehkan membahas ini. Berupaya mengetahui perkara ini bukan persoalan yang salah, bahkan ini hal yang harus dilakukan oleh salafyun agar perkara yang benar jelas benarnya dan perkara yang batil juga jelas batilnya.

Diantara thulab yang yang membahas persoalan ini dengan kaidah ilmiyah adalah Ustadz Askari dan Ustadz Firanda, keduanya membahas dengan sungguh-sungguh dalam rangka mencerahkan persoalan yang dirasa oleh sebagian salafyun adalah perkara yang samar. Kita patut bersyukur karena upaya mereka berdua ini salafyun dapat mendudukkan persoalan tersebut pada tempatnya, bukan menjadi fitnah yang terus menerus berlanjut, apalagi sampai memecah belah di kalangan salafyun.

Alhamdulillah saya adalah salah satu orang yang sedikit mengikuti pembahasan ini melalui tulisan kedua ustadz tersebut. Dalam kesempatan ini saya akan berpartisipasi yaitu mengapresiasi terhadap apa yang ana rasakan setelah membaca kedua tulisan tersebut.

Tulisan tersebut ana dapat dari http://www.darussalar.or.id sejumlah tujuh seri dan dari http://******.wordpress sejumlah tiga seri. Saya berharap tulisan ini bermanfaat bagi kedua ustadz yang menulisnya, juga kepada semua yang menyandarkan dirinya kepada manhaj salaf, atau salafy.

Di antara faedah yang saya temukan setelah saya membaca kedua tulisan tersebut adalah sebagaimana yang sudah tersebut di muka, yaitu para ulama menasehatkan kepada kita semua salafyun untuk tidak disibukkan dengan persoalan ath-thurots sampai meninggalkan menuntut ilmu yang bermanfaat. Itulah kesepakatan mereka.

Dilain itu saya melihat ada perbedaan yang signifikan antara kedua penulis yaitu Ust. Askari dan Ustadz Firanda, diantaranya.

1. Pada masalah boleh tidaknya salfyun mengambil uang / dana yang di salurkan oleh ath-thurots ? Disatu fihak Ustadz Firanda boleh mengambil malah menganjurkan mengambil sedangkan Ust. Askari melarang untuk mengambil.

Saya katakan :Saya tidak menemukan apa dasar ustadz Firanda menganjurkan salfyun untuk mengambil dana tersebut ? Saya tidak membaca adanya fatwa ulama yang menganjurkan untuk mengambil, walaupun dalam artikel Ustadz Firanda. Saya hanya membaca bahwa para ulama tersebut unmenganjurkan salafyun tidak bersikap berlebihan seperti menghajr kepada fihak yang mengambil dana dari ath-thurots. Tidak ada ulama yang menganjurkan untuk mengambil dana ini. Mungkin saya dalam hal ini kurang teliti membaca atau mungkin belum membaca fatwa tentang persoalan tersebut.

2. Pada masalah Tazkiyah dan Jarh yayasan Ath-Thurots. Kedua ustadz berbeda pendapat, Ustadz Firanda cenderung kepada para ulama yang memberi tazkiyah kepada yayasan At-Thurots dengan mengesampingkan pendapat para ulama yang menjrh yayasan ini. Sedangkan Ustadz Askari dengan mantap menjarh yayasan ini berdasarkan fatwa-fatwa para ulama yang menjelaskan kebusukan yayasan ini.

Saya Katakan : Dalam perkara ini saya lebih tentram dengan uraian ustadz askari dengan beberapa hal :

  • Ustadz Askari lebih nyalaf dikarenakan tidak taklid pada salah satu kelompok ulama tetapi dengan kesungguh-sungguhan mengikuti semua fatwa para ulama dan berupaya mengambil / menjamak kedua pendapat yang sepertinya berseberangan tersebut sehingga ditemukan pendapat yang menentramkan hati salafyun. Apalagi setelah berupaya diteliti dengan seksama para masyayih tersebut pada hakikatnya tidak bertentangan sama sekali, yaitu mereka semua sepakat bahwa baiat / berjanji setia untuk mengikuti aturan-aturan organisasi tertentu adalah persoalan baru dalam agama, bukan salafyah akan tetapi bid’ah dholalah, karena bai’at hanya boleh diberikan kepada penguasa bahkan ini adalah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh seluruh ulama ahlussunnah bahkan termasuk satu trademerk legal tidaknya seorang ulama disebut disebut ahlussunnah atau ahlul bid’ah. Siapapun yang membolehkan bai’at kepada organisasi maka dia jelas-jelas bukan salafyah bahkan termasuk hizbiyah. Dan keadaan ini ada pada penjelasan-penjelasan Syaikh yang menjrh ath-thurots sehingga sangat pantas jika kita semua meninggalkan ath-thurots. Adapun ustadz Firanda sama sekali tidak memandang terhadap fatwa-fatwa para ulama yang menjrh yayasan ini, bahkan Beliau sama sekali tidak menampilkan pendapat-pendapat tersebut dalam tulisannya, sungguh saya heran apa maksud beliau, barang kali beliau menginginkan salafyun tidak bingung dengan masalah khilaf. Beliau menunjukkan fatwa-fatwa para ulama yang mentazkiyah saja, seakan-akan pendapat yang menjrh lenyap ditelan bumi. Sikap seperti ini adalah sangat berbahaya bagi manhaj ini. Bukankah tujuan manhaj ini adalah untuk merobah sikap taklid menjadi sikap ilmiyah ? Sikap madzabiyah berubah menjadi sikap salafyah ?. Sungguh terlepas dari benar yang mana pendapat keduanya, yang jelas bahwa sikap Ustadz Askari lebih nyalaf, seandainya saja kita biarkan sikap seperti Ust Firanda berarti kita akan kembali kepada sikap taklid madzab, taklidz ulama dan yang semisal yang semuanya itu telah lama berupaya dirubah oleh masyayikh salafyun dari para sahabat, tabiin, tabiut-tabiin, Ibnu Taimiyah sampai Syaikh al-Bani dan seluruh ahli hadits dengan seluruh pengikutnya samapai saat ini. Bukan maksud saya membela pendapat yang menjrh Ath-Thurots namun persoalan yang saya angkat ini adalah sikap ilmiyah yang harus diambil oleh salafyun apabila terjadi beda pendapat ? Mungkin ada yang berkata ? Bukankah ini adalah masalah khilafiyah yang mana salafyun boleh memilih salah satu fatwa yang menentramkan jiwanya ? Dan salafyun harus toleran terhadap Orang yang berbeda pendapat ? Memang benar demikian, akan tetapi bagaimanapun sikap seorang salafy dalam masalah khilafiyah tidak boleh memilih pendapat yang menurut pikirannya dan hawa nafsunyalebih rojih, bagaimanapun salafy harus berupaya mencari siapa di antara para ulama yang berbeda pendapat itu yang memiliki hujjah dan dalil yang lebih kuat ? Walaupun mungkin setelah dilakukan upaya mencari kebenaran tetap harus berbeda akan tetapi sikap ilmiyah mencari kebenaran dan meneliti argumen harus tetap dilakukan karena tidaklah kebenaran itu kecualai satu. Jadi sekali lagi yang saya bahas dan soroti dalam perkara ini adalah sikap ilmiyahnya dari kedua ustadz bukan hasil keputusan yang mereka ambil l. Walaupun secara pribadi saya tentram dengan uraian ustadz Askari.
  • Ustadz Askari kelihatan lebih jujur berani menampilkan semua pendapat para ulama yang berseberangan. Ini merupakan sikap jujur sekaligus mendidik salafyun untuk berbuat adil, inshof sekaligus contoh sikap dalam menghadapi perbedaan yang ada. Wallahu ta’ala a’lam

Bersambung Insya Allah

KOMENTAR-KOMENTAR YANG MASUK

1.     belajar berkata,

21 Maret 2007 @ 1:20 pm · Ubah

ATH-THUROTS itu apa?

Afwan kalau antum belum tahu ath-thurots jangan berupaya mengerti ya !? Lebih baik belajar yang lain aja !?

2.     Ibnu Dahlan berkata,

22 Maret 2007 @ 3:18 am · Ubah

Pengertian dari ATH-THUROTS itu apa,jelaskan.

Sama aja buat antum, Afwan kalau antum belum tahu ath-thurots jangan berupaya mengerti ya !? Lebih baik belajar yang lain aja !?

3.     Abu abdirrahman bin misdi al-carati berkata,

22 Maret 2007 @ 2:33 pm · Ubah

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
Afwan,apakah antum pernah baca fatwa syaikh ar-ruhaili penyusun kitab mauqif ahlus sunnah wal jamaah,InsyaAlloh fatwa beliau ttg ihya ut-turots uda dimuat di majalah assunnah,InsyaAlloh fatwa beliau yg mendekati kebenaran,afwan klo ada komentar ana yg kurang berkenan…Barakallohu Fiik.

