Archive for Maret, 2007

ATH THUROTS UJIAN BAGI SALAFYUN (Bagian II)

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi
 

PENTING……!

Ini bukan karya ilmiyah, sekedar luapan perasaan insan yang gundah. Luapan hati salafy yang jernih insya Allah. Tulisan ini merupakan harapan sekaligus dorongan kepada semua fihak untuk kembali kepada kebenaran, kembali kepada manhaj salaf yang lurus. Dapat diterima oleh siapa saja yang menganggap tulisan ini bermanfaat. Dapat pula diabaikan karena tidak bermuatan ilmiyah.

Namun setiap naluri yang bersih, tidak akan dapat dikotori oleh syubhat, dan hawa biidznillah. Naluri yang bersih akan dapat memisahkan kebaikan dengan kekotoran, naluri yang bersih akan merasa sakit apabila terkena sesuatu yang kotor.

(lagi…)

Maret 31, 2007 at 3:48 pm 15 komentar

KAIDAH MEMAHAMI QUR’AN-SUNNAH (Bagian III)

Oleh : Al Faqir Agus Rizky S 

Sikap Sahabat/Ulama Salaf tentang Imamah 

Di sini dalam kesempatan yang sangat terbatas saya ingin menjelaskan bagaimana jalan dan pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam menyikapi pemimpin atau penguasa. 

Wasiat Rasulullah Saw: (lagi…)

Maret 31, 2007 at 12:40 am Tinggalkan Komentar

KAIDAH MEMAHAMI QUR’AN-SUNNAH (Bagian II)

KAIDAH MEMAHAMI QUR’AN-SUNNAH AGAR TIDAK TERSESAT DALAM PEMAHAMAN RO’YU DAN HAWA NAFSU

RUJUK KEPADA ULAMA

(Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 12/1425 H/2005, dan tambahan dari berbagai sumber)

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu (ulama), jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’: 7 dan An-Nahl: 43) Ahlu Sunnah wal Jamaah telah memberikan tuntunan-tuntunan berupa sikap yang bijaksana sehingga dapat menghalau fitnah-fitnah dan mengungkap syubhat kebodohan yang mengakibatkan rusaknya agama.

Diantara sikap yang sangat penting dalam hal ini adalah merujuk kepada para ulama, meminta bimbingannya dan pengarahan mereka dalam menghadapinya.

Mengapa demikian?

(lagi…)

Maret 30, 2007 at 2:46 pm Tinggalkan Komentar

KAIDAH MEMAHAMI QUR’AN-SUNNAH (Bagian I)

KAIDAH MEMAHAMI QUR’AN-SUNNAH AGAR TIDAK TERSESAT DALAM PEMAHAMAN RO’YU DAN HAWA NAFSU (Bagian I)PENAWAR HATI BUAT PEJUANG KHILAFAH

Oleh : Al Faqir Agus Rizky S

PENDAHULUAN

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan dari keburukan-keburukan amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada sesuatupun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu apapun bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًاو, يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Amma Ba’du,
Sebenar-benar perkataan adalah Kitab Allah Swt, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw. Sedangkan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.

Saya telah membaca tulisan akhinaa Ahmad Sholeh dari Tasik Malaya sebagai tanggapan atas tulisan saya sebelumnya yang berjudul ” Koreksi terhadap keberadaan Khilafah/Jamaah Wali Al Fattaah”

Dalam kesempatan ini saya tidak mau terjebak dalam perang pemikiran yang hanya saling menyalahkan dan melakukan pembenaran terhadap pendapatnya sendiri, oleh karena itu beberapa point penting yang telah ditulis oleh akhinaa Ahmad Sholeh khususnya pengertian tentang “Ulil amri, Imam dan Khilafah” akan saya tanggapi dengan hujjah yang kuat yaitu Alqur’an, hadits dan perkataan jumhur ulama. Sesungguhnya apa-apa yang telah ditulis oleh akhinaa adalah apa-apa yang telah saya pahami dan saya yakini sebelumnya. Oleh karena itu apa yang sudah ditulis akhinaa Ahmad Sholeh bukanlah hal yang baru bagi saya.

Akhinaa Ahmad Sholeh benar-benar telah berdusta dan keji serta mencari-cari kesalahan saya dengan cara yang batil. Dalam tulisannya pada hal. 6 beliau telah menuduh saya seakan-akan saya telah mengatakan ” Mereka tidak memahami makna khilafah” dengan dalil itu kemudian beliau menganggap hal itu sebagai pelecehan…padahal yang saya tulis pada naskah “Koreksi terhadap keberadaan Khilafah/Jamaah Wali Al-Fattaah hal 1 berbunyi: “Banyak para aktivis dan juga politikus muslim yang menyambut hadits ini dengan sangat antusias dan berusaha memaksakan dirinya untuk mewujudkan tegaknya khilafah tanpa memahami makna khilafah dari para sahabat….”

Coba akhinaa Ahmad Sholeh perhatikan kedua tulisan tersebut, subhanallah begitu beraninya berdusta dan bersilat lidah untuk mencerca sesama muslim dengan cara yang batil (lagi…)

Maret 28, 2007 at 2:43 pm Tinggalkan Komentar

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH TERHADAP SALAFY (Bagian Tiga)

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH TERHADAP SALAFY (Bagian Ketiga)

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin kita telah menyelesaikan sampai bagian kedua, yang menjelaskan bahwa salafy hanya ada satu tidak pernah berpecah belah sebagaimana sangkaan orang yang tidak mengetahui.

Kali ini kita Insya Allah akan menjawab tuduhan bahwa salafy keras, kaku dan tidak punya toleransi ?

