BERILTIZAM DENGAN JAMAAH MUSLIMIN DAN PENGUASANYA
Oleh: Abu Salma Mohamad Fachrurozi
PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah , kami menyanjung-Nya, meminta pertolongan, mengharap ampunan dan petunjuk kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri dan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim” [QS Ali Imron 102].
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama – Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [QS An Nisa 1]
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [QS Al Ahzab 70-71]
” أمّا بعد فإنّ أصدق الحديث كتابَ الله , وأحسنَ الهدي هدي محمّد, وشرَّ الأمور محدثاتها , وكلَّ محدثةٍ بدعة, وكلَّ بدعة ضلالة, وكلَّ ضلالة في النّار “
“Sesungguhnya sebenar-benarnya ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuknya Nabi. Dan sejelek-jeleknya perkara adalah hal-hal baru (dalam agama), dan setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
Saya bersyukur diberi karunia oleh Allah dapat membaca tulisan Al Akh Ahmad Sholeh, berupa tanggapan terhadap tulisan Al Akh Agus Rizky S. Tergambar melalui tulisan tersebut suatu ghirah beragama yang kuat, semangat tinggi di satu sisi akan tetapi emosional yang kurang terkendali dalam sisi yang lain.
Terlepas dari itu semua sebagai sesama muslim saya merasa perlu untuk nimbrung dalam permasalahan ini, apalagi beberapa tahun yang lalu saya bersama-sama di dalam Jama’ah Muslimin (Hizbullah).
Sebelum tulisan ini saya mulai terlebih dahulu marilah kita sama-sama membaca firman Allah Azza Wa Jalla, yang artinya:
وَالْعَصْرِ , إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ , إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al- ‘Ashr: 1-3)
Allah Azza wa Jalla berfirman :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl : 125)
وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ َتَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Ma’idah : 2)
Kita simak juga sabda Nabi kita Rasulullah :
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama itu nasehat,” Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (HR Muslim dari Tamim ad-Dari).
Berpijak dengan dasar Fiman Allah Azza Wa Jalla dan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tersebut, tulisan ini untuk menasehati Al Akh Ahmad Sholeh Hafidhahullah, semoga dapat menjadi wasilah bagi saya mendapat pahala dari Allah dan dapat diterima sebagai uluran kasih sayang saya kepada beliau, dan kepada seluruh ikhwan hafidhakumullahu jami’an yang sampai saat ini masih meyakini dengan kebenaran Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Kami berharap tidak ada anggapan-anggapan lain kecuali nasehat, sebab kita tidak boleh menilai hati seseorang.
Dari ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Sesembahan yang haq kecuali Allah , dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Bila mereka melakukan hal-hal itu, telah terjaga darah dan hartanya dariku, kecuali dengan hak-hak Islam. Dan hisabnya ada pada Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah Azza Wa Jalla merahmati kita. Agama ini telah sempurna, tidak ada satu perkara apapun yang akan dihadapi oleh umat manusia kecuali telah ada petunjuk dari Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya.
Allah Azza Wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian. Dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.”(QS. Al- Maidah: 3)
Karena itu kita dilarang menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kemudian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak beriman . Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalannya orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.An-Nisa’ : 115)
Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam semua jujur, mereka mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dengan penuh ketakwaan, marilah berusaha mengikuti mereka jangan menyelisihinya. Marilah berusaha meniti jalan orang-orang yang beriman.