______
Memang dah jealas trus gimana ….?

4.     thulab berkata,

22 Maret 2007 @ 2:40 pm · Ubah

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
Akh napa sich nama blognya koq hampir sama dgn punya abu salma?pa ga da yg lain sich…Barakallohu Fiik

__________
Waiyakum. Numpang tenar. Antum tahu ga merek-merek motor cina numpamg motor jepang jadi cepat terkenal. Begitu juga ana.

wahonot berkata,

23 Maret 2007 @ 4:11 am · Ubah

Afwan akhi, ana mau sedikit menambahkan tentang perselisihan ini. Sebenarnya ana juga cenderung kepada pendapat kepada jika nantinya menimbulkan bahaya maka mending tidak berhubungan dengan yayasan ini. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa ikhwan yang lebih dekat dengan para asatidz yang dari Yaman terkesan menjauhi dan memberi cap jelek ikhwan atau ustadz yang notabene menggunakan dana tersebut . Ana sebenarnya ga mau terlalu jauh membahas masalah ini. Ana berharap kedua belah pihak bisa saling rukun dalam berdakwah mengajak kepada manhaj Salaf. ana pernah mengikuti bebrapa kajian ustadz yang berlawanan. Ana juga mendengar beberapa ustadz yang mengisi kajian dijogja yang masih kuliah di Madinah lebih cenderung untuk meninggalkan yayasan ini. akan tetapi sikap mereka terhadap para asatidz yang masih mengambil dana pada yayasan ini tidak serta merta mencela dan menjauhi mereka . Tapi tatkla mengikuti kajian ustadz yang “dari yaman” kok mencela ustadz yang masih berta’awun dengan para asatidz yang ambil dan. bahkan menyebut nama lagi. ana jadi bingung akh, kenapa harus terjadi seperti ini. bahkan teman ana sendiri yang baru mengaji waktu pulang langsung ditanya dan di beri semua makalah berhubungan dengan atturots padahal dia baru ngaji, belum diajari masalah aqidah, sekarang dia malah ga ngaji, main musik, cewek, ga tentu sholatnya. ana jadi bingung akh. bahkan sebagian ustadz yang ana belajar sama mereka juga membolehkan kita belajar kepada para ustadz dari yang ga ngambil dana. Yang ana herankan kenapa kita seperti ini. sudah sedikit tapi kita saling mencela dan menjauhi. Ana hanya bisa berdo’a semoga Alloh mengembalikan kejayaan kaum muslimin diatas manhaj Salaf.Afwan jika kurang berkenan. barokallohu fiikum

_____
Waiyakum….Sebaiknya antum sibukkan belajar pada yang bermanfaat.
yang jelas antum harus tahu benar permasalahnnya, jangan menilai seorang ustadz hanya dengan prasangka. Ustadz-ustadz salafy yang ana kenal tidaklah mengambil suatu sikap kecuali menggunakan dalil atau argumentasi yang kuat, insya Allah kalau dah waktunya Antum akan tahu m siapa sebenarnya yang benar2 salafy. dalam perkara ini. Ini adalah ujian, sebagaimana artikel ana ini. Maka marilah kita hati-hati.
Adapun masalah orang yang tersesat kepada kemaksiatan karena diberi artikel ath-thurots itulah Qodar Allah, adapun yang mengasih juga karena mungkin dia belum banyak belajar atau yang lainnya hingga salah langkah. Semoga Allah menyatukan kaum msulimin terutama salafynya. amin

6.     Abu Nabila berkata,

23 Maret 2007 @ 9:45 am · Ubah

Assalamu alaikum

Ya akhi semoga usaha antum untuk mengambil kesimpulan ini menjadikannya sebuah amalan.tetapi ana lihat kesimpulan antum ini terlalu dangkal dan jauh dari pokok permasalahan yang ada,karena pokok dari permasalahan ini sudah jelas bahwasanya masing masing pihak berpegang kepada fatwa dari pd para Masyaikh ahli ilmu,sekarang ini inti permasalahannya ada di bagaimana cara menyikapinya,sekarang ana tanya sama antum apakah dana yang diterima dari IT itu halal atau harom?
sehingga para penerima dana itu dituding,dihujat,dihina dan dicari cari kesalahan sekecil apapun………bahkan dimusuhi, dilapangan yang terjadi mata sinis dan tak mau menjawab salam.
Dan permasalahan ini sebenarnya berangkat dari dulu semenjak LJ masih jaya antum ingat dengan seruan “Mereka Hizbiyun”
kemudian LJ bubar apa yang terjadi ya akhi?
mereka hanya ganti atau tukar pakaian metodanya tetap sama dikarenakan kedengkian yang ada pada hati mereka kemudian mereka teriakan lagi Sururiun thurotiun dan entah apa lagi kelak……….

padahal tujuannya satu hanya untuk mengikat para thulab,untuk mencari banyaknya jamaah ini bisa dibuktikan, kalau antum pergi ngaji kepada ust.yang menjadi tertuduh maka besoknya antum diharuskan memilih salah satu atau paling ringannya antum kena dikucilkan……..
Ya akhi ini realita yang ada mereka sengaja membuat isu ini untuk menutupi sebuah hizb yang mereka bentuk dengan cara yang amat halus.
InsyaAlloh Ya akhi Alloh Maha Adil antum ingat ketika di bukakannya kedok LJ oleh Yang Maha Kuasa siapakah mereka sebenarnya…..

Wassalamu alaikum

_________
Alaikum Salam Warohmatullahi WabarokatuhuAna juga pesan kepada antum untuk tidak gegabah mengambil kesimpulan, adapun tentang harta ath-thuros dan bagaiman sikap salfyun insya Allah akan ana tulis pad bagian ke dua. Kali ana sedang sibuk menulis tentang khilafah. Tunggu aja ya!

7.     abul hasan berkata,

24 Maret 2007 @ 10:02 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..

buat al-akh al-fadhil Abu Nabila..

afwan ya…ana cuma mau memberi informasi ama antum bahwa LJ tu udah ga ada…udah bubar…asatidz dan semua orang yang dulu di dalamnya udah ruju’. Klo ngeliat tulisan 2x antum, sepertinya antum “phobi” banget ama LJ…apa antum pernah punya pengalaman “menarik” dengan ikhwah (eks) LJ…?

ana pun dari dulu nggak setuju ama adanya LJ, FKAWJ apalah namanya yang penting modelnya udah tandhim-tandhiman…tapi yaa..gimana? Kalah pamor ama JUT…hi..hi..hi.

_______
sesungguhnya Allah maha Pengampun dan tidak sepantasnya orang yang beriman mengungkit-ungkit kesalahannya padahal yang bersalah telah bertaubat. Barokallahu fikum

8.     abu fathimah berkata,

25 Maret 2007 @ 9:31 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
buat al-akh abu hasan,
Afwan ya …melihat dari argumentasi dari akh al-fadhil Abu Nabila..ana berharap antum juga lebih lembut dong,memang realita dari mantan LJ masih ada juga yang mereka bersikap demikian,
Inilah tugas kita dan antum-antum semuanya agar kita bisa belajar lemah lembut dan meninggalkan adab-adab yang kurang santun yang ditujukan kepada sesama salafy.
Sedangkan untuk Abu Salma Mohamad Fachrurozi,
1Antum santun dalam penilaian terhadap ATH-THUROTS,Barakallohu Fiik
.Semoga akan menjadi ibroh bagi Salafy yang lain.
2.Ana nasehatkan antum juga menelaah dari buku Ustadz Firanda,”Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”

_______

Wa ‘alaikum Salam warohmatullahi Wabarokatuhu
Semoga antum mendapat hidayah….
akhi….bagi saya insya Allah dah jelas masalah ini, yaitu kita tidak perlu disibukkan masalah Ath-Thurots ini.
Yang jelas Ath-Thuros adalah yayasan hizbi karena disitu ada bai’at. Adapun sikap kita, tunggu pada artikel ana selanjutnya pada bagian ke dua. Insya allah.
Yang jelas salafy dan bukan tergantung amalan kita, jangan merasa tentram bahwa kita telah jadi salafy. Dalam mensikapi semua ini haruslah ekstra ahti-hati. Kalau antum baca pada artikel ana tentang anggapan=anggapan salah tentang salafy insya Allah antum faham terhadap ana dan ustadz-ustadz ana.
Barokallahu fikum

9.     abul hasan berkata,

26 Maret 2007 @ 10:28 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
akhuna abu fathimah…
afwan, mungkin memang ada beberapa yang masih kurang lembut (seperti ikhwah beberapa daerah, mereka mungkin punya maksud baik untuk membantah tetapi ibarat-ibarat yang di gunakan bukan ibarat-ibarat yang digunakan salafusshaleh dalam membantah, bahkan terkesan menggunakan ibarat-ibarat orang awam) atau terkesan “sangar”…kaya ga mau ngasih salam,dll…tapi kan ngga bisa dipukul rata semua eks-LJ begitu.
LJ/FKAWJ adalah kesalahan, itu memang diakui…
Yaa…walaupun pahit tapi kebenaran emang harus di junjung tinggi. Seperti minum obat, walaupun pahit tapi harus dimunum juga klo mau sembuh (bi idznillah).

______
Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahu Wabarokatuhu
Seandainya semua mau berbuat tidak taklid sebagaimana yang ana dakwahkan dalm blog ini insya Allah akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.Sungguh benar antum bahwa tidak boleh menyamaratakan, keburukan adalah keburukan akan tetapi tidak bisa dipikulkan kepada yan tidak bersalah. Menjeneralisasi adalah tidak adil.Kalau saja ikhwan yang ngaji pada firanda CS mau bergaul dengan kami secara tulus Insya Allah akan mengetahui kelambutan hati dan sikap kita kepda seluruh kaum muslimin, apalagi kepada sesama orang yang mengaku salafy.

10. abul hasan berkata,

26 Maret 2007 @ 10:31 am · Ubah

assalamu’alaikum,

buat abu fathimah…

ana belum pernah baca bukunya al-ustadz Firanda, tetapi secara garis besar ana udah liat di salafy.or.id, yang mana telah dikomentari oleh al-ustadz Askary.

_________
Wa ‘alikum salam.
Barokallahu fikum

11. Abu Salim Dodi Al-Atsary berkata,

26 Maret 2007 @ 4:32 pm · Ubah

Bismillahirrohmanirrohim,

Insya Alloh sudah cukup bagi yang ingin mencari al-haq, bisa link juga ke situs SalafiTalk.net (yang diakui juga oleh Salafiyyun.pen – Walhamdulillah)

http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5220

Shahabiyyun Jalil,
Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
“Orang-orang (para Shahabat) selalu bertanya
kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam tentang kebaikan,
sedang aku bertanya tentang kejelekan,
karena aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku…”
(HR. Al-Bukhari, no.7084 dan Muslim, no.1847, dengan lafadz Muslim).

Seorang penyair pernah berkata:
“Aku mengenal keburukan bukanlah untuk mengamalkannya,
tetapi untuk menjauhinya,
dan barangsiapa yang tidak dapat membedakan kebaikan dari keburukan
–dikhawatirkan- dia akan terjerumus ke dalam keburukan itu”.