Entah dari mana munculnya anggapan seperti ini, sungguh bagi orang yang berkecimpung di masyarakat merasakan persoalan ini telah melekat kuat di sebagian besar kaum muslimin. Ini musibah, musibah yang Allah Azza Wa Jalla berikan kepada kita semua kaum muslimin. (lagi…)

Maret 26, 2007 at 10:38 am Tinggalkan Komentar

BANTAHAN BUAT ABU AZI dan KAWAN-KAWAN (Bagian Satu)

BANTAHAN BUAT ABU AZI dan KAWAN-KAWAN

PERTOLONGAN PADANYA

ATAS SYUBHAT KHILAFAH WALI AL FATAH

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

 

Alhamdulillah Blog saya ini banyak yang mengunjungi, sekaligus mereka memberi komentar sebagai tanggapan dari tulisan yang ada. Salah satu komentar yang sangat panjang adalah komentar dari Akhuna Heriansyah dalam Koreksi Khilafah …..Oleh Saudara Saya Agus Rizky Sujarwo.

Karena panjangnya dan banyaknya kesalahan-kesalahan yang termuat dalam komentar tersebut kali ini secara khusus saya tuliskan tanggapan khusus untuk beliau. (Insya Allah dua seri)

Walaupun tulisan ini khusus buat Akhuna Abu Azi  tidak menutup kemungkinan bermanfaat buat Ikhwan yang lain, terkhusus orang-orang yang mengharapkan sistem khilafah kembli difungsikan oleh kaum muslimin.

 Baca Selanjutnya

Maret 26, 2007 at 9:15 am 10 komentar

ATH-THUROTS ADALAH UJIAN BAGI SALAFYUN ……..? (Bagian Satu)

ATH-THUROTS ADALAH UJIAN BAGI SALAFYUN ……..? SIAPA YANG LEBIH NYALAF ?
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Persoalan ini adalah persoalan bahaya, besar dan rumit, semua ‘ulama ahlussunnah menasehatkan agar salafyun bersikap dengan benar agar fitnah ini tidak memecah barisan salafyun. Di antara mereka yang menasehatkan salafyun untuk tidak menyibukkan diri pada masalah ini akan tetapi menganjurkan kepada tholabul ilmi untuk menyibukkan diri pada ilmu-ilmu yang bermanfaat.Ulama yang lain menganjurkan salafyun menjauhi persoalan ini yaitu jangan berhubungan dengan organisasi ini, sibukkan diri untuk belajar ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Dua kutub ini kelihatannya berseberangan, akan tetapi apabila kita cermati dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang bersih tanpa ada nafsu yang berpengaruh di dalamnya, akan ditemukan fatwa yang sama yaitu mereka semua para ulama melarang salafyun menyibukkan diri membahas At-Thurots terlalu jauh apalagi sampai meninggalkan kewajiban menuntut ilmu yang bermanfaat karena persoalan ini yaitu menuntut ilmu yang bermanfaat adalah perkara yang harus terus digeluti oleh salafyun yang komit dengan manhaj ini.

Akan tetapi bukan maksud para ulama ini menutup rapat-rapat membicarakan persoalan ini, tentu saja apabila kita dapat dan mampu untuk tidak larut terlalu jauh membicarakan persoalan ini sehingga tidak mengganggu aktifitas belajar juga tidak merusak persaudaraan dan tidak merusak dakwah, salafyun dibolehkan membahas ini. Berupaya mengetahui perkara ini bukan persoalan yang salah, bahkan ini hal yang harus dilakukan oleh salafyun agar perkara yang benar jelas benarnya dan perkara yang batil juga jelas batilnya.

Diantara thulab yang yang membahas persoalan ini dengan kaidah ilmiyah adalah Ustadz Askari dan Ustadz Firanda, keduanya membahas dengan sungguh-sungguh dalam rangka mencerahkan persoalan yang dirasa oleh sebagian salafyun adalah perkara yang samar. Kita patut bersyukur karena upaya mereka berdua ini salafyun dapat mendudukkan persoalan tersebut pada tempatnya, bukan menjadi fitnah yang terus menerus berlanjut, apalagi sampai memecah belah di kalangan salafyun.

Alhamdulillah saya adalah salah satu orang yang sedikit mengikuti pembahasan ini melalui tulisan kedua ustadz tersebut. Dalam kesempatan ini saya akan berpartisipasi yaitu mengapresiasi terhadap apa yang ana rasakan setelah membaca kedua tulisan tersebut.

Tulisan tersebut ana dapat dari http://www.darussalar.or.id sejumlah tujuh seri dan dari http://******.wordpress sejumlah tiga seri. Saya berharap tulisan ini bermanfaat bagi kedua ustadz yang menulisnya, juga kepada semua yang menyandarkan dirinya kepada manhaj salaf, atau salafy.

Di antara faedah yang saya temukan setelah saya membaca kedua tulisan tersebut adalah sebagaimana yang sudah tersebut di muka, yaitu para ulama menasehatkan kepada kita semua salafyun untuk tidak disibukkan dengan persoalan ath-thurots sampai meninggalkan menuntut ilmu yang bermanfaat. Itulah kesepakatan mereka.

Dilain itu saya melihat ada perbedaan yang signifikan antara kedua penulis yaitu Ust. Askari dan Ustadz Firanda, diantaranya.

1. Pada masalah boleh tidaknya salfyun mengambil uang / dana yang di salurkan oleh ath-thurots ? Disatu fihak Ustadz Firanda boleh mengambil malah menganjurkan mengambil sedangkan Ust. Askari melarang untuk mengambil.

Saya katakan :Saya tidak menemukan apa dasar ustadz Firanda menganjurkan salfyun untuk mengambil dana tersebut ? Saya tidak membaca adanya fatwa ulama yang menganjurkan untuk mengambil, walaupun dalam artikel Ustadz Firanda. Saya hanya membaca bahwa para ulama tersebut unmenganjurkan salafyun tidak bersikap berlebihan seperti menghajr kepada fihak yang mengambil dana dari ath-thurots. Tidak ada ulama yang menganjurkan untuk mengambil dana ini. Mungkin saya dalam hal ini kurang teliti membaca atau mungkin belum membaca fatwa tentang persoalan tersebut.

