Mebiasakan Kejujuran dan Meninggalkan Dusta Mei 23, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Akhlaq.add a comment
Mebiasakan Kejujuran dan Meninggalkan Dusta
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Kita semua harus mengakui bahwa keadaan kaum muslimin terkhusus di Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jika kita membaca dan mencermati berita ditemukan di sana ada orang berzina, mencuri, korupsi, menyuap dan berbagai kejelekan-kejelekan lainnya dan ternyata pelaku-pelakunya adalah kaum muslimin saudara kita sendiri.
Sungguh ini memprihatinkan. Sebagai bagian dari kaum muslimin tentu kita semuanya harus berupaya dan bertekad untuk berubah menuju kepada yang lebih baik. Tentunya perbaikan yang sesuai dengan syariat agama kita dalam segala sisi kehidupan. Yang kalau itu dibuat dengan kalimat yang ringkas yaitu : Keharusan kaum muslimin di Indonesia ini kembali kepada agamanya dalam semua sisi kehidupannya. Hal ini sebagaimana ucapan imam kaum muslimin imam Malik رحمه الله beliau berkata :
لن يصلح اخر هذه الامة الا بما صلح به اولها
Tidak akan menjadi baik umat yang akhir ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat yang pertama umat ini.(dinukil dari Atsarul Ibadah fil hayatil Muslim karya Syaikh Muhsin Al ‘Abad Al Badri)
Syarah Hadits-hadits Al-Jama’ah Mei 20, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Bantahan, Manhaj, aqidah.add a comment
Syarah Hadits-hadits Al-Jama’ah
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Segala puji milik Allah ta’ala yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq agar memenangkan agama-Nya di atas seluruh agama yang walaupun orang-orang musyrik, orang-orang kafir, orang-orang dholim semuanya membenci.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, sahabat-sahabatnya, para tabi’in, para tabiut-tabi’in, para ulama yang mengikuti mereka dengan baik dan semua kaum muslimin yang senantiasa berupaya mengikuti mereka dengan sebenar-benarnya pengikutan.
Adapun setelah itu, kami mewasiatkan kepada kita semua untuk bertakwa kepada Allah ta’ala dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya yaitu berupaya mengamalkan-perintah-perintah-Nya dengan ikhlas dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam karena tidaklah amalan itu diterima oleh Allah ta’ala kecuali memenuhi dua syarat tersebut yaitu ikhlas dan mutaba’ah.
Bpk. Wali Al-Fattaah dikenal oleh sebagian kaum muslimin sebagai perjuang untuk kemajuan Islam wal Muslimin yang sampai akhir hayatnya berkiprah dalam dakwah dan kemajuan Islam. Sebagai sesama muslim sudah semestinya kita memohonkan ampun atas dosa dan kesalahannya dan memohonkan rahmat dan pahala baginya kepada Allah ta’ala atas kebaikan-kebaikkan yang telah beliau amalkan dalam hidupnya.
Selanjutnya selaku pengikut faham beliau sudah semestinya berupaya mengikuti, mengamalkan dan mendakwahkan nasehat dan ajaran beliau yang mencocoki perintah Allah ta’ala dan Rasul-Nya alaihi shallatu wasallam. Suatu kemestian pula meninggalkan semua ajarannya yang menyimpang dari petunjuk Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.
Untuk memudahkan meninggalkan ajaran beliau yang mnyimpang sebagai bentuk cinta kasih kepada beliau dan juga kepada semua saudaraku yang mengikuti dan mengaguminya, dengan memohon pahala dan ampunan-Nya kami (mantan-mantan anggota Jama’ah Muslimin Hizbullah (JMH)) mengadakan bedah buku Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, merupakan buku peninggalan Wali Al-Fattaah.
Mensyukuri Nikmat Allah ta’ala dengan Mengingat Kematian April 29, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Islam, Manhaj, aqidah.2 comments
Mensyukuri Nikmat Allah ta’ala dengan Mengingat Kematian
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Malam jum’at tanggal 18 April 2008 pelajaran kami memasuki kitabul Janaiz (kitab Jenazah), Ustadz Sanin Hasanudin memulai membaca hadits pertama dari bab tersebut pada kitab Bulughul Marram.