Nas’alullaahu salamah wal ‘afiyah…

12. yanu berkata,

27 Maret 2007 @ 4:41 pm · Ubah

terkait dengan komentar mas wahonot,

setiap “pemula” tentu pernah salah …

dan setiap kita yang sudah “tahu duluan”, mari kita ingat bahwa dulu kita juga pernah mengalami “kebelumtahuan”. marilah saling sharing “informasi” yang telah kita peroleh dengan cara yang betul-betul sangat hati-hati dan benar-benar memperhatikan kondisi “diri kita” dan “orang lain”.

IMHO, nampaknya perlu ada kajian/tulisan khusus yang membahas tentang “HOW TO” -nya mengajak temen/saudara/kenalan ke “jalan yang lebih baik”.

selain akal, manusia juga karuniai “perasaan”. salut untuk blog ini, semoga bisa “meng-inspirasi” temen-temen yang lain agar lebih hikmah dalam “menyampaikan informasi”

13. abu fathimah berkata,

28 Maret 2007 @ 2:21 pm · Ubah

Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahu Wabarokatuhu
Semoga kita di mudahkan selalu melihat niat dari setiap langkah kita,bersatulah wahai Salafy…bersatulah….cukupkan kesalahan masa lalu menjadi ibroh,
Jazakallahu khairan Saudaraku ….Jazakallahu khairan…

14. Abu Nabila berkata,

29 Maret 2007 @ 2:29 am · Ubah

Assalamu alaikum

Afwan Ya akhi antum punya kesimpulan dan ana juga punya kesimpulan,kalau antum lebih menekankan kesimpulan antum pada boleh atau tidaknya mengambil bantuan dari IT,tetapi ana lebih menitik beratkan permasalahan ini “bagaimana menyikapi ikhwan yamg menerima dan ikhwan yang berhubungan dengan yang menerima tadi”
apakah harus disikapi dengan hujatan dan dianggap telah keluar dari salafy?
dan satu hal lagi antum menganjurkan murid murid Ust. Firanda untuk bergaul dengan antum tp bagaimana dengan antum sendiri.

Wassalamu alaikum
======
Wa ‘alaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuhu.
‘Affaan baru kejawab, kemarin-kemarin ga kebaca.
Akhi…..kalau antum baca tulisan-tulisan ana tentang salafy, insya Allah dah faham dengan ana.
Alhamdulillah ana sih dah ngasih no Hp ke Abu Salma Al Atari, ana dah coba nyambung dan diapun dah kasih no Hp ke ana, ana juga sudah pernah nelpon ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah ana sedikit tahu siapa-siapa mereka.
Marilah kita perbaiki diri kita terlebih dahulu, mari kita wujudkan ukhuwah yang sebenarnya.
Ketahuilah… ketika ustadz A membicarakan Ustadz B misalnya itukan dalam rangka kasih sayang, hanya saja ana melihat komentator-komentator di situs-situs salafy menambah suasana kacau balao.Untuk masalah tahdzir baca ath thurots bagian ke ii
Barokallahu fikum

15. Abu Nabila berkata,

29 Maret 2007 @ 3:29 am · Ubah

Assalamu alaikum

Afwan Akhi Abul Hasan

Ana bukan phobi tetapi realita yang berbicara ana setiap hari jam detikberinteraksi dan berhubungan dengan mereka ditempat kerja jadi ana lebih tahu dari antum,walaupun tidak semuanya tapi mayoritas adabnya tidak menunjukan seorang salafiyun.

Ana tunggu antum kalau ke Batam biar kita buka bukaan biar lebih jelas buat antum.

Wassalamu alaikum

16. Abu fathimah berkata,

29 Maret 2007 @ 7:24 am · Ubah

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
kunjungi,
http://*******.or.id/

‘AFFAN ANA GA TAHU YANG KELOLA, KITA DISURUH MENGAMBIL ILMU DARI ORANG YANG JELAS SALAFYNYA.

‘AFFAN BUKAN MAKSDU ANA MENGATAKAN MEREKA BUKAN SALAFY….

17. irmawan berkata,

2 April 2007 @ 7:17 am · Ubah

Assalaamu’alaikum

Akhi (Abu Salma Mohammad F), kirain ini link Abu Salma, jadi agak bingung nih. Masak tenar ibarat motor cina, bisa nebeng yang jepang :) Ini kan amsalah keduniawian, yaitu mempromosikan web ana, sesuka-suka ana dong !, Alhamdulillah berhasil, blog ana termasuk blog yang tumbuh cepat mungkin karena alamatnya mirip kali ya !?

Usaha antum untuk menyimpulkan (antara 2 pendapat ulama) patut mendapat dukungan, yaitu untuk memudahkan penarikan kesimpulan, tapi bbr point masukan dari ana :
1. Ana tdk melihat pada tulisan Ust Firanda yang menganjurkan untuk mengambil dana dari yayasan, beliau hanya menyampaikan fatwa para ulama (yg membolehkan vs yg melarang) lengkap dengan kondisi dan situasinya (komparatif). Atau mungkin antum bisa membantu menunjukannya.
2. Pada tulisan Ust Askari, disebutkan permasalahan khilafiyah sebagaimana nikah mut’ah, nikah tahlil maupun hukum nyanyian. Apakah khilaf dlm permasalaan ath turats bisa disejajarkan dg khilaf dlm har tsb diatas? disana kita bisa melihat bahwa permisalan ini kurang tepat, karena para masyayaikh yg khilaf dalam ath turast “tidak khilaf dalam perkara yang disebutkan Ust Askari yaitu permaslaahan mut’ah, tahlil dan musik”, sehingga jika kita baca tulisan Ust Firanda disana dijelaskan dengan istilah khilaf mu’tabar dan bukan mu’tabar (lihat di pembahasan beliau). Ringkasnya khilaf mu’tabar = khilaf yg memang dalilnya saling seimbang/kuat. Sebaliknay khilaf yg tdk mu’tabar yaitu khilaf yg tdk dianggap, krn yg menyelisihinya bisa jadi karena dalil yg belum sampai.
3. Pada tulisan Ust Askari, di beberapa tempat ana baca bahwa masyayaikh yang membolehkan bermuamalah dengan ath turats “tidak tahu secara pasti kesalahan yayasan atau dampak buruk/akibat dari keberadaan yayasan tersebut jika bermuamalah”. Disini ana menangkap kesan bahwa masyayaikh yang membolehkan bermuamalah dg yayasan, dalam menjawab tentang yayasan tersebut tidak di atas ilmu. Bisa antum kaji lagi. Apakah setiap tanya jawab yang tidak sesuai maka otomatis akan dikatakan : pertanyaannya yg salah???
4. Kalo memang masyayaikh tidak tahu, alangkah lebih baiknya jika pada kesempatan lain (jika masyayaikh berkunjung lagi ke indonesia), ustadz-ustadz tersebut sudi menjelaskan duduk perkaranya, sehingga tidak menganggap masyayaikh tidak tahu dan membiarkan masyayaikh tidak tahu.
5. Hendaknya meletakkan dan memposisikan seseorang sesuai dengan kedudukannya, seperti jika yang menulis Ustadz, katakan : Ust Fulan berkata, bukan langsung menulis namanya. Ada kesan dari sisi ini, terlalu menyepelekan, walaupun Ust Fulan kebetulan berseberangan dengan kita. Ambil metode masyayaikh semisal Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin maupun Syaikh Al Albani.
Semoga ALlah memberikan petunjuk kepada kita semua.
Barakallahu lakum
Wassalaam.

Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah kalau antum menganggap ana bahwa blog ini link Abu Salma, bolehlah begitu ana ga masalah. Memang kami sudah sering dialog kok bahkan dia udah ngasih No HP ke ana. Bukankah berbeda dalam beberapa hal tidak mengharuskan kita semua berpisah ?Jazzakallahu khoir atas tanggapan antum terhadap tulisan ana.
Bagi ana persoalan ini dah jelas. Dalam tulisan Ustadz Askari dijelaskan bahwa Ust Firanda menyetujui / menganjurkan dana at thurots. Aantum dapat baca kembali pada artikel Ust Askari No 1, bahkan menjadi latar belakang mengapa ustadz Askari menulis tulisan itu.
Adapun kesimpulan antum tentang anggapan Ustadz askari mengatakan bahwa para ulama yang mentazkiyah Ath Thurots tanpa Ilmu adalah anggapan keliru. Antum keliru mengambil kesimpulan itu.
Ketahuilah, semua salafyun tidak pernah berfikir jelek terhadap siapapun para ulama. Kita semua menganggap dan meyakini bahwa para ulama (insya Allah) pasti berfatwa menggunakan ilmu. Hanya saja Ilmu yang ulama itu ketahui. Sekali lagi ilmu yang para ulama itu ketahui.
Ketahuilah bisa jadi para ulama akan berubah fatwanya pada suatu saat karena ilmu yang dimiliki bertambah.Adapun bagi saya sudah jelas, bahwa Ath Thurots adalah yayasan bid’ah karena saya menganggap perowi yang meriwayatkan bahwa pada yayasan ini ada bai’at adalah orang-orang tsikoh yang diakui kredibilitasnya oleh seluruh salafyun termasuk antum semuanya.
Sedangkan dalam perkara bai’at kepada selain penguasa semua salafyun telah makruf akan kebid’ahnnya.
Sehingga jika antum mau berseberangan, justru antum semestinya yang bertanya pada para ‘ulama yang mentazkiyah. Dan apabila sudah dapat jawaban dari mereka, mohon sampaikan kepada ana. Ingat pertanyaannya seperti yang ana tulis dalam tulisan ana.
Semoga Allah baguskan amalan-amalan kita sekalian
Wassalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

18. Pemula berkata,

2 April 2007 @ 8:19 am · Ubah

Mengapa salafy itu banyak macamnya? Apakah salafy berpecah-belah? Mengapa berpecah-belah? Siapa pemimpin kaum salafy itu? Apakah di masa rasul ada salafy?