2. Pada masalah Tazkiyah dan Jarh yayasan Ath-Thurots. Kedua ustadz berbeda pendapat, Ustadz Firanda cenderung kepada para ulama yang memberi tazkiyah kepada yayasan At-Thurots dengan mengesampingkan pendapat para ulama yang menjrh yayasan ini. Sedangkan Ustadz Askari dengan mantap menjarh yayasan ini berdasarkan fatwa-fatwa para ulama yang menjelaskan kebusukan yayasan ini.

Saya Katakan : Dalam perkara ini saya lebih tentram dengan uraian ustadz askari dengan beberapa hal :

  • Ustadz Askari lebih nyalaf dikarenakan tidak taklid pada salah satu kelompok ulama tetapi dengan kesungguh-sungguhan mengikuti semua fatwa para ulama dan berupaya mengambil / menjamak kedua pendapat yang sepertinya berseberangan tersebut sehingga ditemukan pendapat yang menentramkan hati salafyun. Apalagi setelah berupaya diteliti dengan seksama para masyayih tersebut pada hakikatnya tidak bertentangan sama sekali, yaitu mereka semua sepakat bahwa baiat / berjanji setia untuk mengikuti aturan-aturan organisasi tertentu adalah persoalan baru dalam agama, bukan salafyah akan tetapi bid’ah dholalah, karena bai’at hanya boleh diberikan kepada penguasa bahkan ini adalah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh seluruh ulama ahlussunnah bahkan termasuk satu trademerk legal tidaknya seorang ulama disebut disebut ahlussunnah atau ahlul bid’ah. Siapapun yang membolehkan bai’at kepada organisasi maka dia jelas-jelas bukan salafyah bahkan termasuk hizbiyah. Dan keadaan ini ada pada penjelasan-penjelasan Syaikh yang menjrh ath-thurots sehingga sangat pantas jika kita semua meninggalkan ath-thurots. Adapun ustadz Firanda sama sekali tidak memandang terhadap fatwa-fatwa para ulama yang menjrh yayasan ini, bahkan Beliau sama sekali tidak menampilkan pendapat-pendapat tersebut dalam tulisannya, sungguh saya heran apa maksud beliau, barang kali beliau menginginkan salafyun tidak bingung dengan masalah khilaf. Beliau menunjukkan fatwa-fatwa para ulama yang mentazkiyah saja, seakan-akan pendapat yang menjrh lenyap ditelan bumi. Sikap seperti ini adalah sangat berbahaya bagi manhaj ini. Bukankah tujuan manhaj ini adalah untuk merobah sikap taklid menjadi sikap ilmiyah ? Sikap madzabiyah berubah menjadi sikap salafyah ?. Sungguh terlepas dari benar yang mana pendapat keduanya, yang jelas bahwa sikap Ustadz Askari lebih nyalaf, seandainya saja kita biarkan sikap seperti Ust Firanda berarti kita akan kembali kepada sikap taklid madzab, taklidz ulama dan yang semisal yang semuanya itu telah lama berupaya dirubah oleh masyayikh salafyun dari para sahabat, tabiin, tabiut-tabiin, Ibnu Taimiyah sampai Syaikh al-Bani dan seluruh ahli hadits dengan seluruh pengikutnya samapai saat ini. Bukan maksud saya membela pendapat yang menjrh Ath-Thurots namun persoalan yang saya angkat ini adalah sikap ilmiyah yang harus diambil oleh salafyun apabila terjadi beda pendapat ? Mungkin ada yang berkata ? Bukankah ini adalah masalah khilafiyah yang mana salafyun boleh memilih salah satu fatwa yang menentramkan jiwanya ? Dan salafyun harus toleran terhadap Orang yang berbeda pendapat ? Memang benar demikian, akan tetapi bagaimanapun sikap seorang salafy dalam masalah khilafiyah tidak boleh memilih pendapat yang menurut pikirannya dan hawa nafsunyalebih rojih, bagaimanapun salafy harus berupaya mencari siapa di antara para ulama yang berbeda pendapat itu yang memiliki hujjah dan dalil yang lebih kuat ? Walaupun mungkin setelah dilakukan upaya mencari kebenaran tetap harus berbeda akan tetapi sikap ilmiyah mencari kebenaran dan meneliti argumen harus tetap dilakukan karena tidaklah kebenaran itu kecualai satu. Jadi sekali lagi yang saya bahas dan soroti dalam perkara ini adalah sikap ilmiyahnya dari kedua ustadz bukan hasil keputusan yang mereka ambil l. Walaupun secara pribadi saya tentram dengan uraian ustadz Askari.
  • Ustadz Askari kelihatan lebih jujur berani menampilkan semua pendapat para ulama yang berseberangan. Ini merupakan sikap jujur sekaligus mendidik salafyun untuk berbuat adil, inshof sekaligus contoh sikap dalam menghadapi perbedaan yang ada. Wallahu ta’ala a’lam

Bersambung Insya Allah

KOMENTAR-KOMENTAR YANG MASUK

1.     belajar berkata,

21 Maret 2007 @ 1:20 pm · Ubah

ATH-THUROTS itu apa?

Afwan kalau antum belum tahu ath-thurots jangan berupaya mengerti ya !? Lebih baik belajar yang lain aja !?

2.     Ibnu Dahlan berkata,

22 Maret 2007 @ 3:18 am · Ubah

Pengertian dari ATH-THUROTS itu apa,jelaskan.

Sama aja buat antum, Afwan kalau antum belum tahu ath-thurots jangan berupaya mengerti ya !? Lebih baik belajar yang lain aja !?

