KOREKSI TERHADAP KEBERADAAN KHILAFAH WALI ALFATAH
Januari 30, 2007 at 12:34 pm 45 komentar
Oleh: Al Faqir Agus Rizky Sujarwo
بـــــســم الله الرحـمـن الرحـيـن
Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan memohon ampunan-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan dari keburukan-keburukan amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada sesuatupun yang dapat menunjukinya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu apapun bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Sebagai seorang muslim saya tidak boleh berdusta dalam berbicara/menulis, tetapi berkata/menulis yang haq sekalipun pahit didengar/dibaca orang lain adalah bagian dari jihad. Saya berusaha untuk menjauhkan diri dari dusta apalagi memfitnah terhadap apa yang akan saya tulis di bawah ini karena saya takut kepada Allah untuk berbuat yang demikian. Tetapi jika tulisan ini akan menyakiti hati para ikhwan bukan berarti tulisan ini salah dan keliru karena terkadang sebuah kebenaran akan menyakitkan hati siapapun jika diterima oleh hawa, bukan hati yang bening dan iman yang bersih.
Berita tentang akan datangnya masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah pada akhir zaman bagi dunia islam sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari sahabat Hudzaifah, harus diyakini sebagai solusi kesatuan muslimin dan kemenagannya dalam menghadapi musuh-musuh islam. Banyak para aktivis dan juga politikus muslim yang menyambut hadits ini dengan sangat antusias dan berusaha memaksakan dirinya untuk mewujudkan tegaknya khilafah tanpa memahami makna khilafah dari para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Kemudian di sana-sini lahirlah gerakan hizbiyah dan ashabiyah dalam wadah jamaah yang mengatasnamakan persatuan umat islam. Maka lahirlah imam-imam atau khilafah-khilafah hizbiyah seperti pemimpin IM, NII, Islam Jamaah, Ahmadiyah, Jamaah Muslimin dan seterusnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Untuk memahami bagaimanakah wujud Khilafah ala minhajin nubuwwah ? secara ringkas gambarannya adalah sebagai berikut; Khilafah itu dibangun di atas tauhid dan dakwah menuju tauhid serta memerangi kesyirikan dengan segala macam bentuknya sehingga tidak ada lagi bentuk peribadatan yang ditujukan kepada selain Allah. Ditegakkan sunnah Rasulullah serta dakwah menuju sunnah serta memerangi segala bentuk bid’ah baik dalam akidah maupun ibadah. Ditegakkannya hukum tertinggi di dunia yang berkeadilan dengan syariat Allah sehingga kondisi masyarakat menjadi aman, tentram dan sentausa. Ditegakkannya kewajiban shalat berjamaah, zakat, shaum dan haji sebagai kewajiban yang asasi bagi muslimin. Demikian gambaran Khilafah seperti ini telah dipraktekkan oleh Khulafa’ur Rasyidin sebagai generasi terbaik bagi umat islam.
Apakah pengakuan para khalifah yang sekarang memimpin jamaahnya sudah demikian keadaannya? Tentu saja jawabnya adalah belum dan bahkan mereka telah jauh menyimpang dari syariat Islam. Mereka adalah orang yang berjuang menegakkan khilafah tidak dengan ilmu, mereka mengaku sebagai khalifah bahkan di antaranya ada yang mengaku sebagai Nabi, Imam Mahdi, ada pula yang mengaku sebagai Jibril versi Lia Aminudin dan seterusnya.
Bagaimanakah dengan pengakuan Khalifah Wali Al Fattah rahimahullah ? Inilah gambaran Khilafah Wali Al Fattaah rahimahullah yang sangat jauh berbeda dengan Khulafa’ur Rasyiddin.
1. Lembaga Khilafah yang dibangun oleh Khulafa’ur Rasyiddin berpijak di atas kekuasaan dan oleh karenanya salah satu fungsinya adalah menjaga tegaknya syariat Islam, termasuk di dalamnya menjalankan Hukum Pidana dan Perdata Islam. Yang demikian tidak mungkin dilaksanakan oleh Wali Al-Fattaah rahimahullah dan penerusnya karena mereka tidak memiliki kekuasaan untuk menjalankan hukum-hukum Islam seperti tersebut di atas. Jangankan untuk melaksanakan hukum potong tangan, menyuruh kepada muslimin untuk memelihara jenggot dan memotong kumis saja saya belum pernah mendengarnya. Ketika ditanyakan kepada jamaah ini mengapa khalifah tidak melaksanakan hukum had, rajam dan cambuk? Para asatidz di jamaah ini berdalil bahwa “Allah tidak membebani kepada seseorang kecuali kadar kemampuan.” Mengapa kita harus menegakkan khilafah kalau kita belum mampu? Bukankah Allah tidak akan menghukum umat islam ketika kita belum mampu menegakkan khilafah?
2. Hadits dari Hudzaifah bin Al-Yaman “… Talzamu Jama’atal Muslimin wa Imaamahum…” Redaksi hadits di atas bukanlah perintah (fi’il amr) untuk mendirikan Jamaah Muslimin dan membaiat Imamnya, tetapi agar muslimin istiqamah bersama mayoritas kaum muslimin dan penguasanya dalam suatu negeri, apakah mereka di bawah pemimpin seorang raja, presiden atau khalifah, bukan malah sebaliknya mendirikan jamaah baru. Sedangkan apabila mereka itu tidak ada, maka perintahnya adalah “…fa’tazil tilkal firaqa kulaha…” yaitu menghindari firqah-firqah yang ada. Menurut pemahaman ulama ahlus sunnah wal jamaah yang dimaksud Jama’ah Muslimin dalam hadits itu adalah kaum muslimin dalam suatu negeri, bukan jamaah muslimin produk Wali Al Fattaah rahimahullah. Oleh karena itu Jamaah Muslimin sudah ada sejak zaman Rasulullah hingga sekarang dan tidak pernah menghilang. Justru Wali Al Fattah rahimahullah telah memisahkan diri dari Jamaah Muslimin dalam arti yang sebenarnya.
3. Disebutkan dalam bukunya Wali Al-Fattaah rahimahullah dibai’at sebagai Imam gerakan Islam “Hizbullah” pada tanggal 20 Agustus 1953, tetapi beliau masih menjabat sebagai Kepala Biro Politik dari 1 Oktober 1952 – 11 Desember 1958. dan pada tanggal 1 Januari 1961 – 31 Oktober 1964 menjadi kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri di Jakarta. Hal ini sangat kontradiktif dengan statement jamaah yang dipimpinnya yaitu “Islam Non Politik.” Menurut Hartono Ahmad Jaiz, pada tahun 1954 (yang benar 1953,pen) Presiden Soekarno menyuruh temannya yang bernama Wali Al Fattaah untuk mendirikan jamaah (gerakan Islam “Hizbullah” pen) yang bersifat rahmatan lil ‘alamin (non politik) untuk menandingi gerakan politik NII yang dipimpin oleh Karto Suwiryo. (Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, 2006 hal 76-77). Melihat kiprah politik Wali Al Fattaah rahimahullah di pemerintahan RI, padahal beliau adalah seorang Khalifah juga pada saat yang sama, sungguh ini sebuah kejadian dan pengalaman yang sangat lucu. Seorang Khalifah bekerja di pemerintahan lain yang berbeda haluan dan tujuan. Di mana tanggung jawab beliau terhadap Allah sebagai seorang Khalifah?
4. Pada kenyataannya fase kepemimpinan ummat Islam sekarang ini bukanlah berada pada fase Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah sebagaimana yang diklaim oleh Jamaah Muslimin, akan tetapi ummat Islam sekarang ini yang berjumlah lebih dari 1.4 miliar dan tersebar di seluruh penjuru dunia berada di bawah kekuasaan Mulkan Jabariyyah yaitu Penguasa (Raja, Kepala Negara, Perdana Mentri) yang sombong, yakni mereka tidak menggunakan hukum Allah yaitu Al-Qur’an dan Sunnah (kecuali beberapa penguasa/raja saja) sebagai dasar kepemimpinannya. Dalam keadaan seperti ini kaum muslimin tetap harus mendengar dan taat pada penguasa yang zalim sekalipun, bukannya mengadakan pemberontakan dan memisahkan diri dari jamaah muslimin dengan mendirikan jamaah tandingan yang menyebabkan umat Islam menjadi berpecah belah. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dari Hudzaifah bin Al Yaman di sana dijelaskan bahwa, sebelum Allah mendatangkan masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah sebagai periode terakhir kepemimpinan umat islam, Allah Swt terlebih dahulu mengangkat atau meniadakan masa mulkan jabariyyah ( penguasa yang sombong/tiran) dan sekarang ini penguasa-penguasa yang tiran belum diangkat oleh Allah dari permukaan bumi. Lebih jelas inilah potongan terjemahan teks haditsnya “…Setelah itu (kaum muslimin berada di tengah-tengah) masa kerajaan yang sombong adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Kemudian beliau diam.” Perhatikan kalimat yang bergaris bawah, jadi sebelum masa Khilafah ala mihajin nubuwwah datang, Allah terlebih dahulu mengangkat masa Mulkan Jabariyah. Jadi sekarang ini kaum muslimin masih berada pada masa Mulkan Jabariyah, bahkan sedang kuat-kuatnya.
5. Persoalan kevakuman Khalifah bagi dunia Islam adalah merupakan hak Allah yang Maha Mengatur. Allah berhak memberikan dan mencabut Khalifah atau kekuasaan itu sesuai dengan masa yang dikehendaki-Nya. Umat Islam tidak harus memaksakan diri menegakkan khilafah apabila kondisinya tidak memungkinkan. Wali Al Fattah rahimahullah memberanikan diri memikul tanggung jawab sebagai Khalifah tanpa mempertimbangkan pendapat jumhur ulama sedunia. Setelah Khalifah ditegakkan beliau malah sibuk ngurusi jabatan di pemerintahan Indonesia, baru setelah beliau pensiun dari jabatan Kepala Biro Politik Kementrian Dalam Negeri di Jakarta, beliau lebih menfokuskan perhatiannya untuk menyeru kaum muslimin agar kembali pada khiththah Rasulullah Saw. Wali Al Fattaah rahimahullah dan penerusnya telah mempraktekkan model khilafah gaya baru yang jauh tidak sesuai dengan praktek Khulafa’ur Rasyiddin.
6. Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah yang akan datang nanti (hanya Allah yang menentukan saatnya) memang akan menjadi jalan keluar penyatuan bagi kaum muslimin, tetapi Khilifah ala Wali Al Fattaah rahimahullah justru menambah perpecahan di kalangan muslimin. Jangankan untuk menyelesaikan problem umat Islam di dunia, menyelesaikan umat Islam di Desa Pasirangin, Cileungsi (tempat markaznya) saja belum mampu. Padahal Khilafah ini sudah 53 tahun yang lalu berdiri.
7. Wali Al-Fattaah rahimahullah berpandangan bahwa masa khulafa’ur Rasyidin hanya sampai pada Khalifah Ali Bin Abu Thalib Ra, dan Muawiyyah menurutnya adalah seorang Raja. Artinya kaum muslimin pada saat itu tidak memiliki Imam atau Khalifah menurutnya. Padahal pada saat itu tidak ada di antara para sahabat yang menentang kekhalifahan Muawiyyah bahkan sahabat Ibnu Abbas pada saat itu menjabat sebagai Wali (Gubernur) di Madinah. Mengapa sahabat Ibnu Abbas tidak mendirikan Khalifah saja di Madinah seperti yang dilakukan Wali Al-Fattaah rahimahullah di Indonesia? Apakah Wali Al Fattaah rahimahullah lebih berilmu dari sahabat yang mulia Ibnu Abbas Ra? Dan mengapa juga para tabi’in tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Wali Al Fattaah rahimahullah?
8. Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits Rasulullah bersabda: إذا بويع لخليفتين فاقتلوا الآخر منهم “Apabila dibai’at dua orang Khalifah (Imaam), maka bunuhlah (Khalifah) yang terakhir dari antara keduanya.” Mengapa Khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah tidak mengamalkan hadits ini, yakni membunuh/memerangi khalifah-khalifah yang kemudian? Bukankah Amir Islam Jama’ah/LDII dan Ahmadiyah mengaku sebagai Khalifah juga? Bahkan beberapa waktu yang lalu Lia Aminudin mengaku sebagai jelmaan malaikat Jibril, mengapa bukan sang Khalifah yang menangkapnya tetapi malah pemerintah Indonesia jauh lebih peduli. Kalimat فقتلوا dalam hadits di atas mau ditafsiri apalagi? Apakah mereka tidak yakin dengan hadits tersebut atau takut kalah dalam perang? Atau takut dihukum sebelum perang oleh penguasa yang sah? Bukankah perintah membunuh dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa Khalifah itu harus berkuasa dan memiliki kekuatan? Ketika Khalifah Abu Bakar memerangi sekelompok orang yang tidak membayar zakat, bukankah hal ini menunjukkan Beliau orang yang menjaga amanah sebagai Khalifatur Rasul? Di sini timbul pertanyaan apakah hadits itu yang salah dan keliru atau sebaliknya model khilafah Wali Al Fattah rahimahullah yang salah? Jika hadits di atas tidak dapat diamalkan oleh sang Khalifah, berart Khalifahnya yang tidak beres. Kalau mau mengikuti sunnah Khulafa’ur Rasyiddin Al Mahdiyyin maka buktikanlah, berlakulah seperti Khalifah Abu Bakar perangi orang yang tidak membayar zakat. Berlakulah seperti Khalifah Umar rebutlah Yerusalem, Al Aqsha dengan pedang atau senjata bukan dengan model gerak jalan ala Khilafah gaya baru.
9. Jama’ah Muslimin bukanlah sebuah nama yang harus didakwahkan atau menjadi label dari sebuah Kop Surat layaknya organisasi atau hizbiyyah. Jamaah Muslimin adalah esensi/eksistensi dari kaum muslimin itu sendiri yang tidak dapat di klaim/monopoli oleh satu kelompok/golongan tertentu. Dakwah umat Islam dari dulu, sekarang hingga nanti adalah mentauhidkan Allah dan ittiba’ Rasul. Dalam keadaan umat islam berpecah-belah dan bergolong-golong di bawah penguasa-penguasa negeri, muslimin tidak diperintahkan mendirikan khalifah untuk menyatukan umat islam, karena memang mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu sekalipun dengan membelanjakan emas sepenuh bumi. Saya sama sekali tidak pernah mendengar/membaca baik dalam hadits maupun tarikh bahwa Khalifah Rasyidah dari masjid-ke masjid mendakwahkan kalimat jamaah muslimin (Hizbullah) dengan mengatasnamakan persatuan muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah dan penggantinya. Hanya Allahlah yang berkuasa menyatukan ummat-Nya dan hanya Allah yang Maha Mengatur.
10. Tugas seorang Khalifah bukan sekedar mendatangi majlis ta’lim dari kampung satu ke kampung lain dan mengadakan musyawarah-musyawarah rutin yang tidak ada habis-habisnya, sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Wali Al Fattaah rahimahullah dan penerusnya. Lebih dari itu fungsi Khalifah adalah melindungi nasib muslimin di seluruh dunia dari gangguan dan kezaliman kaum kuffar, menciptakan stabilitas keamanan dengan menegakkan hukum tertinggi di dunia yang berkeadilan serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi muslimin yang bebas riba di samping masih banyak tugas dan tanggung jawab lainnya. Namun tugas yang utama ini justru ditinggalkan oleh Khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah dan penerusnya.
11. Perhatikanlah hadits di bawah ini agar kita tidak terjebak dengan pemahaman yang keliru tentang makna kalimat تلزم جماعة المسلمين وإمامهم
عن حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
Dari Hudzaifah bin Al Yaman, saya (Hudzaifah) berkata, Ya Rasulullah, Sesungguhnya (dahulu) kami dalam keburukan maka kemudian Allah mendatangkan kebaikan dan kami ada padanya, apakah di belakang kebaikan ini akan ada keburukan? Rasul berkata: “Ya” saya berkata, apakah di belakang keburukan itu akan ada kebaikan? Rasul berkata, “Ya” saya berkata, apakah di belakang kebaikan nanti akan ada keburukan? Rasul berkata, “Ya” saya (Hudzaifah) berkata, mengapa ya Rasulullah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bakal ada sesudahku pemimpin-pemimpin yang tidak berpetunjuk dengan petunjukku dan tidak berjalan dengan sunnahku. Dan di tengah mereka akan bangkit orang-orang yang hati mereka seperti hati syaitan-syaitan dalam bentuk manusia.” Aku (Hudzaifah) bertanya, apa yang harus saya lakukan ya Rasulullah, kalau saya menjumpai hal itu? Beliau bersabda: “Engkau harus mendengar dan mentaati pemimpin dan jikapun dipukul punggungmu dan diambil hartamu maka dengarlah dan taatlah.” (HR. Muslim)
Hadits ini nampak lebih jelas untuk mengkompromikan dan menafsirkan hadits serupa dalam Shahih Bukhari dan Muslim yang menjelaskan tentang pengertian kalimat تلزم جماعة المسلمين وإمامهم , yaitu agar kaum muslimin tetap istiqamah bersama penguasa yang sah sekalipun pemimpin itu berbuat zalim dan tidak menjalankan sunnah Rasulullah. Kaum muslimin dilarang untuk menentang dan memisahkan diri dari jamaam muslimin (mayoritas muslimin dalam suatu negeri) apalagi membentuk jamaah tandingan yang tidak sah. Perhatikan juga hadits di bawah ini Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, ” Jihad manakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Perkataan yang benar di hadapan penguasa yang jahat/lacur.” (HR. An-Nasai) Mana ada perintah untuk memisahkan diri dari penguasa dengan membentuk jamaah (kekuatan) tandingan? Tidak ada hal seperti itu dalam ajaran Islam. Di manapun umat islam berada maka pemimpin mereka adalah penguasa negeri yang sah selagi mereka adalah muslim dan tidak menampakkan kekafirannya. Baik mereka itu menggunakan Al-Qur’an dan sunnah atau tidak dalam memimpinnya. Baik mereka itu pemimpin yang adil atau yang zalim sekalipun. Jihad bagi muslimin menghadapi penguasa yang fajir dan lacur serta yang zalim hanyalah memberi nasehat dengan perkataan yang benar. Bukan mendirikan jamaah tandingan dengan mengatasnamakan Khilafah.
12. Jamaah Muslimin (Hizbullah) mengklaim sebagai “Al Jama’ah” satu-satunya golongan yang selamat dan seorang muslim tidak boleh berada di luar jamaahnya. Salah satu yang menjadi landasannya adalah hadits ” …Sesungguhnya tidaklah seorang itu memisahkan diri dari Al Jama’ah walau sekedar sejengkal, lalu ia mati kecuali ia mati laksana kematian jahilayah.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas). Menurutnya semua muslimin yang berada di luar Khalifahnya berarti mereka berada di luar Al Jama’ah. Dengan pemahaman yang keliru tentang Al Jama’ah dari Khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah, maka Imam Al-Bukhari yang meriwayatkan hadits di atas bahkan beberapa sahabat dan tabi’in termasuk orang yang mati laksana kematian jahiliyah, karena beliau hidup dan mati setelah berakhirnya Khalifah Ali bin Abu Thalib Ra dan sebelum datangnya Khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah. (Na’u dzubillah min dzalik)
13. Prof. Dr. Yusuf Al Qaradawi sekalipun ia juga tidak berada di atas jalan yang benar (hizbiyah) telah menulis buku edisi Indonesia yang berjudul “Khilafah Islamiyah Suatu Realita Bukan Hayalan.” Qaradawi yang pentolan IM dan sekarang juga menjabat sebagai Ketua Persatuan umat islam sedunia, hingga hari ini belum berani mewujudkan Khilafah Islamiyah tersebut. Karena menurutnya ada tiga tahapan untuk mewujudkan Khilafah Islamiyah yang pertama; Kesatuan Darul Islam. Yang kedua; Kesatuan sumber hukum tertinggi. Dan yang ketiga; Kesatuan kepemimpinan pusat. Sekalipun Khilafah Islamiyah suatu realita dan bukan hayalan karena hadits juga meyebutkan demikian, tapi perjalanan untuk merealisasikan Khilafah tersebut tidaklah mudah, mungkin butuh waktu ke depan berabad-abad lamanya. Suatu hal yang amat mengejutkan bagi dunia islam yang mendengarnya bahwa Wali Al Fattaah rahimahullah yang hanya mengetahui beberapa ayat dan dalil tanpa merujuk pemahaman ulama salaf (ahlus sunnah) mengaku dirinya sebagai Khalifah hanya dengan modal baiat dari sekelompok orang saja. Beginikah ketawadhu’an seorang muslim untuk menjadi seorang Khalifah bagi dunia Islam? Dan lebih aneh lagi Khilafah yang sudah berumur 53 tahun ini belum dikenal dan tidak diakui oleh masyarakat sekitarnya, karena khilafah ini hanya bisa mengumbar janji tanpa bukti.
14. Seorang Khalifah sudah seharusnya memiliki Sumber hukum dan kekuasaan yang tertinggi, oleh karenanya ia tidak berada di bawah peraturan atau hukum orang lain. Khalifah Wali Al Fattah rahimahullah tidak memiliki perangkat hukum apapun sehingga membiarkan muslimin bahkan jamaahnya sekalipun untuk berhukum dengan hukum orang lain. Baik dalam perkara perdata maupun pidana, bahkan untuk mendirikan pesantrennya saja (Tarbiyah Khilafah katanya) mereka harus mengajukan izin dari pemerintahan lain. Kalau sudah ada pemerintahan sah yang mengatur semua urusan muslimin (ulil amri) mengapa harus mendirikan ulil amri baru? Kalau bermaksud ingin menyelamatkan akidah muslimin ikutlah jalan yang ditempuh oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in mereka adalah generasi terbaik dalam Islam. Mereka sangat paham tentang apa itu Jama’ah Muslimin, Al Jamaah dan Khilafah serta bagaimana cara mengamalkannya.
15. Wali Al Fattaah rahimahullah telah mempraktekkan bid’ah khilafah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bid’ah pertama adalah pada tanggal 20 Agustus 1953 ia memprakarsai mendirikan gerakan islam “Hizbullah.” Bid’ah kedua adalah ia menerima bai’at dari segelintir orang yang mengangkatnya menjadi Imam gerakan islam tersebut. Bid’ah ketiga beberapa tahun kemudian ia merubah nama gerakan islam “Hizbullah” tersebut menjadi “Jamaah Muslimin (Hizbullah) dugaan saya karena ia menemukan hadits “Talzamu jamaatal muslimin wa imaamahum” (tetapi ia tidak paham dengan makna yang sebenarnya) wallahu ‘alam. Bid’ah keempat ia mendakwahkan dan menta’arufkan Jamaah Muslim (Hizbullah) mestinya yang didakwahkan adalah ajakan tauhid dan menghidupkan sunnah. Bid’ah kelima ia memisahkan diri dari jamaah muslimin yang ada (kaum muslimin dalam satu negeri) kemudian menjadikan jamaahnya sebagai kelompok baru, ashabiyah dan menambah perpecahan umat islam. Inilah ciri-ciri pejuang hizbiyah yang tidak memiliki ulama, mereka berjuang untuk golongannya sendiri sekalipun mengatasnamakan khilafah fil ardh.
16. Jamaah Wali Al Fattaah rahimahullah mengklaim dirinya sebagai wujud dari Al jamaah. Bukankah tangan (kekuatan) Allah bersama Al jamaah? Sebagai khalifah Wali Al Fattaah rahimahullah tidak melaksanakan hukum pidana Islam? Tidak memerangi kesyirikan? Dan juga tidak memerangi kelompok bid’ah yang mewabah? Bukankah ini adalah tugas dan tanggung jawab seorang Khalifah? Mengapa lari dari tanggung jawab yang utama. Kalau masih ragu dengan pertolongan Allah, lalu bagimana dengan kualitas akidahnya? Kalau tidak ragu dengan pertolongan Allah mengapa tidak melaksanakan tugas utamanya? Sudah jadi khalifah kenapa takut… apakah Khalifah Abu Bakar dan Umar seorang yang penakut untuk menjalankan semua itu?