Mu’min mana yang kita diwajibkan untuk mengikutinya, tentu saja hanya kepada orang-orang beriman yang telah mendapatkan pujian dari Allah Azza Wa Jalla yang telah diabadikan di dalam kitab-Nya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Allah Azza Wa Jalla berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS.At-Taubah : 100)
Saudaraku siapakah yang telah mengikuti mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan baik tersebut ? tentunya mereka adalah para ‘ulama dari kalangan sahabat, tabiin dan tabiut tabiin, dan semua yang benar-benar komitmen mengikuti hidayah (jalan) ini dengan baik, sebagaimana pujian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam terhadap mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda:
خَيرُ النَا سِ قَرنِي ثُمَّ الّذِينَ يَلُونَهُم ثُمَّ الّذِينَ يَلُونَهُم
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat) kemudian setelah mereka (tabi’in) kemudian setelah mereka (Tabi’ut tabi’in)” (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menegaskan bahwa para ‘ulama ini akan terus ada. Dari Tsauban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى كَذَلِكَ
“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mereka menampakkan di atas kebenaran tidak memudharatkan mereka orang-orang yang mencerca mereka orang sampai datang perintah Allah mereka tetap dalam keadaan demikian.”(Hadits Shahih Riwayat Muslim)
Para ‘ulama menjelaskan bahwa golongan yang terus menerus memperjuangkan kebenaran tersebut adalah ahlu hadits. Yang mengatakan demikian adalah : Ali bin Al-Madini, Imam Ahmad bin Hambal, Abdullah bin Mubarak, Imam Bukhari, dll (lihat buku, Siapakah Golongan yang Selamat, Syaikh Abu Abdurrahman Fauzi, Cahaya Tauhid Press, hal : 76-104)
Syaikh Al-bani menjelaskan bahwa para ‘ulama sangat kuat dalam memegang hadits-hadits Rasulullah, Beliau (Al-bani) berkata : “Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min agar meniti jalan tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah. Jalan inilah yang telah ditapaki kaum Salafus Shalih, dari kalangan para sahabat, tabi’in dan orang-orang sepeninggal mereka termasuk empat imam madzab yang telah dijadikan panutan dan teladan oleh mayoritas kaum muslimin pada zaman ini.”( Shifat Shalat Nabi, Dari Takbir Hingga Salam, Hal :54-55, Pustaka Sumayah)
Lebih dari itu Syaikh Al-Bani menukil ucapan Abul Hasan Al Laknawi dalam Imamul Kalam Fi Maa Ya Ta’alak bil Qiraati Khalafa Al-Imam (hal:15) menyatakan. “Barangsiapa yang berfikir secara obyektif dan menyelami lautan fiqih dan ushul, dan iapun menjauhi diri dari tindakan yang sembrono, ia akan benar-benar meyakini bahwa perkara-perkara furu (cabang), dan ushul (prinsip) yang disitu ada silang pendapat di kalangan ‘ulama, maka pendapat-pendapat Ahli Haditslah yang lebih kuat dibanding madzab-madzab lainnya. Sungguh setiap aku menelusuri liku-liku perbedaan pendapat yang ada, saya dapati di sana bahwa pendapat yang dipilih oleh Ahli Hadits lebih dekat kepada sikap adil. Alangkah baiknya jalan mereka, Semoga Allah membalas kebaikan mereka, demikianlah prinsipnya. Bagaimana tidak demikian ? Mereka adalah pewaris para Nabi yang sesungguhnya dan mereka pengganti yang sejati dalam menjalankann ajaran syariat ini. Semoga Allah mengumpulkan kita dalam golongan mereka dan mewafatkan kita dalam keadaan mencintai mereka dan meniti jalan mereka. (shifat shalat Nabi, Dari Takbir Hingga Salam, Hal :52, Pustaka Sumayah)
Sehingga diketahui melalui petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits juga penjelasan para ‘ulama bahwa akan terus ada penjaga, pembimbing dan teladan dalam beragama setelah kaum muslimin ditinggal oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa sallam, yaitu para ‘ulama sambung menyambung dari kalangan sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan seluruh ahli hadits dari dulu sampai sekarang. Kepadanya kita bertanya dalam segala permasalahan, baik itu dalam perkara aqidah, ibadah, muamalah khususnya dalam hal jama’ah, imamah dan bai’at.