3.     Abu abdirrahman bin misdi al-carati berkata,

22 Maret 2007 @ 2:33 pm · Ubah

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
Afwan,apakah antum pernah baca fatwa syaikh ar-ruhaili penyusun kitab mauqif ahlus sunnah wal jamaah,InsyaAlloh fatwa beliau ttg ihya ut-turots uda dimuat di majalah assunnah,InsyaAlloh fatwa beliau yg mendekati kebenaran,afwan klo ada komentar ana yg kurang berkenan…Barakallohu Fiik.

______
Memang dah jealas trus gimana ….?

4.     thulab berkata,

22 Maret 2007 @ 2:40 pm · Ubah

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
Akh napa sich nama blognya koq hampir sama dgn punya abu salma?pa ga da yg lain sich…Barakallohu Fiik

__________
Waiyakum. Numpang tenar. Antum tahu ga merek-merek motor cina numpamg motor jepang jadi cepat terkenal. Begitu juga ana.

wahonot berkata,

23 Maret 2007 @ 4:11 am · Ubah

Afwan akhi, ana mau sedikit menambahkan tentang perselisihan ini. Sebenarnya ana juga cenderung kepada pendapat kepada jika nantinya menimbulkan bahaya maka mending tidak berhubungan dengan yayasan ini. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa ikhwan yang lebih dekat dengan para asatidz yang dari Yaman terkesan menjauhi dan memberi cap jelek ikhwan atau ustadz yang notabene menggunakan dana tersebut . Ana sebenarnya ga mau terlalu jauh membahas masalah ini. Ana berharap kedua belah pihak bisa saling rukun dalam berdakwah mengajak kepada manhaj Salaf. ana pernah mengikuti bebrapa kajian ustadz yang berlawanan. Ana juga mendengar beberapa ustadz yang mengisi kajian dijogja yang masih kuliah di Madinah lebih cenderung untuk meninggalkan yayasan ini. akan tetapi sikap mereka terhadap para asatidz yang masih mengambil dana pada yayasan ini tidak serta merta mencela dan menjauhi mereka . Tapi tatkla mengikuti kajian ustadz yang “dari yaman” kok mencela ustadz yang masih berta’awun dengan para asatidz yang ambil dan. bahkan menyebut nama lagi. ana jadi bingung akh, kenapa harus terjadi seperti ini. bahkan teman ana sendiri yang baru mengaji waktu pulang langsung ditanya dan di beri semua makalah berhubungan dengan atturots padahal dia baru ngaji, belum diajari masalah aqidah, sekarang dia malah ga ngaji, main musik, cewek, ga tentu sholatnya. ana jadi bingung akh. bahkan sebagian ustadz yang ana belajar sama mereka juga membolehkan kita belajar kepada para ustadz dari yang ga ngambil dana. Yang ana herankan kenapa kita seperti ini. sudah sedikit tapi kita saling mencela dan menjauhi. Ana hanya bisa berdo’a semoga Alloh mengembalikan kejayaan kaum muslimin diatas manhaj Salaf.Afwan jika kurang berkenan. barokallohu fiikum

_____
Waiyakum….Sebaiknya antum sibukkan belajar pada yang bermanfaat.
yang jelas antum harus tahu benar permasalahnnya, jangan menilai seorang ustadz hanya dengan prasangka. Ustadz-ustadz salafy yang ana kenal tidaklah mengambil suatu sikap kecuali menggunakan dalil atau argumentasi yang kuat, insya Allah kalau dah waktunya Antum akan tahu m siapa sebenarnya yang benar2 salafy. dalam perkara ini. Ini adalah ujian, sebagaimana artikel ana ini. Maka marilah kita hati-hati.
Adapun masalah orang yang tersesat kepada kemaksiatan karena diberi artikel ath-thurots itulah Qodar Allah, adapun yang mengasih juga karena mungkin dia belum banyak belajar atau yang lainnya hingga salah langkah. Semoga Allah menyatukan kaum msulimin terutama salafynya. amin

6.     Abu Nabila berkata,

23 Maret 2007 @ 9:45 am · Ubah

Assalamu alaikum

Ya akhi semoga usaha antum untuk mengambil kesimpulan ini menjadikannya sebuah amalan.tetapi ana lihat kesimpulan antum ini terlalu dangkal dan jauh dari pokok permasalahan yang ada,karena pokok dari permasalahan ini sudah jelas bahwasanya masing masing pihak berpegang kepada fatwa dari pd para Masyaikh ahli ilmu,sekarang ini inti permasalahannya ada di bagaimana cara menyikapinya,sekarang ana tanya sama antum apakah dana yang diterima dari IT itu halal atau harom?
sehingga para penerima dana itu dituding,dihujat,dihina dan dicari cari kesalahan sekecil apapun………bahkan dimusuhi, dilapangan yang terjadi mata sinis dan tak mau menjawab salam.
Dan permasalahan ini sebenarnya berangkat dari dulu semenjak LJ masih jaya antum ingat dengan seruan “Mereka Hizbiyun”
kemudian LJ bubar apa yang terjadi ya akhi?
mereka hanya ganti atau tukar pakaian metodanya tetap sama dikarenakan kedengkian yang ada pada hati mereka kemudian mereka teriakan lagi Sururiun thurotiun dan entah apa lagi kelak……….

padahal tujuannya satu hanya untuk mengikat para thulab,untuk mencari banyaknya jamaah ini bisa dibuktikan, kalau antum pergi ngaji kepada ust.yang menjadi tertuduh maka besoknya antum diharuskan memilih salah satu atau paling ringannya antum kena dikucilkan……..
Ya akhi ini realita yang ada mereka sengaja membuat isu ini untuk menutupi sebuah hizb yang mereka bentuk dengan cara yang amat halus.
InsyaAlloh Ya akhi Alloh Maha Adil antum ingat ketika di bukakannya kedok LJ oleh Yang Maha Kuasa siapakah mereka sebenarnya…..