=======
Salafy satu, tidak pernah berpecah belah, pemimpin salafy adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam.
Rasulullah adalah pemimpin seluruh kaum muslimin dari dulu sampai yaumul qiyamah.
Adapun pemimpin Salafy di dunia adalah pemimpinnnya seluruh kaum muslimin yaitu pemnguasa di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk pemimpin salafy adalah para ulama ahlussunnah. Mengapa demikian, karena tafsir ulil amri dalam surat annisa : 59 adalah umaro dan ulama (penguasa dan ulama) Lihat tafsir Ibnu katsir dan tafsir-tafsir yang lain. Mereka semua para umario dan ulama ditaati jika tidak berseberangan dengan Alqur’an dan Sunnah, sehingga taat pada mareka sebatas ketaatan pada hal ma’ruf.
BArokallahufikum

19. Abu fathimah berkata,

2 April 2007 @ 9:28 am · Ubah

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
Ana nasehatkan kunjungi,ke
http://*******.or.id/ situs salafy yang diisi oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja khusus berkaitan dgn Ath Thurots
Silahkan antum cek kebenarannya

======
Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
mohon difahami tulisan ana
Jazzakallahu khoir, cek kebenaran apa sih…ana kok ga faham.

20. abu fathimah berkata,

3 April 2007 @ 2:51 am · Ubah

Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
Maksud ana agar antum tidak hanya mengambil dari http://www.darussalar.or.id dan dari http://******.wordpress aja ,
jd ana nasehatkan agar mencermati juga dari www.manhaj .or.id
situs salafy yang diisi oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja khusus berkaitan dgn Ath Thurots,Jazzakallahu khoir

=====
Wa’alaikum salam Warohmatullahi wabarokatuhu
Menurut ana masalahnya dah jelas. Dah tak tulis, ana ga bela siapa-siapa, ana hanya bela sunnah.
Bahwasannya pada Ath Tgurots ada bai’at, sudah semestinya kita meninggalkan.
Adapun masalah hjr, itu hak individu, tidak boleh seseorang melarang kepada orang lain untuk menghajr atau mewajibkan menghjr.
Hjr adalah bertujuan untuk kebaikan orang yang di hjr, yang menghjr atau untuk kebaikan kaum muslimin. Kalau memang sudah melalui tahap-tahap yang semestinya biar saja yang mau menghajr, jangan kita membela yang dihjr kalau memang yang dihajr itu salah. Dan kita dapat bersikap lain, tidak menghjr misalnya akan tetapi jangan membela yang di hjr.
Semoga antum faham. (baca bagian II)Bisa antum sebut kalau tulisan ana salah pada bagian apa.
Insya Allah kalau ada waktu ana buka juga, web itu !
Ana mengelola web ini dari warnet, dan jarak rumah ke warnet sekitar 45 Km, jadi sangat repot.
Barokallahufikum

21. abu hanzalah zevian berkata,

27 Juni 2007 @ 1:34 am · Ubah

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Waaah..ajiib! rame juga yah komentarnya..
Barokallohu fikum…

yang akur yah…he he he…
ditunggu kelanjutannya…

22. Badr berkata,

18 Juli 2007 @ 2:30 am · Ubah

Assalamu’alaykum.

Ana telah buka site www.m*****.or.id dan www.salafy.or.id, sungguh terdapat perbedaan yang tajam walaupun sama-sama menukil dari ulama masing-masing. Ana sedih jika lihat list ustadz berbahaya, walaupun ana tidak tergabung dalam “salafy”, tapi ana selalu mengikuti kajian-kajian bermanfaat dari ustadz yang ternyata masuk daftar ustadz berbahaya.
Jadi siapa yang benar?apakah ini masuk ijtihadiyyah (walaupun sudah masuk pembahasan siapa yang berbuat bid’ah)?

Mohon pencerahan.

Wassalam.

Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
Ana ga faham Ustadz yang mana yang antum anggap berbahaya.
Untuk mengenal siapa yang secara hakikat berpegang teguh dengan manhaj salaf sebaiknya antum datang ke majlis taklim, di sana insya Allah diajarkan karakteristik ahlussunnah waljamaah. Dengan itu semua antum dapat menimbang siapa sebenarnya yang komitmen dengan manhaj salafyah.
Barokallahufikum

About these ads

27 gagasan untuk “ATH-THUROTS ADALAH UJIAN BAGI SALAFYUN ……..? (Bagian Satu)

  1. Mr Z Maret 24, 2007 pukul 1:30 am Reply

    Assalaamu’alaikum
    Ya syukur panjenengan bisa bikin seperti ini
    semoga bermanfaat dan guru TI dan K maos dapat buat seperti rika kangg
    trims.

    Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
    Sinau sing temenan ben pinter kang ya ….! Aja lali sinau Agama Islam sing bisa nylametna awake dewek mbesok nang yaumul qiyamah…ya ….! Semoga Allah memberi hidayah kepada kita berdua dan memberi kebaikan kepada kaum muslimin, Amin

  2. aburizq Agustus 27, 2007 pukul 1:13 pm Reply

    assalamu’alaikum

  3. suwarno September 4, 2007 pukul 8:13 am Reply

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuhu

    Afwan, saya baru 9 bulan mengenal manhaj salaf, pertama kali saya diperkenalkan oleh temen lewat pengajian di masjid Al Istshom Jakarta, tapi nggak berapa lama saya diajak oleh temen lain yang manhaj salaf dengan kajian di masjid krukut jakarta kota, saat ini saya masih ikut ke 2 nya, alhamdulillah ke 2 saling memiliki keunggulan, saya hanya berdoa kapan ke kajian ini bisa saling melengkapi…..karena kajian ustad yang dikrukut cs…udah sangat menyebar di jakarta, di perkantoran Sudirman, Kuningan…sementara yang di Isthisom kurang berkembang…jamaah itu aja.
    Tapi secara umum Fiqih, Aqidah…sama.
    Wallahu a’lam

    Suwarno

    Barokallahufikum.
    Salafyah bukan kelompok dan nilai kesalafyahannya tidak diukur banyak sedikitnya pengikut.
    Semoga allah mengokohkan antum dalam manhaj salaf

  4. abu hanif Januari 31, 2008 pukul 10:10 am Reply

    assalamu alaikum
    melanjutkan komentar al akh irmawan, bahwa dalam masalah khilafiyyah ada dua macam mu’tabar dan ghoiru mu’tabar antum belum memberikan jawaban? ana tegaskan lagi disini : apakah sama khilafnya para ulama ttg hukum musik, nikah mut’ah, dsb dengan khilafnya para ulama tentang hukum mengambil uang dari at tutots? Dan hukum asal menerima uang dari siapa saja bukankah halal, bahkan dari orang kafir sekalipun, sampai ada dalil yang kuat yang memalingkan dari hukum asal. Nah keberadaan dalil inilah yang khilaf di antara ulama. Dan sesuai fitroh manusia, mereka para ulama menilai suatu masalah relatif antara satu dengan yang lain. Ada yang mengatakan sudah ckp kuat memalingkan hukum asal ada yang belum. Jadi wajar ya saudaraku. Meskipun ana belum mebaca scr lengkap buku ustadz Firanda, tapi sekilas ana paham bahwa tujuan dari penulisan bulu ust. firanda memang bukan menrojihkan pendapat yang mana, sbgmn yang ditulis ust Askari. Kita bisa melihat pada judulnya. Bukankah isi buku sesuai dengan tujuan penulisan buku jadi wajar ust. firanda tidak mencantumkan pendapat ulama yang menjarh. Bukan pula Ust firanda merojihkan pendapat bolehnya mengambil dana dari at Turots, namun dia ingin menegaskan bahwa dengan khilafnya para ulama dalam masalah ini, bukan merupakan alasan kita untuk saling mentahdzir maupun hajr. Ana secara pribadi simpatik dengan buku ustz firanda yang aslinya(belum dikomentari asatidzah yang lain) karena masih sesuai dengan judulnya. Tapi WALLAHU A’LAM apa yang terjadi, ketika bukunya di”syarah” menurut ana malah memperuncing masalah dan tidak lagi sesuai dengan tujuan penulisan buku. Dan ana berbaik sangka pada beliau dengan buku aslinya (yang masih tipis). Walaupun tulisan ini panjang lebar tapi jangan lupa ana ingin jawaban antum atas pertanyaan ana diatas. Semoga ALLAH memberi hidayah pada kita yang senantiasa mencari al haq.

  5. abu hanif Januari 31, 2008 pukul 10:11 am Reply

    assalamu alaikum
    melanjutkan komentar al akh irmawan, bahwa dalam masalah khilafiyyah ada dua macam mu’tabar dan ghoiru mu’tabar antum belum memberikan jawaban??? ana tegaskan lagi disini : apakah sama khilafnya para ulama ttg hukum musik, nikah mut’ah, dsb dengan khilafnya para ulama tentang hukum mengambil uang dari at tutots? Dan hukum asal menerima uang dari siapa saja bukankah halal, bahkan dari orang kafir sekalipun, sampai ada dalil yang kuat yang memalingkan dari hukum asal. Nah keberadaan dalil inilah yang khilaf di antara ulama. Dan sesuai fitroh manusia, mereka para ulama menilai suatu masalah relatif antara satu dengan yang lain. Ada yang mengatakan sudah ckp kuat memalingkan hukum asal ada yang belum. Jadi wajar ya saudaraku. Meskipun ana belum mebaca scr lengkap buku ustadz Firanda, tapi sekilas ana paham bahwa tujuan dari penulisan bulu ust. firanda memang bukan menrojihkan pendapat yang mana, sbgmn yang ditulis ust Askari. Kita bisa melihat pada judulnya. Bukankah isi buku sesuai dengan tujuan penulisan buku jadi wajar ust. firanda tidak mencantumkan pendapat ulama yang menjarh. Bukan pula Ust firanda merojihkan pendapat bolehnya mengambil dana dari at Turots, namun dia ingin menegaskan bahwa dengan khilafnya para ulama dalam masalah ini, bukan merupakan alasan kita untuk saling mentahdzir maupun hajr. Ana secara pribadi simpatik dengan buku ustz firanda yang aslinya(belum dikomentari asatidzah yang lain) karena masih sesuai dengan judulnya. Tapi WALLAHU A’LAM apa yang terjadi, ketika bukunya di”syarah” menurut ana malah memperuncing masalah dan tidak lagi sesuai dengan tujuan penulisan buku. Dan ana berbaik sangka pada beliau dengan buku aslinya (yang masih tipis). Semoga ALLAH memberi hidayah pada kita yang senantiasa mencari al haq.