17. Wali Al Fattaah rahimahullah masih dalam bukunya (2005) dalam Bab Cara Mukminin Menghadapi masalah telah mengutip ayat sebagai berikut;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat 1)
Beliau atau jamaahnya barangkali tidak pernah sadar kalau Wali Al Fattaah rahimahullah telah berbuat mendahului Allah dan Rasulnya dengan mendirikan gerakkan Islam “Hizbullah” kemudian mengatasnamakan Khilafah fil Ardh. Pada hal Allah belum mengangkat masa Mulkan Jabariyah dari permukaan bumi. Mengapa Wali Al Fattaah rahimahullah tidak bersabar dan lebih bertakwa kepada Allah, bukankan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Demikianlah koreksi terhadap keberadaan Jamaah Wali Al Fattaah rahimahullah yang mengklaim amirnya sebagai Khalifah. Saya sangat hormat dengan Bp. Muhyidin Hamidy, sebagai penerus kepemimpinannya, ust. KHAFAS, ust. AHI, ust. Wahyudi KS dan asatidz yang lain. Lebih khusus kepada para ust di Cilacap dan seluruh ikhwan di manapun berada. Saya sangat mencintai kalian semuanya, tetapi bagaimanapun juga saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Hari ini akidah saya tidak dapat dipaksakan untuk memahami makna Al Jamaah, Jamaatul Muslimin dan Khilafah sebagaimana yang kalian pahami dan yakini.
Saya nasehatkan kepada kalian semua untuk tidak mengikuti hawa, ikutilah pemahaman para sahabat dan ulama salaf dalam memahami apa itu Al Jamaah, Jamaatul Muslimin dan Khilafah. Mereka adalah generasi terbaik umat islam yang harus diikuti pemahaman dan jalannya. Sekali lagi mari kita sikapi hal ini dengan hati yang bening bukan dengan emosi yang kotor dan mengotori. Tanyakan pada nurani diri kita masing-masing apakah yang sedang kalian amalkan adalah Khilafah sebagaimana Khulafa’ur Rasyidin? Apakah kita harus memaksakan diri menegakkan Khilafah pada saat kita tidak memiliki kemampuan? Apakah jamaah kita bukan bagian dari hizbiyah? Wahai para ustadz, belajarlah kepada para ulama salaf tentang apa itu Al Jamaah? Apa itu Jamaah Muslimin? Dan apa itu Khilafah? Demi Allah mereka adalah pewaris para nabi yang mesti kita tanya kepadanya tentang sesuatu yang kita tidak paham. Sebagai seorang muslim janganlah kalian berlaku sombong dengan meremehkan perkataan para sahabat dan salafus shalih. Ilmu kita, amal kita, akhlak kita, ketawadhu’an kita, kezuhudan kita sungguh sangat jauh dibandingkan dengan mereka.
Yang harus dilakukan oleh umat Islam sekarang ini adalah tetap istiqamah dalam Jamaah Muslimin (dalam arti yang sebenernya bukan nama belaka), taat pada ulil amri (umara=penguasa dan ulama), meninggalkan segala bentuk gerakan hizbiyyah dan firqah-firqah. Umat Islam tidak selamanya harus di bawah kepemimpinan Khilafah. Keberadaan Penguasa seperti Presiden, perdana mentri atau Raja bagi umat Islam adanya atas kehendak Allah, dan Hanya Allah juga yang akan mengangkatnya. Mendirikan Khilafah di dalam wilayah kekuasaan penguasa muslim yang sah, bukanlah mengikuti jalan ulama ahlus sunnah wal jamaah.
Kepada semua ikhwan saya mohon maaf atas keputusan yang saya ambil, mungkin tulisan ini membuat telinga kalian terasa panas dan hati anda menjadi gerah, jika demikian adanya, maka ketahuilah kalian masih jauh dari sifat sabar. Kepada semua ikhwan saya juga mohon maaf atas segala kesalahan saya selama bergaul yang mungkin keterbatasan ruang dan waktu menyebabkan di antara kita terhalang untuk saling bertemu. Saya tegaskan bahwa saya akan tetap berada di Jamaah Muslimin (dalam arti yang sebenarnya) dan keluar dari hizbiyah jamaah Wali Al Fattah, karena saya wajib menyelamatkan diri dari kesesatan yang saya yakini. Allah telah membimbing saya menuju sebuah jalan yang amat terang benderang, itulah Islam yang murni yang tidak pernah hilang dari dulu hingga sekarang bahkan sampai akhir zaman. Bukan Islam yang muncul pada tahun 1953 M. Dan bukan Islam yang tidak dibimbing oleh para ulama sebagai pewaris para nabi.
Wallahu a’lam.
Entry filed under: Bantahan. Tags: .
45 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1. abatacell | Februari 18, 2007 pada 9:31 am
Jazakallahu Khoir Mudah-mudahan allah menambahi ilmu pada antum
2. arie sechan | Maret 14, 2007 pada 9:06 am
assalamu alaikum
kasian juga ya penulis nya kenapa harus koreksi kekurangannya tapi bukan memperbaiki, dan saya semakin mengerti dan jelas mana yang sesungguhnya harus diikuti.. kalo boleh tau alamat jamaah wali alfatah dimana?…….yang pasti antum tau persis alamatnya sebab antum adalah eks jamaah wali alfatah …jazaakallah khairan
3. HERIANSYAH | Maret 14, 2007 pada 12:39 pm
ASSALAMUALAIKUM, SAYA SANGAT TERTARIK DENGAN TULISAN PAK AGUS TERSEBUT.. “KATA ANTUM MULKAN JABARIYAH ITU BELUM DIANGKAT…”, JADI KALAU HARI SENING TANGGAL 23 MARET 1924 ITU, TURKI USMANI RUNTUH… APA ITU BUKAN AKHIR SISTEM KEKHILAFAN MUSLIMIN..? TRUS MENURUT ANTUM KITA HARUS THAAT KE ULIL AMRI YANG SEKARANG (PRESIDEN, RAJA, ATAU PERDANA MENTERI, KAISAR DLL) PADAHAL KEBANYAKAN MEREKA TIDAK BERTAHKIM BERDASARKAN HUKUM ALLAH, GIMANA CARA THAAT KEPADA MEREKA PAK AGUS…? TOLONG ANTUM JELASKAN KEPADA MUSLIMIN YANG LAIN,.. KALAU TIDAK ANTUM AKAN SANGAT BERTANGGUNGJAWAB DI HADAPAN ALLAH NANTINYA..
4. Abu Abdillah | Agustus 1, 2009 pada 2:10 pm
WA’ALAIKUM SALAM, MAS HERIANSYAH..WALAU JAWABAN INI SUDAH TERLAMBAT SMG TETAP ADA MANFAATNYA…..PERTAMA SAYA KATAKAN BAHWA MASA KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWAH YG PERTAMA (KHOLIFAH ABU BAKAR SAMPAI DG ALI BIN ABI THOLIB ATAU HASAN BIN ALY BIN ABI THOLIB) JELAS SUDAH BERAKHIR….
DATANGLAH SETELAH MASA ITU MULKAN ‘AADHON YAITU BERALIHNYA SISTIM KHILAFAH KEPADA SISTIM KERAJAAN DAN MASA INI DIMULAI DARI KEHILAFAN MUAWIYYA RODHIYALLOHU ‘ANHU SAMPAI DG TERHAPUSNYA SISTIM KHILAFAH TURKI UTSMANI MARET 1924 M.
SAMPAI DISINI PERLU DIPAHAMI BAHWA TIDAK SEMUA YG MENJDAI PENGUASA (KHOLIFAH/RAJA) DALAM MASA PERIODE MULKAN ‘AADHON MEREKA ADALAH ORG JAHAT DIANTARA MEREKA BANYAK ORG2 YG SHOLIH SEPERTI SAHABAT MUAWIYYAH, IBNU ZUBAER, UMAR BIN ‘ABDUL AZIZ DLL. TETAPI YG PASTI BAHWA IMAM ATAU KHOLIFAH ADALAH PENGUASA WILAYAH TIDAK ADA IMAM KETOPRAK.
NAH SETELAH BERAKHIRNYA MASA MULKAN ‘AADHON ADALAH MASA MULKAN JABBARIYYAH INILAH MASA SEKARANG DIMANA KAUM MUSLIMIN DISEBAGIAN BESAR NEGERI-NEGERI MUSLIM SEPERTI INDONESIA, MALAYSIA, DAN TIMUT TENGAH MEREKA DIBAWAH KEPEMIMPINAN DG SISTEM DEMOKRASI. BEDANYA KALAU DALAM SISTIM MULKAN ‘AADHON KEKUASAAN BERSIFAT ABSOLUT DAN LAHIR SECARA TURUN TEMURUN, SEDENGKAN DALAM SISTIM DEMOKRASI KEKUASAAN MENJADI KESOMBONGAN KARENA MEREKA MENJADI PENGUASA SETELAH TERPILIH OLEH RAKYATNYA, JADILAH IA PENGUASA YG SOMBONG (KEBANGGAAN) TETAPI SETELAH BERKUASA TIDAK DAPAT BERKUASA SECARA MUTLAK KARENA SISTI BIROKRASI KEPEMERINTAHAN.
LALU KAPAN KAUM MUSLIMIN AKAN KEMBALI KEPADA SITIM KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH? JAWABANYA ADALAH NANTI KETIKA ALLOH MENGUTUS IMAM MAHDI DAN ISA BIN MARYAM. PADA JAMAN ITU TIDAK ADALAGI SITIM PENGUASA DEMOKRASI KEHIDUPAN ALAM INI AKAN DIKEMBALIKAN OLEH ALLOH ‘AZZA WA JALLA KEPADA JAMAN PARA NABI DIMANA PERANG YG TERJADI ANTARA PASUKAN MUSLIMIN YG DIPIMPIN IMAM MAHDI MELAWAN KAUM KAFIRIN BUKAN MENGGUNAKAN SENJATA NUKLIR ATAU LAINNYA, TAPI KEMBALI MNGGUNAKAN PANAH, TOMBAK, PEDANG DAN LAINNYA. DEMIKIAN PULA PERANG ATNDING ANTARA NABI ISA BIN MARYAM MELAWAN DAJJAL JUGA TIDAK MENGGUNAKAN SENJATA BUATAN AMERIKA ATAU INGGRIS.
ORG2 JA-MUS MENGATAKAN “SEKARANG INILAH MASA KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH YG DIJANNJIKAN OLEH ROSULULLOH DG HAMIDY SBG IMAMNYA” SAYA KATAKAN INI PERSIS SEPERTI OCEHAN PIMPINAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYYAH AHMAD MUSHODIQ “AL-MAU’UD” YG MENGATAKAN INILAH NABI AKHIR ZAMAN YG DIJANJIKAN. HANYA ORG-ORG GILA YANG GA SEHAT AKALNYA YG MAU PERCAYA DENGAN PERNYATAAN BODOH SEPERTI ITU. ALHAMDULILLAH WA SUBHANALLOH
5. Mohamad Fachrurozi | Maret 14, 2007 pada 3:40 pm
Untuk Heriansyah, Mohon baca juga tulisan Wajib Mendengar Dan Taat Pada Penguasa, Semoga Allah memberi Hidayah pada Antum
6. HERIANSYAH | Maret 16, 2007 pada 7:33 am
Jazakallah atas doanya. untuk pak Mohammad Fachrurozi, saya telah membaca artikel itu pak, semua saya setuju. tetapi itu khan kalau yang memimpin kita ini muslimin, nah kalau yang memimpin kita ini orang kafir, seperti muslimin yang ada di amerika gimana ya,,,?? juga mungkin bapak sudah tau kriteria pemimpin menurut Allah itu ada di Al-Maidah : 55 dan 56. saya kira cukup Bapak baca itu dan Bapak juga pasti tau kepada siapa kita mendengar dan taat. Semoga bapak juga mendapat hidayah dari Allah. amin
Waiyakum, semoga Allah membaguskan amalan-amalan kita. Ana pesan baca terus menerus mohon petunjuk kepada Allah, jangan menggunakan faham antum yang lalu untuk membantah. Bacalah artikel-artikel di blog saya dengan sungguh-sungguh dan jangan lupa mohon hidayah pada Allah. Barokallahu fikum
7. HERIANSYAH | Maret 16, 2007 pada 7:46 am
PAK AGUS RIZKI, ANDA INGIN BAHWA SYARIAT ALLAH INI ZOHIR SEKARANG PAK AGUS..? KALAU BENAR BEGITU, SUDAH SEJAUH MANA USAHA ANDA KE ARAH ITU..? JANGAN HANYA MEMVONIS, TETAPI BEKERJA DULU AJA. SEPERTI DAHULU RASULULLAH TIDAK BISA BERBUAT BANYAK PADA SAAT AMAR BIN YASIR DAN KELUARGANYA DISIKSA DI KOTA MEKAH, PADAHAL BELIAU ADALAH RASUL ALLAH YANG BISA BERDOA DAN INSYA ALLAH DITERIMA DOANYA. LALU MENGAPA RASULULLAH TIDAK BERDOA..? TERNYATA SEMUA HARUS BERJUANG DULU, KEMUDIAN ALLAH AKAN MEMBERIKAN KEKUASAAN UNTUK MENZAHIRKAN SYARIAT-NYA. ITULAH YANG DIDADAPAT OLEH RASULULLAH DI MADINAH.
JIKA KEADAAN SUDAH SEPERTI DI MADINAH, KEMUDIAN MASIH ADA YANG MELAKUKAN PELANGGARAN, JANGANKAN MUSLIM, KAFIR PUN DIADILI SESUAI DENGAN HUKUM MEREKA. ITULAH KEKUASAAN MUSLIMIN,..
ITULAH YANG HARUS SAMA-SAMA KITA PERJUANGKAN PAK AGUS.. BUKAN MENINGGALKAN KANCA PERJUANGAN DAN BALIK ANTIPATI..TETAPI ANDA HARUS BERJUANG KARENA ALLAH, BUKAN KARENA MELIHAT PERWUJUDAN MANUSIA, PASTI ANDA AKAN KECEWA JIKA DEMIKIAN,..
JAZAKALLAH ATAS PERHATIANNYA
Akhi…fillah Afwan ya …!? Ana ingatkan kalau berdoa yang lengkap Jazzakallahu Khoiron (semoga Allah membalas kepada Antum kebaikan).
Ana dah sampaikan pada pak Agus mengenai komentar antum, insya Allah beliau mau menaggapi.
Ana pesan …. bacalah artikel-artikel ana dengan teliti jangan emosi mohon petunjuk pada Allah. Barokallahu fikum
8. Ibnu Dahlan | Maret 17, 2007 pada 7:07 am
Iya jangan emosi Pak Heri…kita ini kan sama-sama muslim.sama-sama ingin mengharap ridho dan ampunan Allah.Kalau Bapak emosi, walaupun yang disampaikan Bapak itu benar,akan sulit diterima sebagai kebenaran.
Yang pasti Pak,kita harus yakin bahwa syari’at Islam tidak akan tegak tanpa dakwah tauhid dan orang-orang yang bertauhid pasti tidak akan berada di dalam keadaan berfirqoh2.Namun sebaliknya mereka hdp bersatu di bawah satu pimpinan yang sah menurut syari’at.yakni sah dalam proses pengangkatannya yaitu dibai’at bukan dipilih menurut suara terbanyak.Walaupun imam itu dzalim,tidak adil, dll. tetap ditaati kecuali kalau nyuruh maksiat.
Ketahui akhi bahwa kepemimpinan yang satu, yang nyunnah dah hilang sejak jaman Muawiyyah. Kalau model antum cara berfikirnya maka orang-orang yang bertauhid setelah muawiyyah bukan muwahid sebab tidak hidup dalam pimpinan yang syah menurut syariat.
Ketahuilah kepemimpinan ini bukan warisan akan tetapi setelah khilafah rosyidah di kepemimpinan diwariskan. Apakah ini syah ?
Memberontak itu haram, apakah Abdul Malik Ibnu Marwan yang memberontak kepada Ibnu Zubair, apakah kepemimpinan Abdul Malik Syah ?
Demikian juga Daulah Abassiyah menggulingkan daulah Umawiyah dengan memberontak, apakah mereka semua syah kepemimpinannya ?
Demikian juga Khilafah Utsmaniyyah, berupa kerajaan ? Apakah ini Syah nmenurut Syareat ?
Jelaslah semua yang ana sebutkan di atas tidak ada yang syah secara pasti karena memberontak dan warisan semuanya menyelisihi sunnah.
Maka apabila syahnya kepemimpinan dengan syarat harus sesuai persis dengan sunnah nabi tidak ada pemimpin kaum muslimin yang syah semenjak ditinggal oleh Muawiyah rodhiallahu anhu.
Ketahuilah sistem yang harus diikuti dan diamalkan oleh umat islam adalah sistem khilafah dan pengangkatannya sebagai berikut :
1. Pelimpahan kekuasaan dari Kholifah sebelumnya seperti Abu Bakar melimpahkan kepada Umar
2. Atau musyawarah ahli hali wal aqdi seperti sahabat yang enam memilih Utsman,
3. Atau musyawarah kaum muslimin yang menetapkan Ali bin Abi Tholib Sebagai Imam.
Itulah cara yang benar, maka apabila ukuran syahnya adalah nyunnah dan benar pengangkatan, maka pemimpin semenjak Yazid bin Muawiyah, Abdul Malik bin Marwan dan seluruh penguasa dinasti Muawiyah tidak ada yang syah
Demikian juga Penguasa Abasiyah dan Utsmaniyah.
Dengan demikian apakah para ulama yang hidup di jaman itu bukan termasuk muwahid ?
Berfikirlah saudaraku …..!
9. S.AMRY | Maret 20, 2007 pada 9:37 am
Apapun yang kita fahami dan kita amalkan, intinya cuma satu, bahwa keihlasan adalah kunci dari kebenaran dan hanya kepada Alloh kita mempertanggung jwabkannya
Kalau Mas Agus merasa bahwa apa yang dilakukan bisa dipertanggung-jawabkan dihadapan Alloh, maka antum akan menghadapinya sendiri tanpa melibatkan apa yang pernah antum fahami, yakini dan amalkann sebelumnya.
Semoga Mas Agus selalu dalam hidayah Alloh, kami hanya berpasrah kepada Alloh, kebenaran milikNYA
Akhi…ketahuilah, bahwa semua orang beribadah insya Allah berniatan ikhlas, namun perlu diketahui bahwa ikhlas saja tidak cukup. Karena beribadah kepada Allah harus sesuai dengan contoh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana hadits dari Aisyah (semoga Allah meridhoinya) Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Barang siapa yang beramal dengan sebuah amalan yang tidak ada perintah dariku maka tertolak”. Maka agar kita selamat fi dunnya wal akhiroh haruslah beramal dengan ikhlas dan selalu mencontoh dari Beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian kita semua harus terus belajar tidak boleh taklid dengan pendahulu-pendahulu kita entah itu orang tua, pimpinan kelompok, kyai, ulama dls. Berislam dengan berpedoman Al-Qur’an dan Sunnah yang telah dipraktekkan oleh sahabat2nya dalam segala sisi. itulah yang disebut salafyah.Barokallahu fikum
10. S.AMRY | Maret 20, 2007 pada 9:39 am
Untuk Sdrku Arie Sechan,
Kalau boleh tahu, antum ada dimana (kotanya), tolong kontak saya di alamat email : javafurnicraft@telkom.net, nanti kita sharing lebih banyak.
11. HERIANSYAH | Maret 23, 2007 pada 4:51 pm
mas
12. abuazi | Maret 24, 2007 pada 1:30 am
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Akhina Agus Rizky Fachrurojie yang sama2 mengharap Ridha dan Ampunan dari Allah Subhanahu wata’ala semata,
Pemahaman akan Al-Qur-an dan As Sunnah bukanlah monopoli segolongan ataupun perorangan, termasuk ulama salafiyyun/salafiyyah yg katanya menisbatkan diri kepada salaful ummah/ shalih, Bashiroh itu adalah haq Allah untuk diberikan kepada yang dikehendaki oleh Allah. Bukan karena ia itu orang Quraisy, ataupun masayikh or Kibarul Ulama Timur Tengah saja. Dan tidak ada jaminan kebenaran pada mereka (kibarul ulama masa kini/khalaf), dalam artian kemungkinan salah/khilaf pada mereka juga sangat besar sekali. Janganlah kita menjadikan mereka sebagai arbab. Padahal mereka sendiri berlepas diri akan hal itu. Atau apakah mereka ridha dijadikan ARBAB? yang mengharamkan kepada yang ALLAH AZZA WA JALLA halalkan, mewajibkan apa2 yg tidak Wajib menurut ALLAH dan Rasul-Nya, dan begitu pula sebaliknya. Na’udzubillahi min Dzalik tsumma na’udzubillah.
* Al Imaamu ai Imaamul Muslimiin adalah kalimat syar’i, maka ma’na secara lugoh selayaknya melebur kepada pemahaman syari’at, tidak dapat diartikan secara umum dengan ma’na penguasa secara umum. Begitupula “Ulil Amri Minkum” hanya Allah dan Rasul-Nya yg berhaq menjelaskannya. Karena memang Allah dan Rasul-Nya yang mengkhususkannya. Sebagaimana Dienun kalau sudah ada alif lam (ad dienu) maka sudah menjadi khash (MA’RIFAT).
Periodisasi kepemimpinan muslimin yg dimaksud dalam hadits dari Nu’man bin Basyir itu adalah kepemimpinan yang khash. Kekhususannya adalah penjelasan hadits dari Hudzaifah bin Al Yaman tentang masa khair dan sar. Kekhalifahan pada ummatku masanya 30 tahun … (al hadits), Tarikh membuktikan kekhalifahan yg diawali pembai’atan shahabat Umar Ibnul Khaththab terhadap Abu Bakar Ash Shiddiq hingga Syahidnya Imaamul Muslimin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhum adalah penjelas (tafsir hadits bil hadits bit tarikh), … Setelah itu adalah Mulkan. Kenyataannya Muawiyyah (radhiallahu ‘anhu) ridha (rela) dengan sebutan sulthan) dan mewariskan kerajaannya kepada putra mahkota raja Yazid bin Muawiyyah. Dan seterusnya dan seterusnya (Dinasti Bani Umayyah) hingga berganti dengan adanya kudeta dari Dinasti Bani Abbasiyah lalu dikudeta lagi oleh Turki Utsmani ( Sulthan yang masih disebut dengan sebutan Kekhilafahan Islamiyyah), Itu adalah sebagai penjelas masa khair namun ada dakhan Ya’ni masa Mulkan Adh Dhan dan Jabariyah. Khairnya masih tetap sentral, didalamnya masih ada muwwahidun (pr shahabat) yg tetap dalam da’wah ilallah (kalimatut tauhid) dan berbai’at walau kepada imaam (sulthan) yg dzhalim sekalipun, dan adanya jaminan kemenangan dari hadits Rasulullah akan konstatinopel dan kembalinya Al-Aqsha ketangan Muslimin dan masih banyak lagi. Dakhannya adalah sifat “Adh dhan dan Jabariyah”nya karena yahduuna bighairi hadyi wayasnuuna bighairi sunnatii. Kepemimpinan yg berdasarkan waris dari Raja kepada putra mahkota raja memang bukan sunnah Rasulullah dan Sunnahnya Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin akan tetapi masih manhaj Nubuwwah (perhatikan kisah nabi yang juga Raja Daud ‘Alaihis Salam yang mewariskan kepemimpinannya kepada putra mahkota Raja Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam). Sedangkan kudeta yang terjadi pada masa itu adalah penjelasan dari sifat Adh Dhan nya. Bermegah2an dan menyombongkan diri pada masa Turki Utsmany itulah sifat Jabariyahnya. Dan diangkatnya Mulkan Jabariyah adalah ditandai dengan dihapuskannya sistem kekhilafahannya Turki Utsmani pada th 1924M. Muslimin mulai saat itu tidak lagi memiliki kepemimpinan sentral. Walaupun pada masa semenjak wafatnya Muawiyyah sudah terjadi perpecahan tetapi kepemimpinan dan daerah sentralnya masih ada. Wallahu a’lam bish shawab
Wa ‘alaikum Salam Warohmatullahi Wa barokatuhu
Karena tulisan antum panjang tunggu balasan dari ana ya….biar lebih bermanfaat lagi. Ana coba pahami secara menyeluruh komentar antum agar balasan dari ana lebih sesuai dengan kesalahan faham yang amsih ada pada antum.
Yang pasti, kita telah sepakat bahwa hujjah itu dalil, bukan akal kita. Semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua. Amin.
Barokallahu fiku,
Alhamdulillah ana dah rulis bantahan buat antum. Klik disini intuk membaca
13. arie sechan | Maret 24, 2007 pada 1:46 am
SYUBHAT BERKENAAN DENGAN PENAMAAN SALAFIYYAH
Ada beberapa syubhat yang sering terlontarkan mengenai penamaan Salafiyyah dan Salafi, beberapa diantaranya dilontarkan oleh orang-orang yang sebenarnya ‘alim, mereka mengatakannya bersumber dari pengalaman mereka dan yang datang dari syetan-syetan dari kalangan manusia, yang menginginkan jatuhnya dakwah al haq ini, melihat dakwah ini roboh, dan menggantinya dengan kebid’ahan-kebid’ahan mereka yang bersemburan dan khayalan-khayalan dari pemikiran mereka. Diantaranya :
1. Penamaan Salafiyyah adalah bid’ah
Memang, kata Salafiyyah itu tidak pernah dipakai pada masa waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Hal ini membuktikan bahwa pada waktu itu kaum muslimin berada pada koridor Islam yang benar, yang tidak memerlukan adanya istilah Salafiyyah seperti saat ini. Namun ketika hawa nafsu mulai muncul dan firqah-firqah semakin bertambah serta ummat berpecah belah, maka muncullah para ‘ulama ini yang berdiri untuk membedakan mana yang berada di atas al haq dari mereka-mereka yang berada di atas kebathilan. Kemudian para ulama pun menamakan diri dengan “ahlul hadits” dan “as salaf”
Imam Abu Hanifah (meninggal tahun 150 H) rahimahullah berkata:”Ikutilah atsar dan jalannya para salaf serta berhati-hatilah pada perkara-perkara yang baru (muhdats), sebab hal itu adalah bid’ah” (Diriwayatkan oleh As Suyuthi dalam Saunul Mantiq wal Kalam hal.32)
Berdasarkan hal itu, tujuan penamaan As Salafiyyah adalah untuk membedakan dari berbagai macam kelompok Islam, yang mana mereka (as salaf) menisbahkan dirinya pada apa yang bisa menjamin mereka pada kebenaran dan Islam yang benar, yaitu dengan mengikuti apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada diatasnya, seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang shahih.
Kata salaf sendiri pernah dipakai pula oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau berkata pada Fathimah, “Aku adalah sebaik-baik salaf untukmu” (HR. Muslim no.2450)
Imam Muslim membawakan perkataan dari Abdullah Ibnul Mubarak dalam shahihnya, Beliau (Abdullah Ibnul Mubarak) berkata di depan orang-orang, “Tinggalkan hadits-haditsnya ‘Amr bin Tsabit, yang dia gunakan untuk memaki para salaf”.
Syaikh Shalih Al Fauzan berkata:”Bagaimana bisa dikatakan bid’ah atau bid’ah yang sesat? Dan bagaimana bisa dikatakan bid’ah ketika mengikuti madzhab salaf yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah, Al Haq dan bimbingan? (Al Bayan hal.156)
Oleh karena itu, menisbahkan diri pada salaf! atau salafiyyah bukanlah merupakan suatu kebid’ahan, malah hal ini adalah merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin semua untuk menganut pada aqidah dan manhaj salaf. Maka bisa dikatakan “Kalau salafiyyah saja dikatakan bid’ah, maka begitu pula dengan penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. (penyebutan ahlus sunnah wal jama’ah pun tidak pernah dipakai pada jaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya). Sebab tujuan dari penamaan dari Ahlus Sunnah pun tidaklah diketahui atau tidaklah tersembunyi (sama seperti tujuan penamaan salaf). Dan sayangnya, penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah pun sekarang tidak lagi mencukupi untuk membedakan antara orang-orang yang mengikuti al haq dengan orang-orang yang mengikuti al bathil (sebab mereka pun mengklaim ahlus sunnah).
Begitu pun pula dengan penamaan salafi, sekarang ini, tidaklah mampu untuk membedakan antara mana yang benar-benar salafi yang mendasarkan dirinya berdasarkan aqidah dan manhaj salaf dengan yang cuma mengklaim salafi, yang sebenarnya adalah hizbi yang berpakaian salafi. Aqidahnya boleh saja ala salaf tapi cara berpikirnya (atau manhajnya) sudah tercampur dengan prinsip-prinsip, ide-ide atau bertingkah laku ala qutubi atau hizbi lainnya. Dia akan menunjukkan sikap tidak suka pada salafi, mencela masyayikh, tapi mereka tetap mengklaim diri salafi. Namun dari sudut pandang yang mereka bawa, sikap al wala’ wal bara’ ala mereka, maka kita akan dapat melihat yang sebaliknya.
Oleh karena itulah, yang benar-benar mengklaim dirinya sebagai salafi sangat memperhatikan pemasalahan dalam menuntut ilmu (syar’i), sebab dengan ilmu inilah al haq akan sangat jelas terlihat dan orang-orang yang bodoh tapi berpura-pura berilmu tidak akan bisa membodohi mereka.
2. Allah telah menamai kita muslim, kenapa harus menisbahkan diri kita pada salaf
Syubhat ini telah dijawab dengan sangat indahnya oleh Al Imam Al Albani dalam diskusinya dengan seseorang (Abdul Halim Abu Syakkah), yang direkam dalam kaset yang berjudul “Ana Salafi”, dan inilah sebagian hal yang penting dari diskusi itu:
Syaikh Al Albani berkata : “Jika dikatakan padamu, apa madzhabmu, maka apa jawabanmu?”
Abdul Halim Abu Syakkah : “Muslim”
Syaikh Al Albani : “Ini tidaklah cukup”
Abdul Halim Abu Syakkah : “Allah telah menamai kita dengan muslim (kemudian dia membaca firman Allah), ‘Dia lah yang telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu (Al Haj 7 ‘”
Syaikh Al Albani : “Ini merupakan jawaban yang tepat, jika berada pada saat Islam itu pertama kali muncul, sebelum firqah-firqah bermunculan dan bersebaran. Tapi jika tanyakan, pada saat ini, pada setiap muslim dari berbagai macam firqah yang berbeda dengan kita dalam masalah aqidah, maka jawabannya tidaklah jauh dari kalimat ini. Mereka semua, seperti Syi’ah, Rafidlah, Khawarij, Nusayri Alawi (dan lain-lain), akan berkata ‘saya muslim’. Oleh karena itu penamaan muslim tidak cukup pada saat ini.”
Abdul Halim Abu Syakkah : “Kalau begitu, (saya akan berkata) saya adalah muslim berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah”
Syaikh Al Albani : “Ini juga tidak cukup”
Abdul Halim Abu Syakkah :”Kenapa?”
Syaikh Al Albani : “Apakah kamu menemukan dari mereka yang telah kita sebutkan tadi, akan mengatakan ,’kami adalah adalah muslim yang tidak berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah?’ atau seorang dari mereka berkata “saya adalah muslim yang tidak berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah?”
Kemudian Syaikh Al Albani menjelaskan dengan jelas akan pentingnya berada di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan cahaya pemahaman Salafush Shalih.
Abdul Halim Abu Syakkah : “Kalau begitu, saya akan menyatakan bahwa saya adalah muslim yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengikuti pemahaman salafus shalih”
Syaikh Al Albani : “Jika seseorang bertanya padamu tentang madzhabmu, apakah ini yang akan kamu katakan?”
Abdul Halim Abu Syakkah : “Ya”
Syaikh Al Albani : “Bagaimana pendapatmu, bila kita menyingkat kalimat ini (muslim yang berdasarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan mengikuti pemahaman salafus shalih), bukankah sebaik-baik perkataan adalah yang singkat namun mempunyai arti yang sangat bermakna, maka kita katakan ini dengan ‘Salafi’”. (Selesai penukilan)
Maka intisari dari percakapan itu adalah penamaan muslim atau sunni tidaklah cukup, sebab semua orang akan menyatakan demikian. Dan Imam Al Albani telah menekankan pentingnya Al Haq untuk membedakan diri dari kebathilan, dengan berdasarkan pada aqidah dan manhaj, yang diambil dari salafus shalih, yang merupakan lawan dari macam-macam firqah dan hizbi yang memahami dien ini dengan berdasarkan pada pemikiran guru-guru mereka atau pemimpin-pemimpin mereka dan tidaklah mereka mengambilnya dari salaf, secara fundamental.
Jazzakallahu khoiron, semoga Ilmu Antum bermanfaat, semoga Allah menambahi ilmu pada antum
14. Ibnu Dahlan | Maret 26, 2007 pada 4:08 am
Ada pemahaman yang keliru dan mendasar dari Akh Agus Rizky dan teman-temannya. Akh Agus Rizki memahami bahwa pada saat ini merupakan masa mulkan jabariyah bahkan sedang kuat-kuatnya mencengkram muslimin. Sehingga dengan pemahaman tersebut otomatis mereka (Akh Agus Rizky dan teman-temannya) harus taat sekalipun penguasanya dzalim kecuali dalam hal maksiat.
Dengan kata lain, Akh Agus Rizki tidak mampu membedakan antara masa mulkan dulu mulai dari Bani Umayah, Bani Abbasiyah sampai Turki Utsmani dengan mulkan sekarang seperti kerajaan Arab saudi, Brunei Darussalam, Pemerintahan Mesir, Pemerintahan Indonesia, dll. Mereka (Akh Agus Rizky dan teman-temannya) menyamakan antara masa mulkan dulu yang jelas sekali sentral dan tidak nasionalis dengan masa mulkan sekarang yang jelas sudah terkotak-kotak,tidak sentral, nasionalisme (fakta nasionalisme:orang Indonesia beda status dgn orang Arab walaupun sama2 muslim,tentara Malaysia sampai mau bertempur dengan tentara Indonesia -pada kasus Ambalat- walupun sama-sama muslim.itu terjadi hanya karena beda negara (beda ulil amri).
Mereka (Akh Agus Rizky dan teman-temannya) memahami bahwa pada masa mulkan dulu (sebelum turki Utsmani) pemimpinnya tidak sentral sama dengan sekarang tidak sentral karena banyak sekali pemberontakan, perebutan kekuasaan,dll.
Kalau memang demikian, bukankah pada masa khulafaur Rasyidin sudah ada yang membangkang?Sudah ada yang membuat pemimpin baru?
Namun mereka tetap sentral, masih mengakui satu kepemimpinan. sama halnya dengan pada masa mulkan (sampai turki Utsmani) mereka tetap sentral, masih mengakui satu kepemimpinan yang sah.
Nah kalau sekarang, siapa satu pimpinan umat muslim?siapa sentral kepemimpinan muslim? siapa yang dimaksud mulkan Jabariyah?PBB kah?Amerika kah? kalau begitu,bukankah dalam hadits itu menceritakan masa kepemimpinan muslimin? sedangkan mereka (PBB) itu bukankah kepemimpinan muslim??
Sadarlah akhi, masa mulkan Jabariyyah sudah berakhir, dan itu atas kehendak Allah SWT adanya. Sekarang muslimin masuk fase Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah. Kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian. Kalaulah memang harus punya kekuasaan, ya memang kita harus punya kekuasaan. Namun bukan berarti tanpa kekuasaan kekhalifahan itu batal. karena para Nabi pun sebagai khalifah ada yang tidak memiliki kekuasaan.Toh tetap kekhalifahannya tidak batal. Tapi sebelum dilanjutkan,harus diyakini dulu bahwa para nabi merupakan seorang khalifah juga ….
______
Klik di sini untuk melihat bantahannya
15. ainun mardiyah | Maret 29, 2007 pada 6:02 am
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
‘ALAIKUM SALAM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH
ingatlah saudaraku “bahwa aib manusia yang paling sulit disembuhkan ialah rasa ujub (membanggakan diri) dan keras kepala (tidak mau sadar atau mengalah).
NAUDZUBILLAHI MINDZALIKA
jangan kalian menggunakan kalimat-kalimat Allah untuk mempertahankan hujjah kalian yang sesat dan menyesatkan.
“celaka ….. celaka ….. celaka …. orang yang banyak berdzikir dengan lidahnya, tetapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.” naudzubillahiminzalik
TUNJUKKAN UJUB ANA DAN KERAS KEPALA ANA, ANA AKAN MENGALAH DENGAN DALIL YANG DIFAHAMI DENGAN CARA YANG BENAR SESUAI PEMAHAMAN PARA ‘ULAMA
saudara Agus R dan teman-temannya menganggap bahwa
ulil amri minkum adalah penguasa / pemerintah yang berkuasa sekarang.
“Rasulullah bersabda: “jika para pemimpin tidak memerintah berdasarkan kitab Allah dan tidak menjadikan apa yang diturunkan Allah sebagai pegangan dalam memutuskan perkara, maka hal itu akan menebarkan rasa permusuhan diantara mereka. “(Hr.Ibnu Majah) .
YA BENAR…BEGITULAH….
TAPI APA MENJADIKAN PEMIMPIN TADI MENJADI GUGUR HAKNYA SEBAGAI ULIL AMRI, TUNJUKKAN DALILNYA
RASULULLAH JUGA BERSABDA…
DARI UMMU SALAMAH BERKATA, RASULALLAH BERSABDA:NANTI AKAN MUNCUL SEPENINGGALKU PARA PENGUASA, KALIAN MENGETAHUINYA LALU KALIAN MENGINGKARINYA. BARANGSIAPA MENGINGKARINYA MAKA DIA TELAH BERLEPAS DIRI DAN BARANG SIAPA YANG MEMBENCINYA, MAKA SUNGGUH IA TELAH SELAMAT, KECUALI ORANG YANG RELA DAN MAU MENGIKUTINYA. MEREKA BERTANYA: APAKAH KITA AKAN MELAWANNYA DENGAN PEDANG? BELIAU BERSABDA: ]ANGAN, SELAMA MEREKA MASIH MENDIRIKAN SHALAT.” (HADITS SHAHIH DIRIWAYATKAN OLEH MUSLIM DALAM SHAHIHNYA)
RASULULLAH MEMBAI’AT PARA SAHABAT UNTUK : MENDENGAR DAN TAAT PADA PENGUASA DALAM KEADAAN SENANG MAUPUN BENCI KEPADANYA DAN DALAM KEADAAN KESULITAN MAUPUN DALAM KEADAAN AMAN. BAHKAN DALAM KEADAAN DIRUGIKAN OLEH PENGUASA MUSLIM. JUGA BELIAU MENGAMBIL BAI’AT PARA SAHABATNYA AGAR JANGAN MEMBERONTAK PENGUASANYA, KEMUDIAN BELIAU MENGATAKAN: “KECUALI KALIAN MELIHAT KEKAFIRAN YANG NYATA, YANG KALIAN PUNYA HUJJAH DARI ALLAH PADA PERKARA ITU (HR. MUSLIM)
DARI HADITS-HADITS ITU DAN YANG SELAINNYA YANG SANGAT BANYAK MEWAJIBKAN KITA UNTUK TAAT PADANYA DALAM PERKARA MA’RUF.
INSYA ALLAH JIKA SIKAP KITA TERHADAP ULIL AMRI BENAR TIDAK AKAN TAMBAH BERPECAH, KITA SENDIRI SELAMAT KARENA MENGUIKUTI BIMBINGAN RASUL.
TAPI KALAU KITA MEMBUAT AMIR BARU YANG BUKAN PENGUASA….KAUM MULIMIN TAMBAH PECAH BELAH MENJADI KELOMPOK YANG LEBIH KECUIL SEPERTI NII, JMH, LDII DLL.
dan lihatlah suaudara saudaraku bukankah ini yang terjadi sekarang ? apakah pemimpin-peminpin yang saudara agus rizki dan kawan-kawannya katakan (taat pada penguasa ) itu sudah masuk dalam kategori hadist diatas ? apakah pemimpin-pemimpin yang menjadikan hukum-hukum buatan manusia bisa dikatakan pemimpin yang diridhai oleh Allah ?
PEMIMPIN TERSEBUT JELAS SALAH, SAYA TEGASKAN JELAS SALAH.
KETAHUILAH …! KITA MENTAATI DALAM PERKARA MA’RUF KARENA RASULULLAH PERINTAHKAN KITA. DENGAN SYARAT PENGUASA TADI MASIH SHOLAT (MUSLIM) sebagai mana hadits di atas.
AKAN TETAPI KITA INGKARI PERBUATAN-PERBUATAN MEREKA DALAM HAL YANG MELANGGAR SYARIAT ALLAH DAN RASULNYA.
MEREKA KITA AKUI SEBAGAI ULIL AMRI BUKAN BERARTI KITA RIDHO DENGAN SISTEM MEREKA.
INI SEMUA DALAM RANGKA TAAT PADA ALLAH DAN RASULNYA SEMATA
tolong renungkan, kalau memang dari pihak saudara agus rizki dan kawan-kawanya menganggap bahwa ulil amri itu adalah penguasa dalam arti penguasa sekarang yang diangkat melalui sistem nasionalisme yang tidak memiliki ikatan tauhid itu yang dikatakan ulil amri minkum ?. berarti antum sekalian beranggapan bahwa diindonesia SBY adalah ulil amri, di Arab raja Abdullah adalah Ulil amri dan diamerika josh bush adalah ulil amri. kasihan sekali saudara saudara muslim kita di amerika yang memiliki ulil amri nya dari kalangan kafir. apakah pantas seorang non muslim memimpin kaum muslim ???? dan apakah itu yang antum sekalian katakan ulil amri minkum ?
DEMIKIAN KEADAANNYA, KAUM MSULIMIN TERPECAH BELAH !
YANG TINGGAL DI NEGERI KAFIR ADA HUKUM SENDIRI JANGAN DI GEBYAH UYAH…ADA PEMBAHASAN SENDIRI.
PENGUASA NEGERI KAFIR BUKAN ULIL AMRI MEREKA.
ISLAM INI MUDAH, SEBAGAIMANA RASULULLAH SHALLALLHU ‘ALAIHI WASALLAM.
BERARTI KETIKA KITA TINGGAL DI AMERIKA ….DI SANA TIDAK ADA JAMA’AH DAN IMAM KAUM MUSLIMIN, MEREKA SEMUA DIPERINTAH OLEH RASULULLAH TINGGALKAN SEMUA KELOMPOK YANG ADA JANGAN BERPARTAI-PARTAI, MENGAMALKAN SUNNAH DENGAN SEKUAT TENAGA.
APA DALILNYA …?
KALIAN SEMUA TELAH HAFAL INSYA ALLAH,
Aku (HUDZAIFAH) berkata, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah atau imam?”
Beliau bersabda,
“Tinggalkan semua firqoh (yang ada) walau kamu menggigit akar pohon, hingga kamu mati dalam keadaan seperti itu”
====
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.
mungkin kebetulan saja
BUKAN KEBETULAN TETAPI TAKDIR ALLAH
saat ini pemimpin diindonesia adalah muslim. sekarang gimana kalau pemimpin / presiden di indonesia ini seorang yahudi ? nasrani ? apakah masih bisa dikatakan ulil amri minkum ? dan hal ini tidak menutup kemungkinan untuk terjadi bukan ?
MUDAH-MUDAHAN TIDAK TERJADI, KALAU TERJADI YA ADA HUKUMNYA SENDIRI….
KALAU MAMPU MEMBERONTAK DENGAN SYARAT MANFAAT YANG AKAN DICAPAI LEBIH BESAR DARI MADHOROT YANG DITIMBULKAN…KALAU TIDAK MAMPU YA….TINGGALKAN SEMUA KELOMPOK, ULIL AMRI KIT ADALAH ULAMA KARENA ULIL AMRI ARTINYA ADALAH ULAMA DAN UMARO (TAFSIR IBNU KATSI, ASSA’DI DAN SEMUA AHLI TAFSIR) aRTIKELNYA MENDATANG INSYA ALLAH.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (Qs.ali imran;149)
MARI TANAMKAN KEBENCIAN KITA PADA MEREKA, DIDIK ANAK-ANAK DAN SELURUH KAUM MUSLIMIN DENGAN ISLAM YANG BENAR ..!
Umar ibn khathathab r.a berkata : “suatu negeri yang makmur dan maju akan hancur dan binasa apabila kaum penjahatnya mengalahkan orang – orang yang baik dan kaum munafiknya memegang tampuk kekuasaan.”
KITA BERLINDUNG DARI YANG DEMIKIAN, MAKA MARILAH KITA PERBAIKI GENERASI MUDA ISLAM DENGAN ISLAM YANG BENAR, MENUTUP AURAT, MENINGGALKAN MUSIK, MENINGGALKAN ROKOK, MENINGGALKAN GAMBAR-GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA, MENINGGALKAN PERGAULAN BEBAS, PACARAN.
DAN PALING PENTING ADALAH MENGEMBALIKAN KAUM MUSLIMIN TERUTAMA GENERASI MUDANYA KEPADA TAUHID :
1. MENGESAKAN ALLAH SAJA SEBAGAI ROB
2. MENGESAKAN ALLAH DALAM PERIBADADATAN
3. MENGESAKAN ALLAH DALAM ASMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH YANG MULIA
DAN YANG KE EMPAT MENGAJAK KEPADA KAUM MUSLIMIN UNTUK MENJUNJUNG TINGGI SUNNAH-SUNNAH RASULULLAH YANG DI ANTARANYA ADALAH TAAT PADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN YANG MASIH MUSLIM (MENGERJAKAN SHOLAT) DALAM PERKARA MA’RUF
dan sekarang begitu banyaknya kaum munafik yang memegang tampuk kekuasaan.
KALAU PERNYATAAN ANTUM BENAR SEMOGA KITA BUKAN TERMASUK MUNAFIKIN.
“saudara-saudaraku fitnah datang karena muslimin tidak bersatu , berpecah belah.
BERPECAHNYA AKRENA KAUM MUSLIMIN TIDAK MAU BERPEGANG DENGAN AGAMA INI DENGAN SEBENAR-BENARNYA.
SUKANYA BERPECAH BELAH MEMBUAT KELOMPOK-KELOMPOK KECIL DI DALAM KEKUASAAN PENGUASA MUSLIM YANG ADA.
ALHAMDULILLAH SALAFYUN TIDAK BERKELOMPOK, TAAT PADA PENGUASANYA DALAM PERKARA YANG MA’RUF, TERUS BERUPAYA MENASEHATI MASYARAKAT UNTUK TAAT PADA PENGUASA DAN MENASEHATI PARA PENGUASA BERSATU DENGAN PENGUASA MUSLIM YANG LAIN.
“Adapun orang – orang kafir , sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimi) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan dimuka bumi dan kerusakan yang besar (al-anfaal; 73)
PERSATUAN MEREKA SEMU, YAKINI AJA.
MARI KITA WUJUDKAN PERSATUAN INI PADA DIRI MASING-MASING JANGAN MEMISAHKAN DARI KAUM MUSLIMIN YANG ADA, DENGAN MEMBUAT KELOMPOK BARU DI DALAM PENGUASA MUSLIM, YANG HAKIKATNYA MENAMBAH PERPECAHAN.
JANGAN MENGKAFIR-KAFIRKAN KAUM MUSLIMIN BAIK PENGUASANYA ATAU RAKYAT YANG MENAATINYA.
mari saudara – saudara kita renungkan kata-kata diatas. dan hanya hati kita yang bisa menjawab dengan jujur.
kita hidup didunia ini bukan untuk mendapatkan penghargaan dari sesama manusia tapi untuk mendapatkan penghargaan dari Allah.
YUP !
hanya Allah yang mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak. manusia hanya bisa berkelit dari sesama manusia tapi tidak dari pengawasan Allah.
SUNGGUH UCAPAN ANTUM INI BENAR TAPI MAKSUD YANG TERKANDUNG BATIL,
Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
AGAMA INI JELAS TERANG BENDERANG, YANG SALAH KETAHUAN DEMIKIAN JUGA YANG BENAR….
APAKAH ANTUM MERAGUKAN KESALAHAN YAHUDI NASRANI…?
APAKAH ANTUM MERAGUKAN KESALAHAN DZIKIR BERJAMA’AH….
APAKAH ANTUM RAGU DENGAN KEBENARAN YANG ANTUM YAKINI…..
AGAMA INI MUDAH….BAGI ORANG-ORANG YANG DIKEHENDAKI OLEH ALLAH.
SEMOGA KITA TERMASUK DI DALAMNYA. AMIN
“cacat anda yang paling besar adalah bila anda mencela aib orang lain / muslim lain, sedangkan anda sendiri menyandang aib tersebut.
KITA BERLINDUNG PADA ALLAH DARI ITU SEMUA.
MAKA NASEHAT MENASEHATI, HARUS KITA HIDUPKAN AGAR SESAMA KAUM MUSLIMIN TERJAUH DARI PERKARA KEBURUKAN.
MENUNJUKKAN KESALAHAN MUSLIM LAIN BUKAN BERARTI MENCELA JUSTRU HAKIKATNYA SEDANG MEMBERI HAK MEREKA
RASULULLAH BERSABDA : addinu nasihah ……
“jangan sampai orang mengenalmu sebagai ahli kebaikan, padahal Allah mengenalmu sebagai pendusta. Allah memberi balasan menurut apa yang dia ketahui darimu, bukan dari apa yang diketahui manusia tentang dirimu.”
YUP….MARI TERUS BERUPAYA MENJADI ORANG-ORANG YANG BAIK, MENJADI AL-JAMA’AH YANG SESUNGGUHNYA ! MENGAMALKAN KEBAIKAN-KEBAIKAN DALAM SEGALA PERKARA !
BUKANLAH AL JAMA’AH ITU SISTEMNYA SAJA….
BISA JADI ORANG YANG HIDUP DI DALAM MASA KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH AKAN TETAPI TIDAK TERMASUK AL JAMA’AH.
BISA JADI PULA ORANG YANG HIDUP DI DALAM SISTEM YANG JELEK (KERAJAAN DAN SEMISALNYA) MENJADI AL JAMA’AH KARENA ILMU AMALANNYA.
JAMA’AH YANG SESUNGGUHNYA, YAITU RASULULLAH SHALLALAHU ‘ALAIHI WASALLAM, SAHABAT-SAHABATNYA DAN SELURUH ULAMA AHLUL HADITS INSYA ALLAH, KITA BERUPAYA SEPERTI MEREKA TERUS KOMITMEN PADA AGAMA INI DALAM SEGALA PERKARA.
JANGAN MENGANGGAP DIRI KITA SEBAGAI AL-JAMA’AH TETAPI BERUPAYALAH KITA MENJADI AL JAMA’AH
wassalamuálaikum wr.wb
Wa’alaikum Salam Waramatullahi Wabarokatuh
16. rifandi | April 28, 2007 pada 3:36 am
ass. Benar apa yg dikatakan ,Bahwa pada saat ini bukanlah masa kekhalifahan jika pada saat ini muslim masih terpecah belah dalam bentuk kenegaraan yg jelas pd saat ini saat kita memmperjuangkan bgmn agar khilafah dapat terbentuk seperti telah Allah janjikan karena ini adalah tanggung jawab kita bersama, mari kita pahami betul2 dan cari tahu apa yang saat ini benar2 tidak kita pahami sesuai dg assunnah, agar islam akan mencapai kejayaan seperti masa2 sblmnya ,dan ditakuti oleh musuh2 Allah. semoga apa yg tlh kita perjuangkan saat ini tercapai, Amin.
17. amirulakram | Februari 7, 2008 pada 9:43 pm
assalamualaikum..jamaah muslimin(HIZBULAH) ana rasa SALAH,memBODOHI umat mudah2an islam menang..ALLAHUAKBAR..! ALLAHUAKBAR..! ALLAHUAKBAR..!
18. agus | Februari 10, 2008 pada 11:35 pm
Assalamu alaikum,
Saya pernah hidup dilingkungan orang-orang Jama’ah Muslimin (Hizbullah), sekarang saya hidup dilingkungan orang-orang salafy. Dilihat dari aktifitas keagamaan dan tindakan, kedua-duanya tidak ada perbedaan. Kalo saya liat itupun hanya ada satu perbedaannya yang satu berimam dan berbai’at dan yang satunya lagi tidak ada imam dan tidak ada bai’at.
Jadi apa karena hanya satu perbedaan ini yang akhirnya menutupi begitu banyaknya persamaan yang dimiliki keduanya?
19. Ariz | Agustus 8, 2009 pada 10:22 pm
PERNYATAAMU “Dilihat dari aktifitas keagamaan dan tindakan, kedua-duanya tidak ada perbedaan. Kalo saya liat itupun hanya ada satu perbedaannya yang satu berimam dan berbai’at dan yang satunya lagi tidak ada imam dan tidak ada bai’at.” INI MENUNJUKKAN ANTUM TIDAK PAHAM TTG MANHAJ SALAF. KALAU MAU DIHITUNG ADA LEBIH 1000 PERBEDAAN ANTARA MANHAJ SALAF DG MANHAJ WALI AL-FATAH, BAIK DALAM AQIDAH, IBADAH MAUPUN MUAMALAT.
20. abu anas | Mei 10, 2008 pada 6:40 pm
wah orang ini pemahamannya lebih hebat dr yusuf qardawy …
hebat :-))
“Prof. Dr. Yusuf Al Qaradawi sekalipun ia juga tidak berada di atas jalan yang benar (hizbiyah)….”
21. jhalu | September 1, 2008 pada 9:52 pm
saya adalah orang yang masih awan tentang jamaah muslimin,tapi saya merasa beruntung di lahirkan di lingkungan jamah,apa ini karana pemikiran yang di tanamkan pada otak saya sejak kecil
22. Lukmanul Hakiem | September 18, 2008 pada 10:01 pm
saya aktivis mahasiswa (PMII) yang sering melakukan kajian tentang agama islam dan pada dasarnya saya sangat sepakat dengan yang di anut oleh jamaah muslimin (Hizbullah) kalau antum (agus) mau diskusi dengan kajian keilmuan berdasarkan al-qur’an dan hadits saya siap
23. lukmanul Hakim AM | Juni 13, 2009 pada 3:03 pm
saya menawarkan kepada agus R untuk kita sama-sama melakukan seminar atau kajian tentang Khilafah,Imamah dan bai’at yang di laksanakan di perpustakaan Nasional Salemba tengah, saya akan mengundang dari seluruh kaum muslimin,NU,Muhammadiyah,LDII,IM, MUI,dan Seluruh Kampus yang ada di Jabodetabek kira kira kapan saya bisa bertemu? biar kepanitiaan akan saya libatkan kawan-kawan saya dari mahasiswa (PMII,HMI,IMM,KAMMI) wass
24. royharto | Oktober 22, 2008 pada 8:18 pm
ass, ana tertarik dengan isi artikel akh agus, mungkin yang dimaksudkan dengan mulkan jabariyah adalah penguasa negeri-negeri yang mayoritas dihuni kaum muslimin sebagaimana dahulu ketika jaman kekhalifahan dimana khalifah hanya ada di negeri yang dihuni kaum muslimin, sedangkan kaum muslimin yang berada di negeri barat adalah minoritas dan jumlahnya sangat kecil, wallahu a’lam, ana minta tanggapan dari semua pihak, semoga Alloh menyelamatkan kaum muslimin semuanya dari kesimpangsiuran penafsiran. amin. wass
25. Abu Ibrahim | Januari 20, 2009 pada 11:37 am
Terlalu banyak persamaan untuk dirajut bersama dan terlalu sedikit perbedaan yang tidak perlu diperbesarkan, perbedaan itu adalah jamaatul muslimin telah melaksanakan perintah Allah dan Rosulnya (bersatu dalam jamaah dengan sunnah turunannya; berbaiat). Ingat begitu anda berazam melaksanakan perintah Allah maka hal itu merupakan penegasan Tauhid kita kepada Allah.
26. Abu Ibrahim | Januari 21, 2009 pada 11:45 am
Mohon diingat beberapa ayat ini;
-Jika kalian mengikuti sebahagian besar /mayoritas manusia maka mereka akan menyesatkan kalian dari jalan yang benar (al- ayat)
Sehingga kalau kita mengikuti kepada mayoritas kaum muslimin (milyaran jumlahnya) dengan tanpa kehati-hatian niscaya kita bisa tersesat dari jaln yang benar.
27. Thamrin Djenab | Mei 19, 2009 pada 3:24 pm
Assalakualaikum,
Apa kabar ? . . . . keliatan makin alim aja nih.
Saya cuma mau ngomongin soal Jama’ah, Imamah (Khalifah).
Q.S. 3 : 1o3.
Al-Jama’ah = Sekelompok orang (bisa juga hewan atau yang lainnya) yang ada pemimpinnya, kalo kaga ada pemimpinnya namanya bukan Al-Jama’ah.
Ada dalam sebuah hadist , Al-Jama’ah adalah orang yang mengamalkan kebenaran (kalo dia sendirian) maka orang ini disebut Al-Jama’ah.
Kalo ada segerombolan orang melakukan segala aktivitas tanpa memiliki pemimpin / Imam, ini bisa dibilang gerombolan tanpa makna.
Kaga jelas maunya apa.
Jadi . . . . Jelas Al-Jama’ah adalah orang yang memiliki komitmen yang kuat untuk memiliki pemimpin / Imam diadalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
Kalo udah ada Imam, lalu ada Imam yang laen maka salah satunya mesti dibunuh kalo kaga dibunuh ke IMAM mannya batal. itumah pendapat (bukan interpretation) juga bukan dalil. Suru bunuh iya, tapi kalo kaga dibunuh jadi batal . . . . kaga ada tuh.
Sekarang ngomongin soal Khalifah nih Gus . . .
Khalifah itu harus begini, harus begitu – - – - harus punya kekuasaan, musti punya dukungan orang sedunia. iki dasare opo Gus. ( Firman Allah ” Allah menghendaki kemudahan sedangkan kamu menginginkan kesusahan”).
Terakhir Yaaa . . . . . soal SALAFI. Ente jangan liat sesuatu itu item putih, kudu dipelajarin lebih dalem – - – - – salafi itu apa, salafi itu gimana, kapan itu berdiri, kenapa dia berdiri. Jangan maen telen mentah-mentah.
Mengenai Jamaah Muslimin . . . ente kaga usah pergi ninggalin Jamaah Muslimin apa lagi pake ngomel-2 segala. Contohlah Ali bin Abi Tholib, selepas pembaetan Abu Bakar Siddiq beliau menghilang (kata para ahli sampe tujuh bulan lamanya karena kecewa) tapi ahirnya dia kembali berjuang bersama-sama Khalifah.
(“Jadikanlah Shobar dan Shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang Shobar”).
Udah dulu yah, . . . . . laen kali kita ngobrol lagi.
Jangan lupa kembali yaaaaah . . . . . . . . . . . . . . .
Wassalamualaikum,
Thamrin bin Djenab
Jakarta – Cibubur.
28. Abu Abdillah | Juli 31, 2009 pada 10:45 pm
assalamu’alaikum…untuk mas Tamrin, ana kasihan melihat nasib antum dan teman-teman di jamus, kapn antum mau tambah ilmu kalau cari ilmunya bukan kpd ahlinya, antum puas ngaji dg pak Abul hidayat dan pak yakhsya yg ga jelas siapa guru mereka.
Sekali-kali antum duduk bersila di majlis para ulama nati antum akan sadar siapa guru ngaji yg selama ini antum banggakan…
Sadarlah mas Tamrin..Hamidy itu bukan IMAMUL MUSLIMIN tapi org yg mengaku sbg IMAM yg telah diangkat oleh org-org JUHAAL yg mereka tidak paham apa itu IMAAM.
Kalau mau tau siapa yg dimaksud dg Imam muslimin tanyakan kepada para SAHABAT, kpd Imam HASAN AL-BASHRI, tanyakan kpd Imam AHMAD, tanyakan pada Imam BUKHORI, tanyakan pada Imam AL-QURTUBI, tanyakan kpd Imam IBNU KATSIR dan para ulama yg lain. KITAB-KITAB MEREKA MASIH ADA ANTUM TINGGAL CARI DAN BACA. Kalau antum ga tau judul KITAB-KITAB tsb tanyakan ke GURU ANTUM.
Antum pikir ana tidak punya IMAAM? antum pikir al-jama’ah itu jamah muslimin (hizbulloh) yg dipimpin oleh al-fatah?
Kalau antum mau bertanya ttg agama tanyakan kpd para ULAMA. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: “BERTANYALAH KALIAN (TTG ISLAM) KEPADA AHLI DZIKRI (ULAMA) JIKA KALIAN TIDAK MENGETAHUI” (cari sendiri ayatnya ya mas, itung-itung belajar)
Pak Hamidy itu jadi IMAM bagi siapa mas? bagi muslimin seluruh dunia apa bagi IMAM kelompoke antum saja? Kalau bagi muslimin seluruh dunia tolong SBY suruh berhenti jadi PRESIDEN, karena SBY PRESIDEN (IMAM-KU) kan menurut antum kalau ada dua IMAM yg satu harus di BUNUH?dan jgan cuma SBY seluruh PENGUASA DUNIA tong hentikan juga!!!
Apakah KHOLIFAH ABU BAKAR, UMAR, ALI, UTSMAN DLL rodhiyallohu ‘anhum menjadi IMAM di bawah penguasa yg muslim, seperti HAMIDY menjadi IMAM di bawah penguasa SBY?
Meski tidak berhukum dg al-Qur’an SBY adalah PENGUASA yg SAH yg mampu menaungi seluruh masyarakat yg berada di bawah KEUASAANNYA. itulah yg disebut IMAM kang tamrin.
Ana mau tanya kang tamrin, tap maaf sebelumnya ya? Kalau istri antum diperkosa orang, kalau harta antum dirampok orang, kerabat antum dibunuh orang, kepada siapa antum mengadu? kepada IMAM kan? IMAM siapa?
SEMOGA TIDAK ADA LAGI KATAK DALAM TEMPURUNG, TIADAK ADA LAGI SEEKOR TUPAI DALAM KERANJANG……MEREKA MENJADI KERDIL TERKURUNG DALAM KEGELAPAN DAN KESEMPITAN. AMIEEN
29. enryo | Juni 27, 2009 pada 4:29 pm
CELAKALAH BAGI ANDA YANG SLALU MERSA BENAR SENDIRI,SMOGA ALLOH MELAKNAT ORANG2 YANG DZOLIM SEPERTI ANDA. AMIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNN………………
30. abu hizbulloh | Agustus 8, 2009 pada 1:59 pm
HATI2 MAS BICARA ITU HARUS DG ILMU, MELAKNAT ITU ADA KAIDAHNYA BUKAN SEMBARANGAN, BCARA AGAMA GA BOLEH DG HAWA NAFSU. KALO MENASEHATI ITU HARUS IKHLAS.
31. Ariz | Agustus 12, 2009 pada 10:34 pm
INI JUGA ORG JAHIL TIDAK TAU KAEDAH MELAKNAT ORANG, BICARA TANPA ILMU…YA BEGINILAH CARA BERAGAMA ORG JAHIL.
32. Fahrul | Juni 29, 2009 pada 3:42 pm
Assalamu ‘alaikum
Artikel ini sangat bagus untuk kita semua, untuk kaum muslimin yg masih beranggapan Pemerintah kita telah kafir, pertanyaan saya bagaimana anda mengetahui bahwa mereka telah kafir apakah sudah ditegakkan hujjah kpd mereka, terus bagaimana para aktivis Islam dlm DPR apakah mereka juga kafir pula?
33. jack | September 12, 2009 pada 5:34 pm
Apapun yang anda semua katakan dalam artikel ini hanya satu yang memiliki kebenaran… Allah SWT. Semoga Allah mengampuni dosa hamba-hambaNYA..AMIN.
34. rahma assyifa | September 13, 2009 pada 1:48 pm
Assalamu’alaikum ikhwah fillah…….
Alhaqqu min Rabbik fala takunanna minal mumtariin……
Wahai sudaraku…..saudariku se-iman dan se-islam……usahlah kalian berdebat yg berujung pd permusuhan. Kita semua bersaudara……” Inna Hadzihi Ummatkum ummatan Wahidah”…..Ingat, kita sesama ummat muslim adalah ummat yg satu jgnlah kalian saling benci, saling menyalahkan karena Kebenaran hanyalah milik Allah….Seandainya Rasulullullah msh hidup pasti beliau akan sedih melihat ummatnya yg saling bermusuhan.
Allah membolehkan kita untuk bermujadalah dg cara yg baik/hikmah bukan dg mencela dan menghina satu kelompok terhadap kelompok yg lain. Islam itu Satu “Rahmatan Lil Alamin” bukan pembawa petaka shg kalian bermusuhan!!!!! Islam itu satu, walaupun namanya berbeda-beda….Sadarlah wahai Saudariku semua. Lebih baik kita jalin ukhuwwah kita sesama saudara se-iman, se-islam. Subhanallah begitu Indahnya jika Ukhuwwah diantara ummat Isl
am itu terjalin kuat……….
Wassalamu’alaikum
35. syahidah | September 13, 2009 pada 6:56 pm
Assalamu’alaikum
afwan ana akhwat yg baru mengikuti kajian2 salafy. ana msh sangat fakir sekali ilmunya. suatu hari ana pernah ditegur ma temen akhwat yg lain yg ikut kajian salaf juga, tp lain daerah, nah kita ngobrol2, nah dia bilang katanya ustadz itu (yg ana datangi kajiannya) sururi. padahal Beliau juga Salafy, knp temen ana bilang klo Beliau itu sururi. ana jd bingung.
Afwan, ana kurang faham apa bedanya Salafy dengan Sururi??? Apakah salafy itu dibagi2, ada salafi dan salafi sururi dan mungkin ada salafi yg lain2. pdhl setahu ana Ahlussunnah itu Salafy. Mohon penjelasan. Jazakallah Khairan Katsiran.
wassalamu’alaikum
36. Abu Salma Mohamad Fachrurozi | September 17, 2009 pada 2:01 pm
Anti ngaji aja lah …jangan bahas salafy ini dan salfy itu …bikin pusing sendiri …belajar dan belajar suatu saat nanti anti akan mengerti
37. tolchah | September 13, 2009 pada 10:36 pm
Assalamu’alaikum wr wb. saya jadi penasaran dengan orang – orang yang nulis diblog ini lho, keliatannya pinter2 (masalahnya sering mbodoh2hin sich……..) apakah antum yang pinter ini bisa baca kitab kuning ( gundul or tulisan arab dan berbahasa arablah). kalau sudah bisa antum tuh sudah hafal berapa kitab, bisa dites ga? kalau syech yang diarab sono yang ngomong sich Insya Alloh saya percaya. tapi saya yakin ente2 sama dengan kite2 yang bisanya jiping(ngaji kuping) terus ada blog ini ya udah ikut ngetik dech…. kalau antum yang seneng njelek2in and mbodoh2in mau, coba datang ke markas jamaah muslimin, tunjukan kemampuan antum dan kalau bisa gunakan bahasa arab, insya alloh ikhwan jamaah banyak yang bisa kok. ga bodoh2 amat seperti yang ente2 kira. afwan kalu bahasa yang digunakan tidak sopan dan menyinggung perasaan, Wallohu ‘alam bi showab
38. Muhammad Husni Thamrin bin Djenab | Mei 25, 2010 pada 11:24 am
Assalamualaikum, Abu Abdillah
Ada blunder yang dimiliki Abu Abdillah :
1. Dari nama udah kaga jelas, Abu = bapak, Abdillah = Hamba Allah. Abu Abdillah, bapak hamba Allah. Yang saya maksud kaga jelas adalah : Bapak kalo punya anak pasti ada namanya. Mendingan antum ambil nama-nama yang bagus seperti, Abu Bakr, Abu Sufyan. Abu Khuraira. Abu Darda . . . gitu.
2. Anda bilang kalo mau tanya tentang imam tanya kepada : para sahabat. Hasan Al-Bashri, Achmad, Buchori, Al-Kutubi, Ibnu Katsir. Setahu saya orang-orang yang anda sebutkan sudah tidak ada. Masak mau nanya ama orang-orang yang sudah wafat, gimana nih ?
Kitab-kitab bukan rujukan hanya sebagai ilmu pengetahuan.
Rasulullah Bersabda : Kalo mau selamat pegang 2 (dua) perkara : 1. Al-Qur’an 2. Sunah Nabi.
3. Mengaji itu diharapkan kita menjadi pinter dan faham. Kalo anda saya lihat kaga pinter boro-boro faham, malah keblinger.
Imam diangakat oleh makmum. imam orang muslim makmumnya juga orang muslim, ada pengucapan Ikrar / Komitmen, ditandai dengan berjabat tangan (Bae’at).
Sementara pak SBY . . . . . jangan-jangan ente GR aja nih mau ngaku-ngaku beliau sebagai imam. Bae’at nya kapan ?
4. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib ada mujahid yang dikirim pergi berda’wah ke Inggris, ke China. Yang di Inggris dia ikut peraturan pemerintah Inggris, begitu juga yang di China dia ikut peraturan pemerintah China. – - – - Tapi kalo ditanya siapa imamnya, jawabannya jelas Ali bin Abi Thalib. Bukannya ratu Elizabeth atau Mao Che Tung.
apalagi pak SBY.
5. Katak dalam tempurung, Tupai dalam keranjang, Alhamdulillah ada yang nyebut-nyebut – walau dengan sebutan semacam itu. Kalau anda kaga ada yang nyebut-nyebut. Bagaimana mau nyebut wong gurem gitu kaga jelas.
6. Mohon ma’af jangan marah ya, saya menulis cuma mengikuti logika anda yang keblinger.
Wassalamualaikum.
39. baginda | Agustus 25, 2010 pada 2:15 pm
SAYA MAU JUGA DONG JADI IMAM ATAU KHALIFAH KALO BEGITU PERKANALKANLAH KHALAYAK UMUM SAYA MENGIKRARKAN DIRI MENJADI KHALIFAH ATAU IMAM KALIAN MARILAH BERBAIAT KEPADAKU SAYA AKAN MENGHUKUM DENGAN AL-QURAN DAN SUNNAH…HAYO,,HAYO BERGABUNGLAH DENGAN……. KELOMPOK SAYA ADALAH JAMAAH ISLAM WAL MUSLIM WAL HIZBULLOH
40. ihsan muttaqin | Agustus 5, 2011 pada 4:06 pm
menjadi imam itu ada syaratnya, dan apakah anda sudah tahu syaratnya?hayyyyyyyyyyooooooooooooooo
41. dzikri rohman | November 12, 2010 pada 4:59 am
Sami’na wa Atho’na.
sebaiknya hanya itu jwaban bagi orang yang berilmu dan beriman.
42. bambang | Juni 24, 2011 pada 2:20 pm
assalaamu ‘alaikum. ya akhii agus, afwan ana mau tanya nih, benarkah setelah antum menyatakan khoroj dari jamaah muslimin (hizbullah) antum diajak dialog oleh imaam muhyidin hamidi dan stafnya di markas cileungsih dalam upaya penyelesaian faham antum terhadap kebathilan jamaah muslimin hizbullah ? dan kalo boleh tolong kirim naskah thousiyah ke email ana, soalnya di Palembang sekarang sudah banyak yg khoroj dari jamaah muslimin hizbullah. jazakallah wassalaamu. alaikum
43. Abu Salma Mohamad Fachrurozi | Juli 18, 2011 pada 11:58 am
Sama sekali tidak hanya saja kami dikirimi tulisan dan bantahan mereka terhadap apa yang kami yakini dan akhirnya kami membuat bantahan buat mereka kembali dan hasilnya blog yang kita cintai ini.
dan beberapa kali kami mendatangi mereka, pernah kami dtang ke amir tarbiyah pusat KH. Fadhil Ali Shirot, katanya ngajak dialog sampai subuh baru jam 11 dah nggak mau melanjutkan padahal kami datang jau-jauh. EEE…………….ternyata ga mau dialog.
44. ihsan muttaqin | Agustus 5, 2011 pada 4:02 pm
kebenaran hanya milik Alloh semata, kita manusia hanya mencari dan mencari kebenaran itu. kaum muslimin tidak akan kuat klo terus berpecah belah. marilah kita bersatu padu membentuk kekuatan. Alloh pasti akan menolong kita semua. amiin. islam itu dulunya aneh, dan akan kembali kepada keanehan.
45. Abu ibrahim | Februari 14, 2012 pada 1:17 pm
Kok persis banget orang orang Ldii ya….Yang mbantah y dalilnya itu2 juga,emang mau bikin imam berapa banyak si di indonesia ini?