Wassalamu alaikum

_________
Alaikum Salam Warohmatullahi WabarokatuhuAna juga pesan kepada antum untuk tidak gegabah mengambil kesimpulan, adapun tentang harta ath-thuros dan bagaiman sikap salfyun insya Allah akan ana tulis pad bagian ke dua. Kali ana sedang sibuk menulis tentang khilafah. Tunggu aja ya!

7.     abul hasan berkata,

24 Maret 2007 @ 10:02 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..

buat al-akh al-fadhil Abu Nabila..

afwan ya…ana cuma mau memberi informasi ama antum bahwa LJ tu udah ga ada…udah bubar…asatidz dan semua orang yang dulu di dalamnya udah ruju’. Klo ngeliat tulisan 2x antum, sepertinya antum “phobi” banget ama LJ…apa antum pernah punya pengalaman “menarik” dengan ikhwah (eks) LJ…?

ana pun dari dulu nggak setuju ama adanya LJ, FKAWJ apalah namanya yang penting modelnya udah tandhim-tandhiman…tapi yaa..gimana? Kalah pamor ama JUT…hi..hi..hi.

_______
sesungguhnya Allah maha Pengampun dan tidak sepantasnya orang yang beriman mengungkit-ungkit kesalahannya padahal yang bersalah telah bertaubat. Barokallahu fikum

8.     abu fathimah berkata,

25 Maret 2007 @ 9:31 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
buat al-akh abu hasan,
Afwan ya …melihat dari argumentasi dari akh al-fadhil Abu Nabila..ana berharap antum juga lebih lembut dong,memang realita dari mantan LJ masih ada juga yang mereka bersikap demikian,
Inilah tugas kita dan antum-antum semuanya agar kita bisa belajar lemah lembut dan meninggalkan adab-adab yang kurang santun yang ditujukan kepada sesama salafy.
Sedangkan untuk Abu Salma Mohamad Fachrurozi,
1Antum santun dalam penilaian terhadap ATH-THUROTS,Barakallohu Fiik
.Semoga akan menjadi ibroh bagi Salafy yang lain.
2.Ana nasehatkan antum juga menelaah dari buku Ustadz Firanda,”Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan”

_______

Wa ‘alaikum Salam warohmatullahi Wabarokatuhu
Semoga antum mendapat hidayah….
akhi….bagi saya insya Allah dah jelas masalah ini, yaitu kita tidak perlu disibukkan masalah Ath-Thurots ini.
Yang jelas Ath-Thuros adalah yayasan hizbi karena disitu ada bai’at. Adapun sikap kita, tunggu pada artikel ana selanjutnya pada bagian ke dua. Insya allah.
Yang jelas salafy dan bukan tergantung amalan kita, jangan merasa tentram bahwa kita telah jadi salafy. Dalam mensikapi semua ini haruslah ekstra ahti-hati. Kalau antum baca pada artikel ana tentang anggapan=anggapan salah tentang salafy insya Allah antum faham terhadap ana dan ustadz-ustadz ana.
Barokallahu fikum

9.     abul hasan berkata,

26 Maret 2007 @ 10:28 am · Ubah

assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
akhuna abu fathimah…
afwan, mungkin memang ada beberapa yang masih kurang lembut (seperti ikhwah beberapa daerah, mereka mungkin punya maksud baik untuk membantah tetapi ibarat-ibarat yang di gunakan bukan ibarat-ibarat yang digunakan salafusshaleh dalam membantah, bahkan terkesan menggunakan ibarat-ibarat orang awam) atau terkesan “sangar”…kaya ga mau ngasih salam,dll…tapi kan ngga bisa dipukul rata semua eks-LJ begitu.
LJ/FKAWJ adalah kesalahan, itu memang diakui…
Yaa…walaupun pahit tapi kebenaran emang harus di junjung tinggi. Seperti minum obat, walaupun pahit tapi harus dimunum juga klo mau sembuh (bi idznillah).

______
Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahu Wabarokatuhu
Seandainya semua mau berbuat tidak taklid sebagaimana yang ana dakwahkan dalm blog ini insya Allah akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.Sungguh benar antum bahwa tidak boleh menyamaratakan, keburukan adalah keburukan akan tetapi tidak bisa dipikulkan kepada yan tidak bersalah. Menjeneralisasi adalah tidak adil.Kalau saja ikhwan yang ngaji pada firanda CS mau bergaul dengan kami secara tulus Insya Allah akan mengetahui kelambutan hati dan sikap kita kepda seluruh kaum muslimin, apalagi kepada sesama orang yang mengaku salafy.

10. abul hasan berkata,

26 Maret 2007 @ 10:31 am · Ubah

assalamu’alaikum,

buat abu fathimah…

ana belum pernah baca bukunya al-ustadz Firanda, tetapi secara garis besar ana udah liat di salafy.or.id, yang mana telah dikomentari oleh al-ustadz Askary.

_________
Wa ‘alikum salam.
Barokallahu fikum

11. Abu Salim Dodi Al-Atsary berkata,

26 Maret 2007 @ 4:32 pm · Ubah

Bismillahirrohmanirrohim,

Insya Alloh sudah cukup bagi yang ingin mencari al-haq, bisa link juga ke situs SalafiTalk.net (yang diakui juga oleh Salafiyyun.pen – Walhamdulillah)

http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5220

Shahabiyyun Jalil,
Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
“Orang-orang (para Shahabat) selalu bertanya
kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Salam tentang kebaikan,
sedang aku bertanya tentang kejelekan,
karena aku khawatir kejelekan itu akan menimpaku…”
(HR. Al-Bukhari, no.7084 dan Muslim, no.1847, dengan lafadz Muslim).

Seorang penyair pernah berkata:
“Aku mengenal keburukan bukanlah untuk mengamalkannya,
tetapi untuk menjauhinya,
dan barangsiapa yang tidak dapat membedakan kebaikan dari keburukan
–dikhawatirkan- dia akan terjerumus ke dalam keburukan itu”.