  6. abuzubair Februari 10, 2008 pukul 2:55 pm Reply

    Assalamu’alaikum
    Salam kenal semua saudaraku ,…salafiyyin di blog ini, menarik juga komentar2 di blogs ini, semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Mohon para ikhwah membimbing ana yg masih baru belajar salaf ini ya. Oh ya untuk semuanya saja,..hendaknya jangan hanya mengambil fatwanya para ulama saja tapi hendaknya ambil dan contohlah akhlak para ulama salaf yg mana mereka tdk saling berpecah belah satu dg lainnya pdhl banyak juga pendapat2 mereka yg berbeda,….tapi mereka saling berkasih sayang dan saling mencintai karena Alloh,…sungguh indah kalo kita menerapkan dan mencontoh akhlak para ulama kita ini…..aduhai,..kapan hal itu terjadi di Indonesia ini,…
    Barokallahu fiik

  7. Abu Salim Februari 20, 2008 pukul 1:20 pm Reply

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    afwan, untuk ikhwan semua.

    bukankah para ulama kita telah menasehatkan ( kepada salafiyiin ) dalam menanggapi masalah ini agar lebih menyibukkan diri dalam menuntut ilmu syar’i, tetapi kok kita sekarang sibuk untuk memilih dan memilah siapa yang benar atau ikut – ikut menjauhi salah satu pihak

    saya hanya menasehatkan kepada ana pribadi dan semua ikhwan filllah agar kita lebih bersungguh – sungguh dalam menyibukkan diri memperdalam ilmu syari ( aqidah , hadits, fiqh, manhaj ) daripada menyibukkan diri mengurusi ikhtilaf antar asatidz yang kurang bermanfaat bagi kita. Kita sebagai penuntut ilmu seharusnya lebih mendalami ilmu ushul dan mengamalkan ilmu kita dan memikirkan amal ibadah kita, bagaimana kita menjaga dan meningkatkan nya .
    insya ALLAH itu lebih bermanfaat bagi Akhirat kita

    semoga Allah meneguhkan dan mengistiqomah kita diatas manhaj yang Haq ini dan membantu kita dalam mengamalkan Sunnah Rasulillah. Barakallahu fiikum

  8. Abu Syamil - Bekasi Februari 21, 2008 pukul 9:51 am Reply

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Salam ta’zim untuk ikhwah semua…..

    Ihya Ut Thurot,……..Mereka muslim…….. sudah tabayun…….sudah tadzkiyah…… apalagi…..

    Kenapa antum adu argumen…….. en mulai bikin list….list Ustad berbahaya….list…..anu….list itu……..

    Para pembuat list adalah yg merasa benar sendiri…… seperti Amrik yng selalu bikin list…….teroris,……….

    Apakah Salafus saleh …suka bikin list….dan memasukan orang yng berbeda pendapat kedalam list….List Hizbi….Sururi……Al Hawa…..

    Wahai Ikhwah………bukan kah ini amalan bid’ah…….karena kaum munafiqin di jaman Rasulullah tdk dibikin list dan disebarkan ke seluruh jamaah……kenapa..?

    Wahai Ikhwah….bukankah terlalu berlebihan…… sesungguhnya kitalah yg membuat border……. kitalah yg berfirqoh…….

    Wahai ahlusunnah……kalian telah berjalan menjauhi sunnah…..membuat berbegai perpecahan dlm Ummat ini……

    Wa’alaikum salam waromatullahi wabarokatuhu.
    Saya tidak akan mengomentari komentar anda sehubungan dengan Ustadz yang berbahaya.
    Saya hanya akan mengingatkan kepada kita semua bahwa para perowi hadits banyakjuga yang ditolak haditsnya karena dinilai pendusta,lemah hafalannya dls. Dengan metode itulah hadits dapat dipisahkan dari yang shohih dengan yang dhoif dan semisalnya.
    Apakah para ulama ahlulhadits juga merupakan firqoh ? karena mereka telah membuat border ?
    Barokallahufikum.
    Semoga antum juga termasuk orang yang senang bertabayun.
    Apakah antum sudah croscek faham-faham sayit qutb dkk dengan para ulama terdahulu ? Apakah antum hanya menerima faham mereka begitu saja ?
    Berbuat adillah saudaraku….!
    Perlu juga antum ketahui bahwa saya tidak mengeluarkan S. Qutb dari islam jadi tidak perlu membongkar quburnya, juga tidak perlu mmbelah dada antum dkk, antum adalah saudara kami !

  9. ikhwan baru Maret 29, 2008 pukul 11:18 pm Reply

    AKHI …. ANA . baru ngaji salaf,, tapi kenapa salaf terpecah belah,, dan salaf yang satu menjellekan salaf yang lain bukankah , ikhwah2 kita yang hota bene ahlussunnnah bukan orang yang ma’sum , jadi punya lhilaf dan bisa salah,,,, lalu kenapa di jelek2 an dan di jadikan list ust berbahaya , terus terang apakah salaf begitu,,, sudah dikit, ga akur lagi,,,, bukankah kita bisa ngambil ilmunya ato kebaikan , terus teran an ngaji dengan ust ust yang antum buat listnya dan juga ngaji dg ust antum di tempat ana,,, ana dapat , aqidahnya, fiqihnya,,, sama sama ahlussunnah… mohon penjelasan antum,,,, perbedaanya dimna

    syukron

    • Ikhwan baru 2 November 3, 2009 pukul 10:09 pm Reply

      Saya setuju dengan “Ikhwan baru”. Tulisan2, Email, Blog2 bikin kita semua bingung. Golongan yg selamat itu yg mana. Yg diatas manhaj salaf itu yg mana ? Saya juga baru tahu kajian2 salaf dari radio ROdja (trus Radio Rodja nggak di Tahdzir Akh??) . Dan ternyata masya allah, ilmu nya dalam tentang islam. Dan inilah islam yg sesungguhnya. Namun setelah beberapa bulan, saya baru tahu ada perpecahan di kalangan salafy sendiri. Bingung. Baca dari satu Blog ke Blog lain, dari satu kajian ke kajian lain, Satu penjelasan ke penjelasan yang lain.
      Apakah ISLAM sesukar ini ??? Atau haruskan saya mencari Agama Lain yg mudah ?!

      Semua akan mudah jika dimudahkan oleh Allah.
      Adinu memang sulit kecuali yang dimudahkan oleh Allah ta’ala. Maka banyak-banyklah berdoa.
      Salafy tidak berpecah …salafy satu kebenaran hanya satu.

  10. Budisetia Mei 24, 2008 pukul 8:08 am Reply

    Menyoal Bermu’amalah Dengan Yayasan Ihya’ut Turats

    MENYOAL BERMU’AMALAH DENGAN YAYASAN IYHA’UT TURATS

    Oleh
    Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily

    Pertanyaan
    Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily ditanya : Syaikh yang mulia, sebagaimana kita ketahui, penyebab terbesar perselisihan salafiyin di Indonesia adalah, bermu’amalah dengan Jum’iyyah Ihya’ut Turats di Kuwait. Sebagian saudara kita menganggap yayasan ini hizbiyyah sururiyah, berdasarkan fatwa beberapa ulama. Mereka mengatakan, orang yang bermu’amalah dengan yayasan ini, berarti ia Sururi. Sebagian dari mereka juga mengatakan, orang yang diam dan tidak melakukan hajr (mengisolasi, memboikot) orang yang bermu’amalah dengan yayasan ini, berarti juga Sururi.

    Jawaban.
    Sebenarnya, sungguh menyedihkan timbulnya perpecahan di antara Ahli Sunnah wal Jama’ah akibat masalah ini. Yaitu yang disebutkan bermu’amalah dengan Yayasan Ihya’ut Turats.

    Pertama. Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan landasan bermu’amalah dalam Al-Qur’an. Allah berfirman.

    “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Maidah : 2]

    Inilah barometer yang dijelaskan Allah Azza wa Jalla. Yaitu semua perkara yang mengandung kebaikan dan ketaqwaan, maka hendaknya saling tolong-menolong untuk mewujudkannya. Bahkan kalau ada ahli bid’ah meminta tolong dalam masalah kebaikan, maka hendaklah kita membantu mereka dalam masalah tersebut. Dan termasuk dalam masalah ini adalah amar ma’ruf nahi munkar, untuk menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, jika ada kerabat atau orang yang satu manhaj dengan kita, lalu dia meminta tolong sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah dan permusuhan, maka kita tidak boleh menolongnya. Inilah barometernya!

    Adapun Yayasan Ihya’ut Turats, ia adalah yayasan yang dibangun untuk mengumpulkan dana-dana (infaq) dan bantuan-bantuan dari orang-orang kaya, seperti pedagang, lalu menyalurkannya kepada kaum muslimin lain yang membutuhkannya untuk amal kebaikan, seperti membuat sumur-sumur, membangun sekolah masjid dan menyantuni para da’i, serta berbagai macam kebaikan lainnya.

    Sangat aneh, jika terjadi perpecahan yang diakibatkan oleh permasalahan seperti yayasan ini. Maksudnya, yayasan itu pada dasarnya hanya mengumpulkan dana dan menyalurkannya kepada yang membutuhkannya. Dia bukanlah yayasan dakwah, namun hanya penyalur bantuan.

    Saya pernah ditanya oleh sebagian mahasiswa, dan begitu juga sebagian syaikh lainnya, tentang hukum bermu’amalah dengan yayasan ini. Lalu salah satu di antara mereka saya beri jawaban, dan dia memberitahukan kepada saya, bahwa dia telah menanyakan lagi permasalahan ini kepada salah satu kibarul ulama’ (ulama-ulama besar), maka dia pun memberikan jawaban yang sama.

    Saya katakan padanya, jika yayasan ini memberikan mukafa’ah atau gaji kepadamu untuk mendukungmu dalam berdakwah ke jalan Allah Azza wa Jalla, engkau mendakwahkan aqidah yang benar dan manhaj yang lurus, sementara yayasan ini juga tidak mencampuri urusan dakwahmu, maka ambillah gaji, dan jangan peduli dengan siapapun juga, karena itu mendukungmu dalam kebaikan.