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صل الله عليه وسلم : اكثروا ذكر هاذم اللذات : الموت. رواه الترمذي والنسائى وصححه ابن حبان
Dari Abu Huroiroh Semoga Allah ta’ala meridhoinya, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Perbanyaklah engkau menyebut pelebur kelezatan yaitu mati. (HR. Tirmidzi dan Nasai dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban)
Saya memohon kepada Allah ta’ala penjelasan Ustadz senantiasa bermakna di dalam jiwa ini, saya berharap Allah ta’ala mudahkan kepada hambanya ini mengingat dan mengamalkan penjelasan dan faedah-faedah hadits ini.
Jangan Sombong ! April 20, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Manhaj, aqidah.2 comments
Jangan Sombong !
Oleh : Buletin Jum’at Silsilatul Huda Wan Nur
Ilmu, kebutuhan primer bagi seseorang. Kebutuhannya terhadap ilmu lebih besar dibanding kebutuhan badannya terhadap makanan dan minuman. Kalau seseorang tidak makan dan tidak minum, itu hanya bisa menyebabkan sakit jasmaninya yang puncaknya adalah kematian jasmani itu. Adapun setelah badannya terbujur kaku, dia tidak akan lagi merasakan sakit yang diderita. Beda halnya seseorang yang tidak mensuplai rohaninya dengan ilmu agama. Hatinya akan sakit kemuadian akan mati, sementara matinya hati seseorang itu lebih parah dari pada mati raganya, karena matinya hati menyebabkan kesesatan semasa hidup di dunia. Ditambah lagi, kelak di akhirat masih harus merasakan azab Allah ta’ala. Naudzu billahi min dzalik.
Mempererat Persatuan Kaum Muslimin Maret 15, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Agama, Artikel, Manhaj, aqidah.add a comment
Mempererat Persatuan Kaum Muslimin
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Dalam muqaimah kitabnya yang berjudul asas manhaj salaf fi da’wati ilallah Syaikh Fawwas as Suhaimi mengatakan : Allah ta’ala tidak menyerahkan penjelasan agama ini kepada siapapun di alam ini, kecuali kepada Rasul-Nya Al-Amin shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga, tidak ada perkara yang halal kecuali apa yang dihalalkannya, dan tidak ada perkara yang haram melainkan apa yang diharamkan, serta tidak ada dien (ibadah, agama) kecuali yang disyariatkannya.
Membangun Kemuliaan Islam Walmuslimin dengan tholabul Ilmi Februari 26, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Manhaj.add a comment
Membangun Kemuliaan Islam Walmuslimin dengan tholabul Ilmi
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Kaum muslimin rahimakumullahu jamian, Marilah kita bersyukur kepada Allah ta’ala atas limpahan rahmat-Nya dan nikmat-Nya kepada kita semua, terutama ni’mat Islam dan ni’mat Iman. Karena betapa banyaknya di dunia ini Manusia maupun Jinnya yang tidak dapat menerima kebenaran Islam sebagai agama. Sungguh kita menyaksikan di sekitar kita manusia-manusia yang mengabaikan terhadap syari’at mulia ini. Maka sudah sepatutnya berulang-ulang kita mensyukuri ni’mat yang agung ini.
Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah (Bagian II) Februari 9, 2008
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Uncategorized.7 comments
Apa Yang Dimaksud Dengan Bai’at Dan Kapan
Oleh : Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiry حفظه الله
Bai’at secara istilah adalah berjanji untuk taat, seakan-akan orang yang berba’at berjanji kepada amirnya untuk menyerahkan urusan dirinya dan kaum muslimin, serta tidak mengganggunya sedikitpun. Dia mentaatinya pada apa yang diperintahkan amir dan menjadi tanggungjawabnya dalam keadaan suka atau tidak suka. Dahulu ketika mereka membai’at amir dan mengingatkan janjinya, mereka menjadikan tangan mereka di atas tangannya (amir) untuk menguatkan janjinya, sehingga hampir menyerupai perbuatan antara penjual dan pembeli, kemudian dikatakalah bai’at, dari kata dasar با ع Yang akhirnya bai’at berarti bersalaman tangan, inilah yang ditunjukkan dalam pengertian bahasa dan syari’at. [1]
Hal itu tidak terjadi secara syar’i dan dapat kecuali bagi seorang penguasa muslim yang mungkin memiliki dedikasi dan tanggungjawab, yang menjadikan dia mampu untuk menegakkan agama, merealisasikan hukum Islam, menegakkan undang-undang syar’i, mengumumkan perang dan mengadakan perdamaian serta yang lainnya dari hal-hal yang merupakan kekhususan bagi penguasa muslim di suatu negeri-negeri Islam.
Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah Desember 11, 2007
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Bantahan, Manhaj, aqidah.3 comments
Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah
Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi
Tidak bosan saya membahas prinsip yang satu ini, yaitu wajibnya kita kaum muslimin berbai’at dan taat kepada penguasa muslim dalam perkara yang bukan maksiat. Karena perkara ini (yaitu Bai’at) terlalu banyak dari kalangan kaum muslimin yang memenjarakannya. Disatu sisi, sebagian mereka meremehkan atau menghilangkan syari’at yang mulia ini. Bai’at menurut mereka ketingalan jaman, kuno dan tidak relevan dengan jaman yang modern, jaman demokrasi. Mereka menolak syari’at ini karena penguasanya tidak sesuai selera mereka (baca dari kelompok mereka). Mereka mengatakan dengan perkataan-perkataan busuk terhadap para ulama yang senantiasa mengumandangkan syari’at ini. Mereka menuduh para ulama adalah kaki tangan penguasa, berfatwa dengan fatwa yang berfihak kepada penguasa. Ya …mereka berkata seperti itu karena mereka haus akan kekuasaan dan kedudukan. Mereka hanya mau taat kepada amir jamaahnya belaka.
Di lain sisi, sebagian kaum muslimin menjerat muslimin yang lain dengan bai’at ini. Walaupun tidak ada kekuasaan padanya mereka mewajibkan bai’at kepada seluruh kaum mulimin. Mereka menggunakan dalil-dalil bai’at untuk mengokohkan kedudukannya. Memvonis sesat dan jahiliyah bagi siapa saja yang tidakmau berbai’at dan masuk ke dalam kelompoknya. Akibatnya, bai’at berfungsi sebagai belenggu orang-orang bodoh yang masuk / terlanjur masuk ke dalam kelompoknya. Akibat semua ini syari’at mulia ini semakin sulit dipahami oleh awamnya kaum muslimin.
Dua model kelompok itu sebenarnya sama saja , yaitu mereka mau taat hanya jika dan jika penguasanya adalah berasal dari golongannya. Sungguh sangat jauh dengan Ahlus Sunnah yang tidak pernah mensyaratkan orang yang boleh ditaati adalah yang berasalkan dari kelompoknya. Tidak pernah seperti itu, Ahlus Sunnah komitmen dengan dalil, siapapun yang berkuasa asal Muslim boleh diba’at dan ditaati, tidak boleh keluar (memberontak) padanya, dilaksanakan ibadah-ibadah seperti Shalat jum’at, hari raya, haji, jihad bersama penguasa.
Ini bukti bahwa Ahli Sunnah adalah orang-orang yang paling komit dengan persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Namun sungguh aneh tuduhan mereka kepada Ahlus Sunnah, mereka mengatkan Ahlus Sunnah sumber pemecah belah umat.
Maka kita katakan: Biarlah anjing menggonggong, dakwah tetap berlalu.
Desa Yang Musnah di Daerah Dieng Desember 1, 2007
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Serba-serbi.17 comments
Desa Yang Musnah di Daerah Dieng
Oleh : Abu Tilmidz
Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَتَمُورُ
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).
Mengenal Al-Imam Al-Mahdi (satu) Desember 1, 2007
Posted by Abu Salma Mohamad Fachrurozi in Imam Mahdi, aqidah.3 comments
Mengenal Al-Imam Al-Mahdi
Oleh: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Sumber http://asysyariah.com/
Syariat sejatinya telah gamblang menjelaskan definisi dan menyuguhkan gambaran akan sosok Al-Imam Al-Mahdi. Namun bersemainya penyimpangan tak pelak menjadikan gambaran Al-Imam Al-Mahdi itu menjadi kabur.
Beriman akan Munculnya Al-Imam Al-Mahdi telah menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengimani segala yang diberitakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana ini menjadi konsekuensi persaksian kita: “Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar melainkan Allah dan agar mereka beriman kepada apa yang kubawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya. Adapun perhitungannya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim, Kitabul Iman Bab Al-Amru bi Qitalin Nas Hatta.)