Nas’alullaahu salamah wal ‘afiyah…

12. yanu berkata,

27 Maret 2007 @ 4:41 pm · Ubah

terkait dengan komentar mas wahonot,

setiap “pemula” tentu pernah salah …

dan setiap kita yang sudah “tahu duluan”, mari kita ingat bahwa dulu kita juga pernah mengalami “kebelumtahuan”. marilah saling sharing “informasi” yang telah kita peroleh dengan cara yang betul-betul sangat hati-hati dan benar-benar memperhatikan kondisi “diri kita” dan “orang lain”.

IMHO, nampaknya perlu ada kajian/tulisan khusus yang membahas tentang “HOW TO” -nya mengajak temen/saudara/kenalan ke “jalan yang lebih baik”.

selain akal, manusia juga karuniai “perasaan”. salut untuk blog ini, semoga bisa “meng-inspirasi” temen-temen yang lain agar lebih hikmah dalam “menyampaikan informasi”

13. abu fathimah berkata,

28 Maret 2007 @ 2:21 pm · Ubah

Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahu Wabarokatuhu
Semoga kita di mudahkan selalu melihat niat dari setiap langkah kita,bersatulah wahai Salafy…bersatulah….cukupkan kesalahan masa lalu menjadi ibroh,
Jazakallahu khairan Saudaraku ….Jazakallahu khairan…

14. Abu Nabila berkata,

29 Maret 2007 @ 2:29 am · Ubah

Assalamu alaikum

Afwan Ya akhi antum punya kesimpulan dan ana juga punya kesimpulan,kalau antum lebih menekankan kesimpulan antum pada boleh atau tidaknya mengambil bantuan dari IT,tetapi ana lebih menitik beratkan permasalahan ini “bagaimana menyikapi ikhwan yamg menerima dan ikhwan yang berhubungan dengan yang menerima tadi”
apakah harus disikapi dengan hujatan dan dianggap telah keluar dari salafy?
dan satu hal lagi antum menganjurkan murid murid Ust. Firanda untuk bergaul dengan antum tp bagaimana dengan antum sendiri.

Wassalamu alaikum
======
Wa ‘alaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuhu.
‘Affaan baru kejawab, kemarin-kemarin ga kebaca.
Akhi…..kalau antum baca tulisan-tulisan ana tentang salafy, insya Allah dah faham dengan ana.
Alhamdulillah ana sih dah ngasih no Hp ke Abu Salma Al Atari, ana dah coba nyambung dan diapun dah kasih no Hp ke ana, ana juga sudah pernah nelpon ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah ana sedikit tahu siapa-siapa mereka.
Marilah kita perbaiki diri kita terlebih dahulu, mari kita wujudkan ukhuwah yang sebenarnya.
Ketahuilah… ketika ustadz A membicarakan Ustadz B misalnya itukan dalam rangka kasih sayang, hanya saja ana melihat komentator-komentator di situs-situs salafy menambah suasana kacau balao.Untuk masalah tahdzir baca ath thurots bagian ke ii
Barokallahu fikum

15. Abu Nabila berkata,

29 Maret 2007 @ 3:29 am · Ubah

Assalamu alaikum

Afwan Akhi Abul Hasan

Ana bukan phobi tetapi realita yang berbicara ana setiap hari jam detikberinteraksi dan berhubungan dengan mereka ditempat kerja jadi ana lebih tahu dari antum,walaupun tidak semuanya tapi mayoritas adabnya tidak menunjukan seorang salafiyun.

Ana tunggu antum kalau ke Batam biar kita buka bukaan biar lebih jelas buat antum.

Wassalamu alaikum

16. Abu fathimah berkata,

29 Maret 2007 @ 7:24 am · Ubah

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
kunjungi,
http://*******.or.id/

‘AFFAN ANA GA TAHU YANG KELOLA, KITA DISURUH MENGAMBIL ILMU DARI ORANG YANG JELAS SALAFYNYA.

‘AFFAN BUKAN MAKSDU ANA MENGATAKAN MEREKA BUKAN SALAFY….

17. irmawan berkata,

2 April 2007 @ 7:17 am · Ubah

Assalaamu’alaikum

Akhi (Abu Salma Mohammad F), kirain ini link Abu Salma, jadi agak bingung nih. Masak tenar ibarat motor cina, bisa nebeng yang jepang :) Ini kan amsalah keduniawian, yaitu mempromosikan web ana, sesuka-suka ana dong !, Alhamdulillah berhasil, blog ana termasuk blog yang tumbuh cepat mungkin karena alamatnya mirip kali ya !?