Allah Azza Wa Jalla memerintahkan kaum muslimin agar kita bertanya kepada ‘ulama (ahlu sunnah) jika kita sebagai muslim tidak mengetahui tentang perkara-perkara agama. Allah telah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kamu kepada ahlu dzikr (‘ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 43)
Seandainya perkara yang agung ini (yaitu mengakui bahwa ‘ulama ini akan terus ada dan kita diperintahkan bertanya dan mengikuti kepadanya dalam segala perkara yang tidak diketahui) belum dapat diterima, jangan lanjutkan membaca. Coba ulangi lagi membaca dari awal, bertanya dalam hati, inginkah mencari kebenaran atau hanya ingin mempertahankan keyakinan yang telah melekat kuat di hati masing-masing. Jika benar demikian adanya rasanya tidak ada gunanya lagi berkumpul, berbicara dan saling menasehati di antara kita.
Sungguh bahwa ilmu agama ini telah diwariskan pada mereka (para ‘ulama). Sebagai mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para ‘ulama adalah pewaris nabi.” (HR. Tirmidzi, di hasankan oleh Al-Bani).
Bukankah telah diketahui, seluruh imam ahli hadits (para ‘ulama) menghabiskan waktu hidupnya serta hartanya untuk mengumpulkan hadits, memisahkan yang dhaif dengan yang shahih, mengamalkan, menjelaskan maksud-maksudnya dan mengajarkannya?.
Mengapa mereka melakukan semua itu ? karena mereka (para ‘ulama) mengetahui tidak mungkin berislam tanpa petunjuk Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sekarang dapat dilihat hasilnya, setiap da’i menyebut-nyebut nama mereka disetiap ceramahnya, nama mereka harum semerbak mewangi di jagad ini. Semoga Allah Azza Wa Jalla meridhai dan merahmati mereka semua, semoga pula kita digolongkan dengan golongan mereka.
Maka tidak boleh tidak, orang awam yang bodoh yang tidak memiliki ilmu agama ini kecuali sedikit, harus mengikuti mereka. Ini bukan berarti harus taklid buta, akan tetapi diikuti ucapan mereka (para ‘ulama) yang berdasarkan dalil yaitu kitab Allah Azza Wa Jalla dan sunnah Rasulullah .
Saya sampaikan, tatanan beragama ini rusak dikarenakan orang awam bicara dalam masalah agama, orang bodoh memberi fatwa akhirnya sesat dan menyesatkan. Demikianlah yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hambanya dengan sekali cabut. akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ‘ulama sampai tidak tersisa seorang alimpun, maka manusia mengangkat pimpinan-pimpinan yang bodoh, lantas merekapun ditanya lalu mereka menjawab tanpa ilmu, (akhirnya) mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Bukhari)
Berhati-hatilah !. Jangan sampai berbicara, bersikap dan beramal terhadap perkara yang tidak diketahui, karena Allah Azza Wa Jalla berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya..” (Al-Isra: 36)
DUA PRINSIP AHLUS SUNNAH1
Setelah diketahui wajibnya mengikuti para ‘ulama (Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin, dan seluruh Ahli Hadits), kita pelajari bersama beberapa prinsip dari prinsip-prinsip mereka. Semoga apa yang ada dapat digunakan sebagai pedoman bagi seluruh kaum muslimin yang membaca. Dua prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Allah Azza Wa Jalla berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imron:110)
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubat:71)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Menganjurkan manusia agar berpegang dan mengikuti As Sunnah serta mencegah jangan sampai bid’ah muncul dan yang tersebar adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan ini merupakan amalan shaleh yang paling mulia, sehingga seharusnya betul-betul dijalankan dengan penuh keikhlasan mengharap wajah Allah Azza Wa Jalla.” (Majalah As Syariah, Vol, II/N0. 14/1426 H/ 2005).