    Namun, jika gaji yang diberikan ini bertujuan agar engkau mengatakan “ini”, serta tidak mengatakan “itu”, bertujuan menutup mulutmu (maksudnya adalah peraturan yayasan yang tidak berdasarkan ilmu, bukan peraturan dari ulama, peraturan-peraturan yang berada diluar ketentuan-ketentuan organisasi), sesungguhnya setiap organisasi mempunyai peraturan, seperti pelaporan dan lain sebagainya, maka ini tidak mengapa, selama tidak bertolak belakang dengan dakwah. Akan tetapi, terkadang ada sebagian pengelola organisasi yang berusaha mencampuri urusan dakwah. Mereka berkehendak mengarahkan para da’i kearah –yang terkadang- bertentangan dengan manhaj Salaf.

    Sebagaimana telah disampaikan tentang gaji dari yayasan ini, begitu pula masalah membangun masjid dan Islamic Center-Islamic Center. Seandainya Islamic Center-Islamic Center yang dibangun ini memungkinkan dipakai untuk mengajarkan aqidah yang shahih kepada para penuntut ilmu, maka apa yang menghalangi kita untuk memanfaatkan harta kaum muslimin yang disalurkan melalui yayasan ini untuk membangun markaz-markaz ini?

    Akan tetapi, seandainya markaz-markaz ini dibangun dengan syarat-syarat, yaitu dapat ikut campur tangan mempengaruhi dalam manhaj dakwah, maka bantuan ini tidak boleh diterima, baik berasal dari yayasan ini, ataupun dari yayasan lainnya. Karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mengambil manhaj, kecuali dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Adapun orang-orang yang mentahdzir ini, jika hendak memberikan nasihat kepada saudara-saudaranya yang berada di markaz-markaz yang ikut Yayasan Ihya’ut Turats atau yayasan lainnya, maka mereka siap menerima nasihat. Jika memang ada kesalahan. Ahlus Sunnah siap menerima nasihat dari Ihya’ut Turats atau yang lainnya. Akan tetapi, nasihat itu harus disertai dalil yang menjelaskan adanya kesalahan.

    Namun jika ada peraturan dari yayasan, dengan mengatakan “ini adalah manhaj yayasan, kami ingin Anda mematuhinya”. Perkataan ini seperti ini perlu dilihat, jika manhaj ini sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka kita laksanakan, baik pengarahan itu berasal dari yayasan ataupun dari yang lain.

    Maksudnya adalah, markaz-markaz ini, begitu pula masalah santunan kepada para da’i, jika orang yang membantu ini dari yayasan atau dari saudagar yang lain –karena saudagar itu banyak- atau yayasan Ahlus Sunnah lainnya yang memberikan bantuan. (hendaklah kita perhatikan, red-) jika bantuan ini diberikan untuk membantu para da’i menebarkan aqidah, manhaj yang benar, atau untuk membangun masjid bagi Ahlus Sunnah sebagai tempat shalat dan wadah, serta mereka memanfaatkan untuk mengajarkan aqidah dan manhaj yang benar, maka tidak ada seorang muslim pun yang boleh menghalangi orang lain dari kebaikan ini.

    Meski demikian, jika ada di antara saudara-saudara kita yang keliru dalam permasalahan yang sedang kita bicarakan ini, seperti dia menerima gaji dari yayasan tersebut, atau menerima dana untuk membangun Islamic Center, lalu dia terpengaruh dalam suatu masalah, namun masih tetap berpegang pada aqidah dan manhaj yang benar, serta kita tidak melihat adanya kesalahan yang berhubungan dengna aqidah dan manhaj, makanya hendaknya perbedaan seperti ini tidak mengakibatkan timbulnya perpecahan. Karena ini merupakan perbedaan dalam masalah sudut pandang (tinjauan).

    Mungkin ada yang mengatakan “saya akan tetap berpegang teguh dengan aqidah dan manhajku, saya akan mengambil dana dari Yayasan Ihya’ut Turats, dan saya tidak akan meninggalkan da’wah kepada aqidah yang benar”. Sementara sebagian yang lain juga memiliki tinjauan yang berbeda. Dia mengatakan “saya tidak akan mengambil dana dari Yayasan Ihya’ut Turats, dan saya tetap akan berpegang teguh dengan aqidah dan manhaj Salaf”, maka demikian ini juga tidak mengapa.

    Jadi perbedaan ini hanya karena perbedaan cara pandang. Perbedaan seperti ini, seharusnya tidak mengakibatkan perpecahan di antara Ahlus Sunnah. Apalagi jika masalah ini sampai taraf melakukan hajr terhadap orang yang diam.

    Demi Allah Azza wa Jalla, ini merupakan fitnah. Kalian berada di atas aqidah dan manhaj yang sama. Dengan demikian, perbedaan di antara kalian tidak akan membuat kalian berpecah-belah. Karena perbedaan ini kembali ke permasalahan cara pandang yang berbeda.

    Saya mengenal beberapa masyayaikh (ulama) yang bermu’amalah dengan yayasan ini, bahkan mengadakan majlis-majlis ta’lim di markaz-markaz mereka. Saya juga mengetahui ada beberapa ulama yang tidak berpendapat seperti ini. Meskipun demikian, mereka tidak berpecah-belah. Masing-masing berlapang dada. (Jika kita tidak mencontoh ulama kita, lalu siapa yang akan kita contoh?,-red).

    Seandainya benar yayasan ini menimbulkan perpecahan sebagaimana yang sering kami dengar di kalangan Ahlus Sunnah, maka saya menasihatkan kepada mereka yang berada di yayasan ini agar melakukan introspeksi dan bertaqwa kepada Allah, dan agar segera menghilangkan penyebab perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah.

    Jika seandainya, yang menjadi penyebab perpecahan ini adalah fatwa-fatwa yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah syar’iah, maka saya nasihatkan kepada orang-orang yang memberikan fatwa agar bertaqwa kepada Allah. Fatwa harus diletakkan sesuai pada tempatnya yang benar. Kita memiliki dasar-dasar, yang tidak boleh berselisih padanya, yaitu pada masalah aqidah dan manhaj. Kami sampaikan hal ini bukan untuk mengalah.

    Setiap orang yang hendak membantu kita dalam menebarkan aqidah dan manhaj yang benar, maka kita ucapkan jazakumullah al-khaira (semoga Allah memberikan balasan kebaikan).

    Oleh karena Ahlus Sunnah wajib memegang dasar ini, sehingga setiap orang yang bekerjasama dengannya, jika dia mendakwahkan aqidah dan manhaj yang benar, maka tidaklah mengapa jika ia bermu’amalah dengan Yayasan Ihya’ut Turats. Begitu juga orang yang perlu dengan yayasan ini, sedangkan ia juga mendakwahkan aqidah dan manhaj yang benar, maka juga tidak mengapa. Demikian juga orang yang diam, tidak berpihak ke sini dan tidak berpihak ke sana, ini juga tidak mengapa.

    Inilah nasihat yang aku berikan kepada kalian. Allah mengetahui hal ini. Saya menyampaikan nasihat ini bukan karena hendak mencari perhatian dari seseorang. Saya hanya ingin menasihati. Dan inilah kebenaran yang ditunjukkan oleh firman Allah Azza wa Jalla.

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Maidah : 2]

    Aqidah, manhaj dan dakwah kita ini benar. Maka hendaklah kita menggalang kerjasama untuk mewujudkan kebaikan dan ketaqwaan. Setiap kerjasama yang menyebabkan kerusakan aqidah dan manhaj, maka demikian itu adalah kerjasama atas dosa dan menimbulkan permusuhan.

    Akhirnya, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.

    Saya harap para pembaca dapat memahami dengan hati yang jujur perihal IT ini. Bukankah dari depan udah saya katakan bahwa ini perkara fitnah yang semua salafiyun untuk tidak meyibukkan denganperkara ini.
    Suatu pertanyaan yang perlu saya kemukakan :
    1. Apakah menurut anda Syaikh atau Utadz yang meninggalkan IT dan orang-orang yang mengambil dana / bermua’amalah dengan IT dikarenakan mereka meyakini bahwa di lembaga (IT) terebut diterpakan bid’ah bai’at itu masih disebut sebagai Ahlussunnah ?
    2. Apabila anda katakan mereka bukan Ahlussunnah, apa dasarnya ?
    3. Apabila anda katakan mereka ahlussunnah, mengapa anda justru meninggalkan mereka (ustadz2 salafy yang meninggalkan IT), kemudian bermesraan dengan orang-orang IT yang disana jelas ada bid’ah ba’at ?
    Mohon dijawab dengan jujur !

    Justru yang saya ketahui banyak ustadz-ustadz saya yang benar-benar diam tidak pernah membantah apa lagi membicarakan IT, namun mereka tetap bekerja sama dengan Utadz Askari yang menjelaskan kesesatan IT

    1. http://abasalma.wordpress.com/2007/08/07/wahai-saudaraku-tinggalkan-ath-thurots/

    2. http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=263
    3. http://al-ilmu.net/kajian-islami-online/download/filesdl/LAIN-LAIN/Artikel-artikel%20dalam%20CHM/Syubhat-IhyautTurots-AbuKarimahAskary.zip

    Semoga Allah menyatukan salafiyun di Indonesia

  11. abu 'abdirrahman al sundawy Juni 18, 2008 pukul 6:02 pm Reply

    bole numpang jawab kan akh?