Usaha antum untuk menyimpulkan (antara 2 pendapat ulama) patut mendapat dukungan, yaitu untuk memudahkan penarikan kesimpulan, tapi bbr point masukan dari ana :
1. Ana tdk melihat pada tulisan Ust Firanda yang menganjurkan untuk mengambil dana dari yayasan, beliau hanya menyampaikan fatwa para ulama (yg membolehkan vs yg melarang) lengkap dengan kondisi dan situasinya (komparatif). Atau mungkin antum bisa membantu menunjukannya.
2. Pada tulisan Ust Askari, disebutkan permasalahan khilafiyah sebagaimana nikah mut’ah, nikah tahlil maupun hukum nyanyian. Apakah khilaf dlm permasalaan ath turats bisa disejajarkan dg khilaf dlm har tsb diatas? disana kita bisa melihat bahwa permisalan ini kurang tepat, karena para masyayaikh yg khilaf dalam ath turast “tidak khilaf dalam perkara yang disebutkan Ust Askari yaitu permaslaahan mut’ah, tahlil dan musik”, sehingga jika kita baca tulisan Ust Firanda disana dijelaskan dengan istilah khilaf mu’tabar dan bukan mu’tabar (lihat di pembahasan beliau). Ringkasnya khilaf mu’tabar = khilaf yg memang dalilnya saling seimbang/kuat. Sebaliknay khilaf yg tdk mu’tabar yaitu khilaf yg tdk dianggap, krn yg menyelisihinya bisa jadi karena dalil yg belum sampai.
3. Pada tulisan Ust Askari, di beberapa tempat ana baca bahwa masyayaikh yang membolehkan bermuamalah dengan ath turats “tidak tahu secara pasti kesalahan yayasan atau dampak buruk/akibat dari keberadaan yayasan tersebut jika bermuamalah”. Disini ana menangkap kesan bahwa masyayaikh yang membolehkan bermuamalah dg yayasan, dalam menjawab tentang yayasan tersebut tidak di atas ilmu. Bisa antum kaji lagi. Apakah setiap tanya jawab yang tidak sesuai maka otomatis akan dikatakan : pertanyaannya yg salah???
4. Kalo memang masyayaikh tidak tahu, alangkah lebih baiknya jika pada kesempatan lain (jika masyayaikh berkunjung lagi ke indonesia), ustadz-ustadz tersebut sudi menjelaskan duduk perkaranya, sehingga tidak menganggap masyayaikh tidak tahu dan membiarkan masyayaikh tidak tahu.
5. Hendaknya meletakkan dan memposisikan seseorang sesuai dengan kedudukannya, seperti jika yang menulis Ustadz, katakan : Ust Fulan berkata, bukan langsung menulis namanya. Ada kesan dari sisi ini, terlalu menyepelekan, walaupun Ust Fulan kebetulan berseberangan dengan kita. Ambil metode masyayaikh semisal Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin maupun Syaikh Al Albani.
Semoga ALlah memberikan petunjuk kepada kita semua.
Barakallahu lakum
Wassalaam.

Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah kalau antum menganggap ana bahwa blog ini link Abu Salma, bolehlah begitu ana ga masalah. Memang kami sudah sering dialog kok bahkan dia udah ngasih No HP ke ana. Bukankah berbeda dalam beberapa hal tidak mengharuskan kita semua berpisah ?Jazzakallahu khoir atas tanggapan antum terhadap tulisan ana.
Bagi ana persoalan ini dah jelas. Dalam tulisan Ustadz Askari dijelaskan bahwa Ust Firanda menyetujui / menganjurkan dana at thurots. Aantum dapat baca kembali pada artikel Ust Askari No 1, bahkan menjadi latar belakang mengapa ustadz Askari menulis tulisan itu.
Adapun kesimpulan antum tentang anggapan Ustadz askari mengatakan bahwa para ulama yang mentazkiyah Ath Thurots tanpa Ilmu adalah anggapan keliru. Antum keliru mengambil kesimpulan itu.
Ketahuilah, semua salafyun tidak pernah berfikir jelek terhadap siapapun para ulama. Kita semua menganggap dan meyakini bahwa para ulama (insya Allah) pasti berfatwa menggunakan ilmu. Hanya saja Ilmu yang ulama itu ketahui. Sekali lagi ilmu yang para ulama itu ketahui.
Ketahuilah bisa jadi para ulama akan berubah fatwanya pada suatu saat karena ilmu yang dimiliki bertambah.Adapun bagi saya sudah jelas, bahwa Ath Thurots adalah yayasan bid’ah karena saya menganggap perowi yang meriwayatkan bahwa pada yayasan ini ada bai’at adalah orang-orang tsikoh yang diakui kredibilitasnya oleh seluruh salafyun termasuk antum semuanya.
Sedangkan dalam perkara bai’at kepada selain penguasa semua salafyun telah makruf akan kebid’ahnnya.
Sehingga jika antum mau berseberangan, justru antum semestinya yang bertanya pada para ‘ulama yang mentazkiyah. Dan apabila sudah dapat jawaban dari mereka, mohon sampaikan kepada ana. Ingat pertanyaannya seperti yang ana tulis dalam tulisan ana.
Semoga Allah baguskan amalan-amalan kita sekalian
Wassalamu ‘alaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu

18. Pemula berkata,

2 April 2007 @ 8:19 am · Ubah

Mengapa salafy itu banyak macamnya? Apakah salafy berpecah-belah? Mengapa berpecah-belah? Siapa pemimpin kaum salafy itu? Apakah di masa rasul ada salafy?

=======
Salafy satu, tidak pernah berpecah belah, pemimpin salafy adalah Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam.
Rasulullah adalah pemimpin seluruh kaum muslimin dari dulu sampai yaumul qiyamah.
Adapun pemimpin Salafy di dunia adalah pemimpinnnya seluruh kaum muslimin yaitu pemnguasa di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk pemimpin salafy adalah para ulama ahlussunnah. Mengapa demikian, karena tafsir ulil amri dalam surat annisa : 59 adalah umaro dan ulama (penguasa dan ulama) Lihat tafsir Ibnu katsir dan tafsir-tafsir yang lain. Mereka semua para umario dan ulama ditaati jika tidak berseberangan dengan Alqur’an dan Sunnah, sehingga taat pada mareka sebatas ketaatan pada hal ma’ruf.
BArokallahufikum

19. Abu fathimah berkata,

2 April 2007 @ 9:28 am · Ubah

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh..
Ana nasehatkan kunjungi,ke
http://*******.or.id/ situs salafy yang diisi oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja khusus berkaitan dgn Ath Thurots
Silahkan antum cek kebenarannya

======
Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
mohon difahami tulisan ana
Jazzakallahu khoir, cek kebenaran apa sih…ana kok ga faham.