Inilah satu prinsip dari prinsip ahlus sunnah wal jama’ah, dengan prinsip inilah Islam terjaga dari penyimpangan. Yang benar dikatakan benar, yang salah di katakan salah, yang bid’ah dikatakan bid’ah, dan yang sesat dikatakan sesat. Hal ini sangat berbeda dengan prinsip yang dipegang oleh orang yang tidak paham agama seperti yang Ahmad Sholeh katakan: “Bagi kami itu adalah hak asasi mereka, tidak perlu dihakimi seperti itu.” (hal.7)
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, (bani israil,pent), bila salah seorang dari mereka melakukan kesalahan di kalangan mereka, ia akan mencegah melakukannya oleh seseorang tetapi tidak dengan sungguh-sungguh. Dan apabila esoknya ketemu dengan pelaku kesalahan itu, maka yang melarangnya kemarin itu justru duduk bercengkrama dengannya bahkan mengajaknya makan dan minum seolah-olah pihak yang melarang itu tidak melihat pelaku kejahatan tersebut berbuat kesalahan kemarin. Maka ketika Allah ta’ala melihat keadaannya demikian itu pada mereka, Allah timpakan pada mereka saling membenci di antara mereka, kemudian Allah kutuk mereka melalui lisan-lisan nabi-nabi mereka, yaitu Dawud dan Isa Ibnu Maryam (alihimussalam) akibat kedurhakaan mereka dan mereka memang melampaui batas. Demi Allah yang diriku ada di Tangan-Nya, sungguh-sungguhlah kalian beramar ma’ruf dan bernahi mungkar dan bersungguh-sungguhlah kalian mencegah perbuatan orang-orang bodoh. Dan bersungguh-sungguhlah kalian kembali kepada agama kalian. Atau kalau tidak kalian lakukahn itu semua, niscaya Allah akan menimpakan saling bermusuhan di hati kalian, kemudian Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Dia telah mengutuk mereka (Bani Isra’il-pent) (HR. Imam Al-Hafidh Ibnu Abid Dunya dalam Al ’Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ’anil Munkar. Juga Abu Dawud dalam Sunannya, Abu Ya’la dalam Musnadnya, At-Thabary dalam Tafsirnya) (Majalah Salafy, Edisi 37 /1421 H/2001 M)
Coba bayangkan apabila prinsip ini tidak ada, kaum muslimin tidak tahu lagi mana perkara yang benar dan mana yang salah, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mana jalan menuju surga dan mana pula jalan ke arah neraka, mana jalan yang mengajak kepada persatuan dan mana ajakan yang akan memecah-belah umat islam, mana jalan menuju tauhid dan mana pula jalan menuju syirik.
Maka dari itu, ketika ada orang lain mengingatkan kita janganlah serta merta diterima sebagai pelecehan, intimidasi, teror dan lain sebagainya, marilah berfikir jernih tanpa prasangka, periksalah hujjah-hujjahnya, sesungguhnya saudara kita sedang memberikan kasih sayangnya.
Jangan pula merasa cukup dengan apa yang ada, seolah-olah tidak ada lagi kesalahan pada Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dan tidak mungkin ada kebenaran di luar Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Sebagaimana ucapan Ahmad Sholeh : Insya Allah hingga kami dipanggil Allah beserta seluruh Muslimin dan Imaam bagi mereka mulai dari nabi Adam AS (alaihissalam-penulis) hingga Imaam terakhir di akhir zaman nanti. (hal.8)
Tergambar dari alenia tersebut, keyakinan final yang tidak mungkin salah sedikitpun, keyakinan yang pasti benar, seperti inikah sikap seorang yang berilmu ?
Berikut adalah ucapan-ucapan ‘ulama kita, yang kaum muslimin telah sepakat padanya:
Imam Abu Hanifah berkata : “Sesungguhnya kami manusia biasa, kami mengeluarkan pendapat hari ini, kemudian kami tarik kembali keesokan harinya.” Dalam riwayat lain disebutkan : “Wahai Ya’qub (Abu Yusuf), jangan kamu catat semua yang kamu dengar dariku. Bisa jadi saya kemukakan pendapat hari ini, lalu besok saya meninggalkannya, dan saya kemukakan pendapat besok hari, lalu saya meninggalkannya dihari berikutnya.”
Imam Malik bin Anas berkata: “Saya hanyalah manusia biasa, bisa salah bisa benar. Oleh karena itu pertimbangkalah pendapatku, setiap apa yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah ambillah dan yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah tinggalkanlah.”
Imam Syafi’i berkata: “Masalah apapun yang di sana ada hadits yang shahih menurut penilaian ahli hadits, lalu hadits tersebut berbeda dengan pendapatku, maka aku tarik kembali pendapatku, baik di masa hidupku maupun sesudah matiku.”