    1. Kalo mereka adalah memang ahlussunnah pasti dong tetap ahlusunnah. Dan pastinya (harus) ahlussunnah itu tidak akan mencela saudaranya sesama ahlussunnah untuk hal yg memang diperselisihkan ulama ahlussunnah. Dan ahlussunnah tdk akan meninggalkan ahlussunnah yg lainnya.
    2. Ya gak ada dasarnya dong :)
    3. Setahu saya salafiyyun yg enggan mengaji kepada ustadz2 salafy yg antum percaya justru disebabkan mereka tidak ingin dibingungkan oleh fitnah ini. Seringkali ketika mrk dtg kajian, mrk mendapat pertanyaan: “Selama ini ngaji di mana?” Dan jika dijawab ngaji ke ustadz2 salafy tertentu yg tidak mrk “rekomendasikan” maka kata2 :”ustadz itu sesat” -dan insya Allah mrk tdk sesat- sering terucap (ini waqi’ terjadi di waktu silam, mudah2an sekarang tlah berubah seiring bertmbahnya ilmu saudara2 kita tsb). Hal2 ini membuat tidak nyaman. Ngaji disana kok seakan dikucilkan dan diinterogasi. Kami di bdg pada bbrp kesempatan pernah dtg ke kajiannya ustadz Abu Hamzah, walaupun seringnya mmang di majelis ustadz Abu Haidar. Dan kenyataannya tdk pernah saya melihat saudara2 kami yg di majelisnya Abu Hamzah dtg ke majlis Abu Haidar bahkan kami diminta meninggalkan majlisnya Abu Haidar..
    Satu hal lg setahu saya tidak ada ikhwan salafy yg bermesraan dg orang2 (anggota??) IT. Atau mgkn baiknya anda terangkan definisi dr “orang IT’ yg dimaksud, kalo memungkinkan sih sebutkan (beserta buktinya tentu saja). Apakah orang yg mendapat dana dr IT termasuk katagori itu, walaupun mereka bersih dr penyimpangan manhaj; tdk diberi syarat2 tetentu dlm urusan agama dan dakwah apalagi sampai dibaiat?

    Semoga Allah mengampuni kaum muslimin dan menyatukan hati2 mereka di atas cahaya sunnah. Dan semoga Allah tetap meninggikan dakwah salafiyyah dan para pengusungnya..

    Syukran

  12. taufiq Juni 20, 2008 pukul 5:14 pm Reply

    semoga Allah melapangkan hati antum untuk menerima khilaf sesama ahlussunnah mengenai IT dan tidak menjadikannya sebagai satu satunya tolak ukur menilai dia salaf atau bukan,seperti pernyataan antum bahwa IT adalah ujian.. yg saya tangkap dari ungkapan ini adalah bahwa barangsiapa meninggalkan IT merarti salaf Dan yg mendiamkan apalagi bekerjasama dengannya adalah pengikut hawa nafsu(dgn julukan surrury,dsb)..saya yg masih awam ini punya pandangan bahwa antum punya semangat luar biasa dalam dakwah ini,yg kurang adalah ceck dan re-ceck dan mencukupkan diri dgn apa yg antum ketahui dan fahami dari ustadz antum mengenai masalah IT ini tanpa mengukur kemampuan antum dalam menyimpulkan masalah ini,yg kelihatan sekali antum sangat terpengaruh dgn metodenya ustadz antum tsb (ustadz as sewed,askary dll)…(dan ini wajar karena disitulah antum taklim dan mendapatkan banyak ilmu dan faidah tentang manhaj yg haq ini)… padahal secara ilmu (mohon Maaf) mereka belum setaraf dgn syaikh Abdul muhsin yang merupakan guru nya syaikh Rabi’…padahal antum saya yakin sudah membaca nasihat syaikh abdul Muhsin tentang bagaimana mensikapi perbedaan masalah ini dan juga tentang surat dan nasihatnya kepada syaikh Rabi’…yg mana beliau sungguh bijak sekali dalam memberikan nasihat dan mendudukkan perkara ini demi kebaikan dakwah yg haq ini…semoga antum lebih berhati hati dalam membuat artikel apalagi atas nama dakwah yg haq ini dan tidak membebankan diri untuk sesuatu yg (mohon maaf) antum belum waktunya memasukinya..

  13. Abu Abdirrahman An-Nawawi Agustus 27, 2008 pukul 8:29 am Reply

    masing-masing pihak hendaknya menguatkan dalil masing-masing agar ketika di akherat punya argumentasi untuk berbicara di hadapan Allah mengenai fitnah ini.
    Oh ya kepada yang bersengketa dan secara sadar atau tidak sadar telah berbuat zalim dalam pandangan Allah kepada saudaranya sebaiknya menyiapkan diri dengan beramal shaleh yang banyak agar di akherat dapat memberi pahala kepada orang-orang yang telah dizalimi ketika di dunia.
    kalau saya pribadi di zalimi dengan tuduhan ini atau itu padahal saya merasa saya bukanlah seperti yang dikatakan maka saya berharap dapat mengambil kebaikan dari saudara saya di akherat kelak sesuai kadar kedzalimannya.

  14. sufyan November 26, 2008 pukul 1:44 pm Reply

    sangat di sayang kan bagi ikwah salafiyyun yang semena mena manahdzir para da’i yang berpendapat bolehnya bermu’amalah dengan ihya turats… kepada ustadzuna Abi Abdul MUhsin Firanda Hfizhahulloh sabar lah karna ini fitnah… sofyanalatsari.blogspot.com

  15. abu yusuf Mei 11, 2009 pukul 10:13 am Reply

    Bismillah…

    Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menyebarkan dakwah yang penuh berkah ini di negara kita..

    Asalamu’alaykum akhi aba salma.
    Ana mau menambahkan pendapat ana terkait fitnah yang terjadi,

    PERTAMA :
    Bagaimana dengan tersebarnya dakwah Salafiyyah dikarenakan penggunaan yang tepat dari dana yayasan tersebut ? seperti banyaknya pembangunan ma’had2 salaf, bukankah hal ini menunjukan bahwa dana dari yayasan tersebut bermanfaat ?

    KEDUA :
    Maslahat apa yang didapat dari tahdzir, hajr, yang dilakukan sesama salafiyyin (yang berpendapat tidak bolehnya mengambil dana dari IT) ? bukankah hal ini malah menambah runyam situasi ? bukankah ini malah membuat musuh2 dakwah ini bertepuk tangan ? dan mereka memanfaatkan kondisi ini untuk mengobarkan fitnah2 mereka.

    Banyak sekali tuduhan2 keji yang mereka lontarkan, seperti : Wahabi mujasimah berpecah belah, salafy agen Mossad, dsb…

    KETIGA :
    Apakah asatidz yang selama ini mengambil dana dari yayasan terjatuh dalam penyimpangan ? seperti loyal kepada hizbiyyin yang berpemahaman menyimpang, mengikuti ritual2 bid’ah, dsb.
    Demi Allah, yang mereka dakwahkan sama! tauhid! baik itu asatidz yang membolehkan maupun asatidz yang melarang…

    KEEMPAT :
    Efek buruk dari fitnah ini, ada diantara kitab2 berharga karya ustad2 salaf yang mencantumkan footnote yang berisi tentang peringatan terhadap ustadz A, ustadz B, dsb… (padahal manhajnya sama)
    menurut ana footnote itu tidak perlu, sebab kasihan kepada penuntut ilmu yang tidak tahu menahu tentang masalah ini..
    mereka akan menganggap sesat ustad yang di tahdzir (padahal manhajnya sama).

    Kalau ana pribadi kurang nyaman dengan keberadaan yayasan tersebut, karena sudah terbukti memecah belah barisan Salafiyyin…..sampai2 ada yang mengatakan Salafy Yamani, Salafy Turotsi, Salafy yang mana ..?? Na’udzubillah mindzalik

    Tetapi ana juga kurang setuju dengan tahdzir yang dilakukan ikhwan se-manhaj…apalagi sampai meng-hajr..dan tidak membalas maupun mengucap salam.

    Jangan berpecah belah wahai salafiyyin, musuh2 aqidah dari kalangan Quburiyyun, Syiah, Ahlu Bid’ah, dkk, masih banyak.
    Yang mau mengambil manfaat dari yayasan tersebut silahkan saja, yang tidak mau mengambil jangan mentahdzir saudaranya (se-manhaj) dengan berlebihan, masing2 dari kita akan dimintai pertanggung jawaban apa2 yang pernah kita kerjakan kelak.

    Ana sepakat dengan antum :

    “Persoalan ini adalah persoalan bahaya, besar dan rumit, semua ‘ulama ahlussunnah menasehatkan agar salafyun bersikap dengan benar agar fitnah ini tidak memecah barisan salafyun. Di antara mereka yang menasehatkan salafyun untuk tidak menyibukkan diri pada masalah ini akan tetapi menganjurkan kepada tholabul ilmi untuk menyibukkan diri pada ilmu-ilmu yang bermanfaat.Ulama yang lain menganjurkan salafyun menjauhi persoalan ini yaitu jangan berhubungan dengan organisasi ini, sibukkan diri untuk belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat.”

    Tetapi Bisakah kita berbuat seperti Yang dikatakan Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily..??

    ”Saya mengenal beberapa masyayaikh (ulama) yang bermu’amalah dengan yayasan ini, bahkan mengadakan majlis-majlis ta’lim di markaz-markaz mereka. Saya juga mengetahui ada beberapa ulama yang tidak berpendapat seperti ini. Meskipun demikian, mereka tidak berpecah-belah. Masing-masing berlapang dada.”

    Wallaahu ta’ala a’lam

    Semoga Allah mengukuhkan kita di dalam satu barisan.

    Apabila pendapat ana salah, mohon diluruskan.
    Semoga Allah menjaga antum dan mengokohkan antum di dalam manhaj ini.

    Jazakallahu khair

  16. abu akid as-singkepy Juli 17, 2009 pukul 9:31 am Reply

    Assalamualaykum

    akhi, ana minta izin untuk menyebarkan tulisan antum ini lewat ebook ya? tentunya dgn mencantumkan blogsite antum.
    Alhamdulillah artikel di blog antum semakin memberi pencerahan untuk ana, jazakallahu khoir

    barakallahu fiik

  17. ABU SALAFY September 7, 2009 pukul 9:20 pm Reply

    Apaun yg terjadi dalam menyikapi IT jalan yg terbaik adalah ahlus sunnah tetap wajib bersatu baik yg menerima dana IT maupun yg tidak mau mengambil dana tersebut.

    setau ana tidak ada ulama satupun yg mengharamkan menerima dana IT selama tidak ada ikatan khusus seperti bai’at atau syarat2 tertentu. kalau sudah jelas kehalalanya mengambil dana tersebut ya janganlah terlalu diributkan. Yang tidak mau mengambil dana IT tidak bisa dijadikan ukuran bahwa mereka yg paling salaf. Ukuran kesalafan seseorang bukan dari itu, apalgi semua pihak pada dasarnya telah berpegang kpd fatwa ulama.

    para dai salafy harusnya mampu memberi tauladan bagaimana menyikapi hal ini. lihatlah para sahabat mereka berselisih satu dg yg lain, bahkan sampai dalam perkara aqidah seperti perselisihan umul mukminin Aisyah rodhiyallohu anha dg sahabat Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu dalam peristiwa Mi’roj apakah Rosululloh melihat Alloh atau tidak…mereka berselisih tp mereka tdk saling menghajar, mereka tetap bersatu..karena mereka paham makna persaudaraan sesama muslim tidak seperti para Dai salafy yg meremehkan persaudaraan muslimin hanya gara2 masalah ijtihadiyyah..Allohu musta’an

  18. Abu Salma Mohamad Fachrurozi September 8, 2009 pukul 12:14 pm Reply

    Saya sudah enggan menanggapi masalah at-thurots, karena bagi saya telah jelas di sana ada baiat dan ada hubungan yang sangat erat dengan IM.