20. abu fathimah berkata,

3 April 2007 @ 2:51 am · Ubah

Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
Maksud ana agar antum tidak hanya mengambil dari http://www.darussalar.or.id dan dari http://******.wordpress aja ,
jd ana nasehatkan agar mencermati juga dari www.manhaj .or.id
situs salafy yang diisi oleh: Ustadz Muhammad Arifin Badri & Ustadz Firanda Andirja khusus berkaitan dgn Ath Thurots,Jazzakallahu khoir

=====
Wa’alaikum salam Warohmatullahi wabarokatuhu
Menurut ana masalahnya dah jelas. Dah tak tulis, ana ga bela siapa-siapa, ana hanya bela sunnah.
Bahwasannya pada Ath Tgurots ada bai’at, sudah semestinya kita meninggalkan.
Adapun masalah hjr, itu hak individu, tidak boleh seseorang melarang kepada orang lain untuk menghajr atau mewajibkan menghjr.
Hjr adalah bertujuan untuk kebaikan orang yang di hjr, yang menghjr atau untuk kebaikan kaum muslimin. Kalau memang sudah melalui tahap-tahap yang semestinya biar saja yang mau menghajr, jangan kita membela yang dihjr kalau memang yang dihajr itu salah. Dan kita dapat bersikap lain, tidak menghjr misalnya akan tetapi jangan membela yang di hjr.
Semoga antum faham. (baca bagian II)Bisa antum sebut kalau tulisan ana salah pada bagian apa.
Insya Allah kalau ada waktu ana buka juga, web itu !
Ana mengelola web ini dari warnet, dan jarak rumah ke warnet sekitar 45 Km, jadi sangat repot.
Barokallahufikum

21. abu hanzalah zevian berkata,

27 Juni 2007 @ 1:34 am · Ubah

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Waaah..ajiib! rame juga yah komentarnya..
Barokallohu fikum…

yang akur yah…he he he…
ditunggu kelanjutannya…

22. Badr berkata,

18 Juli 2007 @ 2:30 am · Ubah

Assalamu’alaykum.

Ana telah buka site www.m*****.or.id dan www.salafy.or.id, sungguh terdapat perbedaan yang tajam walaupun sama-sama menukil dari ulama masing-masing. Ana sedih jika lihat list ustadz berbahaya, walaupun ana tidak tergabung dalam “salafy”, tapi ana selalu mengikuti kajian-kajian bermanfaat dari ustadz yang ternyata masuk daftar ustadz berbahaya.
Jadi siapa yang benar?apakah ini masuk ijtihadiyyah (walaupun sudah masuk pembahasan siapa yang berbuat bid’ah)?

Mohon pencerahan.

Wassalam.

Wa’alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuhu
Ana ga faham Ustadz yang mana yang antum anggap berbahaya.
Untuk mengenal siapa yang secara hakikat berpegang teguh dengan manhaj salaf sebaiknya antum datang ke majlis taklim, di sana insya Allah diajarkan karakteristik ahlussunnah waljamaah. Dengan itu semua antum dapat menimbang siapa sebenarnya yang komitmen dengan manhaj salafyah.
Barokallahufikum

Maret 21, 2007 at 11:13 am 26 komentar

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH TERHADAP SALAFY (Bagian Kedua)

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH TERHADAP SALAFY(Bagian Kedua)

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi 

Pada bagian pertama telah dibahas bahwasannya salafy bukan sebuah kelompok akan tetapi merupakan metode memahami dan mengamalkan Islam dengan cara yang benar sesuai dengan pemahaman salafushsholih. Pada edisi ini akan kita bahas perpecahan di kalangan salafyun. Apakah benar salafy berpecah ? Ini pertanyaan yang sangat penting untuk dijawab mengingat telah santer terdengar dan terbaca bahwasannya keadaannya telah demikian. Kita katakan bahwasannya salafy itu satu tidak dibatasi oleh tempat, waktu, organisasi, pemimpin, ulama ataupun individu tertentu. Salafy disatukan oleh metodologi, salafy disatukan akan ilmu dan amal. Jadi siapa saja yang berislam dengan pemahaman salafushsholih dialah salafy. Di mana tempatnya, kapan waktunya, siapa gurunya asalkan kondisinya seperti itu dialah salafy. Baca Selanjutnya

Maret 21, 2007 at 9:54 am Tinggalkan Komentar

SYARAT, FARDHU dan SUNNAH WUDHU

SYARAT, FARDHU dan SUNNAH WUDHU

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, …”.(Al-Maidah:6)

Ayat di atas merupakan perintah yang jelas dari Rab kita bahwa sahnya sholat ditentukan oleh wudhu. Apabila menghendaki sholat kita diterima oleh Allah Azza Wa Jalla tidak boleh tidak harus wudhu sebelum melakukan sholat. Sehingga seorang muslim harus berupaya dapat melakukan wudhu sebagaimana wudhu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidaklah sebuah ibadah diterima oleh Allah Azza Wa Jalla kecuali cara ibadah tersebut mencontoh dan meniru yang telah diajarkan oleh Rasul-Nya. (lagi…)

Maret 16, 2007 at 1:55 pm 17 komentar

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH TENTANG SALAFY (Bagian I)

ANGGAPAN-ANGGAPAN SALAH

TERHADAP SALAFY (Bagian Pertama)

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Manhaj Salaf adalah manhaj yang paling benar, tidak ada keraguan sedikitpun padanya. Kebenarannya dapat dirasakan dengan seyakin-yakinnya oleh pemeluknya. Namun sangat disayangkan banyak dari kaum muslimin yang masih belum tahu tentang manhaj  ini. Lebih dari itu ditemukan anggapan-angapan salah mengenai salaf / salafy. Anggapan-anggapan tersebut diantaranya adalah :

  1. Salafy adalah kelompok baru dalam islam
  2. Terjadi perpecahan di kalangan salafy.
  3. Salafy keras, kaku tidak punya toleransi
  4. Salafy mengaku benar sendiri.

Sebenarnya masih ada  anggapan-anggapan salah mengenai salafy, akan tetapi pada kesempatan ini, kami akan menjelaskan permasalahan yang empat itu saja (Insya Allah berseri), (lagi…)

Maret 16, 2007 at 12:03 pm 12 komentar

Tulisan Lebih Lama


s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.