Imam Ahmad berkata: “Janganlah kalian taklid kepadaku. Jangan pula kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Sifat Shalat Nabi, hal : 56-61)
Itulah contoh sikap ahli ilmu, bukan berarti mereka tidak meyakini terhadap yang sedang di amalkan, akan tetapi sebagai manusia mereka menyadari terkadang dalam hal tertentu mereka tidak menguasai hadits Rasul, maka pada saat itulah pendapatnya harus ditinggalkan dan kembali kepada kebenaran. Itulah yang dimaksud tidak taklid dan tidak mengikuti Hawa. Oleh karena itu kita semua harus terus belajar, sangat mungkin akan menemukan sesuatu yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Maka terimalah nasehat dari saudarnya, pelajari sungguh-sungguh jangan apriori, jangan selalu menyalahkan pendapat yang menyelisihi keyakinan kita saat ini.
Sebagai seorang muslim yang rindu dengan kebenaran, rindu dengan Allah dan Rasul-Nya, rindu pula ingin berjumpa dengan para sahabat yang mulia, sudah seharusnya mengedepankan sikap mencari dan meneliti sumber-sumber yang menjelaskan tentang kebenaran meskipun semua itu berbeda dengan pemahaman dan keyakinan kita sekarang ini. Ini adalah sikap pencari kebenaran sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam dalam pencarian menemukan Tuhannya, janganlah sekali-kali mengatakan “kebenaran telah final” sehingga tidak perlu lagi mendengarkan orang lain berbicara tentang kebenaran.
Wajib Taat Kepada Penguasa Muslim
Salah satu prinsip mulia, yang terus dikumandangkan oleh para ‘ulama ahli hadits adalah wajibnya kaum muslimin taat kepada penguasa muslim, yang masih mau melaksanakan shalat dan tidak menampakkan kekafirannya. Tetap mendengar dan taat pada mereka dan diharamkan memberontak. Ketaatan yang dimaksud adalah taat pada perkara-perakara yang ma’ruf dan bukan perkara yang maksiat, karena sudah sangat jelas bunyi hadits bahwa “Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam hal maksiat kepada Khaliq.” Dan juga tidak menghilangkan prinsip nasehat-menasehati sebagaimana prinsip yang pertama. Dalam menasehati penguasanya para ‘ulama ahli hadits selalu mengikuti petunjuk Rasulullah yaitu tidak dengan terang-terangan yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat dan menimbulkan kebencian rakyat pada penguasanya.
Memang prinsip ini terasa janggal dan aneh bagi sebagian kaum muslimin, dikarenakan penguasa yang ada saat ini tidak berhukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, tidak menggunakan sistem yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu sistem khilafah (bai’at) sehingga mereka dianggap bukan pemimpin muslimin.
Namun kami mengajak sebentar kepada semuanya untuk tidak anti pati, marilah kita pelajari dengan sungguh-sungguh prinsip ini. Kita telah tahu bahwa, ‘ulama ahli hadits sangat komit dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, sangat antusias mengamalkan dan mengajarkannya. Oleh karena itu janganlah menilai buruk pada mereka seperti :
-
Para ‘ulama tidak konsekwen dengan sistem khilafah (bai’at)
-
Para ‘ulama tidak konsekwen dengan hukum-hukum Allah Azza Wa Jalla dst.
Saya jawab di sini, bahwa justru dikarenakan mereka (para ‘ulama) konsekwen dengan hukum-hukum Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya-lah mereka membuat prinsip ini. Mereka adalah orang-orang yang paling takut kepada Allah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Imam Ahmad bin Hambal berkata, Mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin sama halnya dia baik atau jahat serta siapa saja yang memegang jabatan khalifah lalu orang-orang berkumpul (tunduk) dibawah kekuasaannya dan ridha kepadanya, atau siapa yang mengambil alih kekuasaan atas kaum muslimin dengan pedang sehingga dia menjadi khalifah dan disebut amirul mukminin. (Bingkisan Ilmu dari Yaman : 191)
Imam Ahmad sebagai Imam Ahlus Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mentaati penguasanya, yang mana penguasa waktu itu adalah seorang Raja dan memiliki keyakinan kufur (sekalipun dia bergelar amirul mu’minin) yaitu menyebarkan pemahaman yang sesat, dengan mngatakan bahwa Al-Qur’an adalah Makhluq. Apakah Imam Ahmad tidak mengikuti dalil ?, Pasti tidak begitu, justru beliau salah satu ‘ulama yang sangat komit dengan dalil dengan cara menghafal ribuan hadits-hadits Rasulullah . Sangat faham dengan kaidah ushul fiqih dan sangat memikirkan kemaslahatan kaum muslimin. Apakah sekarang ini ada yang menandingi keilmuan dan keimanan Imam Ahmad? Ahmad yang mana? Kenapa akhi Ahmad Sholeh tidak ittiba’ kepada Imam Ahmad dalam hal ini?
Adapun dalil-dalinya sehingga melahirkan prinsip seperti di atas antara lain :
“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak -red) dan perkara-perkara yang kalian ingkari’. Mereka (para shahabat -red) bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata:
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim . Dia berkata: “Kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu…(disebutkan kejelekan-kejelekan), maka Rasulullullah bersabda ‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah dan lain-lain. Lihat Al-Wardul Maqthuf, hal. 32)
Berkata Ibnu Taimiyyah : “Bahwasanya termasuk ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap kedzaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hal. 179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah Mesir)
Sedangkan menurut Al-Imam An-Nawawi : “Kesimpulannya adalah sabar terhadap kedzaliman penguasa dan bahwasanya tidak gugur ketaatan dengan kedzaliman mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Berkata Ibnu Hajar : “Wajib berpegang dengan jamaah muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka bermaksiat.” (Fathul Barri Bi Syarhi Shahihil Bukhari)2
Barangkali ada yang berkata, bahwa para ‘ulama berkata seperti itu karena penguasanya menggunakan hukum Allah Azza Wa Jalla ketika menghukumi manusia, sedangkan sekarang, hukum yang dipakai adalah hukum kafir, hukum jahiliyyah !.
Banar seperti itu, sekalipun demikian kita tetap menggunakan prinsip itu karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam , bersabda dalam hadits Hudzaifah radhiallahu anhu :
يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ
فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan hidayahku, tidak mengikuti keteladanan Sunnahku, serta akan berdiri disamping mereka orang-orang yang hati mereka ialah hati setan yang berada dalam jasmani berbentuk rupa manusia.” Hudzaifah bertanya : “Kalau saya menemui hal itu apa yang saya perbuat wahai Rasulullah ?! Rasulullah bersabda : “Engkau mendengar dan taat sekalipun punggungmu dicambuk dan diambil hartamu, dengarlah dan taatlah.” (HR. Muslim)
Dari Ummu Salamah berkata, Rasulallah bersabda:
إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا أَيْ مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ
“Sesungguhnya akan memimpin atas kalian para penguasa, kalian mengetahuinya lalu kalian mengingkarinya. Barangsiapa mengingkarinya maka dia telah berlepas diri dan barang siapa yang membencinya, maka sungguh ia telah selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya. Mereka bertanya: Apakah kita akan melawannya dengan pedang? Beliau bersabda: ]angan, selama mereka masih mendirikan shalat, siapa yang membencinya cukup dengan hatinya, siapa yang mengingkarinya cukup dengan hatinya.” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya)
Rasulullah membai’at para sahabat untuk : mendengar dan taat pada penguasa dalam keadaan senang maupun benci kepadanya dan dalam keadaan kesulitan maupun dalam keadaan aman. Bahkan dalam keadaan dirugikan oleh penguasa muslim. Juga beliau mengambil bai’at para sahabatnya agar jangan memberontak penguasanya, kemudian beliau mengatakan: “Kecuali kalian melihat kekafiran yang nyata, yang kalian punya hujjah dari Allah pada perkara itu.” (HR. Muslim)3
Berikut ini saya ambilkan penjelasan Syaikh Abdullah mar’i dalam perkara ini. Beliau berkata : “Ini merupakan perintah yang sangat jelas dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam untuk mentaati pemerintah sekalipun mereka adalah orang yang jahat atau fasik, selama mereka masih muslim.”
Demikian ini menjadi prinsip Ahlus sunnah wal Jama’ah, sebab kaum Khawarij dahulu maupun sekarang telah menyelisihi dan menyangka tidak mungkin ketaatan pada pemerintah dilakukan ketika mereka fasik. Sementara, kenyataan syari’at tidak seperti yang mereka mustahilkan, dalil-dalil memerintahkan untuk tetap taat sekalipun ditemui kefasikan mereka.
Di antara hikmah kewajiban ini ialah menjaga keamanan masyarakat muslim, dicapai berbagai kemaslahatan dan ibadah kepada Allah dapat ditunaikan. Dalam keadaan aman, orang-orang akan sanggup melaksanakan berbagai kewajiban Dien, terjaga harta, harga diri dan jiwa.
Sebaliknya tindakan memberontak akan mengakibatkan banyak keburukan, dirampasnya harta, dilanggarnya kehormatan, dialirkannya darah, ketakutan, kewajiban Dien dijalankan secara tidak stabil dan berbagai keburukan lainnya. Oleh sebab itu, Ahlus sunnah sangat detail dalam persoalan ini untuk membantah Khawarij. (Sampai di sini ucapan Syaikh, Bingkisan Ilmu dari Yaman).
Perkataan para ‘ulama tentang wajib taat pada penguasa
Imam Al-Bukhari berkata, “Aku bertemu lebih dari seribu orang dari kalangan ahli ilmu (dari) penduduk Hijaaz, Mekah, Madinah, Kuufah, Bashroh, Wasith, Baghdaad, Syaam, dan Mesir. Aku bertemu dengan mereka berulang-ulang kurun demi kurun kemudian kurun demi kurun. Aku bertemu dengan mereka dan mereka tersebar lebih dari empat puluh enam tahun. (Aku bertemu dengan) penduduk Syam, Mesir, dan Jazirah dua kali. (Dengan) penduduk Bashroh empat kali dalam beberapa tahun. (Dengan) penduduk Hijaaz selama enam tahun, dan aku tidak bisa menghitung berapa kali aku masuk ke Kuufah dan Baghdaad bersama para Ahli Hadits dari penduduk Khurasan yang di antaranya adalah…” (Kemudian Imam Al-Bukhari menyebutkan sebagian nama-nama mereka. Lalu ia menyebutkan beberapa permasalahan aqidah di antaranya -pen)…”Dan kita tidak berusaha merebut kekuasaan dari para pemiliknya (penguasa)… dan tidak membolehkan untuk mengangkat pedang (mengangkat senjata) terhadap umat Muhammad. Dan Al-Fudhail berkata: “Kalau seandainya aku memiliki doa yang dikabulkan maka tidaklah akan aku peruntukkan kecuali untuk penguasa karena jika penguasa menjadi baik, maka akan aman dan tentramlah negeri dan penduduknya…” (Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’i dalam kitab beliau “Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah” 1/172-176 no 320)
Ibnu Abi Haatim Ar-Roozi mengatakan, “Aku bertanya kepada ayahku (Abu Haatim Ar-Roozi) dan Abu Zur’ah tentang pendapat Ahlus Sunnah seputar prinsip-prinsip agama dan tentang ajaran yang mereka dapati dari para ‘ulama di seluruh negeri, dan tentang apa yang mereka yakini dari hal tersebut?” Maka mereka berdua menjawab: “Kami mendapati para ‘ulama di seluruh kota (negeri), di Hijaaz, Irak, Syaam, dan Yaman, maka di antara pendapat mereka adalah…” (lalu mereka berdua menyebutkan banyak perkara di antaranya -pen)…”Dan kami tidak membolehkan pemberontakan kepada para penguasa, dan tidak juga berperang tatkala terjadi fitnah. Kami mendengar dan taat kepada orang yang telah Allah jadikan sebagai penguasa urusan kami, dan kami tidak mencabut tangan kami dari ketaatan kepadanya…” (diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’i dalam kitab beliau “Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah” 1/176-177)
Abul Hasan Al-Asy’ari –tatkala menyebutkan perkara-perkara yang merupakan ijma’ para as-Salaf as-Shaalih- berkata, “Ijma’ ke empat puluh delapan. Mereka (para salaf) berijma’ untuk senantiasa setia mendengar dan taat kepada para penguasa kaum muslimin, dan barang siapa yang berhasil menguasai pemerintahan kaum muslimin baik dengan cara yang diridhoi atau dengan cara kudeta dan akhirnya kekuasaan berada padanya –baik ia adalah orang baik maupun jahat- maka tidak boleh untuk memberontak dengan mengangkat senjata kepadanya baik ia berlaku jahat atau adil. Dan wajib untuk berperang bersama mereka (para penguasa) melawan musuh…“(Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr 296-297)
Imam An-Nawawi berkata: “Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma’ (konsensus) kaum muslimin, meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan zalim. Dan sangat banyak hadits-hadits yang semakna dengan apa yang saya sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ijma’ (berkonsensus) bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229)
Ibnul Qayyim juga berkata, “Pasal tentang apa yang merupakan ijma’ (konsensus) umat dari perkara-perkara aqidah (as sunnah). Tentang perkara-perkara agama dari sunnah-sunnah yang telah disepakati oleh umat dan penyelisihan terhadap perkara-perkara ini adalah bid’ah dan dhalalah (kesesatan)….” [Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 83]. Kemudian beliau menyebutkan perkara-perkara yang merupakan konsensus tersebut di antaranya… : “Setia mendengar dan taat kepada para pemimpin kaum muslimin dan setiap orang yang menjadi penguasa urusan kaum muslimin baik dengan kekuasaan itu ia peroleh dengan keridha-an ataupun dengan cara kudeta dan keras pijakannya baik dari pemimpin yang baik (shaleh) maupun fajir. Maka tidak boleh memberontak kepadanya baik dia (seorang penguasa yang) zalim ataupun adil…” (Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 86)
Kemudian setelah menyebutkan perkara-perkara yang merupakan ijma’ umat tersebut maka beliau berkata, “Dan semua yang telah kami sebutkan maka merupakan ajaran Ahlus Sunnah, dan para imam ahli fikih dan hadits (juga) meyakini apa yang telah kami jelaskan (di atas).” (Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah hal 87)4
Demikian dengan jelas bahwa jalan Ahli Hadits adalah taat pada penguasa dalam perkara ma’ruf tidak memberontak dan tidak membuat amir baru walupun kita ketahui jaman mereka sudah tidak lagi jaman khilafah, penguasanya tidak sepenuhnya mengamalkan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Apakah ada yang mau mengatakan bahwa mereka tidak konsekwen dengan sunnah khilafah ? Jangan saudaraku, sekali lagi jangan. Seandainya yang berpendapat seperti itu satu atau dua ‘ulama bolehlah kita tidak terima. Akan tetapi kita lihat bersama ini adalah ijma’ / kesepakatan ‘ulama Ahli Hadits. Akankah kita menyelisihinya ?, apalagi pendapat mereka dibangun di atas hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam ?. Semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua.
1 Saya bahas dua prinsip ini saja karena dua prinsip ini yang relevan dengan apa yang saya maksudkan. Untuk mengetahui prinsip-prinsip ahlus sunnah yang lain dapat membuka kitab Ushuluss Sunnah Ibnu Hambal, Akidatus Salaf Ashhabul Hadits Ashabuni, Akidah Thahawiyah dll.
2 Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed Majalah Syariah, Kajian Utama, 12 – Februari – 2004
3 Majalah Salafy Edisi 33/1420/1999 hal : 12
4 Muslim_or_id Antara Abduh dan Ba’abduh (Bag_ 6)
DIarsipkan di bawah: Bantahan