    Bagi yang masih menginginkan berdialog tentang IT silahkan ke link ini insya Allah lebih mumpuni. Mohon maaf bukan saya bermaksud menebar fitnah. Sebagai bahan informasi saja.

    Dan saya katakan sejak awal, saya tidak mengeluarkan orang-orang yang bergabung dengan IT dari salafy hanya saja saya lebih baik menjauh untuk keselamatan pribadi sendiri karena mereka ada kaitannya dengan IM.

    maaf atas kelancangan saya.
    barakallahufikum

    klik yang berikut : http://tukpencarialhaq.wordpress.com/buku-tamu/

  19. boro Juni 5, 2010 pukul 8:16 pm Reply

    ada apa sebenarnya yang terjadi di antara kaum salafiyyuun?yang ambil dana ihya atturots maupun yang tidak mbok bersatu,kita ini sudah sedikit tapi saling bermusuhan….

  20. si fakir Agustus 9, 2010 pukul 9:09 pm Reply

    Innamal A’malu binniyaat.mudah mudah2n blog ini bertujuan mulia yaitu u mendukung sunnah dan menyatukan kaum muslimin,dan afwan jangan diniyatkan u tenar yach,Rosulullah mencela hal tersebut.barokallahu fiikum.hidayah itu millik Allah.kita hanya berikhtiar .hindari debat .walau kadang kita berada pd posisi yg benar,jika dikhawatirkan terjadi mudhorot yg lebih besar.kadar ilmu kita mungkin masih seujung kuku,ustad 2 yg kita bicarakn diatas bisa jadi tidak ridho dengan apa yg kita bicarakn atas mereka.dan bisa jadi itu dusta atau berujung fitnah,kita doakan semoga kita selalu dalam ridho Allah sampai kita menghembuskan nafas terakhir.Jadi saya lebih cenderung untuk mandiri dalam hal dana,dan jika diberi kita tidak ada kewajiban u menerimanya,kalou baiknya ya kita usaha sendiri ,ikhwan di indonesia ini Insya Allah masih banyak yg tajir,Amin,Afwan jiddn ,

  21. Ibnu suroto Oktober 1, 2010 pukul 10:28 pm Reply

    Assalamu’alaikum,maaf pa ustad, mungkin saya adl salah satu dari banyak ikhwan yg baru mengenal (ngaji) salaf menjadi gelisah krn hal ini. Secara teori memang lebih baik tidak membahas masalah ini dan menyibukkan belajar ilmu yg lbh pnting terutama aqidah. Tp prakteknya sulit wahai para asatidz (semoga Allah menjaga antum sekalian) yg berkomentar
    disini…Anggaplah pemula spt kami stlh membaca artikel ini menerima bhwa yg rojih adl meninggalkan ya2san tsb, Lalu bgmana dg kami yg ngaji kepada ust.firanda dan asatidz lain yg di radio rodja?? Selama saya ngaji,insya Allah tdk pernah mereka mengajak kpd syirik dan bid’ah. Bahkan mereka insyaAllah adl pembela tauhid dan sunnah. Apakah mereka harus kami tinggalkan krn muamalah mereka dg ya2san tsb?? Lalu kami yg awwam ini brtanya2,bgaimana mungkin syaikh Ali hassan,syaikh Abdur Razzaq,syaikh Ar Ruhaily dan ulama besar lainnya yg lebih paham manhaj salaf masih mau berdampingan dgn mereka?? Maaf klo terkesan taklid kpd masyaikh,krn ga mungkin saya menanyakan hal tsb (kenapa sih antum masih mauan aja bdampingan ama mereka)langsung kpd masyaikh tsb. Tolong Pa ustadz jawab,masih bolehkan saya mengaji kpd ust.firanda (maaf)cs?? Barakallahufiik

    wafika barakallhu. Afwan kalau saya sendiri ketika mengambil ilmu dari orang yang tidak dibicarakan. Lebih selamat insya Allah.

  22. Laila imut Maret 30, 2011 pukul 7:27 am Reply

    Dari dulu ribut terus tentang ihya’ turots…. Sejak pertama kali orang2 ribut tentang ihya’ turots, sejak itu pula sudah ada ribuan masjid yang dibangun yayasan ini, ada ratusan anak yatim yang dibiayai sekolahnya…. Jangan2 yang nahdzir malah nempati masjid yang dibangun ihya’ turots…?!?!?!

    Aduh repot kalau mbangun masjid sebagai ukuran kebenaran.

    Ahmadiyah juga mbangun masjid ?!
    Demikian juga kelompok yang lain.

  23. Abu Hasyim Agustus 2, 2011 pukul 12:51 pm Reply

    Sdh dapat dimengerti bahwa Ihyautthurots adalah yayasan Hizbi. Ust. Askari sangat paham terhadap yayasan ini, jadi apa masalahnya jika antum semua mendapatkan nasihat dari beliau! Ust. Firanda doyan dengan dana tsb, makanya dia berusaha cari fatwa yang mendukung…iya toh…terus terang ajalah…

  24. abah odiiiil April 3, 2012 pukul 9:49 pm Reply

    innalillahi wainna ilaihi rojiun,kalau kebenaran di ukur dg berapa byk uang yg sdh di sumbangkan ya buegok bgt tuch nama nya,biang kerok perpecahan dakwah salafiyah di muka bumi ini adalah mereka (atturoth)yg selalu bersama uang nya mereka juga menyusupkan fikroh2 sesat nya(hizbiyyah) yg khas ala ikhwanul muslimin nya langsung ataupun tdk langsung!!!!!!di suguhkan dg kemasan salafi ….. padahal ikhwani !!!! kl masih kurang puas dg uraian dr ust askari,coba juga dg dauroh nya ust Luqman baabduh ttg ikhyauturoth,adapun firanda ….kasihan orang ini…. kesombongan telah menjadi penghalang terbesar bagi nya untuk bs melihat dan memahami al khaq …Ollohu yahdina waiyyahu…amin

  25. abu ayyub Desember 20, 2012 pukul 3:04 pm Reply

    bismillah. setahu ana salafy itu satu .. klo pun ada yang nebeng nama itu ndak jd masalah tapi amalan hanya Alloh saja yang maha tahu… dan masalah itu sdh jelas .

  26. ummuabdirrahman Desember 31, 2012 pukul 12:47 pm Reply

    akhi abu salma akar permasalahan yg menimbulkan perbedaan sikap para ulama ahli sunnah n salafiyun ttg turots adalah perbedaan sikap mereka trhadp turots apakah mereka tetap dinasehati atau di tahdzir, mereka semua sepakat bahwa turots ada kesalahan n penyimpangan yang dulunya turots asalnya diatas jalan salaf zhohirnya n mengangkat syiar2 dakwah salaf bahkan tokoh2 pendirinya sprt abdurrahman abdulkholiq adalah orang yg termasuk cukup dekat dg syaikh robi’ hafizhohullah bahkan teman dekat sekali waktu study di jami’ah islamiyah madinah, antum bisa baca kitab syaikh robi’ “jamaa’ah waahidah la ‘asyaraat..” n kitab ” annashrul-aziz ‘ala roddilwajiz”. ulama’ yg melihat mereka ttp dinasehati sprt syaikh albani,syaikh abdulmuhsin abbad, syaikh sholeh al-fauzan, syaikh sholeh al-syaikh, syaikh sholeh suhaimi, syaikh sulaiman ruhaili n kibar ulama secara umum (sprt syaikh bin baz n syaikh utsaimin dll dulu), adapun yg mentahdzir sprt syaikh muqbil wadi’i,syaikh robi’ madkholi, syaikh ubaid aljabiri, syaikh ahmad bin yahya annajmi, syaikh zaid madkholi, syaikh muhammad bin hadi almadkholi, syaikh muhammad umar bazmul, syaikh yahya hajuri, syaikh abdullah bukhori dll, adapun menerima bantuan turots maka mereka tidak mencela satu sama lain krn semata menerima bantuan mereka kmd mereka saling baro’ satu sama lain dari para masyayikh tsb kecuali sikap sebagian masyayikh yg mentahdzir sebagian masyayikh karena memuji turos dibeberapa majlis stlh mereka merasa cukup melakukan nasehat sprt sikap trhdp syaikh ibrahim ruhaili, syaikh ali hasan dll wl jg bkn krn masalah turos sj.ana katakan dg tampa keraguan bahwa abdurrahman abdulkholiq quthbi muhtariq n turos menyimpang dari ahli sunnah bahkan keluar dr jalan salaf walau pribadi2 yg berkaitan dg mereka tdk bisa dimutlaqkan apalagi yg sekedar dapat bantun, n ana ingatkan salafiyun utk tidak muamalah dg turos bahkan agar memperingatkan kpd umat ttg bahaya mereka n ana nasehatkan ust firanda utk tidak menyibukkan diri dg masalah ini, walau ana ingatkan jg ustadz2 yg bersebrangan sprt ustadz askari dll agar berhati2 utk tidak melampaui batas n agar salafiyun tidak saling boikot gara2 turos kl ada beda sikap dlm masalah ini, ana nasehatkan semua salafiyyun agar baro’ dari turos n agar jangan tertipu dg dinar mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: